Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Jokowi

Kader PDIP sekarang mempertanyakan Balik Ijazah PakDe Jokowi ? How ?

Sampai hari ini ternyata isu soal Ijazah palsu PakDe Jokowi masih tetap seksi untuk diperdebatkan...  dan yang paling absurd menurut pendapat saya adalah ketika kader partai PDIP ikut-ikutan mempertanyakan bahkan tidak yakin bahwa ijazah Beliau itu ada.  Yang bener ? Masa sih partai besar sekelas dan segarang PDIP yang dipenuhi oleh para politikus pintar dan cemerlang itu sampai tidak tahu bahkan menyangkal keaslian ijazah seorang PakDe Jokowi yang notabene diusung selama belasan tahun dari era Walikota Solo dua periode, Gubernur DKI bahkan kursi presiden dua periode full ?  Lalu apa saja yang dilakukan saat fit and proper test sebelum memutuskan mendukung dan menggantungkan nasib partai (belum nasib bangsa) kepada seorang tukang kayu dari Solo itu ? Gak adakah upaya mempertanyakan ijazah atau memeriksa keasliannya sampai-sampai hari ini malah mempertanyakan keaslian bahkan ada tidaknya ijazah PakDe Jokowi ?  How ? 😅 Jika fakta seterang dan semudah ini saja lalu men...

Pak Totok Suripto Ingat Nomor Induk Mahasiswa PakDe Jokowi ? Saya Juga

Akun Suara Hati Sang Istri mengutip artikel berita Tribun tentang sosok Totok Suripto, teman seangkatan PakDe Jokowi dari Samarinda Kalimantan Timur yang turut hadir di reuni Fakultas Kehutanan UGM Sabtu 26 Juli kemarin. Dimana terdapat satu ingatan kuat Pak Totok soal nomor mahasiswa Pak Jokowi, yang tampaknya diragukan oleh salah satu netijen +62 Supriadi Noer  Sebetulnya gak heran sih kalau masih bisa ingat nomor induk teman, karena bisa jadi itu adalah memory yang sejak dulu nemplok di ingatan lantaran ada kenangan yang barangkali pernah dilakoni bareng. Misalkan saja pernah kerja kelompok bareng, macam kami di masa perkuliahan dulu. Makanya meski sudah berlalu 30 tahun yang lalu, beberapa NIM atau Nomor Induk Mahasiswa milik teman masih teringat di kepala. Jadi bukan lantaran dibayar atau dirapatkan sebelum reuni macam kata akun Tonee Jo di komentar itu. Misalkan NIMnya PakTu Putu Swihendra itu 95-08. Saya sendiri ada di 95-06. Diantara kami ada rekan dari timur jauh, Carion D...

Hoax Pendidikan PakDe Jokowi, Masih Percaya ?

Tadinya saya pikir pertemanan di akun FaceBook ini yang namanya akal sehat teman sendiri masih pada jalan semua, tapi ternyata gak semuanya masih pada punya logika. Macam story salah satu akun yang gak sengaja lewat pagi ini.  Masih soal Pendidikan dan Ijazah PakDe Jokowi. Masih meragukan. Dan Masih juga percaya pada Hoax yang gak jelas sumbernya. Padahal secara wawasan harusnya bisa lebih luas apalagi dilihat dari pekerjaan dan kesehariannya.  PakDe Jokowi Lahir Tahun 1961, lalu Masuk SD Tahun 1973, usia 12. Mengenyam pendidikan 3 Tahun saja. Apa logis ? Pasti enggak dong. Tapi tetap saja ADA yang percaya. He... Meskipun bisa jadi diShare untuk lucu-lucuan. Serius, ini beneran lucu...  Padahal kalau mau nyari Referensi dari Sumber yang bisa dipercaya macam Kompas misalkan, Tahun 1973 itu adalah Tahun Lulus SDnya PakDe Jokowi. Yang mana pendidikan 3 tahun selanjutnya adalah masa SMP-nya.  Dari sini saja sudah terlihat Logika Berpikir kita memang sudah cacat sejak aw...

