Kadang saya mempertanyakan tentang nasib yang didapat, seakan-akan semua hal gak ada artinya, tetap diam di tempat bahkan bisa jadi kemunduran atau kegagalan selalu menghantui setiap kali promosi jabatan itu didengungkan.
Namun tampaknya saya lupa bahwa apa yang sudah didapat hingga hari ini, sebetulnya sifah merupakan satu kemajuan yang mungkin dahulu tak pernah terbayangkan.Keluarga kecil yang menyenangkan, istri yang pengertian meski kadang memiliki pemikiran berseberangan, anak-anak yang manis meski sedikit membangkang, pun soal penghidupan yang lumayan baik jika saya mau melihat ke bawah. Melihat mereka yang terpinggirkan, bergelut dalam hutang yang bahkan bingung mau mencari penghasilan dari mana.
Lalu pendidikan anak dan prestasi mereka yang membanggakan. Sudah jauh lebih baik dari apa yang pernah saya bahkan kami dapatkan dulu. Meski dengan berbagai tantangan yang harus benar-benar dihadapi.
Belum lagi soal jabatan lima tahun Kelihan Adat, yang tampaknya bakalan berakhir dengan Baik bulan Maret mendatang.
Astungkara bisa. Termasuk semua pembelajaran menjadi bagian dari juru baos dan lainnya. Kemajuan yang cukup besar jika melihat dari keinginan atau harapan terdahulu.
Sayangnya, setiap kali saya mendongak ke atas, melihat mereka yang sudah jauh melesat tinggi, bahkan di usia muda, selalu saja kekecewaan dan rendah diri itu muncul. Dan itu menyakitkan. Hari demi hari. Tahun demi tahun. Tak ada perubahan.
Sepertinya jenjang karir kini tak lagi bisa digapai hanya dengan berbekal kemampuan saja. Tapi Rekomendasi Pimpinan, kedekatan, ataupun ah sudahlah...
Hari ini pada akhirnya bisa juga merasakan apa yang dua rekan kerja saya rasakan. Berada di posisi sama, selama belasan tahun. Sementara kawan ataupun orang lain, tak menunggu waktu lama untuk naik dan naik.
Memang tak mengenakkan suasana seperti ini. Dan kelihatannya ini akan berlangsung hingga pensiun nanti.
Entah...
Comments
Post a Comment