Skip to main content

Posts

Semarang, Seperti Apa sih ?

Recent posts

SeMellow itu Saya ternyata

Jujur... Krmarin itu saya sempat nangis sendirian didalam mobil pasca nganterin anak tengah sekolah pukul setengah enam pagi. Karena harapan kami, dia bisa ikut serta main bareng ke Kota Semarang untuk mencarikan kost buat kakaknya yang lulus ujian masuk Universitas Doponegoro Semarang tanggal 7 Juli lalu. Namun sayang, karena memilih persiapan tampilnya dia bareng tim Paskibra Dasa di agenda MPLS SMPN 10 Denpasar hari Selasa besok, dengan berat hati kami meninggalkannya bersama Neneknya di rumah.  Se-mellow itu ternyata perasaan saya ketika kami harus berpisah dengan salah satu anak, padahal rencananya gak sampe 3 hari di Kota Semarang. Cuma 2x24 jam malahan. Tapi memang ini kali pertama jalan bareng saya bersama keluarga kecil yang sejak dulu diimpikan.  Kapan ya kalian bisa naik pesawat bareng bapal ibul ?  Ternyata di usia sekolah.  Sementara saya kalau gak salah di usia 27 atau 29 😅 saat melawat pertama kali juga ke Jakarta. Dih.. katrok banget saya nok. ...

Semarang... Bakalan Bikin Mewek

Ini kali pertama kami ke luar kota (nyaris) sekeluarga. Kenapa bisa (nyaris) ? Karena satu dari tiga putri kami memilih tidak ikut serta lantaran harus menyiapkan diri tampil di parade extra kurikuler Paskibra/Baris Berbaris yang akan dilakukan pada hari Selasa mendatang, sebagai bagian dari agenda MPLS di SMPN 10 Denpasar, yang sekaligus juga jadi panitia pengenalan lingkungan sekolah sebagai salah satu anggota Osis juga.  Maka jadilah kami berempat dalam satu keluarga kecil yang dimiliki, didampingi kakak ipar, melangkah optimis menuju Gate 6 Bandara Ngurah Rai, jumat sore tadi. Rencananya hari ini mau melawat ke kota Semarang. Daerah yang beneran baru untuk dituju, sepanjang hidup kami semua sejauh ini. Ya, saya pribadi pun istri apalagi anak-anak, rasanya memang belum pernah menginjakkan kaki di Kota Semarang. Semoga semua baik-baik saja. Ah ya, Ngapain ke Semarang ? Sulung kami tahun ini sudah lulus bangku putih abu. Padahal rasanya baru kemarin dia nangis-nangis gak mau pisah...

Wisata ke Toko Buku

Salah satu tempat wisata terbaik bagi remaja dan juga orang dewasa, sepertinya toko buku 😅 tapi gak akan berlaku bagi mereka yang gak suka baca.  Saya pribadi masih suka melakukan aktifitas satu ini. Meski gak melulu membaca laman cetakan dari kertas, tapi tetap suka membaca dari media apa saja. Termasuk ponsel.  Sementara itu anak-anak kami ada yang menurun plek dengan hobi saya itu, meski ada yang juga yang nurunnya dari sisi kreatifitas yang lain. Ngegambar misalkan. Lebih memilih berburu cat warna ketimbang buku. Dan semua terakomodir di satu tempat ini. Kota Denpasar sendiri tampaknya gak banyak menghadirkan toko buku yang masih bertahan hingga kini. Bahkan sekelas Toga Mas yang dulu pernah jadi surganya penggemar buku akhirnya mengalah dan tutup gerai. Yang ada kalau gak salah cuma Gramedia ini saja.  Meski saya suka membaca, seingat saya rasanya memang jarang membeli buku untuk diri sendiri di Gramedia. Paling sering itu di lapak pedagang majalah saat mereka masih...

Ah Sudahlah...

Kadang saya mempertanyakan tentang nasib yang didapat, seakan-akan semua hal gak ada artinya, tetap diam di tempat bahkan bisa jadi kemunduran atau kegagalan selalu menghantui setiap kali promosi jabatan itu didengungkan. Namun tampaknya saya lupa bahwa apa yang sudah didapat hingga hari ini, sebetulnya sifah merupakan satu kemajuan yang mungkin dahulu tak pernah terbayangkan. Keluarga kecil yang menyenangkan, istri yang pengertian meski kadang memiliki pemikiran berseberangan, anak-anak yang manis meski sedikit membangkang, pun soal penghidupan yang lumayan baik jika saya mau melihat ke bawah. Melihat mereka yang terpinggirkan, bergelut dalam hutang yang bahkan bingung mau mencari penghasilan dari mana. Lalu pendidikan anak dan prestasi mereka yang membanggakan. Sudah jauh lebih baik dari apa yang pernah saya bahkan kami dapatkan dulu. Meski dengan berbagai tantangan yang harus benar-benar dihadapi. Belum lagi soal jabatan lima tahun Kelihan Adat, yang tampaknya bakalan berakhir de...

Akhirnya... Punya Anak Kuliahan juga

Akhirnya... Punya Anak Kuliahan juga. Ada rasa haru pas melihat bagaimana perjuangan dia yang nyatanya memang lebih berat dari kami berdua alami dahulu. Ada rasa nelangsa pas tahu dia mengalami banyak kegagalan di tengah jalan, tapi kami yakin, kelak bakalan membentuk mentalnya pas berhadapan dengan kenyataan dalam kesendirian di luar sana.  Ada rasa sedih pas tahu kalau keinginannya memang kekeh harus kuliah di luar. Jauh dari anak gadis kok rasanya gak relaaa... Tapi ya tetap harus dijalani, karena semua itu adalah demi masa depannya kelak. Kami mah tinggal mendukung dengan bekal atau semangat. Apapun yang nanti akan datang padanya, kami selalu berharap kebaikan dariNya selalu mendampingi semua langkah dan keputusan.  Dan ya, benar kata kawan saya masa sekolah dulu... Harusnya kami sebagai orangtua malah bangga, karena anak-anak sudah memiliki kemampuan lebih untuk mengenyam pendidikan yang tentunya lebih baik dari orangtuanya. Dari sisi tempat belajar maupun pengalamannya k...

Kelihan Adat cukup Satu Periode dan Lima Tahun

Yang namanya lelah dan jenuh saat menjalankan tugas ataupun kewajiban itu, bagi saya sudah biasa... Cuma perlu sedikit jeda untuk beristirahat, mengalihkan perhatian atau menikmati waktu dalam kesendirian, untuk sekedar bercerita pada media yang dimiliki, menghabiskan waktu untuk hal-hal remeh, lalu kembali pada tugas tanpa melupakan kewajiban yang diemban.  Karena kalau bukan diri sendiri yang mengerjakan, rasanya gak bakalan mungkin membebankannya pada yang lain.  Ke Tuban meli Lele. Bin  aTiban gen ne Leee...  Gae Kelihan Adat cukup Satu Periode atau Lima Tahun saja sesuai Awig-awig banjar 😄 Berikan Kesempatan pada Krama yang lain untuk Ngayah. Yuk Lanjut ngaryanin surat anggen krama ageng rahina Kuningan lagi Bli. Nu kene-kene ya harus pedidi ne nyemakin. Masing-masing orang sudah punya peran sendiri. Semangat...