Masih Ngotot Soal Ijazah Pak Jokowi ? Duh Bikin Malu

Menurut saya pribadi kecil kemungkinan bahwa Ijazah seorang mantan presiden Bapak Joko Widodo palsu sebagaimana klaim atau tuduhan orang-orang, bahkan disuarakan oleh mantan menteri di era presiden terdahulu yang tidak mampu menyanyikan lagu kebangsaannya sendiri. Resiko besar jika itu sampai terjadi. Namun yang saya kasihani bukanlah PakDe Jokowi semata. Tapi almamater Beliau, Universitas UGM yang mana memiliki nama besar sejak dulu. Diobok-obok seakan menerima transferan dan menutupi kebohongan demi kebohongan. Padahal sesungguhnya, orang-orang yang menuduh palsunya ijazah itu yang otak dan akal sehatnya sudah ditutupi oleh kepentingan. Bukan tidak mungkin mereka berasal dari kalangan yang "membutuhkan". Dan saya agak-agak curiga karena narasi yang bersliweran di dunia maya adalah -apakah keputusan PakDe Jokowi selaku Presiden saat Beliau menjabat terdahulu, bisa dibatalkan jika Ijazahnya bisa dibuktikan palsu ? Jangan-jangan ada kaitannua dengan Freeport dan semacamnya, ...

Ribut soal Ijazah, IQ kita memang 78

Kadang suka jengkel dan geregetan saat membuka akun media sosial ataupun laman berbagi video youtube, memunculkan hal-hal remeh dan menjadi trending topik di Indonesia, sementara di luar sana orang saling berlomba untuk menjadi yang terbaik di bidangnya masing-masing. Apalagi kalau bukan soal demo masyarakat kita soal keaslian ijazah sarjana dan kali ini menyasar ijazah sma-nya seorang mantan presiden yang baru saja usai menjalankan amanat tugas. Sampai-sampai menurunkan mantan menteri ahli aiti di era presiden sebelumnya dan yang katanya tokoh reformasi saat pergantian orba tempo hari.  Jujur, saya miris melihat ngototnya mereka mendesak sang mantan presiden untuk memperlihatkan ijazah aselinya, bahkan sampai bendel skripsinya pun sekarang dimintakan.  Uniknya, kesalahan penyebutan pendidikan oleh Ibu Rektor pun dipotong dan dipelintir, padahal jika menonton video secara utuh, hal itu sudah langsung dikoreksi oleh yang bersangkutan, dan sudah dimintakan agar jangan dipelintir...

Ngopi Beluluk di Centong Lurik

Modelan centong semacam ini pernah kami miliki saat masa kecil dulu. Ukurannya malah lebih besar dua kali lipatnya. Biasanya digunakan untuk cedok air siap minum dari gentong. Yang kemudian dibuang karena makin banyak bolong keropos di sisi bawah. Dan beberapa tahun kemarin, sempat jadi trend lagi pasca digunakan oleh PakDe Jokowi di salah satu postingannya.  Saya sendiri sempat berkeinginan punya satu untuk ngopi-ngopi hangat di pagi hari, yang sayangnya kelupaan terus untuk dibeli. Disamping, cangkir plastik ukuran mini yang biasanya digunakan, masih dalam kondisi bagus juga. Eh gak nyangka kali ini ada yang memberi sebagai kenang-kenangan, tepatnya dari anak magang di ruangan.  Ternyata centong ijo lurik inipun ukurannya gak jauh beda dengan cangkir kopi yang saya gunakan di rumah. Jadilah pagi ini usai berolahraga, dipake buat nampung beluluk aka kolang kaling, diisi susu UltraMilk. Yang katanya bagus untuk tulang dan sendi. Beluluknya tapi...

Yuk Sudah Segitu Aja

Pak Jokowi bentar lagi turun dari tahta kepresidenan, dan kita bakalan berjumpa lagi di perhelatan pilpres yang biasanya penuh dengan share cerita dan berita hoax, saling caci dan maki antar pendukung, bahkan bisa jadi dengan teman dekat dan saudara, yang berakibat pada blokir nomor kontak atau akun sosial media, left dari grup whatsapp, atau malas ketemuan di arisan keluarga.  Beh...  Saya sendiri memilih untuk gak bahas lagi soal beginian.  Memilih untuk menjauh dari pembahasan kawan soal gregetnya sang calon presiden. Memilih untuk abai dan acuh jika melihat timeline ngomongin hal serupa.  Sudah cukup keriuhan massa era pertaruhan Jokowi dari dua periode lalu. Sekarang tinggal menunggu siapa yang akan tampil menjadi pemenang. Sembari berharap, jagoan yang selama ini disimpan dalam hati, bakalan maju menjadi yang Terbaik.  Soal Sosial Media, saya rasa lebih baik tetap ngebahas soal HPjadul atau aktifitas keseharian sebagai seorang pns yang biasa saja atau bapa...

