Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Cerpen

Sebuah Cerita dari Masa Lalu

Hobi menulis yang hingga hari masih kerap saya lakoni tampaknya tidak bisa dilepaskan dari hobi membaca di masa lalu, tepatnya saat belasan media cetak segmen anak-anak dan remaja masih mudah bisa ditemukan pada lapak-lapak koran seputaran Kota Denpasar. Dari majalah Bobo, Ananda, Kawanku, Gadis, Mode hingga Anita Cemerlang yang menaikkan belasan cerpen dalam tiap edisinya, dan tidak lupa, majalah Hai. Untuk media yang terakhir saya sebutkan ini, merupakan tularan dari kawan sekolahan masa SMA, om Agus dimana saat itu yang bersangkutan secara rutin berlangganan tiap minggunya, dan saya sering meminjam 4-5 edisi sekali waktu untuk dibaca seminggu penuh. Hal yang saya sukai dalam satu edisi majalah Hai adalah, terdapat beragam artikel dengan berbagai tema, ditulis oleh para wartawan muda dengan bahasa lugas dan mudah dipahami, juga menghadirkan beberapa karya cerpen novelis ternama macam om Hilman, Gol A Gong atau Bubin LantanG. Sebagian besar cerita yang dilahirkan dan besar melalui maj...

Cerita Pendek : Akhir Kisah

Sesaat setelah sang ayah menghembuskan nafas terakhirnya, secarik kertas tampak menyembul dari tangan kanannya yang penuh luka. Beberapa goresan kalimat berwarna biru, tampak jelas berbaris rapi. Sebuah wasiat yang kelak akan mengundang amarah sang putra semata wayangnya. “Aku adalah anak Ayah ! Tapi kenapa Dia yang mewarisi semua perusahaan dan aset yang Ayahku miliki ?” Agam murka dan mempertanyakan isi surat yang dituliskan sang ayah saat tulisan tersebut dibaca di hadapan semua saudara. Sementara sang Ibu hanya bisa diam membisu karena tak mampu lagi berbicara pasca kelumpuhannya tiga tahun lalu. Semua mematung dan memandang pada seorang sosok pria pendiam. Ia adalah orang yang sejak dulu mendampingi Ayah Agam kemanapun pergi dan bertugas. Melayani dan membantunya dalam upaya pemecahan masalah atas pekerjaan dan tanggung jawab yang ditinggalkan Agam. Ia masih tak percaya, jika namanya disebutkan dalam surat wasiat sebagai pewaris semua harta dan tahta yang ada. Ia paham ...

Cerita Pendek : Ia dan mimpinya

Ia mengambil parang dan menancapkannya pada pohon tua di pinggir jalan, sembari menghardik beberapa pekerja. Wajah sang mandor yang tampak ketakutan tak membuatnya merasa kasihan. Progress pekerjaan tak jua mencapai target yang diinginkan, adalah alasan kuat baginya untuk mengganti satu dua nama, dengan calon tukang lainnya yang bersedia dibayar murah. Lalu lalang kendaraan yang secara perlahan melambat, mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi. Menciptakan kemacetan baru tanpa ada kepedulian aparat yang sedang berjaga di lokasi. Menambah pikuk jalanan, penuh dengan debu dan kerikil yang berserakan dimana-mana. Melengkapi makian belasan orang tanpa mampu berbuat apa-apa. Dalam kebingungannya, ia cobakan untuk mencari solusi. Sebuah pemecahan yang memberikan jalan keluar terbaik bagi semua orang. Meski harus mengorbankan kenyamanan dan waktu luang yang seharusnya bisa ia nikmati bersama keluarga. Sebuah resiko jabatan bagi mereka yang duduk diatas kursi panas kegiatan dengan nilai k...

Cerita Pendek : Hari Tua Tanpa Daya

Ia berjalan gontai menyusuri trotoar pada siang hari yang teramat terik. Langkahnya diseret perlahan sembari menahan sakit akibat kram pada pergelangan kaki sejak pagi. Tangannya menenteng sebuah plastik kecil berisikan lauk kesukaan sang anak semata wayang. Sedikit demi sedikit mendekati pintu pagar rumah yang kondisinya sudah seindah dulu. Ia menaruh lauk itu di keramik dapur dekat meja makan. Mengambil dua mangkuk kecil dan membaginya rata. Satu ia sisakan untuk dinikmati si anak nanti sore, satunya ia bagi berdua bersama istri. Satu nikmat tiada tara saat ia mencoba menyuapi sang istri yang hingga kini tak mampu bangkit dari tempat tidurnya, sejak terjatuh dan lumpuh dua tahun lalu. Ia pun mencoba menikmati apa yang ada dengan sisa tenaganya. Pintu depan rumah berdebam keras. Tanda si anak telah pulang dari tempat ia bekerja. Tak ada sapa, tak ada berita. Langkah kaki yang masuk, perlahan menghilang tanpa menghampiri dua sosok yang sejak tadi telah menanti. Ia hanya bisa terdiam da...

