Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Semeton Pande

Pracasti Pande (Bagian 10 – Turunan Pande Bratan terpencar)

TURUNAN PANDE BRATAN TERPENCAR Pada suatu hari beberapa orang rakyat Ki Pasek Kayu Selem dan Batur menjajakan dagangan melalui desa Bratan. Sesampai disana matahari telah terbenam, hari siang berganti malam, dan mereka menginap di Desa Bratan. Yang menjadi pemimpin desa Bratan ketika itu adalah I Gusti Pande Bratan yang seharusnya bertanggungjawab dengan Keamanan desa dan melindungi orang pendatang yang menginap, supaya desanya tidak ternoda bila penginap itu mendapat bencana didesanya. Tetapi agaknya mendapat cobaan dari Tuhan dan kutuk dari kawitannya Bhagawan Pandya Bhumi Cakti, maka I Gusti Pande Bratan timbul keangkuhannya, mabuk karena berasa diri kuat, tidak ingat dengan tata susila dan tata tertib adat desa. Maka disambutnya orang-orang niaga yang minta menumpang bermalam disana dan merampas barang-barang perniagaannya. Hal sedermikian itu acap kali dilaksanakan untuk mendapat keuntungan secara mudah. Ki Pasek Batur tidak tertahan marahnya mendapat laporan berita yang mengecewa...

Pracasti Pande (Bagian 09 – Pande Bratan dan Pande Sadhaka)

PANDE BRATAN DAN PANDE SADHAKA Diceritakan Brahmana Dwala setelah ayahnya Empu Gandring Cakti pulang ke Dewaloka, berkehendak akan madiksa menjadi pendeta, tetapi tidak adayang dipandang patut menjadi guru (nabe) di Madura. Untuk itu lalu dibuatnya Arca pelinggihan Empu Bumi cakti dan isterinya Dyah Amrtatma. Setelah arcanya siap maka ditempatkan diruangan Padmasarana dalam asrama pemujaan (padewaharan). Tiap  hari tidak lupa memuja kawitannya. Tidak beda halnya dengan Sang Ekalawya anak Nisada, hendak turut bersama Sang Korawa, Pandawa dulu belajar ilmu panah kepada guru Drona. Tetapi oleh karena Ekalawya itu seorang keturunan Sudra, ditampik oleh Dang Hyang Drona. Sebab itu ia pergi ketengah hutan ditempat yang sunyi membuat arca lingga Drona. Demikian pula Brahmana Dwala selalu memuja ditempat lingga kawitannya, karena taatnya maka kawitannya berkenan menganugerahkan Pustaka Bang kepadanya, yaitu ilmu kebahagiaan hidup dan mati. Sebab hikmah ilmu itu beliau hidup tenang dan suka bek...

Pracasti Pande (Bagian 08 – Batur Kamulan)

BATUR KAMULAN Empu Gandring Cakti, setelah melalui beberapa kesulitan dan rintangan dengan menggendong anaknya, maka pada suatu hari tibalah juga diasrama Madura dan menghadap ayahnya. “Anakku Gandring,” kata Empu Bhumi Sakti “betapa hasil pekerjaanmu kusuruh mencari adikmu?” Empu Gandring Sakti menjawab secara singkat, karena diketahui ayahnya ahli dalam ilmu gaib Duradarsana, dapat melihat alam yang dekat maupun yang jauh, tidak berani ia bercerita yang tidak sebenarnya “Pekulun ayah pendeta, adik Empu Galuh bermaksud akan mengusahakan kamoksan, meniru Dharmanya seorang Brahmana suci. Ia kini dijadikan sebagai Kili (pelayan perempuan) oleh Hyang Tohlangkir, mengganti dan digelari Sang Kul Putih.” Sangat sukacita ayahnya mendengar keterangan Empu Gandring Cakti. lalu ia pun berkata. “Hai anakku Gandring, ayah telah tahu dengan keadaan dan maksud adikmu, kini aku ingin meninjau asrama adikmu Empu Galuh, engkau tinggallah diasrama ini. Kini telah selesal tug...

