Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Nyepi

Nyepi Caka 1947, Ngapain Aja ?

Semenjak memasuki kepala empat, makin kesini makin memahami makna dibalik adat dan budaya yang selama ini diyakini. Makin bisa menghormati, termasuk apapun adat budaya umat lain yang dipertemukan selama ini. Karena kalau bukan kita yang menjaganya, mau mengandalkan siapa lagi ? Btw, Nyepi kali ini adalah Nyepi ke-4 yang kami lakoni di periode ke-4 menjalankan mandat sebagai Kelihan Adat Banjar Tainsiat. Dan sebagai 'kelompok' -karena jumlahnya 8 orang dalam satu periode- yang dipercaya menjalankan amanat krama, selalu berusaha untuk menjembatani apapun komunikasi yang ada didalamnya. Meskipun masih banyak juga yang belum mampu diakomodir dengan baik. Tapi seiring berjalannya waktu, satu hal yang kami tetap laksanakan adalah menjaga Banjar Tainsiat tetap bersih meski semalam dipenuhi sampah usai event pengerupukan. Dan itu kami lakukan sembari melakukan tugas jaga banjar di Hari Raya Nyepi. Namun begitu, waktu pribadi kali ini lebih banyak digunakan untuk istirahat fisik se...

Mengakali Pembatasan Rute Pengarakan Ogoh-ogoh

Di beberapa titik jalan Nangka Selatan tampak berjejer barisan ogoh-ogoh berbagai ukuran. Yang biasanya gak sebanyak ini jumlahnya. Bisa jadi karena adanya pembatasan rute pengarakan ogoh-ogoh, dimana tidak semuanya diijinkan melaju ke arah Catur Muka, melewati batas desa, yang kelihatannya baru mulai diberlakukan sore hari nanti jelang pengerupukan. Pantas saja kemarin Bapak Walikota Denpasar sempat cerita kalau ada beberapa banjar di area Denpasar pinggiran, mengajukan ijin mentas melewati desa adat tertentu agar bisa tampil di Titik Nol Kota Denpasar. Bahkan tadi pagi sekitar pukul 6 pun sudah ada satu dua yang dibawa mendahului ke arah selatan dan melintas di depan rumah.  Ada-ada aja nih akalnya para teruna... Semangat Jerrr...

Nyepi baru terasa saat malam tiba

Terasa sunyi karena suara alam dan bumi yang terdengar di hari-hari biasanya kini jauh lebih senyap menyisakan kegelisahan hati yang tak berkesudahan. Terasa resah karena biasanya dalam gelapnya malam banyak hal yang terjadi dan ditemukan oleh para pecalang keamanan yang bertugas di luar sana. dan laporannya kerap masuk ke whatsapp grup keluarga maupun pertemanan. Terasa menenangkan karena telah menghabiskan setengah botol blue ice dengan kandungan arak yang memabukkan, bersiap mengantarkan lelah menuju gerbang mimpi lebih awal. #ogohogoh #BanjarTainsiat #garudasuwarnakaya #stysbtainsiat #Caka1945

Satu Pagi di Hari Raya Nyepi

Saya terbangun saat jarum jam menunjukkan waktu pukul setengah sembilan pagi. Melewatkan rutinitas olahraga dan mebanten pekideh yang biasanya dilakoni saban pagi setiap hari. Bener-bener tepar sesampainya dirumah pukul setengah 5 pagi tadi usai mengantar pulang balik ogoh-ogoh Banjar Tainsiat dari Catur Muka. Meninggalkan adik-adik stt yang saat itu baru akan melakukan pemotongan sanan agar bisa memasukkan ogoh-ogoh ke area banjar. Obrolan siang ini di pempatan banjar adalah soal penyelesaian ogoh-ogoh yang jelang pengarakan baru bisa selesai, dan rasanya belum puas melihat pergerakan Garuda Sewarnakaya yang hanya beraksi di pusat kota, lalu menyinggung soal penusukan di depan area Suzuki yang mengakibatkan korban meninggal dunia. Apakah perlu dilakukan pecaruan di lokasi karena sudah menumpahkan darah di wilayah banjar, dan bagaimana prosesinya. Saya sendiri memilih untuk mengambil banyak gambar mumpung bisa, dari suasana Nyepi di lingkungan banjar kami, hingga detail wajah ogoh-ogoh...

