Hal yang paling pedih dari sebuah perpisahan adalah ketika masih bisa diberikan kesempatan untuk melihat sosok yang dahulu pernah dekat, disayang, dibenci atau dimarahi. Dan dalam hitungan menit, semua hanya tinggal kenangan.
Satu persatu keluarga dan tetangga ataupun mereka yang tak dikenal melangkahkan kaki, usai nyala api mulai membesar, membakar sedikit demi sedikit tubuh kaku dibalut kafan dan wewangian. Pergi meninggalkan tempat terakhir. Menyisakan isak tangis yang telah kehilangan.
Di Banjar Adat Tainsiat, setiap tahun setidaknya ada 10an warga dan keluarga yang mengalami semua perjalanan ini. Saya pun pernah ada diantaranya. Dan hari ini jelang akhir tahun keempat kami menjalankan amanat sebagai Kelihan Adat Banjar Tainsiat.
Menyaksikan anak-anak menangisi kepergian bapak atau ibunya, setelah layon mulai dibakar, tentu membuat air mata jatuh bagi siapapun yang melihatnya secara langsung. Apalagi yang meninggal masih seusia dan sepantaran, artinya masih memiliki tanggungan anak usia sekolah dasar atau putih biru. Gak pernah terbayang kelak bakalan terjadi diantara kita.
Semua ego dan kegelisahan mendadak runtuh saat anak-anak ini mulai menjerit memanggil bapak ibu mereka. Dari sekian banyak hal yang tampak begitu tak adil, nyatanya masih ada yang jauh lebih membuat prihatin. Hanya bisa berdoa semoga keseharian mereka dilapangkan kelak olehNya.
Sabtu 14 Februari 2026, Krematorium Santha Swarga Setra Adat Denpasar, 09.55 wita.
Selamat Hari Kasih Sayang untuk Kalian semua.
#HappyValentineDay #Valentine #AmorIngAcintya
Comments
Post a Comment