Setinggi-tingginya tupai melompat, akhirnya jatuh jua. Pepatah yang pas ditujukan bagi diri sendiri saat ini, mengingat setelah setahunan menjalani aksi jalan kaki, pada akhirnya ya sempat bolong jua. Semingguan. Duh. Penyebabnya sederhana. Sakit Gigi. Jadi ceritanya sabtu lalu, nyeri gigi muncul dadakan saat kami sedang berada dalam perjalanan menjemput si sulung ke rumah teman sekolahnya. Saking tak tertahankan, segala upaya dilakukan demi meredam rasa sakit di sepanjang jalan, dari meminum air mineral dingin hingga memanfaatkan Puyer Bintang Toedjoe. Yang rupanya tidak seampuh biasanya. Maka buyarlah sudah agenda sore itu, beralih ke dokter gigi langganan dan meminta pada istri untuk menggantikan posisi saya sebagai sopir, mengantar keluarga pulang. Hasilnya, ada bagian tambalan yang pecah dan kerusakannya sudah cukup parah. Saya diminta kembali 3 hari berikutnya sambil dibekali obat pereda nyeri. Selasa sore selanjutnya, saat pemeriksaan kembali dilakukan, nyeri gigi sudah berangsu...