Skip to main content

Posts

Showing posts with the label bali

Entah ya

Banyaknya sampah yang berserakan pasca banjir, apakah buah dari kebijakan pemerintah yang menyerah untuk mengelola sampah lalu menyarankan agar sampah dikelola mandiri oleh masyarakat ?  Entah ya. Tapi miris banget dengan Provinsi Bali kali ini...

Bali Ikutan Demo Gaes

Tadi sore itu kami sempat keliling Kota Denpasar, karena anak-anak tampaknya sudah mulai bosan di rumah sejak pagi. Memang berusaha gak kemana-mana, mengingat situasi jalanan sepertinya gak kondusif pasca info demo polda. Pas mentas di sisi utara GOR hingga RS Bhakti Rahayu, sampah masih tampak berserakan di pinggir jalan raya. Beberapa orang terlihat sedang berupaya membersihkannya, dan keberadaan pak pol sudah gak seramai pagi tadi. Tapi pas melewati area SLUA ke arah barat, sampah terlihat makin banyak. Kami bertanya-tanya ada apa gerangan.  Nyatanya semua terjawab pas iseng beli bahan banten untuk Kajeng Kliwon besok di Pasar malam Kereneng, dimana kami mendapat info bahwa massa yang tadinya melakukan demo di area polda, perlahan merapat menuju kawasan renon melalui jalan Kamboja. Ada yang berdarah-darah kata buk dagang. Pantesan jalanan banyak sampah malam ini.  Anak-anak meminta kami main lebih jauh. Jadilah kendaraan diarahkan ke area renon, karena rasa ingin tahu terka...

Bali Menyala Wiii

Bali ternyata Masih Merah... Lalu gimana ceritanya pas Pilpres kemarin Biru di Bali malah melenggang tenang ?  Karena sosok PakDe Jokowi waktu itu masih melekat ?  Pilkada Bali kali ini tampaknya "buwung ngebadingang gumi" atau -batal membalikkan posisi- dimana selama ini Bali dikenal dengan 'Merah'nya, dan baru terjungkal saat Pilpres edisi terakhir kemarin.  Meski masih ada beberapa hal yang membuat saya penasaran, seperti berapa jumlah surat suara yang tidak tergunakan ? Yang bisa menandakan ketidakpercayaan publik akan paslon yang bertanding pada 'pesta demokrasi' kali ini, Atau berapa prosentase surat suara yang tampaknya memang disengaja menjadi tidak sah ? Lantaran ada dugaan gerakan kesepakatan di luar sana untuk merusak kertas suara dengan corat-coret atau mencoblos semua paslon.  Tapi apapun itu, saya pribadi mengucapkan Selamat kepada Warga Provinsi Bali, Warga Kota Denpasar tempat lahir dan besarnya saya, serta Warga Kabupaten Badung tempat saya me...

Say NO to Wisata Halal di Bali

Postingan Tweet 4 Juni 2024 just # sayNOtoWisataHalaldiBali Bali sampai saat ini kalau ndak salah masih menolak yang namanya Wisata Halal. Tapi bukan berarti di Bali sulit mencari tepat ibadah dan makanan Halal bagi saudara umat Muslim, seperti kata rangOrang yang keknya gak pernah ke Bali.  # sayNOtoWisataHalaldiBali -a thread tanpa sopi Pake hastag # sayNOtoWisataHalaldiBali bukan berarti saya membenci saudara umat Muslim loh ya. Karena bagaimanapun pertemanan saya diluaran, ya sebagian juga ada semeton Muslim yang lahir, besar dan menetap di Bali, dan ada juga sebagian lainnya yang kenal dari sosial media... Bahkan beberapa langganan #HPjadul yang base di pulau jawa juga lombok, merupakan umat Muslim juga.  Ini cuma pengen share pengetahuan kalo Bali itu sebenarnya sudah nyaman bagi saudara Umat Muslim yang pengen liburan ke sini. Baik dari sisi tempat ibadah maupun makanannya... Pertama soal Tempat Ibadah umat Muslim, dalam hal ini Masjid.   Di setiap Kab/Kota di Bal...