17 April 2019 Kalian mau Golput ? Saya enggak...

Dunia maya begitu ramai dengan histeria PilPres. Makin menjadi pasca Debat Paslon seri pertama dan kedua selesai tempo hari. Mengecewakan, kata netijen. Timeline jadi makin riuh ketika paslon 1 yang saat ini masih menjabat sebagai presiden (belum mau mundur kalo kata pendukung paslon 2), memberikan grasi pada pembunuh wartawan dan menjanjikan kebebasan bagi tersangka yang diduga ada afiliasi dengan tragedi bom bali, meski tuduhannya tidak langsung mengarah kesana. Belum lagi soal isu reklamasi yang tak jua kunjung dibatalkan. Yang ada malahan ijin lokasi kabarnya diterbitkan oleh kementrian kelautan. Banyak yang makin kecewa, khususnya kawan-kawan aktivis dan kemudian memutuskan untuk Golput saja. Arus ini datang dari belasan akun media sosial, baik mereka yang tinggal di Bali, maupun luar. Beberapa diantaranya tergolong tokoh senior yang cukup disegani pula. Bahkan keputusan itu tidak hanya menjadi sebuah langkah bagi dirinya sendiri, tapi sudah melangkah lebih jauh menjadi sebuah aj...

Viral Tweet @Dahnilanzar soal Jalan Desa 191.000 KM sama dengan 4,8 kali Keliling Bumi, Ini Penjelasannya

Ada yang unik pasca Debat Pilpres edisi ke-2 hari minggu kemarin. Mas Dahnil A Simanjuntak , seorang dosen Kebijakan Publik/Keuangan Pemerintah yang juga menjadi Koordinator Jubir paslon Prabowo Sandi, mencuitkan ‘Jokowi klaim Membangun Jalan Desa 191000 km.Ini sama dengan 4,8 kali Keliling Bumi atau 15 kali Diameter bumi.Itu membangunnya kapan ? Pakai ilmu simsalabim apa ?ternyata produsen kebohongan sesungguhnya terungkap pada debat malam tadi.’ Tweet tersebut tentu saja menjadi viral seketika, mengingat saat ini sedang panas-panasnya hajatan pilpres, dan timeline sosial media seakan yak henti menyajikan aksi saling hujat para pendukung para paslon. Saya yang baru tempo hari menyatakan ketidaktertarikan pada Debat paslon Pilpres, sebagai seorang PNS yang pernah bertugas dalam bidang teknis insfrastruktur jalan desa, sedikit kepo akan pernyataan Mas Dahnil yang saat ini punya 201K follower Twitter. Saya mah cuma 1 digit paling belakang aja sudah ngos-ngosan. Hehehe… Jadi Kepo, karena ...

Mengurangi Nyinyir soal PilPres di akun Media Sosial

Entah sudah kali keberapa saya mendapat teguran soal share materi di akun media sosial FaceBook saat perhelatan PilPres dilaksanakan periode lalu. Baik oleh sesama rekan ASN maupun kawan-kawan baik disekitar, yang masih masih mau mengingatkan. Kala itu PakDe Jokowi lagi bertarung untuk pertama kalinya dengan Om Prabowo. Saya sampai kehilangan beberapa kawan bahkan memblokir mereka saking kesalnya lantaran berbeda pandangan politik. Demikian pula halnya saat PilGub Bali tempo hari. Beberapa kawan yang berada dalam satu lingkup domisili pun mengingatkan saya soal pilihan yang nantinya akan dijatuhkan. Akibat berbeda pandangan, kerap kali postingan yang tadinya ditujukan untuk sebuah topik yang sederhana, bisa dikaitkan kemana-mana dan melebar luar ke persoalan yang sama. Lama-lama membosankan sebenarnya. Itu sebabnya pada perhelatan kedua, tarung PakDe Jokowi dengan kubu Kardus, saya memutuskan untuk mengurangi nyinyir soal PilPres di dua akun Sosial Media. FaceBook dan Instagram. Keliha...

