Skip to main content

Posts

Showing posts with the label bom

Turut Berduka atas Bom Gereja Surabaya ; Berhenti Curiga, Mulailah Menyapa

Belum usai duka menyelimuti timeline akun sosial media dan juga belasan karangan bunga bela sungkawa di sejumlah jalanan, utamanya depan pos dan kantor polisi, hari minggu pagi tadi keriuhan kembali terjadi. Tiga bom bunuh diri menyasar Gereja di kota besar Surabaya, dan seakan belum cukup, menyusul Dua bom lainnya dalam waktu yang berdekatan. Semua orang seakan tersadarkan dari tidur panjang. Teror dari kelompok yang sama. Setidaknya itu yang diyakini banyak orang. Kelihatannya tujuan yang diinginkan hanya satu. Membuat negeri ini chaos, lengkap dengan semua efek sampingnya. Menumbangkan rupiah, atau bahkan mengganti Presiden yang saat ini masih bersusah payah membangun bangsa. Dan mereka tak pernah lelah memporakporandakannya. ‘Nggak usah berkelit bilang yang ngebom gak punya agama. We know exactly what are their religion’ ungkap akun @nuruliu pada timeline Twitter tengah hari tadi. Saya setuju kali ini… ‘…mau sampai kapan kita akan membiarkan Islam dir...

Sore Sandya Kala…

Aku berjalan menyusuri pinggiran trotoar pada sebuah jalan yang sudah kukenal sebelumnya. Beberapa hari sebelum satu upacara keagamaan terbesar akan dilakukan.  Upacara untuk membersihkan Legian Kuta pasca pengeboman Oktober tahun 2002 lalu. Satu dua toko tampak sudah mulai berbenah mempersiapkan diri mereka akan malam yang kan datang menjelang. Beragam orang berlalu lalang disekitarku… dan mataku tertumpu pada satu tempat. ‘Bunga, Pak ?’ sapa seorang pedagang yang berada disekitar tanah tersebut. ‘Untuk mengenang orang yang Bapak sayangi…’ tambahnya. ‘Tidak, Terima Kasih… tak satupun dari mereka yang saya kenal.’ ‘…atau untuk mereka yang…’ belum selesai si pedagang berucap, aku bertanya ‘Siapa mereka Bu ? yang tertawa ramai disitu ?’ tanganku menunjuk tanah kosong yang sedari tadi kuperhatikan. ‘Maksud Bapak ?’ ia balik bertanya… ‘Itu… yang menari gembira dan tertawa keras…’ ‘Jangan menakut-nakuti saya Pak… ga’ada orang disitu… siapa yang Bapak maksud ?’ si Ibu pedagang mulai kebingun...

pagi satu ketika…

Entah bagaimana caranya aku bisa berada ditempat ini… Sebuah gang kecil yang kumuh, aku bersandar pada tembok, disela batu bata berlumut layaknya masa kecilku. Orang berlalu lalang didepan gang seakan tak peduli dengan kehadiranku… Langkah seorang Bapak tua terhenti, berbalik memandangiku, menghampiri dan menyodorkan sebatang rokok putih yang kuhisap dengan rakus… ‘bukan orang sini Pak ?’ sapanya. ‘dimana ini Pak ?’ balik kubertanya. ‘Legian… Kuta…’ jawabnya sambil menghirup nafas dalam-dalam. Terpekur kumenatap sekelilingku. Luluh lantak tak berbentuk… ‘Apa yang terjadi ?’ tanyaku kembali. ‘Bom…’ ucapnya terhenti. ‘…lagi ? Legian dibom ?’ tanyaku terheran seakan tak percaya… dan ekspresi yang ditampakkannya pun sama denganku. ‘Apa maksud Bapak dengan ‘lagi ?’ ‘Seingat saya Legian dibom tujuh tahun lalu Pak. Tahun 2002, bulan Oktober… bagaimana bisa kini Legian kembali mengalami hal yang sama ?’ cecarku. ‘Apa maksudnya dengan ‘tujuh tahun lalu ? ini tahun 2002 Pak. Bulan Oktober…, apa ...

Mohon Tas-nya dibuka Mas

Sebenarnya cerita ini sudah lama terjadi, tepatnya pasca pengeboman hotel JW Marriot yang akhirnya membuyarkan semua impian para fans fanatik Manchester United (MU), karena sedianya mereka bakalan bertandang ke negeri ini atas bantuan sebuah operator telekomunikasi. Dua kali, baca : dua kali, dalam selang waktu seminggu saya mengalami kejadian dengan alur yang sedikit berbeda, namun intinya tetap sama. Dicurigai sebagai Teroris… Kali pertama saat sepulang dari Bali Orange Communications (BOC), saya dihubungi Mertua dan diminta tolong untuk membeli sebuah obat (krim wajah) disebuah Klinik Kecantikan daerah Tanjung Bungkak. Dengan pe-de saya melangkah masuk areal klinik setelah memarkirkan mobil diparkiran depan, tanpa peduli teriakan satpam security. Ketidakpedulian saya ternyata berdampak buruk, langkah sayapun dihentikan. Mereka bertanya ‘Bapak mau kemana ?’ saya jawab ‘mau ke klinik, nyari obat krim…’ ‘Bisa tunjukkan identitas ?’ sambung mereka. ‘Maksudnya ?’ saya balik bertanya kare...

Indonesia Berduka demikian pula Tesis saya

PiLPres bisa jadi merupakan ajang luapan kegembiraan terakhir yang bisa dirasakan negeri ini, pula demikian dengan saya. Kegembiraan lantaran pada waktu lalu, akhirnya terpilih jua Presiden yang dinanti oleh sekian juta masyarakat untuk memimpin bangsa ini selama lima tahun kedepan… Kegembiraan lantaran dua hari lalu, saya telah menjalani ujian kelayakan Tesis yang merupakan ujian tahap 2 dari 3 tahap yang harus dilalui. Meski dinyatakan lulus dan bisa dilanjutkan, namun apa yang terjadi pada hari itu, cukup membuat saya terhenyak dan terdiam hingga hari ini. Dua hari terakhir bisa dikatakan merupakan masa yang kelam bagi saya dalam perjalanan untuk menggubah sebuah tesis, tugas dan kewajiban terakhir yang harus saya penuhi untuk bisa menyelesaikan studi pasca sarjana yang notabene biaya kuliahnya harus saya tebus setiap bulannya selama empat tahun di Bank Pembangunan Daerah Bali. Jumat siang sesuai perjanjian, dengan gontai saya melangkahkan kaki disepanjang lorong gedung pasca sarjan...