Antara bli Yong Sagita dan pekak Ketut Bimbo, Koleksi #KasetJadul Lagu Bali

Ada dua musisi lokal yang pada jaman lagu Bali pernah ngetop tahun 80an dahulu, saya sukai dan koleksi album-album kasetnya. Bli Yong Sagita dan pekak Ketut Bimbo. Saya mengenal nama bli Yong Sagita lewat karya apiknya Jaje Kakne yang menyajikan klip pelawak bali Petruk berkeliling alun-alun Puputan Badung dan membeli es krim kojong didalam bemo roda tiga. Sebuah penampilan klasik yang mengisahkan kehidupan nak bali jaman itu. Entah apakah klip ini ada bersliweran di portal video YouTube, rasanya sih enggak. Yang mana kaset album pertama yang saya beli saat itu adalah album ketiga bli Yong, Ciri-ciri. Berbekal rasa penasaran, maka dibeli pulalah album pertama Karmina, kedua yang Tang Tang Kulentang dan keempat Raka Rai, plus album medley yang berisikan kompilasi lagu-lagu terbaik Yong Sagita saat itu. Tema kenakalan ‘nak muani’ khas Buleleng jadi ciri khas dari lagu-lagunya bli Yong dan jujur saja saat itu memang gak semuanya saya bisa pahami artinya. Baru setelah beranjak dewasa, saat...

Jaje Bali Sarapan Pagi

Belanja pagi ke pasar tradisional di Bali rasanya kurang pas kalau belum membeli atau mencoba Jaje Bali. Jaje Bali atau jajanan lokal khas Bali sangat mudah ditemukan di berbagai sudut pasar tradisional, pasar pagi bagi para ibu-ibu dan nongkrongnya bapack-bapack. Jenisnya beragam. Ada bubuh, laklak, giling-giling, injin, lukis, sangrai, batun bedil dan banyak lagi. Disajikan dengan gula merah makin memberi rasa yang khas tradisional. Kalian pernah mencobanya ?

Kontroversi mengalahkan semuanya

Timeline Sosial Media dari beberapa jam yang lalu, lagi pada rame soal anggota ‘senator’ perwakilan Bali yang diserbu massa, dan infonya kena keplak di kepala, sebagai wujud emosi warga akan statemen yang pernah disampaikan sebelumnya. Meski hanya sekejap, saya kok meyakini emosi tersebut bakalan berujung pada bui, atau paling aget (kalau kata orang Bali), meminta maaf diatas selembar kertas dan tandatangan pada meterai 6000. Semua ini memang gak bisa lepas dari yang namanya kontroversi. dan sepanjang ingatan saya, justru semua kontroversi yang dibuat, menjadikannya sebagai sosok yang populer di mata masyarakat, utamanya generasi muda dan milenial yang memiliki potensi kantong suara cukup banyak di negara ini. pun termasuk mereka yang memiliki mimpi dan fanatisme. dan terlepas dari apapun kontroversi yang dimunculkan ke permukaan, ia selalu mampu menarik perhatian banyak orang juga media untuk memberitakan atau sekedar mengomentari. Maka sepinya lalu lintas di jalan besar salah satu ka...

Sampai Kapan Semua akan bisa Bertahan ?

Simpang jalan Nakula-Legian adalah salah satu titik keramaian lalu lintas yang kerap terjadi pada jam-jam kerja ataupun musim liburan. Jalan ini adalah salah satu alternatif jalur yang biasanya digunakan untuk mengakses pantai Double Six, tempat dimana sebuah sarana akomodasi bintang lima berada. Siang kemarin, saya menyempatkan diri berkeliling kawasan Kuta untuk melihat langsung bagaimana suasananya dalam masa yang katanya masuk kategori New Normal. Masa dimana pariwisata di Bali kembali dibuka, namun sayangnya tanpa ada kunjungan mancanegara. Jadi ya tetap sepi. Jalan Legian yang biasanya padat oleh kendaraan roda dua, kini tampak lengang. Bayangan mobil saat melintasi belasan gerai yang menyajikan kaca bening di are depan tampak jelas saat roda melaju perlahan. Satu hal yang jarang terjadi saat Bali dipenuhi turis dan wisatawan domestik. Kata sebagian orang, Bali tak butuh banyak turis. Sehingga bisa dikatakan, tampaknya Bali sedang diuji kini. Tanpa adanya kunjungan, tanpa ada pem...