Cerita Pendek : Sesal Kemudian Tiada Guna

Agam hanya bisa terdiam di kegelapan malam. Surat cerai sudah sah diterima dari pengadilan. Buah dari kebohongan yang telah ia lalui sejak masa berpacaran hingga kini yang telah beranak empat. Semua pemberian yang biasanya Agam persembahkan untuk sang kekasih, rupanya berasal dari hasil keringat kedua orang tua yang disisihkan setiap bulannya demi masa depan putra semata wayang mereka. Sementara Agam sendiri tak berhasil mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan yang mampu menutupi pengeluaran bulanan termasuk susu mahal anak-anak dan gaya hidup yang tak lagi memandang status. Sudah jatuh tertimpa tangga pula kata para tetangga. Saat mengetahui hutang Agam kanan kiri hingga kini belum jua terbayarkan. Padahal orang yang dipinjami sudah berkali-kali datang kerumah menagih janji. Tak mampu hidup serba kekurangan sementara jiwa sosialita menuntut lebih dari apa yang ada, istrinya pun kemudian menuntut cerai Agam. Alasan bahwa sang suami tak mampu bekerja dan berpenghasilan cukup pun menjad...

Cerita Pendek : Bertepuk sebelah tangan

Ia menghela nafas sejenak, memandangi langit sebelum melanjutkan pembicaraan tentang putra semata wayangnya. Ia menyesali keputusan yang telah diambil oleh sang putra. Mengutamakan hubungan percintaan ketimbang melanjutkan perkuliahan. Padahal ia berharap putranya bisa dengan segera menyelesaikan sekolah dengan gelar sarjana, karena ia sudah menyiapkan rencana masa depan sang putra kelak. Namun semua rasanya telah bertepuk sebelah tangan. Ia hanya bisa terdiam dan menepuk pundakku dan mengatakan “Kamu beruntung, bisa lolos dari lubang jarum dan masuk dalam lingkaran. Tinggal meningkatkan disiplin dan ilmu. Aku hanya bisa membekalimu itu.” Ia berdiri dengan susah payah, meski sudah dibantu dengan dua tangan. “Nasibku tak seindah keinginanku. Putraku tak akan bisa meneruskan harapanku kelak.” Keluhnya sambil berlalu.

Cerita Pendek : Demi Pacar

Agam tampak sumringah saat senyum sang pacar mengembang manis setelah tangan seorang kasir memberikan struk yang sudah dibayar lunas. Beberapa lembar busana bermerek tampak rapi dikemas dalam tas belanja sebuah mall mewah yang terletak di pusat kota. Sekali lagi Agam membuktikan janji pada gadis yang ia sukai dengan cara memanjakannya, memenuhi permintaan apapun itu bentuknya. Orang yang lalu lalang tak lagi dipedulikannya saat mereka beranjak pulang dalam kendaraan roda empat milik perusahaan sang ayah. “Kenapa kamu habiskan semua tabunganmu Gam ?” tanya pria setengah abad itu dengan menahan amarah dalam dada. Sementara putra semata wayangnya memilih diam dan memandangi ubin rumah tanpa kata. Suasana bertambah kaku saat Ibunya menemukan semua struk belanja, yang ditenggarai meludeskan isi tabungan Agam, bekal masa depannya kelak. “Sudah bekerja kau Gam ?” tanya sang Ibu demi memastikan bahwa uang yang digunakan adalah hasil keringat anak tunggalnya, bukan gaji k...

Cerita Pendek : Pupus Asa seorang Ayah

Ia sebenarnya sangat ingin melihat anak semata wayangnya mau melanjutkan studi pasca kelulusan SMA ke jenjang lebih tinggi di seberang pulau. Ke bangku kuliah dimana ia pernah menyelesaikan studi terdahulu, meski dalam bidang minat yang berbeda. Minimal dengan adanya banyak kawan yang masih dimiliki, selama Agam menjalani masa studi jauh dari rumah, sudah ada yang menjaga dan mengawasi bersama semuanya. Namun kenyataan tak seindah harapan. Ia begitu kaget saat mengetahui keberadaan sang anak yang secara diam-diam memilih pulang ke tanah ibu tanpa berkabar sepatah kata. Itu pun upaya bersembunyi Agam dari sang ayah tampaknya gagal, pasca seorang kerabat bercerita soal pertemuannya dengan Agam ditempat makan siang tadi. Ia pun murka. Benar-benar tak ia sangka, bahwa Agam memilih pulang hanya karena merasa kangen pada pacarnya yang kebetulan merupakan sepupu dari tanah ibu. Meninggalkan studi yang tak kunjung pasti diminati. Ia hanya bisa menahan amarah saat melihat sang anak tertunduk da...