Pelajaran dari Politik Hari Ini Untuk Kita Semua

Pelajaran dari Agus Harimurti untuk kita semua : Jangan resign kalau belum dapat kerjaan baru, meskipun dapet rekomendasi dari bapak. Pelajaran dari Pak Mahfud buat kita semua : Jangan cerita ke orang-orang dapat kerjaan baru kalau belum sign kontrak. Pelajaran dari Sandiaga untuk kita semua : Selalu liat peluang baru yang lebih baik. Berani keluarin modal untuk keberhasilan. Pelajaran dari Ma’ruf Amin buat kita semua : Jangan putus asa jika usia sudah tidak muda lagi, siapa tau keberhasilan datang di usia di atas 60 tahun. * * * Saya kurang tahu siapa yang membuat quote diatas pertama kali. Namun jika dicermati, tentu memiliki makna yang sangat dalam utamanya bagi kita generasi muda milenial. Saya sendiri mendapatkannya dari share kawan Whatsapp Group. Mohon Maaf jika hanya Copas…

5 Hal Penting yang Wajib diKetahui soal KPR BTN Rumah Subsidi dari Pemerintah

Tingginya angka kekurangan kepemilikan rumah, masih menjadi pe-er penting bagi pemerintah Indonesia. Tak terkecuali pada era Presiden Jokowi ini. Hal ini diungkap oleh Pak Ketut Suyasa, perwakilan dari BTN dalam salah satu sesi akhir pemaparan, saat agenda pertemuan di Hotel Grand Santhi Selasa 24 April 2018 kemarin. Salah satu program pemerintah yang kini digenjot kembali adalah bantuan Rumah Subsidi bagi mereka, masyarakat Indonesia, yang masuk dalam golongan kurang mampu secara finansial, atau memiliki istilah resmi MBR. Masyarakat Berpenghasilan Rendah. Program Bantuan Rumah Subsidi ini ada yang diberikan dalam bentuk dana stimulan atau pancingan, bagi mereka yang belum memiliki rumah namun memiliki lahan dengan legalitas jelas di tanah kelahiran sendiri, dikenal dengan istilah BSPS Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya, atau berupa Kredit Pemilikan Rumah yang kerap disebut KPR, bagi mereka yang ingin membeli rumah hasil karya pengembang. Nah, ceritanya postingan kali ini bakalan be...

Polling akun Twitter Bang @iwanfals Bikin Gerah

Sosial Media Twitter belakangan ramai pasca dimulainya Gong Pilkada DKI Jakarta yang menyajikan 3 pasangan calon Cagub dan Cawagub. Jadi makin ramai setelah aksi Bela Agama tanggal 4 November lalu yang sepertinya memiliki agenda lain dari apa yang dikoarkan banyak pihak. Namun terlepas dari semua karamaian itu, rupanya ada satu akun yang bisa jadi berawal dari keisengan belaka, sudah membuat jagat Twitter tambah gerah. Akun miliknya Bang Iwan Fals . @iwanfals terpantau per tanggal 12 November kemarin mengunggah sebuah polling khas Twitter yang menanyakan soal ‘andai pilkada dki dilaksanakan sekarang, siapa pilihanmu ?’ Wiii… ndak kurang dari 38ribuan Votes yang memberikan suara dadakan terkait opsi pilihan yang ada. (20%) agus ; (62%) ahok ; dan (18%) anies. 38,117 votes – Final results. Edan ya ? Dan bisa ditebak, banyak dari para Follower Legenda Musik Tanah Air ini mempertanyakan balik keberpihakannya setelah melihat hasil Polling. Padahal semua hasil yang terpampang tentu data...