Legian Kuta pagi ini

Kalau saja saya tidak ditugaskan menghadiri Lokakarya Penilaian Kabupaten/Kota Tangguh Bencana, mungkin tidak akan pernah melihat secara langsung betapa mirisnya pemandangan jalan Legian masa pandemi begini. Sepi. Gerai-gerai kecil yang dulu dipenuhi barang dagangan, sudah banyak yang tutup. Bahkan beberapa yang berukuran besar pun ikutan kena imbas. Hanya beberapa saja yang masih bisa bertahan. Itupun sepi pengunjung. Bahkan sekelas CK dan Indomaret yang biasanya beroperasi 24 jam pun harus ditutupi plastik hitam di keseluruhan kaca display depan. Turis yang dulu kerap bersliweran, lalu lalang dengan motor sewaan, kadang jauh lebih ngawur dalam berkendara daripada penduduk lokal sekitarnya, tak satupun tampak di trotoar dan jalanan. Hanya pak Satpam saja yang menunggui tempat kerjanya, asyik dengan layar ponsel, sesuatu yang cukup langka terjadi jika disanding dengan suasana sebelumnya. Laju sepeda yang dikayuh satu dua orang menyusuri jalanan Legian, tampak santai lantaran suasana la...

Gempa Gempaa Gempaaa

Ketika meja makan kami mulai bergoyang kecil, bathin saya mengatakan ‘sepertinya gempa…’ Ketika badan sudah mulai bergoyang, kami mulai menoleh kearah satu sama lain dan mengatakan ‘eh ada gempaa…’ dengan nada yang masih kurang yakin. Namun ketika goncangan mulai keras dan terasa agak lama tanpa perubahan, di sekeliling kami kompak meneriakkan ‘gempaaa…’ dan kami pun secara refleks menyambar anak-anak yang sedang asyik mengunyah makan malamnya, berhamburan keluar dari warung makan, tempat dimana sebelumnya berkumpul. Bersama banyak orang lainnya di sepanjang trotoar dan jalanan, sambil melihat ke semua arah dan berharap ada yang membuktikan bahwa goncangan ini memang beneran gempa. Bukan hanya rasanya saja. Keyakinan baru muncul saat melihat beberapa mobil yang diparkirkan di pinggir jalan, bergoyang keras. Waduh… alamat nih. Ini pengalaman saya pertama kali akan goncangan gempa dengan goncangan yang terasa keras dan lama. Inf...

Nasbedag #SalamSatuJalur Selamat KBS Gubernur Bali 2018

At Last, proses penghitungan cepat atau Quick Count diinformasikan sudah 100 persen diserap, dan paslon KBS-ACE tampil sebagai pemenang di 6 Kabupaten Provinsi Bali mengalahkan paslon nomor 2 yang dipaksa kembali duduk sebagai Walikota Denpasar, Rai Mantra. Sementara sang Wakil Gubernur, setelah usai nanti sepertinya tidak lagi menjabat di kursi yang sama. Sebagai ASN, baru kali ini saya berani membuka suara terkait pilihan pilkada, pilGub Bali secara terang-terangan. Mengingat selama masa pra dan kampanye, sesuai peraturan yang berlaku, kami dituntut untuk tetap Netral, tidak mendukung salah satu paslon, dalam bentuk apapun. Toh hasil sudah rilis resmi secara umum. Namun demikian, kepada beberapa teman dekat, saya sudah menyampaikan arah pilihan yang akan disasar dengan alasan yang bisa diterima. Baik sebagai Warga Kota Denpasar yang sebetulnya tertarik pada sosok Rai Mantra, namun sebaliknya dengan sosok wakil yang dipilih, pula persoalan Partai Pengusung, maupun sebagai Pegawai Pemk...