Pracasti Pande (Bagian 07 – Brahmana Dwala)

BRAHMANA DWALA Sementara itu diceritakan Empu Gandring Sakti disuruh oleh ayahnya untuk mencari adiknya Empu Galuh, sebab telah lama tidak kelihatan di Madura. Demikianlah berbulan-bulan Empu Gandring Cakti mencari adiknya diseluruh desa dan tempat-tempat sunyi  didalam hutan dan tak jua ditemuinya, bahkan kabarnyapun tidak pernah didengar. Dalam usahanya terakhir, ia melakukan yoga  hingga melepaskan carira nya (badan astral) pergi keseluruh desa  dengan cepat hingga sampailah ia kegunung-gunung di  pulau Bali dengan pandangan yang sangat tajam. Tiba-tiba dilihat adiknya yaitu di kaki Gunung Agung. Setelah nyata dilihatnya maka diselesaikannya yoga dan pergi ke Bali melalui hutan pegunungan. Pada waktu matahari terbenam berhentilah Gandring Cakti dibawah pohon randu. Saat itu, keluarlah Raksasi yang dasyat dari sebuah gua, karena mencium bau manusia. Setelah terlihat olehnya manusia laki-laki yang tampan lalu berteriaklah Raksasi itu dengan suara keras dan berkata, “Hai engkau manusia...

Pracasti Pande (Bagian 06 – Dyah Kul Putih)

DYAH KUL PUTIH Diceritakan Dyah Amrtatma telah melahirkan seorang putera laki-laki diberi nama Brahmana Rare Cakti . Beberapa tahun kemudian melahirkan pula seorang puteri diberi nama Dyah Kancanawati . Dalam perkawinannya Empu Bhumi Cakti dengan Dyah Amrtatma hanya menghasilkan dua orang anak saja. Setelah sama-sama berumur dewasa masing-masing anak berbakat kebatinan dan suka melakukan tapa. Brahmana Rare Sakti sangat paham tentang ilmu kepandaian tidak beda dengan ayahnya dalam hal kekuatan batin. Semenjak itu ia digelari Empu Gandring Lalumbang . Dyah Kancanawati tidak beda dengan Sang Hyang UmaCruti yaitu Dewi Kesetiaan menjelma kepadanya, ahli dengan inti hakekat weda dan taat kepada tapa brata. Pada suatu hari dua anak ini dipanggil oleh ayahnya. Setelah hadir ayahnya berkata, “Hai anakku, engkau berdua bersaudara. Ayah sangat berharap bahwa selalu bersaudara baik. Kini oleh karena engkau telah sama-sama dewasa ayahmu memberikan sesuatu sekedar sebagai suatu ajimat dalam melak...

Pracasti Pande (Bagian 05 – Raja Bali Berguru)

RAJA BALI BERGURU Diceritakan Ida Dalem Bali Cri Smara Kapakisan di Gelgel setelah kembalinya dari Madura mengenang kebesaran jiwa Empu Bhumi Cakti dalam menyelesaikan yadnya, terbit dalam hati sanubari hendak berguru pada Empu Bhumi Cakti dalam hal ilmu keTuhanan dan selanjutnya membersihkan diri (mapogala) menjadi raja rsi . Untuk melaksanakan keinginannya ini diutuslah Ki Pasek Babya pergi ke Madura untuk mengundang Empu  Kayu Manis yang bergelar Bhagawan Pandya Empu Bumi Cakti agar datang ke Gelgel. Pada suatu hari utusan raja tibalah di Madura terus menuju asrama Kayu Manis. Dijumpai Sang Empu sedang mengatur Pancaprakara yaitu bunga, ganda, ksata(wija), dupa dan dhipa (pedamaran) serta pula ciwambha (tempat air suci). Kemudian Sang Empu melaksanakan Surya Sewana . Setelah selesai semuanya dipanggilah semua tamunya yang baru datang dan berkata, “Duh tuan hamba tame dari mana? Apakah kebangsaan dan datang dari mana, ceritakan saja sebenar-benrnya.” Maka Ki Pasek Babya menjawab, “...