22 Juli... nah trus sekarang ngapain ?

Ah… pada akhirnya keputusan akhir hasil rekap suara KPU menyatakan sejalan dengan hasil sebagian besar quick count sesaat setelah coblosan selesai ya ? Jadi ya Selamat sekali lagi untuk pasangan capres cawapres pak Jokowi – pak Jusuf Kalla atas kemenangannya, yang tentu saja ini merupakan hasil kemenangan rakyat ya pak ? Mengingat sejak awal kami memang total mendukung perjuangan hingga rekapitulasi suara selesai. Disandingkan dengan uang bisa jadi apa yang sudah dilakukan oleh semua relawan (yang tentunya tidak dibayar alias ikhlas membantu) rasanya gag ternilai lagi di akhir cerita. Jadi ya silahkan pak, naik ke kursi yang lebih tinggi sementara kami sambil menunggu pelantikan tentu kembali pada aktifitas dan rutinitas kami sebagaimana biasa. dan seperti kata pak Anies Baswedan saat ditanya mbak Najwa Sihab, mendukung pasangan Jokowi-JK bisa dikatakan gag ada beban yang harus dipikul dan diemban. Jadi ya ringan saja menyikapinya. Totalitas. Memang begitu seharusnya. Saya s...

Ya Sudahlah

Fiuh… akhirnya berakhir juga tugas itu dilaksanakan. Setelah memantau hasil Quick Count dari 7 (tujuh) lembaga Survey, beberapa diantaranya bisa dipercaya kredibilitasnya, tampaknya usaha dan dukungan yang selama ini diyakini Berhasil, sudah tampak bentuk dan rupanya. Minimal untuk ukuran lokal Bali, formasi 70-30 sangat lumayan mengingat target yang pernah ingin dicapai kawan sebelah adalah 60-40 untuk kemenangan Capres nomor urut 1. Peran Sosial Media Bagi sebagian kalangan, Sosial Media tampaknya masih diacuhkan kepentingannya. Mengingat pemilik hak suara diyakini jauh lebih besar jumlahnya berasal dari luar kaum Netizen. Tapi apa daya, kekuatan dunia maya seakan dilupakan padahal pengaruh satu orang pengguna dapat melakukan klarifikasi pada dua tiga bahkan lima pemilik suara lainnya yang awam soal internet. Hal inilah yang secara pribadi saya coba ingat, lakukan dan terapkan juga pada yang lain. Kalo gag salah sih, muasal idenya dari akun twitter miliknya @kurawa aka Rudi Vali...

Detik-detik menuju Pesta Demokrasi

Terharu… saya membaca timeline akun sosial media malam ini. Baik kawan yang mendukung bapak Prabowo sebagai Capres nomor urut 1 maupun kawan yang mendukung bapak Jokowi sebagai Capres nomor urut 2. Mereka sama… sama-sama menganjurkan untuk menggunakan suara atau hak pilih dengan bijak, tanpa Golput. Tanpa Golput… Itu penekanannya. Karena kalau tidak salah, dalam pemilihan calon legislatif beberapa waktu lalu, sebagian besar kawan yang saya miliki, secara terang-terangan menyatakan Golput lantaran sudah tidak memiliki kepercayaan lagi pada calon pemimpinnya. Sehingga tidak heran jika angka Golput lalu menjadi sedemikian besar saat pemilihan berlangsung. Semoga kini, tidak lagi. Itu harapan saya. Orang-orang yang dahulu begiti bangga dengan pilihannya untuk Tidak Memilih, kini beramai-ramai turun gunung dan menyatakan dukungannya dengan jelas. Bahkan tokoh-tokoh yang saya kagumi sejak dulu, menyatakan dukungannya meski lewat jalur yang lain. Mereka Hebat. Semuanya Hebat....

Yuk kita Jalan Lagi...

