Skip to main content

Posts

Showing posts with the label jalan kaki

Satu Sore di Subak Bergiding

Jauh juga perjalanan kali ini. Satu sore di hari kamis, bersepatu kulit dan celana kain, mengawal anak-anak OSIS SMPN 10 Denpasar yang memantau lokasi outbound hari terakhir MPLS, yang besok pagi akan diselenggarakan di kawasan persawahan Subak Bergiding, Sekarmukti Pangsan Petang. Ternyata jaraknya cukup jauh. Sekitar 5 KM lebih.  Dan kami melahapnya dengan jarak waktu sekitar 42 menit. Hanya saja jika dilihat dari kecepatan saat berjalan menyusuri paving merah yang kalau tidak salah ingat, dikerjakan pada tahun 2015/2016 silam, rasanya sih gak sampai sejauh itu. Cuma naik turunnya medan di lokasi yang lumayan membuat bertanya-tanya, eh ini seriusan ?

Lima Tahun Aksi, 25 Juta Langkah terlampaui

Awal-awal percobaan untuk memenuhi target langkah harian, rasanya memang berat banget. Mengubah kebiasaan mager jadi lebih aktif untuk mencapai 1 tujuan. Kesehatan. Maka jadilah pada 25 Februari 2017 lalu, setelah menyelesaikan semua hutang di tempat penugasan lama, lalu mendapati suasana kerja yang lebih santai di tempat baru, serta mencoba menggunakan smartwatch untuk mendukung aksi olahraga secara berkala, satu persatu rencana dan pola mulai dijalankan. Dari yang menargetkan jumlah 6000 langkah setiap hari, tapi kembang kempis dalam upaya pemenuhannya, lalu masuk pada tahap nagih, dimana target bertambah menjadi 10ribu langkah sehari, sampai jadi bener-bener gila dalam kesehariannya. Gila dalam hal tempat yang akan dituju macam Tohpati, Serangan, Pantai Mertasari, lalu Perumahan Dalung, Puspem Badung, Pasar Mambal sampai Canggu BatuBolong, dengan titik start jam 6 pagi dari rumah. Termasuk Gila dalam hal pencapaian harian dengan rekor sendiri sebanyak 34ribu langkah pada bulan Juni ...

26 Ribu Langkah

Ini kali pertama saya outing olahraga di luar rumah setelah absen lama dalam masa pandemi Covid-19. Senang rasanya bisa kembali menghirup udara luar, melihat keramaian hari minggu pagi, dan hiruk pikuk para pembeli makanan kecil di sisi timur alun-alun Kota Denpasar. 26ribu langkah Tadinya sempat terpikir bahwa aktifitas luar rumah pagi ini dijalani dengan santai saja, mengingat pukul 5 dini hari sudah sempat menjajal 40 menitan gerak badan di area rumah. Tapi ketika menemukan ‘motivator’ yang bisa diajak jalan cepat, maka tanpa terasa durasi 1 jam pun terlewati sesuai pace terdahulu. Seperti biasa, ada 3 pengiring tempo yang saya ujicoba lakukan kembali hari ini. – Peterpan – Langit Tak Mendengar – The Crystal Method – Roll it Up, dan – Guns N Roses – Locomotive Meski mulai agak keteteran pada audio terakhir karena belum lagi terbiasa, tapi lumayan bikin keringat mengucur deras usai aksi dilakoni. Efeknya, kedua telapak kaki rasanya susah...

Menutup Bulan Juni, Bersemangat lagi di Bulan Juli

Upaya menurunkan target langkah harian selama dua bulan terakhir ini, tampaknya cukup lumayan membuahkan hasil. Minimal yang namanya nyeri lutut di kaki kanan sudah tak mengganggu saban malam saat tidur. Jauh lebih nyaman untuk pikiran dan juga fisik tubuh. Bulan Juni, saya menargetkan 6000 langkah kaki setiap harinya. Bisa dicapai dengan berolahraga selama minimal setengah jam sehari. Ditambah aktifitas harian di kantor juga rumah selepas kerja, capaian di malam hari biasanya akan lebih dari target tersebut. Kecuali malasnya muncul. Dengan total 335ribu langkah di bulan ini, memberikan semangat yang cukup besar, untuk kembali melangkahkan kaki sekali seminggu pada jalan paving kawasan kantor, atau aspal seputaran rumah. Hasil yang memuaskan. Pagi ini, saya mencoba untuk turun kembali, menguji kaki dan nafas agar bisa terbiasa beraktifitas kembali laiknya dulu. Lumayan juga, 5.75 KM dilibas dalam satu jam lamanya. Satu awal yang bagus saya kira.