Tembus jua jam 4 pagi

Pengarakan ogoh-ogoh Banjar Tainsiat Garuda Sewarnakaya ke Catur Muka yang dilaksanakan pada Tilem Kesanga Selasa 21 Maret 2023 pukul 23.15 wita, rupanya harus menunggu penghabisan ogoh-ogoh dari arah utara pempatan terlebih dulu untuk memudahkan perjalanan STT kembali pulang. Hal ini cukup membuat lelah adik-adik STT Yowana Saka Bhuwana yang sejak kemarin sore sudah menyiapkan diri dalam penampilan fragmen tari di pempatan Catur Muka, pun sekaa gong dan pemuda lainnya yang tampaknya sudah begadang berhari-hari. Semangat Jer... kalian Hebat hari ini  #DokumentasiKelihanAdat #BanjarTainsiat

Menu Nyepi, Aneka Ragam Masakan Rumahan

Jaman masih duduk di bangku SMP dahulu, guru Agama Hindu mengajarkan kami untuk belajar memulai aktifitas puasa makan dan minum selama waktu tertentu dan melewatkan hari raya Nyepi dengan membaca buku-buku agama ataupun rohani. Dua tahun menempa ilmu pada Ibu Dayu Puniadhi, saya berhasil mencoba puasa 12 jam dan 24 jam. Meski waktu senggang tidak sepenuhnya dilalui dengan membaca buku, namun hasrat untuk menahan hawa nafsu akan makan minum jaman itu memang beda semangatnya. Upaya ini masih rutin saya lakukan setiap Tahun Caka hadir, sampai bangku kuliah bersama dua sepupu yang ada di rumah. Godaan datang saat masuk tahapan pernikahan. ? Pelan tapi pasti aktifitas puasa makan minum tak lagi saya lakukan, mengingat setiap jelang Nyepi tiba, ibu-ibu selalu berusaha menyiapkan aneka ragam masakan rumahan dalam berbagai menu. Soto ayam, betutu, hingga yang menjadi favorit sepanjang masa, sampai dua bocil kami yang kini sudah memasuki bangku sekolah dasar, sama-sama menyukai tipat cantok all...

Nyepi di Bale Banjar Tainsiat

Penjagaan lingkungan wewidangan Banjar Tainsiat dilakukan oleh semeton Pecalang utawi Regu Keamanan, yang dibagi menjadi 3 shift penugasan, selama 24 jam dari pukul 6.00 wita Kamis 3 Maret 2022 hingga pukul 6 pagi berikutnya. Masing-masing shift, bertugas selama 8 jam lamanya dengan jumlah personil yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Biasanya penugasan shift malam dari pukul 22.00 wita akan berjumlah pebih banyak dari 2 shift lainnya. Seumur saya menjalani proses dan ritual Nyepi, baru kali ini bisa menapakkan kaki di tengah jalan raya Nangka Selatan, Patimura, Veteran dan Yudistira, yang biasanya ramai oleh kendaraan lalu lalang. Melakukan kontrol secara bergantian dengan Kelihan Adat lainnya. Jalanan Bali seperti gambaran kota mati dalam film I Am Legend (2007). Serasa diamati oleh para zombie dari jauh, dan selama saya berjalan, masih aman terlindungi karena adanya paparan sinar matahari. Suasana yang direkam saat pengambilan gambar didukung pula dengan adanya sampah yang b...