Masa Breakthrough 2 sudah masuk hari ke-3 saat kaki menginjakkan ruang kantor besok pagi. Sementara yang namanya jadwal atau tahapan Milestones, belum dijalankan sesuai rencana. Yang ada baru laporan pada pimpinan saja. Inginnya sih besok pagi itu mau ngadain rapat internal dulu, untuk menyampaikan maksud dan rencana Proyek Perubahan yang sejatinya memang harus melibatkan staf Teknis maupun Administrasi Permukiman. Tapi selain itu memang ada hal-hal yang  perlu dibicarakan bersama utamanya terkait kegiatan lapangan yang kini sudah masuk di pertengahan proses. Sekedar Info bahwa proses Diklat Kepemimpinan Tingkat IV yang saya lakoni sedari Mei lalu sebenarnya memang masih belum usai kegiatannya, yang kalau tidak salah baru akan berakhir minggu keempat Bulan September nanti. Dan masa Breakthrough 2 yang disampaikan diatas bisa dikatakan sebagai masa Off Campus, balik kantor namun tetap mengerjakan tugas utama Diklat yaitu mengImplementasikan Proyek Perubahan. Semoga bisa dilalui dengan b...

Masih tentang Palembang

Saat daratan mulai terlihat dari kaca jendela pesawat, mata tertumpu pada satu area luas yang lebih mirip Galian C, berada di pinggiran jalan besar dua lajur namun masih minim kendaraan. Selengang inikah Kota Palembang ? bathinku saat itu… Tidak salah memang jika hal tersebut terlintas di benak untuk beberapa saat. Yang ada hanya satu dua kendaraan roda dua terlihat melintas tanpa teman. Segera saat mata tertumpu pada ujung jalan yang masih berupa tanah dan tertutup lahan, oh… ini jalan baru yang belum dibuka rupanya. Hal ini akhirnya terungkap saat bapak Agung Nugrogo, Kepala Dinas Kebersihan Kota Palembang bercerita tentang usaha mereka dalam mengatasi sampah, drainase dan permukiman kumuh. Paparan atas beberapa pertanyaan dan apresiasi yang kusampaikan di sela kunjungan kami, tahap Benchmarking Diklat PIM IV Kabupaten Badung ke kota Pempek sedari Senin lalu. Terima Kasih juga pada mata dan ingatanku. Karena masih bisa mengingat nama jalan Kapten Rivai, dimana saat kami me...

Dua Pilihan dan makan siang

Waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 wita. Siang yang terik sebetulnya jika kami masih berada di area Denpasar. Sesuai arahan dari panitia, sejak pagi tadi kami tidak diijinkan membawa dompet dan ponsel selama mengikuti Outbound. Praktis saat hari sudah sesiang ini, satu satunya pilihan yang kami nanti tentu saja makan siang yang telah disiapkan oleh Panitia. Apalagi outbound yang ditujukan untuk menguji fisik, mental dan pola berpikir sejak awal tadi lumayan menguras tenaga, mengurai tawa canda bahkan sedikit duka lantaran kekalahan di beberapa permainan. Tapi santai, yang saya ingin bahas disini bukanlah bagaimana jalannya outbound atau kelanjutannya. Hanya berandai-andai saja. Tingkat keakuratan sebelum paragraf ini tentu bisa dipercaya, namun setelah ini ya jadikan saja sebagai bahan perenungan. Ketika berada dalam kondisi diatas, Panitia memberi kami dua pilihan makan siang. Masing-masing paket makan tentu punya kelebihan dan kekurangan masing-masing baik dari segi kualitas makanan...

Masih Mau Golput lagi ?

Dalam hidup saya yakin, kita seringkali dihadapkan pada dua pilihan yang berseberangan arah untuk diputuskan segera. Dimana masing-masing pilihan akan mengantarkan kita pada arah, tujuan dan konsekuensinya masing-masing. Ada jalan yang terjal namun memiliki tawaran yang menggiurkan di awal, begitupun sebaliknya. Ada jalur yang salah, ada pula yang benar namun penuh rintangan. Andai pun kita kurang berkenan dengan pilihan tersebut, biasanya kita tak akan mengambil langkah apapun dan diam di tempat tanpa satupun kemajuan yang didapat. Apapun resikonya, untuk maju kita memang harus berani menghadapi dan memilih salah satu dari dua pilihan tersebut. Demikian pula dengan bangsa ini. Pertengahan tahun 2014 nanti, kita semua rakyat Indonesia akan dihadapkan pula pada dua pilihan, calon pemimpin bangsa, yang jujur saja sangat sulit untuk ditentukan kelebihan dan kekurangannya secara akurat mengingat antara berita maupun fakta yang disampaikan oleh media, masih simpang siur kebenarannya. Sehing...