Skip to main content

Posts

Showing posts with the label PakDe Suardana

Kenangan yang hadir jelang Galungan

Setiap kali jelang hari raya Galungan, sesaat setelah kami selesai mengenakan wastra atau kain yang diperuntukkan bagi semua pelinggih di merajan rumah hari minggu pagi, pikiran ini selalu melayang pada sosok satu orang panutan yang kini sudah tiada. Orang yang pernah banyak memberikan nasehat tentang berbagai macam hal, baik dalam dunia kerja maupun keseharian. Orang yang menyadarkan saya pada kenyataan, dimana kejujuran tak selalu bisa menyenangkan bagi semua orang. Orang yang selalu mengingatkan bahwa apa yang tampak didepan mata, tak selalu sama dengan makna yang terdapat dibaliknya. Ada 14 pelinggih yang diukur dan dibuatkan wastra sekitar 4-5 tahun lalu. Saat itu rejeki bisa dikatakan masih cukup berlimpah untuk memberikan warna baru pada keseharian kami di rumah. Pun memberikan rejeki tambahan pada beliau yang sudah menjalani masa pensiun pasca pengabdian panjang di masa lalu. Kini, warna merah wastra yang dulu pernah menyala, mulai redup ditelan jaman dan cuaca. Menyisakan kein...

Sebuah Ode untuk I Made Suardhana Pande

Pada tahun 2013 akhir, saat dimana kami sedang berupaya mendata kegiatan yang telah dilaksanakan pada periode 5 tahun sebelumnya, buku ini ditemukan di sela tumpukan arsip dan laporan, yang kotor dan penuh debu. Seorang staf yang ikut membantu, menyodorkannya pada saya sambil berkata “Siapa tahu perlu, Pak Pande kan suka baca buku…” Minggu pagi 6 September lalu, masih menikmati segelas kopi usai sembahyang pagi, saya teringat buku ini. Buku yang saya simpan di rak cokelat hasil karya mantan staf yang kini dilaporkan masih berstatus sakit, kalau tidak salah memuat profil belasan pejabat di Pemerintah Kabupaten Badung, salah satunya almarhum Ir. I Made Suardhana Pande , yang hari ini akan diupacarai di Krematorium Santha Yana. Saya pun membuka lembar demi lembar ‘Mereka yang Mengabdi di Badung’ terbitan Bagian Humas Setwilda Tingkat I Badung, Agustus 1999 . Ada beberapa informasi yang baru saya ketahui tentang Beliau di masa lalu, figur kelahiran 17 November 1954 yang digambarkan seba...

Amor ing Acintya PakDe Suardana

Layar ponsel menyala menampilkan nama sosok yang saya kenal keras dan tegas, sesaat setibanya di ruangan kerja pasca absen pagi. Suara di seberang terdengar begitu sumringah lantaran ada kiriman lawar ayam di satu pagi yang tak disangka. “Sube telah ik…” (sudah habis ik-panggilan saya dirumah) kata beliau, sambil bertanya dalam rangka apa saya memberinya kiriman pagi. “Dalam rangka hari senin…” jawab saya asal saja sambil nyengir sendiri. Memang suka aja bercanda dengannya akhir-akhir ini. Saya mengenal beliau sejak kecil sebagai orang tua yang galak dan temperamen. Namun di balik itu, ia memiliki keinginan untuk mendidik anak-anaknya menjadi pintar dan handal. Kedekatan saya baru mulai terasa saat masa perkuliahan selesai awal era 2000an. Dimana saat senggang saya kerap berkunjung ke rumahnya, untuk membaca koran, sambil mencari lowongan kerja di halaman iklan. Kalau tidak salah, saat itu ia sedang menjabat pada posisi strategis pekerjaannya. Yang saya sendiri masih buta tentang apa...