Catur Brata Penyepian, Tak lagi mampu saya patuhi

Sebagaimana biasa, saya begitu menikmati suasana pagi saat Hari Raya Nyepi hadir setiap tahunnya. Duduk manis di pelataran bale bali, menghirup udara dan menikmati sunyi, pas banget untuk menimbulkan mood menulis. Menceritakan banyak hal yang telah dilalui, sebagai bekal sekaligus upaya untuk membebaskan pikiran dari banyak beban. Lalu menyimpannya dalam sebuah halaman di blog ini. Semakin kesini, saya semakin yakin bahwa jutaan orang diluar sana sudah mengetahui apa dan makna Catur Brata Penyepian yang biasanya digaungkan setiap perayaan Nyepi hadir di Bali. Meski rata-rata tak bisa mematuhi semua tapa brata tersebut, minimal tapa yang krusial bisa dilakukan tanpa cela. Yaitu tidak bepergian ke luar rumah. Sementara untuk larangan agar tidak menyalakan api, yang mana banyak diterjemahkan dalam artian lampu, dan layar ponsel, saya meyakini ada sebagian yang tak mampu lagi mematuhi, dan dilakukan dengan berbagai cara upaya. Pun halnya dengan tapa brata tidak mengadakan hiburan, karena l...

Sebuah Cerita tentang Perjalanan menuju Nyepi Caka 1944

Sesaat setelah rapat Pleno tahunan diketok palu, mengesahkan kesepakatan pilihan warga atau krama banjar, untuk 8 nama dari 14 yang diambil dari masing-masing soroh atau keluarga besar di lingkungan Banjar Tainsiat, satu hal yang saya pikirkan kelak akan menjadi tantangab terbesar pertama kami adalah prosesi pengarakan ogoh-ogoh milik Sekaa Teruna yang sampai saat itu masih tarik ulur dan memberikan putusan yang tak pasti. Diperbolehkan melakukan pengarakan “dengan syarat”. Sementara sehari setelah pengesahan, kami langsung diminta untuk mulai menjalankan tugas terjun bersama krama, dari pengabenan, ngayah persiapan sampai upakara pujawali yang akan dilaksanakan esok lusa. Mengingat ini kali pertama kami melaksanakan tugas semacam ini, tentu ada satu dua hal yang menjadi catatan dan masukan bagi kami kedepannya. Mampu mengayomi krama banjar adalah hal terpenting dari semua ini. Mengayomi banyak pihak dengan berbagai pemikiran dan pendapat yang ada dalam kepala masing-masing,...

Rahajeng nyanggra rahina Nyepi Caka 1944

“Semua akan kembali ke Titik Nol” Hari masih pagi, dan sang waktu baru menunjukkan pukul lima dini hari, saat saya tersadar oleh notif alarm yang berbunyi dari speaker ponsel dengan set ‘lebih siang’ dari biasanya. Dimaklumi lantaran semalam, pasca pengarakan ogoh-ogoh banjar Tainsiat, saya baru bisa rebahan sekitar pukul satu tengah malam. Menyelesaikan tugas sebagai Kelihan Adat anyar Banjar Tainsiat, yang baru menjalankan tugas selama dua minggu terakhir ini. dan banten pekideh pun dihaturkan sebagai ucapan rasa syukur sebelum matahari terbit di ufuk timur. Hari Raya Nyepi kali ini terasa jauh bedanya dengan perayaan tahun-tahun sebelumnya. Dimana jika terdahulu saya tak pernah peduli dengan apa yang dilakukan di luar sana, lebih banyak menghabiskan waktu bersama anak-anak dan keluarga, Nyepi kali ini sepertinya akan dilalui dengan pelaksaan tugas sebagai pengayom masyarakat, yang terlibat dan ikut serta dalam upaya kontrol belasan aktifitas setiap bulannya di...

