Skip to main content

Posts

Showing posts from 2008

IdoLa

Saya yakin, setiap orang didunia ini pasti punya sesosok idola yang mereka sanjung dan yakini mampu menginspirasi setiap langkah gerak gerik mereka. Entah itu selalu berubah tiap tahun, tiap jenjang pendidikan, tiap trend atau masa yang berbeda. Idola kalo secara pengertiannya, bagi saya pribadi sih adalah sosok yang dijadikan panutan dalam hal tertentu dalam kehidupan seseorang. Misalkan saja ada orang yang begitu memuja ELVis Presley dan menjadikannya idola sepanjang masa hidupnya, bisa langsung meniru cara penampilannya baik panggung hingga style rambutnya, hafal kapan lahir, pertama kali manggung, masa jaya hingga kematiannya. Walaupun rata-rata yang dijadikan sosok idola itu adalah orang terkenal, entah itu artis musik, film, sastrawan, hingga pahlawan, ada juga yang mengidolakan sosok religius seperti Nabi Muhammad SAW misalnya. Ngomongin soal mengidolakan Nabi Muhammad, saya jadi ingat kasus pembredelan tabloid Monitor sekian juta tahun yang lalu. He… dimana mereka (tabloid Mon

16 GB, 8 MP, 1 CM, DuaL On, TV Tuner

Rasanya hingga hari ini, belum jua puas kalo bicara soal kecanggihan teknologi yang ditanamkan kedalam sebuah alat komunikasi. Ya, Ponsel. Sebuah terobosan mutakhir yang kini hampir diberbagai belahan dunia membuatnya begitu booming dan selalu dinanti para konsumennya, baik yang loyal maupun para newbie. Gak disalahkan memang, lantaran sekian banyak kecanggihan seakan ada dalam genggaman. Oke, kita putar ingatan kita ke sepuluh tahun lalu, dimana alat komunikasi waktu itu masih bernama telepon rumah, dibuat dengan dimensi yang besar dan berat, serta dengan setianya duduk manis di pojokan rumah. Seiring berjalannya waktu, kita seakan dikejutkan oleh teriakan orang-orang kaya tahun tersebut yang menenteng ’telepon rumah’nya kemana-mana. Hanya untuk sekedar menunjukkan benda yang mereka tempelkan pada telinga. Meloncat dua tiga tahun setelah itu, saya pribadi sempat terpana menyaksikan perkembangan kecanggihan ponsel yang ditanamkan pada sebuah brand terkenal Nokia, juga Sony Ericsson

MenSyukuri KeJenuhan

Seperti yang pernah saya katakan sebelumnya, hari-hari saya kini agaknya memang dijejali oleh kejenuhan yang tak mampu saya ungkapkan, mengapa bisa muncul dan apa yang harus saya lakukan untuk mengatasinya. Biasanya kalo saat saya masih melajang dahulu, saat kejenuhan itu datang, saya bisa dengan segera meluncur kearah Utara menuju Bedugul dengan melewati barisah sawah nan hijau di daerah Abiansemal ke Taman Ayun, dengan motor Honda Tiger, tanpa teman sekalipun. Kekangenan saya pada alam dan persawahan agaknya mampu menyirnakan rasa jenuh yang datang saat itu. Walaupun rute yang saya lewati itu sudah berkali-kali saya lalui, namun tetap saja berkendara memacu si ’silver Tiger’ mendatangkan kepuasan sendiri…. sesampainya di Danau Beratan, biasanya saya mampir dahulu di obyek wisata Pura yang belakangan saya ketahui bahwa disitu terdapat satu Pura Pande yang seharusnya secara rutin saya kunjungi. Jikapun bukan kearah utara, saya pun memilih kearah Timur, Kintamani. Menuruni jalan di

