Skip to main content

Posts

Showing posts with the label renungan

Renungan : Tentang Pernikahan

Seorang Suami Hendak Melakukan Hubungan Intim Dengan Istri nya, Namun Istrinya Ternyata Lelah… Pria ini berpikir bisa selalu memeluk erat seorang wanita yang dia nikahi dan yang pernah memberi kebahagian dalam hidupnya. Dia pernah bersumpah untuk selalu membuat istrinya bahagia seumur hidupnya. seiring berjalannya waktu, pria bernama Chang yang dulu statusnya hanya seorang buruh. Kini telah menjadi kepala bagian, lalu membuat perusahaan konstruksi sendiri. Sekarang perusahaannya semakin besar dan terkenal, godaan terhadap dirinya pun semakin banyak. Malam itu, dia membalikkan badan istrinya, hanya sekedar ingin berhubungan suami istri. Namun dia menyadari, kini istrinya semakin menua, tubuh yang langsing kini sudah berisi, kulitnya pun tidak halus lagi. Jika dibandingkan dengan sejumlah wanita cantik di sekelilingnya, dia hanyalah seorang wanita desa yang kusam, keberadaan istrinya mengingatkannya pada masa lalu yang sederhana. Dia berpikir, pernikahan ini sudah mencapai titik akhirnya...

Renungan buat Orang Bali : meAgama Santai

IBU SAYA DAN MEAGAMA YANG SANTAI  Ibu saya sudah berumur 90-an kini, sudah pikun dan senang main ceki. Dia ibu yang asyik dalam soal mengajarkan anak-anaknya megame alah nak Bali. Ibu saya tidak pernah menakuti-nakuti soal apapun jika berkaitan dengan betare, kawitan, soal membanten; ibu saya termasuk ibu yang sangat relaks. Bahkan kadang membuat saya tersenyum jika mengingat; hal-hal kecil yang membuat logika, nalar saya tersentak; Suatu hari, ibu menata canang dan segehan, sejumlah yang akan dihaturkan di seluruh rumah. Ibu saya memercikan air, kemudian pelukatan, kemudian tirta. Lalu memasang dupa diantara apitan canang-canang. Lalu segehan itu ditaburi garam, diperciki arak berem; Ibu saya kemudian berucap pelahan; "Tiang leleh pisan, ten nyidayang keliling, niki titiang ngayat sareng sane nuwenang jagat, sane nuwenang karange, rauh jebos meriki...."---Saya yang berdiri tak jauh darinya tak bisa tidak menahan tawa, dan berucap,"saya yang membanten...kalau ibu lelah...

Renungan untuk Orang Bali : Ida Betara dan Ayam Panggang

Ida Betara dan Ayam Panggang (Sebuah renungan buat orang Bali)  Alkisah I Made Vario Tekno (dipanggil De Vano) menghaturkan sesaji di pura. Saat itu ada I Wayan Mio Kopling (Yan Miko) dan berkata, “apa Ida Betara suka buah, kue, lawar, ares, sate, ayam panggang, dll?” Ketika melihat sesari, ia bertanya lagi “apakah Betara perlu uang?”.  Diseruduk dengan pertanyaan itu, De Vano kebingungan. Namun belum sempat menyahut, tiba-tiba De Vano dan Yan Miko menghirup wangi dupa sangat harum. Pikirannya melayang ke sebuah tempat yang penuh wangi bunga. Lalu muncul sosok berpakaian putih dengan wajah tak jelas. Sosok itu berkata: “Pertanyaanmu memang benar. Anak muda jaman sekarang memang berfikir fragmatis dan perlu jawaban realistis”.  Begini cucuku: “Apapun yang kau haturkan dengan senang hati dan tulus, maka itulah yang beliau suka. Jika menghaturkan sesuatu yang tidak disuka, maka beliaupun tidak suka”.  “Apakah Ida Betara suka ayam panggang? Tanya balik dirimu!, apakah ak...

Ruang Tamu, 7.47 PM

…Satu satu daun berguguran …Jatuh ke bumi dimakan usia …Tak terdengar tangis tak terdengar tawa …Redalah reda …Satu satu tunas muda bersemi …Mengisi hidup gantikan yang tua …Tak terdengar tangis tak terdengar tawa …Redalah reda …denting piano kala -jemari menari …nada merambat pelan di kesunyian malam …saat datang rintik hujan bersama setiap bayang …yang pernah terlupakan …Karena lapar kucing hutan menerkam tikus salju …Tikus salju malah mendapatkan teman …Kucing hutan yang gagal gagal lagi …Tikus salju biasa saja sudah nasibnya selamat …Dari balik bukit dikaki cemara …Aku melihat mulut harimau berlumuran darah …Kucing hutan yang gagal ia terkapar Akhirnya mati

Mereka Ada karena Kita Membutuhkan

Seorang Pedagang kaki lima duduk menanti pembeli di pojokan pasar pinggiran Kota besar Jakarta. Matanya masih menyiratkan kekhawatiran akan datangnya aparat keamanan yang berusaha membersihkan keberadaannya dari jalan raya lantaran dianggap mengganggu jalannya lalu lintas. Beberapa orang pembeli mengatakan hal yang sama ketika kutanya. Camilannya enak dan gurih, murah lagi. Seorang Pengemis kecil menyodorkan tangannya sembari mengusap kaca mobil yang melambat di perempatan jalan. Dari segi usia, kurasa ia sedikit lebih besar dari putri kecilku. Tega sekali orang yang memaksakan mereka mengemis malam hari begini. Kusodorkan selembar ribuan yang lantas mengundang pengemis lainnya dan memaksa meminta hak yang sama. Seorang Penjual mainan masih tampak asyik merayu bocah kecil, sambil mengimingkan sebuah pistol air yang dapat menyemburkan puluhan gelembung ketika pelatuknya ditembakkan ke udara. Bocah tampak senang dan meminta sang bapak untuk membelikannya. Demi anak, apa sih yang tidak ? ...