Renungan tentang Puasa dan Keputusan untuk berPuasa

Ketika seseorang mengambil keputusan untuk menjalankan Puasa selama 12, 24 atau 36 jam saat Tahun Baru Caka atau Hari Raya Nyepi, itu artinya ia telah siap untuk menghadapi segala cobaan, tantangan bahkan godaan dalam bentuk upaya-upaya dari lingkungannya baik secara sengaja atau tidak, untuk menggagalkan niat dan keputusan tersebut. Bukan malah berharap agar lingkungan mendukung, lalu ikut berpuasa saat yang bersangkutan berada dalam lingkungannya. Karena keberhasilan saat mencapai akhir dari sebuah keputusan yang besar, akan memberikan makna dan ‘perhargaan’ *apapun itu bentuk dan harapannya- akan jadi makin bernilai secara fisik dan psikis bagi insan tersebut. Hal ini kerap disampaikan oleh seorang guru agama kami semasa SMP dahulu, yang selalu menanamkan pemahaman pada anak didiknya untuk mencoba menjalankan puasa begitu matahari menjelang saat Tahun Baru Caka tiba. Tentu dalam bahasa yang lebih mudah dimengerti oleh kami dalam usia remaja. Maka ketika saya mencoba menja...

Menikmati Gelapnya Malam Hari Raya Nyepi Caka 1943

Hujan gerimis mulai turun sekitar pukul 6 sore tadi, menjawab semua pertanyaan tentang mengapa hari ini hawa terasa begitu panas ketimbang biasanya. Sementara di luaran sejauh mata memandang, tak ada cahaya lampu yang tampak menodai gelapnya malam, mengiringi penghabisan hari raya Nyepi Caka 1943. Sudah empat kali saya bolak balik toilet gegara mulas lantaran terlalu banyak mengkonsumsi tuak dan tipat cantok sejak pagi. Tak ada yang bisa dikeluarkan dari saluran perut menyebabkan anus terasa begitu sakit menahan bab. Jadi susah duduk dan juga beraktifitas lainnya. Setelah mengkonsumsi air dalam jumlah yang cukup banyak, sekitar pukul 8 akhirnya semua bisa diatasi dengan baik. Saran dari istri memang mantap. Sementara itu, koneksi internet Smartfren yang saya gunakan, terpantau hingga post ini dipublish, masih lancar berjalan meski hanya mampu membaca teks pada chat dan sosial media FB serta Twitter. Tanpa gambar apalagi video. Tapi sudah lebih dari cukup karena seharian ini saya ditema...

Cerita Pendek di Satu Siang

Pengaruh alkohol dari Tuak Jaka yang dibeli hari Jumat lalu tampaknya sudah berangsur menghilang, menyisakan kantuk di tengah panasnya hawa siang ini dan sepinya jalanan depan rumah. Nyaris dua botol berukuran air mineral besar sudah dihabiskan, menyisakan sedikit bekal untuk nanti malam. Langit Kota Denpasar tampak cerah, tak sedikitpun terdapat mendung dan awan hitam. Jadi ingin mengabadikannya dengan lensa kamera ponsel malam nanti. Satu hal yang tak pernah dilakukan selama ini. Koneksi Internet tampaknya sudah mulai diturunkan kecepatannya. Saat membuka timeline akun Twitter barusan, beberapa gambar maupun video yang disematkan dalam tweet, tak mampu menyajikan lintasan gambar secara cepat. Hanya teks dan pembaharuan saja meski harus menunggu beberapa detik untuk disegarkan kembali tampilannya. Agenda makan siang sudah terlewati, lebih awal dari biasanya mengingat menu hari ini tidak bisa dibuat dan diambil sendiri. Jadi semua diserahkan pada waktu yang dimiliki oleh si peracik mak...

Menjalankan Catur Brata Penyepian Caka 1943

Alarm ponsel berdering karena sudah waktunya. Saya memilih untuk melanjutkan tidur satu jam lebih lama, lantaran si bungsu Ara masih tampak lelap dalam mimpinya. Ia menginap disini semalam. Sementara sang ibu, pindah tidur bersama si sulung, dan si tengah memilih bareng kakek neneknya. Rutinitas yang diatur oleh anak-anak kami saban malam minggu. Saya memilih mandi pagi ketimbang berolahraga hari ini. Karena Nyepi adalah hari pertama Tahun Baru penanggalan Bali, sehingga berharap besar saya bisa melakukan kewajiban mebanten pagi saat lantunan Puja Tri Sandhya dikumandangkan dengan lantang. Memohon keselamatan untuk semua keluarga dan bumi ini. Matahari perlahan menampakkan cahayanya menerangi langit dan lingkungan rumah yang tadinya masih gelap gulita lantaran semua lampu di pekarangan dimatikan oleh tim bersih-bersih pagi. Ada rasa syukur saat keinginan ini bisa dijalankan sesuai harapan. Rutinitas pelengkap dimana biasanya dibarengi dengan memanaskan empat kendaraan, tidak saya lakuk...