TiTik JeNuh

Kali ini saya gak akan membahas soal teori kuliah, hanya karena satu judul posting diatas. Jenuh. Yah, barangkali itulah yang saya rasakan dua minggu ini. Jenuh dengan rutinitas harian, jenuh menghadapi rutinitas kerja, termasuk salah satu diantaranya, jenuh nge-BLoG. Entah apa yang menyebabkan semua itu. Setiap kali berhadapan dengan my lapie, sepertinya aktifitas yang bisa saya lakukan paling cuman konek dengan Starone, trus buka YM, FB, email dan BLoG tentunya. Sangat jarang sampe melakukan hal lain, seperti browsing ataupun nyobain berbisnis OL misalnya. Bahkan untuk mengetikkan keyword berbau pornografipun saya sudah gak minat. Hey, ada apa ini ? Sepertinya gak cuman itu. Untuk mendengarkan musik yang nge-beatpun tumben gak ada niat sama sekali. Padahal biasanya jenis musik ini yang mampu kembalikan mood saya yang menghilang. Bolak-balik kesana sini. Entah maunya apa. Padahal sabtu kemaren, saya nyoba minjem beberapa games dalam keping dvd yang sekiranya mampu mengusir keb

KoTa SateLit DaLung PerMai

Ketika saya masih duduk di bangku mahasiswa di FT Arsitektur dahulu, setiap kali mendengar sebutan ’Kota Satelit’ yang didengungkan oleh Pemerintah untuk sebuah konsep Perumahan di kawasan Kerobokan, rasanya telinga ini secara otomatis mentransfer rasa kekaguman kedalam otak yang membuat saya membayangkan sebuah kota nan asri, bersih dan ideal. Perumahan Dalung Permai. Cukup lama pula saya tak mengetahui dimana tepatnya lokasi ini berada. Barangkali terkait dengan intensitas saya yang bisa dikatakan jarang melewati daerah Gatsu Barat hingga mentok. Bagaimana tidak. Satu-satunya lokasi Perumahan yang saya ketahui berada disekitar Kota Denpasar pada masa tersebut adalah Perumnas Monang Maning yang sudah penuh sesak dengan hunian dan jalan tikusnya. Belum lagi isu banjir dan kumuhnya lingkungan disana, membuat sedikitpun saya tak tertarik sekalipun hanya untuk mampir. ’ Kota Satelit ’ adalah kota kecil di tepi sebuah kota besar yang meskipun merupakan komunitas mandiri, sebagian besar

PeRampokan di Jalan Veteran ; Kian Berani saja

Kamis siang, lantaran kecapekan dengan beberapa pekerjaan yang dibebankan sejak senin lalu, saya menyusuri jalan Veteran seperti biasa, memutuskan pulang kerumah melalui jalan pintas lewat gang kecil di jalan Setiaki. Ada yang aneh didepan toko jam, depan posko PDIP. Keramaian terjadi, jauh lebih banyak untuk sebuah kecelakaan bermotor pikirku waktu itu. Yah, biasalah. Adat orang kita biasanya kan mengerumuni korban dan pelaku kecelakaan tanpa berkeinginan untuk menolong mereka. Hanya ingin melihat saja, siapa tahu ada berbuntut perkelahian, ungkap seorang teman saat kutanya. Tanpa berhenti saya terus saja menyusuri jalan Veteran dan berbelok kearah barat sambil sesekali memberikan senyum pada warga yang berada dekat situ. Berharap bisa segera istirahat untuk bersiap kuliah malam. Shock ! Setiba dirumah, Bapak menceritakan kejadian yang terjadi di jalan Veteran sesaat sebelum saya melewatinya. Perampokan yang sempat meletuskan tembakan dari sang pelaku kearah korban. Syukurnya temba

Apa Ukuran sebuah Hidup yang Bahagia ?

Kira-kira apa yang menjadi ukuran dapat membuat anda merasakan bahagia dalam hidup ? Seandainya melajang, apakah pacar yang cantik dan seksi ? punya waktu luang untuk dugem atau interaksi sosial lainnya ? menunggangi motor gres atau mobil yang lagi trend ? Teman-teman yang dekat dan loyal ? Seandainya pula telah berkeluarga, apakah karir yang sukses menjadi satu-satunya tujuan ? mobil mewah barangkali ? uang yang melimpah ? atau malah rumah indah nan megah ? Bagi saya pribadi sih, itu bukan ukuran untuk membuat saya bahagia dalam menjalani hidup. Tapi kalo untuk sekedar menjadi alternatif pendukung, ya tentu saja itu semua ada didalamnya. Trus apa dong yang paling penting bagi saya agar bisa bahagia dan jauh lebih menikmati hidup ? KeLuarga tentu. Dalam hal ini hubungan saya dengan Istri dan anak, serta tentunya yang berikut adalah dengan Orang Tua dan Mertua. Sebegitu simpel dan sederhana ? gak juga sih. Karena untuk menyatukan keluarga dalam suasana cinta kasih sangat sulit diwuj

Pande Baik tentang Kenapa harus pandebaik.com ?