Kangen Outing 10 KM hapus galau Pandemi

Tadi pagi itu sebetulnya pengen banget untuk outing jalan kaki ke pantai Batu Bolong dari rumah, dengan perkiraan jarak sekitar 13 KM jauhnya. Berhubung tahun lalu sudah pernah menjajal jarak sekian, hari minggu pagi juga, mampir ke rumah mertua indah. Cuma sayangnya, gerimis mengundang dari pagi buta jam 5-an, sampai jam 9 kalau tidak salah ingat. Alhasil, aktifitas olahraga harian kembali dilakoni di teras atas sambil mengikuti irama musik Gary Glitter yang jadi ost Joker tempo hari. Ada rasa kangen sebenarnya untuk jalan-jalan ke luar rumah hari Sabtu atau Minggu pagi seperti dulu. Menuju tempat-tempat tertentu sambil menikmati sepinya jalan raya Kota Denpasar masa-masa pandemi begini. Karena pada akhirnya, rasa bosan itu datang setelah selama 3,5 bulan berturut-turut tanpa jeda, memenuhi tantangan harian 10ribu langkah. Salah satu efek samping selama melakoni aktifitas ini adalah telapak kaki bagian yang depan, area yang menunjang semua jari kaki terasa kebas saat durasi olah raga ...

#14days in a Row

Sebetulnya gak ada agenda khusus yang direncanakan, sampai pada akhirnya bisa mencapai rekor jumlah hari dalam satu waktu secara menerus untuk aktifitas rutin olah raga jalan kaki. 14 hari berturut-turut. Meski begitu, untuk persoalan target hariannya, ukuran jauh gak bisa tercapai sebagaimana harapan. Minimal 6.0 KM. Karena sempat di hari Kamis sore, hanya mampu menjalani sekitar 2 KM saja lantaran hujan mendera lapangan dan membuyarkan rutinitas. #14days in a Row Aktifitas berjalan kaki harian makin kesini tampaknya makin nagih buat dilakoni, bagai menggunakan narkoba saja rasanya. Bilamana sehari dua gak dijalankan, badan jadi gak enak dan pikiran pun kemana-mana. Susyah. Tapi begitu sekali dilakoni, baik mata, pikiran sampai fisik badan pun merasa segar. Apalagi jika sampai menjatuhkan keringat dari pergelangan tangan. Selalu pengen lagi dan lagi. Makanya gak heran jika jarak tempuh makin hari makin panjang saja yang ditargetkan. Pola aktifitas seperti ini jadi mengasyikkan tatkal...

Tidak hanya sekedar mengejar Langkah

Aktifitas yang mampu mengilangkan semua penat dan jenuh sejauh ini, kelihatannya hanya satu. dan itu baru ditemukan jelang usia masuk kepala empat. Berolah raga. Setidaknya itu yang dirasa. Berjalan kaki saat dini hari hingga matahari menjelang di penghujung timur, atau menyempatkan diri pasca menjalani hari yang cukup melelahkan, tidak saja menjadi obat yang manjur untuk menumbuhkan semangat hidup, tapi juga upaya untuk mencapai kebahagiaan bagi diri sendiri, keluarga ataupun orang lain. Semua ini tidak hanya sekedar mengejar langkah. Tapi lebih pada kebutuhan, keinginan untuk menjadi lebih baik. Semua jadi terasa indah usai meneteskan keringat. Satu hal yang menggembirakan tentu saja. Melihat banyak orang yang mulai melakukan hal serupa, mengurangi racun yang tumbuh subur falam tubuh, melecut pikiran untuk terus mengulang dan mengulangi lagi aktifitas harian yang belakangan jadi makin rutin dilakoni.

