Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Hidup

Diam dan Menyaksikan

Makin berumur, kerap kita diajarkan oleh pengalaman lebih baik diam dan menyaksikan, ketimbang bersuara dan dikucilkan.  Ini tampaknya berlaku di semua lini, baik kehidupan berkeluarga, sosial masyarakat, atau berpolitik.  Meski keseringan dengan melakukan aksi diam, malah lebih rentan untuk ditindas dan kalah. Itu sebabnya sebagian dari kita, lalu memilih nekat bersuara agar orang di luar sana paham dengan keadaannya.  Diam dan menyaksikan.  Jauh lebih bermanfaat ketimbang bersuara dan dikucilkan. Meski dalam kenyataannya dalam diam pun kita sudah dikucilkan. 

Ada Hikmah di Balik Kurang Kerjaan

Satu triwulan sudah berlalu. Pekerjaan yang diemban makin kesini makin terasa sepi. Waktu luang jadi semakin banyak. Jabatan tambahan sebagai PPK sudah tidak lagi dipanggulkan ke pundak. Kegiatan yang diwenangkan pun tidak ada rupa fisik maupun konsultansi. Hanya verifikasi dan survey lapangan, lalu menyampaikan draft rekomendasi kepada pimpinan dan bupati. Selesai. Meski kesibukan saat berhadapan dengan desa dan masyarakatnya cukup menyita waktu dalam kurun tertentu, namun tekanan yang ada jauh berbeda. Tak ada lagi makian dan caci ketidakpuasan, pula sms dengan bahasa tak sopan. Tak ada pula komplain tengah malam atau pemanggilan menghenyakkan pikiran dari aparat. Semua sirna seiring alphanya penugasan itu. Aktifitas berkurang, rejeki pun berkurang. Minimal hari segi honor yang kali ini rupanya mengadopsi pola yang berbeda. Jika dahulu hanya diberikan untuk 1 paket pekerjaan, sebanyak apapun jumlah yang dibebankan, kini sepertinya lebih manusiawi dan tentu menggiurkan. Dibayar penuh ...

My Last Day

Menonton beberapa film lama diantara waktu senggang jam kerja kantoran, cukup membuatku terpekur diam. Ingat pada kehidupanku dan sakit yang kuderita. Diabetes Perubahan gula darah yang mampu membunuh siapapun pengidapnya secara diam-diam, kelak akan membuka pintu bagi belasan penyakit tingkat tinggi lainnya, dan aku secara pribadi yakin tak akan mau mengalami itu semua di usia yang sangat muda. Namun apa yang kusaksikan pada kisah-kisah sendu dalam film lama tadi, benar-benar membuatku berpikir keras, kira-kira jika aku diberikan waktu sehari lagi oleh-NYA sebelum ajal menjemput, apa yang akan kulakukan kelak ? Mengajak anak-anak bermain dan berkata bahwa aku sangat menyayangi mereka dan juga istri dan orang tuaku ? Atau menangisi semua kesalahan yang pernah kuperbuat hingga Ia hanya memberikan sehari lagi waktu untuk bersama orang-orang yang kucintai ? Maka saat ini pun aku mulai banyak merenung dan berharap bahwa hari terakhir itu tak akan pernah tiba. Karena tak pernah kubayangkan ...

Tuhan (ternyata) Tidak Tidur

Sebetulnya agak kaget juga saat berita itu didapatkan beberapa waktu lalu. Pikiran secara otomatis bertanya tanya… tersangkut kasus apakah gerangan. Seperti biasa, GooGLe pun disusuri. Hasilnya mengejutkan. Ranah itu rupanya tersentuh juga pada akhirnya. Tapi yang mengejutkan tentu saja status yang kini telah disandang. Tuhan (ternyata) Tidak Tidur… bathinku. dan pada akhirnya pula, aku mempercayai hal itu. Mungkin memang benar kata kata orang tua. Bahwa ketika kita tidak menghormati lingkungan, kelak lingkunganpun yang akan menghukum. Entah dalam bentuk apa. Yang pasti, kini sudah ada satu cermin lagi. Yang bisa digunakan untuk berkaca bagi diri sendiri. Setidaknya untuk bersikap lebih bijak dan tetap pada jalurnya. Meskipun penderitaan itu seakan tiada henti mendera. Dalam waktu yang panjang pula. Aku bersyukur. Masih bisa melihat anak anak tumbuh hingga tidur dalam lelapnya. Aku bersyukur. Masih bisa mengajak orang tua untuk menikmati liburan dan rekreasinya. Aku bersyuku...

Luangkan sedikit waktu untuk Keluarga, Kawan

Kabar duka datang dari seorang rekan yang baru saja saya kenal beberapa bulan terakhir. Rekan yang bagi saya tergolong sedikit bicara, terlihat sangat shock dengan keadaan yang menimpanya. Bisa jadi karena faktor kedekatan yang teramat sangat menyebabkannya demikian terpukul. Kepergian sang ibu membuatnya kehilangan semangat dalam melanjutkan hari-harinya. Kabar duka bukan hanya sekali ini saya alami. Setidaknya ada 12 (dua belas) orang yang mampu saya ingat dari anggota keluarga yang pergi sejak tahun 1984. Nenek, kakek, paman, uwak, hingga adik sepupu pun pernah memberikan banyak kenangan sepanjang hidupnya. Pukulan paling dalam diberikan saat kepergian adik sepupu yang seumuran, 16 Desember 2003. Sehari pasca saya melakukan Resign dari tempat kerja. Malam terakhir itu hanya sedikit yang sempat kami bicarakan, dan esoknya ia telah pergi. Saya masih ingat, saat itu saya merasa sangat menyesal. Karena sepanjang perjalanan kami, sangat sedikit ingatan yang mampu direkam. Ketiadaan media...

Apa Ukuran sebuah Hidup yang Bahagia ?

Kira-kira apa yang menjadi ukuran dapat membuat anda merasakan bahagia dalam hidup ? Seandainya melajang, apakah pacar yang cantik dan seksi ? punya waktu luang untuk dugem atau interaksi sosial lainnya ? menunggangi motor gres atau mobil yang lagi trend ? Teman-teman yang dekat dan loyal ? Seandainya pula telah berkeluarga, apakah karir yang sukses menjadi satu-satunya tujuan ? mobil mewah barangkali ? uang yang melimpah ? atau malah rumah indah nan megah ? Bagi saya pribadi sih, itu bukan ukuran untuk membuat saya bahagia dalam menjalani hidup. Tapi kalo untuk sekedar menjadi alternatif pendukung, ya tentu saja itu semua ada didalamnya. Trus apa dong yang paling penting bagi saya agar bisa bahagia dan jauh lebih menikmati hidup ? KeLuarga tentu. Dalam hal ini hubungan saya dengan Istri dan anak, serta tentunya yang berikut adalah dengan Orang Tua dan Mertua. Sebegitu simpel dan sederhana ? gak juga sih. Karena untuk menyatukan keluarga dalam suasana cinta kasih sangat sulit diwuj...