Sedikit Lagi, Ayo Coblos Rame Rame

Cuaca pagi ini tampaknya cukup bersahabat. Tak lagi dingin seperti sebelumnya. Hujan pun masih enggan turun lagi, memberikan kesempatan pada khalayak untuk merayakan hari pemilihan kepala daerah. PilGub Bali saya pantau tergolong aman aman saja di dunia nyata. Setidaknya untuk ukuran Kota Denpasar. Berbeda dengan dunia maya alias media sosial yang riuhnya minta ampun. Bahkan sampai masa tenang sekalipun, orang masih tak segan untuk saling menjatuhkan lawan dengan beragam tuduhan dan hoax. Tak ada lagi peduli apakah itu dibenarkan atau tidak, yang penting sore ini bisa menang. Dari hati nurani sebenarnya ingin bersuara. Namun tuntutan sebagai seorang ASN melarang itu semua. Maka pendapat hanya bisa dipendam di hati, tanpa bisa ditumpahkan lagi. Bali identik dengan Sarang Banteng. Suara PDIP saat pilpres lalu kalau tidak salah memberi andil hingga 70%. Gegara sosok Jokowi saya yakini. Denpasar sendiri saya meyakini menjadi basis paslon Rai Mantra, mengingat selama Beliau menjabat sebagai...

PilGub Bali, seberapa menarik di mata kami ?

Media Sosial, utamanya FaceBook, group Suara Badung, yang saya ikuti sejak menjabat sebagai kepala seksi di skpd teknis Kabupaten Badung jadi riuh rendah dengan adanya PilGub Bali sebagai bagian dari Pilkada Serentak 27 Juni 2018 nanti. Group Suara Badung ini kentara sekali jadi makin panas dengan naiknya tensi politik jelang hari pencoklitan rabu mendatang. Beberapa Black Campaign mulai disodorkan oleh mereka yang sedari awal sudah terang-terangan mendukung salah satu paslon hingga mereka yang sedari awal ngotot mengaku Netral, kini sudah mulai beralih dan mengakui pilihan politiknya. Sah sah saja… Sebaliknya di akun Twitter tampaknya masih belum seramai FB lantaran tidak banyak orang atau netizen dari pulau Bali ini yang aktif bersuara utamanya terkait PilGub Bali. Timeline saya sendiri masih disibukkan dengan pertarungan Cebong dan Kampret, para pendukung Calon Presiden terdahulu dan besok, yang hingga hari belum bisa Move On dari topik utama. Bisa dikatakan, topik PilGub Bali tak ...

Pilkada lagi, Berantem Media Sosial lagi

Belum juga masa kampanye, suasana media sosial sudah mulai gerah dirasakan. Setidaknya itu yang terjadi dalam enam bulan terakhir. Salah satu pertimbangan yang diambil saat keputusan untuk membuka kembali akun FaceBook beberapa waktu lalu adalah meminimalisir akun-akun dengan berbagai kepentingan politik, utamanya mereka yang dulu berseberangan visi memilih berada di pihak om Wowo dan secara rutin dan rajin menyebar hoax terkait pak Jokowi. Itu sebabnya begitu FaceBook memberikan opsi UnFollow pada akun teman yang dimiliki, saya pun melakukan filterisasi secara rutin setiap harinya, agar jangan sama melakukan UnFriend sebagaimana yang pernah dilakukan sebelumnya. Kasian pertemanan di real world kalo sampe terganggu hanya gara-gara pilkada. Sebentar lagi, ya sebentar lagi kok. Ndak lama. Kita bakalan punya Gubernur baru, yang hadir dengan sekian banyak kelebihan dan kekurangannya. Aura perseteruan pun sudah makin jelas terlihat di antara dua kubu meski salah satunya baru saja mendeklara...

