Ketika seseorang mengambil keputusan untuk menjalankan Puasa selama 12, 24 atau 36 jam saat Tahun Baru Caka atau Hari Raya Nyepi, itu artinya ia telah siap untuk menghadapi segala cobaan, tantangan bahkan godaan dalam bentuk upaya-upaya dari lingkungannya baik secara sengaja atau tidak, untuk menggagalkan niat dan keputusan tersebut. Bukan malah berharap agar lingkungan mendukung, lalu ikut berpuasa saat yang bersangkutan berada dalam lingkungannya. Karena keberhasilan saat mencapai akhir dari sebuah keputusan yang besar, akan memberikan makna dan ‘perhargaan’ *apapun itu bentuk dan harapannya- akan jadi makin bernilai secara fisik dan psikis bagi insan tersebut. Hal ini kerap disampaikan oleh seorang guru agama kami semasa SMP dahulu, yang selalu menanamkan pemahaman pada anak didiknya untuk mencoba menjalankan puasa begitu matahari menjelang saat Tahun Baru Caka tiba. Tentu dalam bahasa yang lebih mudah dimengerti oleh kami dalam usia remaja. Maka ketika saya mencoba menja...