Pracasti Pande (Bagian 04 – Dyah Amrtatma)

DYAH AMRTATMA Beberapa hari kemudian dari penyelesaian yadnya Patih Madhu , maka Bhagawan Pandya Empu Bhumi Cakti setelah diaturi persembahan sepatutnya, lalu minta diri pergi seorang diri menuju desa yang sepi melalui kuburan. Ditengah  perjalanan beliau berjumpa dengan seorang anak gembala sedang membajak menangis dengan sedihnya ditinggalkan ayahnya, karena patah gigi bajaknya, tersedu-sedu ia menangis. Sangat iba hati sang Empu melihat anak itu lalu berkata “hai anak gembala, terasa kasihan melihat engkau  menangis sesedih ini. Apa sebabnya engkau menangis ditengah jalan ? Coba ceritakanlah kepada saya,” Seraya menangis anak gembala itu berkata “Ya tuan pendeta, gigi bajak hamba patah karena terperosok masuk kedalam lapisan batu. Bila ayah mengetahui hal ini tentu bellau akan marah kepada hamba.” Sang Empu berkata “Janganlah engkau khawatir, bapa akan memperbaiki gigi bajakmu itu supaya dapat engkau melanjutkan pekerjaanmu.” Anak gembala itu tercengang kesena...

Pracasti Pande (Bagian 03 – Bhagawan Pandya Empu Bhumi Sakti)

BHAGAWAN PANDYA EMPU BHUMI CAKTI Tiada dikisahkan tentang Hyang Brahma lebih lanjut, diceritakan Empu Brahmaraja telah memasuki umur dewasa, kesaktian yang dimilikinya sama dengan ayahnya, kuat melakukan tapa. Lambat laun tersiarlah diseluruh permukaan bumf tentang sakti mantranya Empu Brahmaraja , sehingga banyak orang berdatangan mohon nasehat-nasehat dan penyelesaian yadnya. Pada masa itu tersebut Patih Madhu di Madura, atas ijin raja Majapahit yaitu Sri Hayam Wuruk , berkehendak akan membangun yadnya, misalnya pitra­-yadnya dan bhuta-yadnya . Kehendaknya ini lama tertekan karena sangat susah dan belum dapat mencari seorang pendeta yang sakti yang saktinya sama dengan Empu Logawe . Pada suatu ketika Kryan Madhu mendengar berita bahwa digunung Hyang ada seorang Empu Sakti sedang melakukan tapa. Patih Madhu segera berangkat menuju gunung Hyang, dengan maksud mengundang Sang Empu datang ke Madura untuk menyelesaikan pitra-yadnya . Setibanya dipertapaan maka dijumpai Empu Brahmaraja se...

Pracasti Pande (Bagian 02 – Kisah Brahma Pande)

KISAH BRAHMA PANDE Pada zaman purbakala (Asitkala) , dimana alam mulai teratur kembali (Swastika) setelah melalui zaman kiamat (Sanghara kalpa) maka Tuhan sang pencipta alam ini (Hyang Parama Brahma) berkehendak akan menciptakan isi alam ini dengan jalan mengadakan dhat purusa dan pradana , yang terkenal diantara Panca Purusa bersama pradhanarja yaitu Iswara, Brahma, Mahadewa, Wisnu dan Siwa . Tidak diceritakan dengan panjang lebar tentang tugas dan perkembangan ciptaan Panca Purusa itu masing-masing untuk mengisi alam ini dengan tumbuh-tumbuhan dan semua mahluk  (Sthawara Janggama) demikian pula silsilah turunannya masing-masing, yang penting diceritakan disini adalah riwayat turunan Hyang Brahma yang berhubungan dengan kisah Brahma Pande . Pada  zaman Daha , pada kerajaan Singasari di Jawa Timur tersebut ada lima orang bersaudara  yang Iangsung keturunan Bhatara Brahma merupakan pendeta (Brahmana) yang sangat setia kepada tapa. Yang sulung bernama Empu Agnijaya , adik-adiknya masi...

