Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Legian

Sampai Kapan Semua akan bisa Bertahan ?

Simpang jalan Nakula-Legian adalah salah satu titik keramaian lalu lintas yang kerap terjadi pada jam-jam kerja ataupun musim liburan. Jalan ini adalah salah satu alternatif jalur yang biasanya digunakan untuk mengakses pantai Double Six, tempat dimana sebuah sarana akomodasi bintang lima berada. Siang kemarin, saya menyempatkan diri berkeliling kawasan Kuta untuk melihat langsung bagaimana suasananya dalam masa yang katanya masuk kategori New Normal. Masa dimana pariwisata di Bali kembali dibuka, namun sayangnya tanpa ada kunjungan mancanegara. Jadi ya tetap sepi. Jalan Legian yang biasanya padat oleh kendaraan roda dua, kini tampak lengang. Bayangan mobil saat melintasi belasan gerai yang menyajikan kaca bening di are depan tampak jelas saat roda melaju perlahan. Satu hal yang jarang terjadi saat Bali dipenuhi turis dan wisatawan domestik. Kata sebagian orang, Bali tak butuh banyak turis. Sehingga bisa dikatakan, tampaknya Bali sedang diuji kini. Tanpa adanya kunjungan, tanpa ada pem...

Legian Kuta pagi ini

Kalau saja saya tidak ditugaskan menghadiri Lokakarya Penilaian Kabupaten/Kota Tangguh Bencana, mungkin tidak akan pernah melihat secara langsung betapa mirisnya pemandangan jalan Legian masa pandemi begini. Sepi. Gerai-gerai kecil yang dulu dipenuhi barang dagangan, sudah banyak yang tutup. Bahkan beberapa yang berukuran besar pun ikutan kena imbas. Hanya beberapa saja yang masih bisa bertahan. Itupun sepi pengunjung. Bahkan sekelas CK dan Indomaret yang biasanya beroperasi 24 jam pun harus ditutupi plastik hitam di keseluruhan kaca display depan. Turis yang dulu kerap bersliweran, lalu lalang dengan motor sewaan, kadang jauh lebih ngawur dalam berkendara daripada penduduk lokal sekitarnya, tak satupun tampak di trotoar dan jalanan. Hanya pak Satpam saja yang menunggui tempat kerjanya, asyik dengan layar ponsel, sesuatu yang cukup langka terjadi jika disanding dengan suasana sebelumnya. Laju sepeda yang dikayuh satu dua orang menyusuri jalanan Legian, tampak santai lantaran suasana la...

Sore Sandya Kala…

Aku berjalan menyusuri pinggiran trotoar pada sebuah jalan yang sudah kukenal sebelumnya. Beberapa hari sebelum satu upacara keagamaan terbesar akan dilakukan.  Upacara untuk membersihkan Legian Kuta pasca pengeboman Oktober tahun 2002 lalu. Satu dua toko tampak sudah mulai berbenah mempersiapkan diri mereka akan malam yang kan datang menjelang. Beragam orang berlalu lalang disekitarku… dan mataku tertumpu pada satu tempat. ‘Bunga, Pak ?’ sapa seorang pedagang yang berada disekitar tanah tersebut. ‘Untuk mengenang orang yang Bapak sayangi…’ tambahnya. ‘Tidak, Terima Kasih… tak satupun dari mereka yang saya kenal.’ ‘…atau untuk mereka yang…’ belum selesai si pedagang berucap, aku bertanya ‘Siapa mereka Bu ? yang tertawa ramai disitu ?’ tanganku menunjuk tanah kosong yang sedari tadi kuperhatikan. ‘Maksud Bapak ?’ ia balik bertanya… ‘Itu… yang menari gembira dan tertawa keras…’ ‘Jangan menakut-nakuti saya Pak… ga’ada orang disitu… siapa yang Bapak maksud ?’ si Ibu pedagang mulai kebingun...

pagi satu ketika…

Entah bagaimana caranya aku bisa berada ditempat ini… Sebuah gang kecil yang kumuh, aku bersandar pada tembok, disela batu bata berlumut layaknya masa kecilku. Orang berlalu lalang didepan gang seakan tak peduli dengan kehadiranku… Langkah seorang Bapak tua terhenti, berbalik memandangiku, menghampiri dan menyodorkan sebatang rokok putih yang kuhisap dengan rakus… ‘bukan orang sini Pak ?’ sapanya. ‘dimana ini Pak ?’ balik kubertanya. ‘Legian… Kuta…’ jawabnya sambil menghirup nafas dalam-dalam. Terpekur kumenatap sekelilingku. Luluh lantak tak berbentuk… ‘Apa yang terjadi ?’ tanyaku kembali. ‘Bom…’ ucapnya terhenti. ‘…lagi ? Legian dibom ?’ tanyaku terheran seakan tak percaya… dan ekspresi yang ditampakkannya pun sama denganku. ‘Apa maksud Bapak dengan ‘lagi ?’ ‘Seingat saya Legian dibom tujuh tahun lalu Pak. Tahun 2002, bulan Oktober… bagaimana bisa kini Legian kembali mengalami hal yang sama ?’ cecarku. ‘Apa maksudnya dengan ‘tujuh tahun lalu ? ini tahun 2002 Pak. Bulan Oktober…, apa ...