Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Pande Made Hartiasih

Kangen

Mimpi itu datang lagi. Kali ini dengan alur cerita yang membingungkan, Namun yang terpenting disini bukanlah itu. Tapi kehadiran kakakku almarhum didalamnya. Mungkin lantaran kangen akan kehadirannya dalam wujud nyata yang takkan pernah bisa kudapatkan hingga kini, atau bisa juga lantaran keluhanku yang tak bisa berbagi kisah lagi dalam mengajak jalan kedua orangtua seperti dahulu saling berganti. Ya, nelangsa memang jadinya. Kisah dahulu memang indah dan tak kan mungkin bisa kembali dinikmati, hingga akupun pernah mengeluhkannya pada Ibu satu malam lalu. Termasuk cerita tentang ponakanku yang makin jarang bisa berkumpul bersama lagi. Entah karena kini ia sudah masuk masa remaja, atau karena rasa minder yang ia miliki tak punya Ibu lagi. Kami jalan terpisah. Aku, Mirah putri kami, suaminya dan ponakan berada di satu kendaraan, sementara kakak almarhum berada terpisah di kendaraan lain bersama kedua orangtua dan istri. Rombongan satu lebih banyak bersantai berkeliling kota, sementara ya...

Sirna Sudah Semua Penderitaannya

Senja telah beranjak memudar saat kami tiba di pesisir pantai matahari terbit, sabtu sore 18 Mei 2013, satu lagi hari bersejarah bagi kami… Sesuai rencana, upacara pengabenan almarhum kakak, Pande Made Hartiasih di rumah duka Yang Batu berjalan dengan tenang dan tertib. Sanak saudara berdatangan silih berganti untuk memberikan penghormatan terakhirnya pun demikian dengan rekan-rekan kantornya di PDAM Kota Denpasar dan Kabupaten Badung, tak lupa perwakilan dari alumni Smansa angkatan 89. Waktu luang yang tercipta pasca upacara Ngajum/Mejauman sembari menunggu prosesi pengabenan, merupakan saat-saat dimana kami seolah kembali ke masa lalu untuk sejenak. Mengisahkan kembali perjalanannya sedari awal, terdeteksi kanker hingga melewatkan hari terakhir di RS Wangaya, tak lupa berbagi wajah dari masa kanak-kanak, remaja hingga dewasa yang memang dengan sengaja aku simpan dan kumpulkan dalam bentuk kepingan cd sejak tahun 2000an lalu. Proses pembakaran jenasahpun berlangsung dengan cepat, meng...

Doa untuk Kakak

Duduk di pojokan deretan kamar rawat inap lantai tiga paviliun praja Rumah Sakit Wangaya, mengingatkanku pada masa menunggui MiRah putri kami saat ia terbaring sakit akibat Demam Berdarah beberapa waktu lalu… Kini kami kembali lagi di tempat yang sama untuk menunggui kakak kandungku yang jauh lebih lemah terbaring akibat kanker lidah, menggerogoti tubuh dan dagingnya hingga menyisakan kulit membungkus tulang. Sangat memprihatinkan. Pikiranpun melayang… Masih lekat dalam ingatanku. kakak ikut mengantar kami ke seputaran Kuta hanya untuk mencari sepatu kets berwarna putih sebagai kewajiban dan keharusan bagiku di kantor Bupati melaksanakan tugas hari jumat pagi. Itu kebersamaan kami yang terakhir, melihatnya makan dengan lahap bersama putranya. Jauh setelahnya, kamipun masih sempat berkumpul bersama kakak kandung laki-lakiku yang datang ke Bali, dan menghabiskan waktu sekeluarga sehari sebelum keberangkatannya balik ke Kanada. Saat itu ia sudah tak dapat lagi makan dengan baik...

Menanti Mukjizat dari-NYA

Aku lupa, sudah berapa lama kami tak bercandatawa seperti dahulu… Berkumpul bersama, menikmati hari minggu pagi bersama anak dan orangtua, untuk sekedar melepas penat bekerja seminggu penuh beban… Saatnya untuk melepas dengan kegembiraan… Aku lupa, sudah berapa lama suara itu hangat menyapaku… Hanya untuk bertanya kabar putri kami atau keadaan orang tua yang kebetulan jarang berkunjung untuk melepas rindu… Sambil membawakanku sebungkus makanan kesukaan, yang biasanya kami bagi sedikit dengan anak-anak… Aku lupa, kapan terakhir kali melihat wajahnya yang gembira, entah usai mendapatkan THR, datang dari jalan-jalan atau menonton sesuatu… Dan senyum itu selalu terbayang hingga hariku kini… Aku lupa, kapan terakhir kali aku ucapkan jika aku menyayanginya dan mengharapkan kesembuhannya, hingga kami bisa berkumpul seperti dulu lagi… Aku lupa… Yang mampu aku ingat hanyalah gambar karikatur yang kubuat saat ia menikah dulu, sebagai sat...