Pracasti Pande (Bagian 01 – Pendahuluan)

Buku berikut secara kebetulan saya pinjam dari Jero Mangku Wija di Peraupan Peguyangan Denpasar Utara, saat dilaksanakannya Rapat Maha Semaya Warga Pande Kota Denpasar, Sabtu 15 oktober 2011 beberapa waktu lalu. Buku ini merupakan hasil salin ulang I Gede Saptha Yasa di Malang, 19 Mei 2000 dari sebuah buku dalam ejaan yang belum disempurnakan, diterbitkan oleh Pustaka Balimas 1 April 1958 dan diterjemahkan oleh I Gusti Bagus Sugriwa. Adapun sumber utama buku ini adalah Lontar berbahasa Kawi Bali, yang aslinya diterima dari Mengwi dan disalin pada tanggal 16 Juni 1952 oleh Wayan Mendra, Pegawai Gedung Kertya. Salinan Lontar dengan nomor Va 2404 ini dipinjam oleh I Gusti Bagus Sugriwa atas permintaan beberapa Warga Pande, dari Gedong Kirtya Singaraja. PENDAHULUAN Om Avighnam Astu Namo Sidham Om Svastyastu Dari beberapa warga Pande, dengan tulus hati meminta kepada I Gusti Bagus Sugriwa, agar berusaha menterjemahkan Pracasti Pande dari lontar (kitab pustaka) yang berbahasa Kawi Bali ke...

Dudonan Karya Atma Wedana (Nyekah) ring Jaba Pura Kawitan Batur Pande Tonja

Berikut tiang sampaikan Dudonan Acara/Karya Atma Wedana (Nyekah) ring Jaba Pura Kawitan Batur Pande Tonja, Tgl. 20 – 28 September 2011 Rahina Anggara Umanis Uye, 20 September 2011 Galah 15.00 Wita Acara Nuasen Karya lan Melaspas Bale Peyadnyan, Genah ring Peyadnyan, kepuput Jro Mangku Wija Rahina Wraspati Pon Uye, 22 September 2011 Galah 07.30 Wita Acara Mendak Tirta ring Pura Kahyangan Tiga, Pura Kawitan lan Pura Sidekarya, 15.00 Wita Acara Ngulapin ring Segara, Genah ring Segara Matahari Terbit, kepuput Jro Mangku Wija Rahina Sukra Wage Uye, 23 September 2011 Galah 14.00 Wita Acara Ngangget Don Bingin , Genah ring Br. Sengguan Tonja, kepuput Pemangku Kahyangan Tiga lan Pemangku Kawitan, 16.00 Wita Acara Ngingsah Beras, Genah ring Jaba Pura Kawitan Batur Pande Tonja, kepuput Sira Mpu Dharma Sunu, Tonja, Pemangku Kahyangan Tiga lan Pemangku Kawitan Rahina Redite Umanis Uye, 25 September 2011 Galah 07.30 Wita Acara Mendak Tirta ring Pura Kahyangan Tiga, Pura Kawitan lan Pura Sidekary...

Penanaman Pohon di Pura Penataran Pande Tamblingan bersama Yowana Paramartha Warga Pande

Om Swastiastu, Semeton Sedharma, khususnya Semeton Pande diseluruh Bali, ketika kita bangun tidur di pagi hari bisa kita hirup segarnya udara tanpa polutan, oksigen masih murni tanpa asap kendaraan dan sisa pembakaran lain, maka sudah sepantasnya kita panjatkan syukur atas karunia Tuhan Yang Maha Esa ini. Syukur atas karunia Tuhan kita bisa kembali melihat mentari bersinar hangat dan menghirup udara pagi yang sejuk. Namun lihatlah sekarang disekeliling kita, pohon satu demi satu kita tebang, karena kita perlu lahan untuk tinggal, perlu ruang untuk bergerak dan aktifitas kita. Tanpa kita sadari kita sudah merusak alam untuk kepentingan kita, kepentingan manusia semata. \ Pulau Bali yang kecil ini, terkenal sampe ke luar negeri hingga Julia Robert artis hollywood yang sudah kelas dunia pun memilih syuting di Bali. Semua tidak lepas dari keindahan alam bali yg eksotis dan magis. Dikatakan magis karena konsep Hindu yang diterapkan dalam kehidupan sehari hari terlihat begitu sempurna, ada h...