Atasi kebosanan, ikuti arus capai Jarak terjauh

Apapun yang dilakukan setiap hari, termasuk rutinitas sekalipun, ya pasti bakalan membosankan. Celetuk istri saat saya mengutarakan kebosanan yang melanda hari-hari belakangan ini akan aktifitas berolahraga. Itulah gunanya variasi, sambungnya sambil tersenyum. Ah bisa saja nih, bathin sambil berharap akan ada ajakan lanjutan. Tapi beneran. Aktifitas jalan kaki yang nyaris setiap hari dilakoni selama 1.5 tahun ini sepertinya sudah sampai pada tahap ‘kok rasanya berdosa kalau gak sempat jalan kaki’. Doh ! Parah… maka itu dalam setiap kesempatan dan waktu luang, selalu dilewatkan dengan berjalan kaki. Dari hanya ke warung depan, bale banjar, dealer motor hingga lapangan demi lapangan. Efeknya, langkah kaki jadi panen di aplikasi Samsung Health, dan semua tantangan bulanan bisa dilibas dalam hitungan 10 hari pertama. Dan selama itu sudah merusakkan 2 pasang sepatu kawe milik Adid*s yang dibeli online melalui gerai Lazada. Jadi ya gak heran kalo rasa bosan itu jadi cepat pula menghampiri. M...

Pecah Rekor Catatan Personal, Pencapaian Libur Lebaran

Selalu ada sisi positif dan negatif dalam setiap peristiwa yang kita lalui, termasuk apakah itu dengan dibatalkannya agenda plesiran pada libur lebaran kali ini, ya bisa jadi kemudian membawa pencapaian secara personal pada aktifitas rutin yang selama hampir 2.5 tahun ini dilakoni. Pecah Rekor Jumlah Langkah Harian. Dibutuhkan waktu setidaknya nyaris enam bulan untuk bisa memecahkan rekor jumlah langkah harian, yang pada periode lalu mencapai 33 ribu langkah menjadi 34 ribu langkah pada tanggal 1 Juni kemarin. Pemicunya olahraga jalan pagi dan sore hari ditambah aktifitas mencabuti rumput di halaman rumah dalam waktu yang cukup lama. Pecah Rekor Jarak Tempuh Terjauh. Jika rekor jumlah langkah harian dibutuhkan selang waktu enam bulan, untuk rekor jarak tempuh malah lebuh dari setahun lalu baru bisa dipecahkan kembali. Tepatnya dengan menempuh jarak sepanjang 17.34 kilometer, dari rumah di jalan Nangka selatan, melintasi lapangan puputan badung sepanjang 5 kilometer dan melangkah kemb...

MangupuRun, Aksi Dadakan Alasan Kesehatan

Mau lari, Mau jalan atau jalan cepat, Ayo Aja. Yang penting bergerak. Idenya seperti biasa sih, dadakan. Datang dari ibu-ibu muda di Bidang Perumahan Rakyat, yang merasa bahwa berat badan makin nambah seiring munculnya keluhan sakit dan nyeri pada leher juga pundak. Lalu ditanggapi oleh mereka yang sudah melakoni aktifitas olahraga dengan pola dan waktu yang berbeda sebelumnya, maka lahirlah MangupuRun . Penamaan MangupuRun, mengambil dari kata Mangupura, pusat pemerintahan Kabupaten Badung lalu diselipkan kata Run (lari) menggantikan suku kata terakhir. Konsepnya ya sebagaimana paragraf pertama diatas. Yang penting bergerak. Akan tetapi kalau menyinggung soal penamaan, sebetulnya ide awal yang dilempar adalah WalK after WorK. Mengacu pada kebiasaan saya yang kerap berjalan kaki dari awal tahun 2018 kemarin. Jadi agendanya adalah jalan kaki setelah aktifitas kerja. Namun konsep nama MangupuRun kelihatannya lebih keren dan lebih disetujui. Anggota MangupuRun sendiri, ndak banyak. Maks b...

Pecahkan Rekor Personal, Lebih Semangat Gaes

Satu-satunya motivasi yang ada dalam pikiran selama ini dalam menempuh ribuan langkah dan belasan kilometer saat melakukan aktifitas jalan cepat, pagi ataupun sore hari, selepas jam kerja atau saat hari libur adalah Kesehatan. Jangan sampai yang namanya Gula Darah bisa mengalahkan semangat untuk sehat. Naik drastis dan mempengaruhi organ tubuh atau fungsi penting lainnya. Dengan menargetkan 10 ribu langkah per hari saja yang namanya Gula Darah masih betah naik-naik sendiri kalo nggak diimbangi dengan obat. Apalagi turun dari target ? Meski bagi sebagian kawan, aktifitas ini dirasa seperti menyiksa diri, tapi saya pribadi masih bisa menikmatinya sejauh ini. Selain berjalan 5 KM-an memang belum terasa keringatnya walau sudah dilakoni dalam tempo cepat, manfaat cuci matanya juga bisa menyegarkan pikiran. Setidaknya ndak sekalut jaman old-lah. Memecahkan rekor secara personal, sebenarnya bukanlah hal yang wajib dilakukan saban berolahraga. Tapi keinginan untuk sedikit lebih baik tentu saja...

