UU ITE dan segala ancamannya, hampir menjadi sebuah mimpi buruk bagi saya yang saat itu masih berstatus sebagai seorang pns baru di sebuah kantor dekat titik nol kilometer kota Denpasar. Sebuah tulisan dalam blog yang menceritakan soal wartawan amplop sempat menduduki tempat teratas dalam hasil pencarian google, menggunakan kata kunci nama sebuah media mainstream lokalan. Suasana hati di hari kerja saat itu jadi agak muram pasca mendapatkan informasi dari seorang kawan yang kebetulan memiliki hubungan dekat dengan para petinggi media cetak tersebut. Yang mana menyebutkan soal rencana tim pengacara dari media tersebut untuk menuntut saya menggunakan UU ITE, karena gerah dengan isi dan judul post blog tersebut. Sempat ragu sesaat dan mencoba menerka apa yang akan terjadi selanjutnya. Saya pun sigap menghapus postingan blog yang saat itu sudah berpindah dari platfotm gratisan blogspot (saat tulisan dibuat) ke domain pribadi yang aktif hingga saat ini. Hal ini menjadi sebuah keberuntungan,...