Pertanyaan diatas kerap dilontarkan oleh teman maupun orang yang baru kenal dengan saya. Ini mereka tanyakan lantaran saya kadang disapa ’ PanDe Baik ’ oleh beberapa rekan yang telah tahu alasannya lebih dulu. Ada juga yang menduga saya hanya ikut-ikutan tag iklan AXIS ’GSM yang Baik’. Yah, mereka sepenuhnya salah tuh. PanDe Baik . Nama tersebut mulai disandang sejak masa sekolah SMA, dimana waktu itu lagi rame-ramenya aksi Pandelisme eh Vandalisme , aksi corat coret maupun ukiran nama sendiri (narzis) yang bertujuan pada perusakan properti milik sekolah hingga wartel terdekat, He… saya yakin hingga kinipun yang namanya anak sekolahan pasti masih seperti itu kelakuannya. Saya masih ingat, rata-rata kata yang menjadi ekor pada nama pribadi ada yang si anu TOP , si itu Best of the Best , si ini ’jeg paling ganteng’ …. Maka sayapun gak mau ketinggalan, ikutan memberikan embel-embel pada nama sendiri agar terdengar jauh lebih keren. Jadilah waktu itu saya mencoba-coba memakai nama Pa

Tim Pengendalian Intern ; Tantangan dan Penyimpangan

Tiga bulan terakhir, aku kembali menjadi bagian dari satu tim yang bertugas untuk melakukan pemeriksaan pada kegiatan-kegiatan fisik baik sedang berjalan hingga akhir penyelesaiannya. Istilah kerennya, jadi anggota dari Tim Monitoring atau Pengendalian Intern. Tugasnya dari melakukan monitoring pada sisi administrasi, kelengkapan dokumen, Tetek bengek yang berkaitan dengan pelaksanaan fisik proyek seperti gambar rencana, as built (setelah dilaksanakan), struktur organisasi di lapangan, foto, laporan-laporan maupun buku direksi dan lain sebagainya. Jauh lebih penting daripada itu, tugas dari Tim, tentu menilai dan memantau kemajuan pekerjaan sesuai dengan prosentase yang diajukan, apakah sudah sesuai spesifikasi perencanaan dan pelaksanaan atau tidak. Untuk memantau kemajuan pekerjaanpun tak hanya dari volume pekerjaan atau prosentase dari pekerjaan keseluruhan, tapi juga mutu pekerjaan terutama pada item penting dalam sebuah proyek konstruksi, meliputi kualitas beton, mortar hingga

Mulai dari Awal (lagi) PanDeBaik.com - PanDeividuALity.net

Cukup lama saya terpekur didepan laptop akhir-akhir ini. Entah kemana larinya semangat untuk melahirkan tulisan-tulisan kecil yang biasanya hadir guna meramaikan isi blog yang sudah dua tahun setengah dikelola tanpa ada bau-bau iklan komersial. Yah, usai sakit saya terakhir kemarin itu, mengakibatkan mood saya hilang secara mendadak, baik untuk sekedar ngeblog, jalan-jalan ke blog teman, hingga mengikuti perkembangan Facebook yang baru saya coba beberapa hari terakhirpun tiada mampu mewarnai hari yang saya miliki. Selain dipicu oleh Pingsan yang salah posisi tadi itu, barangkali hal yang paling besar berperan adalah rasa kehilangan pada blog yang saya kelola ini. Bukan apa-apa, hanya kesalahan terletak pada pemilik hosting dimana kepercayaan dan toleransi yang begitu besar saya berikan hingga detik-detik terakhir, akhirnya menghadapkan saya pada satu keputusan untuk ‘pindah kelain hati’. Mengikuti rekan-rekan lainnya…. Kesulitan mengakses dan meng-update menjadi salah dua kekecewaa

Akhirnya, Rumah Baru....

