Hal yang paling pedih dari sebuah perpisahan adalah ketika masih bisa diberikan kesempatan untuk melihat sosok yang dahulu pernah dekat, disayang, dibenci atau dimarahi. Dan dalam hitungan menit, semua hanya tinggal kenangan. Satu persatu keluarga dan tetangga ataupun mereka yang tak dikenal melangkahkan kaki, usai nyala api mulai membesar, membakar sedikit demi sedikit tubuh kaku dibalut kafan dan wewangian. Pergi meninggalkan tempat terakhir. Menyisakan isak tangis yang telah kehilangan. Di Banjar Adat Tainsiat, setiap tahun setidaknya ada 10an warga dan keluarga yang mengalami semua perjalanan ini. Saya pun pernah ada diantaranya. Dan hari ini jelang akhir tahun keempat kami menjalankan amanat sebagai Kelihan Adat Banjar Tainsiat. Menyaksikan anak-anak menangisi kepergian bapak atau ibunya, setelah layon mulai dibakar, tentu membuat air mata jatuh bagi siapapun yang melihatnya secara langsung. Apalagi yang meninggal masih seusia dan sepantaran, artinya masih memilik...