Rahajeng rahina Nyepi Tahun Baru Caka 1943

Perayaan Nyepi kali ini rasanya memang jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Lantaran ada cukup banyak himbauan atau larangan dari Pemerintah terkait proses persiapan hari raya hingga agenda Tawur Kesanga semalam. Nyepi hari ini adalah Nyepi yang pertama pula saya rasakan secara sadar dalam masa pandemi Covid-19. Meski setahun lalu juga sebenarnya berada dalam situasi yang sama, namun situasinya belum separah ini. Hari Raya Nyepi adalah titik awal bagi umat Hindu yang bermukim di Bali khususnya, sebagai perayaan Tahun Baru dalam penanggalan Bali, Caka ke 1943 dimana mengambil tonggak Tahun 78 silam sebagai awal dari segalanya. Ada 4 larangan yang selalu diamanatkan dan diingatkan pada semua pihak yang berada dan bermukim di Bali. Amati Geni atau tidak menyalakan api ataupun lampu di malam hari -pengecualian bagi yang memiliki bayi-, Amati Karya atau tidak beraktifitas sebagaimana biasanya, agar diam atau berhenti sejenak untuk merenung pada diri dan alam sekitar, Amati Lelungan a...

Tradisi yang Hilang saat Persiapan Nyepi pasca Pandemi

Gerimis hujan mendadak jatuh dari langit, saat semua anggota keluarga besar baru saja membubarkan diri pasca muspa banten pengerupukan dan melakukan pembersihan ke semua sudut rumah. Hal yang tumben terjadi jelang tawur kesanga Hari Raya Nyepi tahun 2021 ini. Bersyukur kali ini gak ada arak-arakan ogoh-ogoh di sepanjang jalan depan rumah hingga ke pusat Kota Denpasar. Mereka yang berada dalam usia remaja kali ini tak lagi tampak sibuk menyiapkan diri pasca upacara. Biasanya sudah siap untuk turun ke jalan, mengiring sang raksasa yang gagah dalam kegelapan memutari batas desa hingga pukul 3 dini hari. Tapi kini tidak lagi. Ada banyak hal yang hilang dari semua tradisi dan budaya di Bali pasca Pandemi Covid-19 ini. Tilem Kesanga atau yang kesembilan dalam penanggalan Bali, biasanya merupakan hari yang paling ditunggu-tunggu oleh ribuan manusia lokal ataupun luar. Untuk menyaksikan ‘tarung’ para raksasa di titik nol kilometer pada malam hari selepas sandyakala. Mereka yang dinanti biasany...

Nyepi Sehari, Orang Bingung Tak Bisa Menahan Diri

Jam baru menunjukkan pukul satu siang, saat pikiran mulai mencoba mengingat-ingat cerita film yang sedang berjalan di layar ponsel, sudah masuk adegan yang mana. Begitu tersadar, rasa malas masih betah berdiam pada diri, sembari meraih guling untuk lanjut memejamkan mata barang sebentar. Yang tentu saja gagal. Mengingat rutinitas harian saat tak bekerja, jam biologis otomatis berputar. Mengantuk pada waktu matahari berada tepat di atas kepala, dan terbangun satu jam setelahnya. Hal biasa karena pagi tadi olah raga tetap dilakoni sebagaimana biasanya. Film yang sejak tadi setia menemani dengan suara kecil, berganti dengan tampilan beberapa chat whatsapp yang masuk saat tertidur, lalu berlanjut pada timeline Twitter, FaceBook dan Instagram. Mulai banyak notif ucapan perayaan Nyepi dari teman, saudara bahkan orang-orang yang selama ini tak pernah terpikirkan, masuk menyapa dalam bentuk gambar, video ataupun sekedar tulisan singkat penuh makna. Sementara itu beberapa foto post antrean di k...