yah, saya blom bisa bilang apa-apa sehubungan dengan tampilnya rumah baru saya di dunia maya, setelah alamat saya kemaren di pandeividuality.net gak bisa diakses dalam waktu yang cukup lama, lantaran ada trouble (lagi dan lagi) pada hosting terdahulu Rakhahost . Lumayan bikin mangkel karena gak ada pemberitahuan, permakluman baik lewat telpon, sms apalagi email. So, here we are. PanDe Baik dengan rumah barunya , sebuah nama yang mudah diingat tentu. Semoga hari-hari baru saya disini bisa mengembalikan spirit saya buat ngelanjutin BLoG dengan segudang cerita yang barangkali bisa sedikit berkesan di hari rekan. Mohon Maaf atas ketidaknyamanan yang hadir dirumah baru saya, berhubung masih banyak yang harus dibenahi dan dikemas lagi. Jadi, nikmati saja dulu, semoga dalam waktu dekat rumah saya bisa menjadi jauh lebih baik lagi. Salam dari Pusat Kota Denpasar

Senangnya bisa Kembali dari kematian

Kalo judul diatas diterjemahkan kedalam bahasa Inggris, bisa jadi mirip dengan album cadas milik grup Thrash ‘Obituary-Back From The Dead’. Tapi posting ini bukanlah bercerita tentang album yang menjadi favorit saya sepanjang masa itu dari genre Thrash, tapi satu pengalaman saya yang dapat dipercaya atau tidak, sempat saya alami 13 November 2008 kemarin. Berawal dari suhu tubuh 37,5 derajat Celcius, membuat badan saya agak meriang dan lemas 12 November, malam sebelumnya sepulang dari Melukad (pembersihan diri) di Griya Pohmanis (tempat saya berobat dahulu). Merembet pada mencret yang saya alami tengah malam berlangsung 4 kali hingga pagi tiba. Nafsu makanpun turun… Pulang dari dokter umum dekat rumah, saya hanya mampu menelan bubur 5 suap sendok makan, plus sedikit telur mata sapi. Ini lantaran mencret saya kumat lagi. Waktu hingga siangpun saya lewati dengan tidur beristirahat tanpa sedikitpun tersadar untuk minum air (karena menurut dokter, saya harus banyak minum). Ohya, tekanan

Nokia "PonseL SeJuta Umat"

Ponsel sepertinya sudah merupakan suatu hal biasa bagi masyarakat Indonesia, cenderung wajib dimiliki malah. Ponsel tampaknya juga merupakan gadget yang paling pesat perkembangannya hanya dalam hitungan satu dasawarsa. Dalam kurun waktu itu pula, ponsel kian digemari oleh berbagai kalangan, tua muda abg sekalipun, yang memang berprofesi sebagai pebisnis, pegawai kantoran, hingga ibu rumah tangga, dijamin pasti menenteng atau terlihat menggenggam alat komunikasi yang belakangan makin multiguna. Salah satu vendor ponsel paling terkemuka di Indonesia, bahkan dunia barangkali, adalah Nokia . Menyandang motto ‘Teknologi yang Mengerti Anda’ membuat perkembangan ponsel yang pernah dirilis oleh Nokia semakin menyentuh penggunanya baik yang loyal hingga new user sekalipun. Tak cuma memperhitungkan fungsi dan kegunaan ponsel, dalam meringankan pekerjaan penggunanya, Nokia bahkan sudah mulai merambah segi fashion hingga hiburan yang memang makin memanjakan penggunanya. Maka tak heran pula jika

Nokia 'Teknologi yang tiada habisnya'

Nokia lagi. Sepertinya saya tak pernah bosan menulis tentan ponsel Nokia. Tapi bagaimana bisa bosan, jika Nokia sendiri tampaknya belum bosan berinovasi dalam menelurkan ponsel-ponsel gres mereka, tentu dengan segudang fitur dan kelebihan baru. Belum lama ini Nokia kembali merilis ponsel-ponsel N-series terbaru mereka, seperti N78, N79 maupun N96. Boleh dikatakan, hujaman ponsel seri terbaru ini bagaikan raksasa-raksasa baru yang siap melibas keberadaan vendor lainnya, apalagi vendor lokal maupun China. Walaupun kisaran harga yang ditawarkan masih diatas angka 4 jutaan, tampaknya para pecinta Nokia nan loyal tak begitu peduli. Karena terpenting bagi mereka tampaknya selain UI yang user friendly, penggunaan yang juga mudah, koneksi juga fitur melimpah, tak kalah gengsi pula jika ditenteng. Fitur paling unik untuk sementara ini disematkan pada Nokia seri N79, yaitu Themes yang dapat berganti sendirinya mengikuti warna chasing belakang yang dipakai oleh pengguna. Tak ketinggalan, kapasi