Megending yuk Kita Megending

‘ngiring je sikiang manahe, sekadi i bungan…’ Liriknya sudah pasti hafal, meski sempat jua agak lupa ingatan pada saat pentas Rabu jelang siang tadi. Tapi yang sulit adalah menghafal gerak tangannya di sela sorak sorai penonton dan gemerlapnya lampu sorot atas panggung. Baru kali ini saya merasakan grogi yang minta ampun. Padahal kalo soal membuka rapat dan memimpinnya sepanjang acara, sudah mulai terbiasa. Tapi untuk yang satu ini ? Heladalah… Jujur, saya suka dengan aransemen lirik yang dikemas Gung Mayun Narindra , pelatih kami yang masih unyu-unyu itu. Ndak ramai saat dinyanyikan, dan begitu dikombinasikan dengan koreografi dadakan dua hari sebelumnya, sesi Megending ini jadi lebih mengasyikkan untuk dinikmati. Kegiatan Megending Bali yang kami ikuti ini merupakan bagian dari Lomba Lagu Antar Pegawai dan Perangkat Daerah yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Badung, serangkaian Perayaan Hari Ulang Tahun Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri) ke-46 dan perayaan HUT Ibuko...

Tips Ringan Menikmati Nyepi Sehari di Bali

Tradisi Hari Raya Nyepi sebagai Tahun Baru Caka Umat Hindu di Bali, sebentar lagi bakalan kita jelang bersama. Bagi kalian yang lahir, tinggal dan besar di Bali, saya yakin rasa Toleransi yang ada dalam diri sudah tidak ada masalah lagi. Meski agama dan kepercayaan yang dianut berbeda sekalipun. Akan tetapi bagi kalian yang baru saja datang dan menetap di Bali, bisa jadi perayaan Nyepi yang meskipun hanya sehari, berpotensi besar menghadirkan bencana dalam hidup. Apalagi teknologi kekinian yang mengedepankan jaringan internet berkecepatan tinggi dan gegap gempita sosial media, bagaikan pisau bermata dua. Kalo sampai salah langkah, siap siap saja masuk koran esok paginya. Tapi sebenarnya melewatkan waktu sehari tanpa menyalakan api atau lampu, tanpa bepergian, tanpa bersenang-senang dan tanpa bekerja sebenarnya gampang kok. Ini menurut saya pribadi loh ya. dan bagaimana menyikapinya, berikut Tips Ringan dari saya agar kalian bisa menikmati Nyepi Sehari di Bali. Disimak ya… Pertama,...

Mau Liburan 3H2D ke Bali Menyenangkan dan Terjangkau? Baca Tips nya Disini

Siapa bilang kalau mau liburan ke Bali butuh waktu panjang dan budget yang menguras dompet ? Sekarang Kalian ndak perlu khawatir lagi, karena sekarang kita kupas tuntas semuanya, mulai dari transportasi, penginapan, tempat wisata, restoran, dan aktifitas yang dapat dilakukan selama liburan di Bali. Ditambah lagi, Kalian dapat belanja online hemat perlengkapan yang diperlukan selama liburan di Bali seperti bikini, kamera, tongkat selfie atau koper jalan-jalan dengan menggunakan voucher diskon atau kupon eksklusif yang disediakan oleh website online coupon, seperti Saleduck . Nah sudah pada ndak sabar kan untuk cari tahu bagaimana liburan murah ke Bali ini bisa menyenangkan akhir pekan Kalian, yuk mari disimak baik-baik. Persiapan Transportasi, Penginapan, Tempat Makan dan Tempat Hiburan Untuk persiapan perjalanan ke Bali, baiknya dilakukan minimal 1 bulan sebelumnya supaya lebih matang dan murah. ? Pertama, cari promo dan kursi gratis tiket pesawat ke Bali. Biasanya maskapai AirAsia, Li...