Semangat Olah Raga Sudah Mulai Pudar ?

Ada yang menarik bila mengamati pola hidup yang saya jalani pada bulan Juni lalu. Lebih banyak menikmati waktu luang untuk tidur dan beristirahat, tidak lagi memiliki minat dan semangat untuk berjalan cepat pagi dan sore hari, baik hari kerja maupun liburan. Yeah, bulan Juni Tahun 2018 kemarin memang identik dengan bulannya Liburan, libur panjang akibat banyaknya cuti bersama. Selain itu ada juga faktor tak sengaja yang membuat saya akhirnya harus menyadari ketidakmampuan fisik dalam menjalani tantangan untuk berolah raga setiap harinya demi uoaya menurunkan gula darah yang menjadi momok enah bulan belakangan. Ya, kecelakaan tunggal. Kalian yang rajin mampir dan membaca postingan saya di halaman ini pasti tahu kisah ‘keputusan untuk istirahat terpaksa yang saya lakoni di awal bulan lalu, akibat kecerobohan dalam memanage motor besar Yamaha XMax 250 yang menimpa kaki kiri saat memindahparkirkan kendaraan siang penampahan Galungan tempo hari. Selain itu, belum seminggu berlalu giliran ...

Istirahat Terpaksa Aksi Jalan Kaki 10K

Tangan dan kaki kiri saya masih gemetar pasca diobati istri siang tadi. Bahkan untuk mengetik draft postingan blog ini pun, mengandalkan benar jempol kanan untuk menggerayangi segenap area keyboard virtual pada layar ponsel. Bukan, saya bukannya mengalami Stroke atau kelumpuhan pada badan bagian kiri. Aduh… semoga hal itu dijauhkan dari nasib saya kelak. Tapi ini karena tertindih XMax saat berupaya memindah parkir kendaraan dari area panas ke teduh pukul 14.00 barusan. Sesaat setelah menemani dua bayi kecil yang saya paksa untuk tidur siang tadi. Siapa sangka setelah delapan bulan lamanya, saya baru tersadar bahwa beban motor Yamaha 250 ini memang berat adanya. Jika bukan karena kejadian tadi, mungkin pikiran masih merasa enteng kalo mau menggeber matic premium ini kemana-mana. Termasuk menikung dengan gaya moto GP sekalipun. Kali ketiga, dan kali ini telak banget. Kaki kiri banyak besetnya. Terparah pada sisi dalam betis. Bisa jadi lantaran kena gesekan standar kaki motor yang lu...

Napak Tilas Perjalanan Pulang Sekolah Masa SMA

Lakon terjauh aktifitas berjalan kaki pada masa berangkat atau pulang sekolah, kalau tidak salah ingat, dilakukan pada tingkat SMA. Dari tengah sawah sisi selatan lapangan Pica hingga pulang ke rumah di jalan Nangka Selatan. Jalur jalan yang dilalui adalah Renon lalu Kapten Japa dan Veteran. Lumayan jauh untuk ukuran siswa sekolahan jaman itu. Pulang sekolah dengan berjalan kaki sebenarnya merupakan aksi yang sudah biasa dilakukan. Masa SD, sering bikin ortu kelabakan gegara pulang sekolah milih berjalan kaki lewat jalan Suli dan maaih sempat singgah ke rumah ortu angkat saat itu. Lalu masa SMP, dari Swastiastu di sisi selatan Matahari mengambil jalan shortcut di belakang Tiara Dewata tembus ke Alun-alun Puputan. Atau saat sudah pindah sekolah ke SMPN 3 dibelakang SLUA, ambil 2 jalur, antara gang sebelah RRI atau jalan Banteng yang tembusannya utara rumah. Akan tetapi aksi pulang jalan kaki saat masa SMA itu bisa dikatakan lantaran terpaksa setelah ditinggal pulang kawan sekolah yang d...