Menikmati Suasana Nyepi yang tak lagi Sepi

Laju kendaraan roda dua bermesin besar ini tampak melambat sejak keberangkatan tadi sore jelang malam, mengitari jalanan Kota Denpasar yang mulai ramai menuju normal, ditengah pandemi Covid-19 awal tahun 2021. Suasana sepi yang tempo hari pernah melanda sebagian besar pemandangan, kini tak lagi bisa ditemui. Puluhan sepeda motor bahkan terlihat penuh sesak berjajar di beberapa gerai cafe kopi masa kini, yang makin menjamur hingga pinggiran kota. Langit Kota Denpasar cukup cerah jika benar diamati sejak sore tadi. Membuat hasrat menjadi begitu tinggi untuk berkeliling kota menggunakan XMax bersama istri. Maka jadilah kami berdua berputar menyusuri jalanan yang ramai dagangan dan warna warni lampu hias sepanjang mata memandang. Tak sedikitpun merasakan suasana bahwa dalam hitungan hari kedepan, kami akan merayakan Tahun Baru Caka aka Nyepi sebagaimana halnya masa-masa sebelumnya. Suasana hari raya yang begitu dinanti umat Hindu di Bali ini, biasanya tampak jauh-jauh hari sebelum pengerup...

Malam Pertama Nyepi dari Lantai 2

Satu persatu lampu rumah disekitar dimatikan, tanda aktifitas hari ini jelang berakhir. Menyisakan beberapa kewajiban kecil yang tak membutuhkan nyala lampu benderang. Sejauh mata memandang, lingkungan kami jadi gelap gulita. Malam Pertama menikmati Nyepi dari Lantai 2 Setahun lalu, kami beristirahat lebih awal, mengingat rumah yang kami tempati berada nyaris di tepi jalan, atau minimal bakalan terlihat dari jalan bilamana menyalakan lampu kecil sekalipun. Tidak demikian halnya dengan hari ini. Penerangan minimal yang berada pada area tangga ternyata masih mampu memberikan sedikit cahaya di dalam rumah, memungkinkan anak-anak masih bermain sebentar sebelum tidur. Meski tak kami sarankan. Saya sendiri lebih suka berada di area balkon depan lantai 2 menikmati kesunyian dan gelapnya malam perayaan Nyepi, Tahun Baru Caka 1942. Hanya nampak beberapa titik bintang di atas sana. Koneksi Internet rupanya masih tetap dapat diakses seharian penuh namun dengan kecepatan yang sudah disesuaikan. Un...

Sunyi sekali Pagi ini

Si bungsu Ara sudah selesai mandi, kini ia bersiap sarapan pagi dengan dua biji nugget goreng buatan neneknya. Intan, si tengah sedang berancang-ancang ambil tugas pertamanya tahun ini, mebanten saiban, nasi pada sehelai daun pisang, menggantikan tugas si Sulung Mirah yang masih tampak asyik memeluk guling. Ia jadi sedikit pemalas pasca tamu bulanan yang menghampiri dua bulan belakangan ini. Sementara sang Ibu tampak berjalan mondar mandir di halaman rumah menyiapkan banten Buda Kliwon yang sudah disiapkan sehari sebelumnya. Tubuh ini sudah mulai merasakan panas, dan titik-titik keringat sedikit demi sedikit membasahi tubuh. Jumlah langkah pagi mendekati angka 4000an, hanya dari berkeliling rumah saja sejak pagi. Setiap 2-3 putaran, saya berhenti sejenak untuk menyuapi Ara dengan satu sendok nasi berisi brokoli dan secuil nugget bersaos tomat. Ia tampak lahap dengan sarapannya. Suara gemericik air kolam yang menghiasi halaman rumah terdengar ramai. Sesekali dengungan pompa air diatas s...