Memantau Penghinaan terhadap Bali, Nyepi dan Hindu di akun FaceBook

Tempo hari sebelum hari raya Nyepi, saya masih sempat menyampaikan beberapa kalimat ungkapan hati, berkaitan dengan upaya penghinaan terhadap Bali, Nyepi maupun Hindu yang terpantau di akun FaceBook setiap kali Tahun Baru Caka datang. Sudah biasa sebenarnya. Lihat saja di halaman blog ini, ada beberapa tulisan yang dipublikasi dengan tema serupa. 2-4 tahun lalu. Trus, kini masih ada ? Tentu saja. Wong ndak semua bisa berpikiran sama kok. Dan sebagaimana pohon, tunas baru selalu bermunculan dengan kedewasaan dan pemahaman toleransi yang berbeda. Atau kalau mau, baca saja media cetak pasca Nyepi kemarin. Ada tuh beritanya. Tapi iseng-iseng, saya mencoba memantau kembali, akun akun FaceBook mana saja yang tertangkap melakukan penghinaan ini. Dengan menggunaan kata kunci seperti (maaf) ‘Fuck Bali’, ‘Fuck Hindu’, ‘Fuck Nyepi’ atau dengan kata domestik (lagi-lagi maaf) ‘Bali Bangsat’, ‘Hindu Bangsat’, atau ‘Nyepi Bangsat’ . Ternyata dari beberapa hasil pencarian, rupanya tidak tertutup pad...

Iron Man Bali, I Wayan Tawan, Pro dan Kontra, Hoax atau Bukan ?

Menggelikan. Setidaknya ini yang bathin saya rasakan saat mengikuti pemberitaan maupun opini yang diungkap para ahli maupun netizen dunia maya, terkait terkuaknya seorang tukang las bernama I Wayan Sumerdana alias Wayan Tawan yang menciptakan lengan bantuan atas kelumpuhan yang dialaminya, lalu memunculkan julukan “Iron Man Bali”. Iron Man, adalah salah satu super hero yang bernaung dibawah bendera Marvel, setidaknya sudah melahirkan 5 sekuel film selama satu dasa warsa terakhir. Secara tokoh ya boongan tentu saja, karena berawal dari sketsa komik. Namun secara teknologi, ya siapa tahu ? Film Iron Man sendiri, jika dirunut dari awal kisahnya pada roll film, bermula dari penciptaan tangan robot atau bioniknya yang membungkus lengan Stark dengan kemampuan menembak lewat telapak tangannya. Penciptaan ini kemudian berlanjut pada tameng yang melekat pada tubuh layaknya baju, dan sebagainya dan sebagainya. Iron Man Bali, demikian julukan yang diberikan sejauh ini, bernama aseli I...

Menikmati Angklung sebagai Terapi

Angklung merupakan suatu jenis alat musik tradisional yang terbuat dari empat kepingan logam, dan menghasilkan empat nada. Jenis gamelan seperti ini biasanya menyajikan nada yang sedih atau melankolis. Angklung sendiri merupakan bentuk gamelan tertua di Bali, berasal dari abad ke-10. Umumnya, Angklung dimainkan untuk mengiringi suatu upacara kremasi, kematian atau dikenal dengan istilah Ngaben. (dikutip dari Sejarah Seni Tradisional Bali , dan dari coretan milik Agus Satriya Wibawa dalam artikel blog seni dan Budaya Kabupaten Karangasem Bali ) Dibandingkan dengan gambelan dan alat musik tradisional lain di Bali, Angklung merupakan daftar list teratas yang paling kerap saya dengarkan dalam kondisi apapun. Berbeda dengan jenis musik lainnya seperti Beleganjur yang lebih bersemangat, Semar Pegulingan yang puitis atau bahkan gambelan abarung Gong Kebyar. Bisa jadi lantaran alunannya yang memang lebih mudah dicerna, tanpa hentakan yang datang secara tiba-tiba, sehingga selain bisa digunaka...