PanDeLisme

Kosa Kata baru diatas barangkali akan menjadi pertanyaan semua orang, apa lagi maksudnya nih ? Sebetulnya ini cuman bisa-bisanya saya aja memplesetkan kata ‘ VandaLisme’ yang kalo menurut Wikipedia , bisa diartikan sebagai penambahan, penghapusan, atau pengubahan isi yang secara sengaja dilakukan untuk mengurangi kualitas. Jenis vandalisme yang paling umum adalah mengganti tulisan yang ada dengan hal-hal yang menyebalkan, mengosongkan halaman, atau menyisipkan lelucon yang konyol dan hal-hal yang tak berguna lainnya. Aktivitas VandaLisme ini sebetulnya banyak bisa ditemui diseantero kota dimanapun itu. Termasuk Kota Denpasar. Pelakunya sejauh ini sih gak terdeteksi, karena dilakukan pada saat orang lain lengah atau malam hari. Namun diantara semua pelaku yang ada, barangkali bisa dikatakan hanya satu aja yang saya tau, dilakukan secara terang-terangan pula. Saya sendiri. Huahahaha…. Berikut dua jenis aktivitas VandaLisme yang sering saya lakukan dalam keseharian. Menambahkan graf

Menanti Laskar PeLangi

Seperti biasa, saya gak terpengaruh sedikitpun memburu kursi paling apik untuk mantengin film paling asik tahun ini, ‘ Laskar Pelangi’ di bioskop manapun juga. Termasuk memburu tembang apiknya Nidji yang menjadi original song dari film tersebut. Ini terkait dengan prinsip saya dalam menikmati sebuah karya film, rasanya tak nyaman jika nonton beramai-ramai, juga tak nyaman hanya menonton sekali itu, lantas penasaran sepanjang hari. Makanya jauh lebih baik saya menantikan ‘Laskar Pelangi’ release on VCD or DVD. Baru diburu ke penyewaan dan ditonton sepuasnya. Aksi ini pula berlaku untuk film box office lainnya. Makanya, sembari menanti ‘Laskar Pelangi’ hadir di penyewaan vcd, huehehehe….. Saya bersiap-siap dahulu melakukan pemanasan dengan hunting film tema sejenis. Karena secara kebetulan juga, tempo hari di televisi gak sengaja nonton ‘Petualangan Sherina’ . He…. jadi ingat dengan Sherina yang waktu kecil begitu lucu dan menggemaskan. Akhirnya saya putuskan untuk meminjam ‘ Denias

Eksekusi Amrozy cs ? Ah, saya sudah bosan mendengarnya

Ya, rasa bosan itu timbul saat menyaksikan layar televisi yang dipenuhi tayangan pasca eksekusi trio Bomber Bali Oktober 2002, Amrozy, Imam Samudra dan Mukhlas, Minggu dini hari lalu, dari kilas balik Bom Bali hingga pemakaman jenasah mereka bertiga. Jika banyolan yang diceritakan dalam Wayang Cengblonk bahwa setiap cerita memerlukan waktu satu bulan tujuh hari ( a bulan pitung dina ) untuk dilupakan orang, nampaknya saya secara pribadi hanya membutuhkan waktu 3 hari saja. Sama halnya dengan pemberitaan Syeh Puji dengan kata-katanya yang mengundang kontroversi bahkan cenderung menantang hukum, demikian pula dengan kasus mutilasi oleh Ryan , tak membutuhkan waktu lama seakan tenggelam begitu berita eksekusi ini diluncurkan. Mengapa saya sudah begitu bosan dan enegh, karena masih saja mendengar cerita media televisi dengan segudang bahan ‘behind the scene’, versi ‘Extented’ maupun ‘Uncensored’, ditambah-tambahkan, diulang-ulang malah membuat para pembawa berita tak ubahnya presente