Skip to main content

Posts

Showing posts with the label buku

Wisata ke Toko Buku

Salah satu tempat wisata terbaik bagi remaja dan juga orang dewasa, sepertinya toko buku 😅 tapi gak akan berlaku bagi mereka yang gak suka baca.  Saya pribadi masih suka melakukan aktifitas satu ini. Meski gak melulu membaca laman cetakan dari kertas, tapi tetap suka membaca dari media apa saja. Termasuk ponsel.  Sementara itu anak-anak kami ada yang menurun plek dengan hobi saya itu, meski ada yang juga yang nurunnya dari sisi kreatifitas yang lain. Ngegambar misalkan. Lebih memilih berburu cat warna ketimbang buku. Dan semua terakomodir di satu tempat ini. Kota Denpasar sendiri tampaknya gak banyak menghadirkan toko buku yang masih bertahan hingga kini. Bahkan sekelas Toga Mas yang dulu pernah jadi surganya penggemar buku akhirnya mengalah dan tutup gerai. Yang ada kalau gak salah cuma Gramedia ini saja.  Meski saya suka membaca, seingat saya rasanya memang jarang membeli buku untuk diri sendiri di Gramedia. Paling sering itu di lapak pedagang majalah saat mereka masih...

Gerai Buku Bekas, Coba Bertahan dalam Badai Online

Sebenarnya saya tak sengaja melewati ruas jalan Kedondong, mengingat tujuan utama sore tadi adalah membeli lauk sate ayam untuk konsumsi keluarga malam ini, yang lokasi jualannya berada di seberang Puri Satria. Sempat kaget dan heran saat melihat gerai majalah yang dulu sering saya sambangi sepulang kerja ternyata masih eksis sampai hari ini. Saya memanggilnya Atu, penjual majalah dan koran yang ada di sisi kanan ruas jalan Kedondong jika kita masuk dari arah timur atau banjar Kaliungu Kaja. Ia adalah pemilik sekaligus penjaga toko kecil yang posisinya ngemper di pinggir jalan. Perawakannya masih sama seperti dulu, kurus tinggi dan kali ini tentu saja menggunakan masker. Ia pun tampak kaget saat mengenali saya yang tak disangka hadir dalam satu sore dan masih berpakaian kerja. Setelah menyapa dan berbincang singkat, saya pun mulai melihat-lihat ke sekeliling. Untuk seorang penggemar bacaan dari masa kecil, persediaan yang ada dalam toko ini saya lihat lumayan banyak bertambah variannya...

Membaca Buku (lagi)

Sudah lama saya tak melakoni aktifitas sederhana jaman old di jaman now ini. Bisa jadi karena kesibukan, atau bisa juga karena sudah tak jamannya lagi. Berganti era paperless dimana Buku bacaan sudah beralih ke layar ponsel, dengan segala kemudahan yang ada, menjadikannya tak lagi familiar bagi sebagian generasi milenial di sekitar kami. Ada Tiga Buku yang saya beli seminggu terakhir melalui lapak jual beli online Tokopedia. Tiga Buku yang berbeda Tema. Fakta, Fiksi dan sharing Pengalaman. Untuk Fakta, ada buku eh majalah edisi khusus terbitan Tempo tahun 2016 silam. Mengulas tentang Soe Hok Gie dan surat-suratnya yang belum pernah dipublikasi ke media. Liputan dan gambaran sosoknya begitu menginspirasi saya untuk terus menulis. Untuk Fiksi, ada buku novel karya Gola Gong. Terbitan tahun 2004 kalo ndak salah lihat. Penulis cerbung – cerita bersambung- yang pernah beken lewat halaman majalah Hai edisi jaman old ini, saya sukai dengan seri Tom yang diterbitkan dalam beberapa buku lainnya...

Melahap Ratusan Koleksi Scoop

Kaget… sekaget-kagetnya… Rupanya masih ada akses menuju puluhan koleksi buku lama hingga kekinian, dengan biaya yang cukup terjangkau saya kira. Disandingkan dengan S-Lime, aplikasi serupa besutan Samsung yang ditawarkan secara Gratis bagi pembeli Galaxy series, Scoop bisa dikatakan jauh lebih banyak koleksinya. Bisa jadi karena kehadiran Scoop memang sudah jauh lebih dulu ketimbang S-Lime. Jadi bagi yang pengen baca edisi lama dengan topik bahasan yang jauh lebih beragam, saya kira Scoop yang lebih baik. Dari buku yang membahas soal Windows 7 dan 8, atau pengetahuan dasar soal iPhone dan kemunculan perdananya, hingga ke soal kamera mirrorless yang kini sedang digandrungi, semua masih ada tersimpan rapi. Jadi kalo cuma inginnya sebatas bernostalgia dengan masa-masa itu, tinggal unduh saja yang diinginkan. Tapi ya memang, musti berlangganan untuk bisa mendapatkannya. Scoop Premium. Menjual dagangan “All You Can Read” sukses menghabiskan semua sumber daya yang s...

Berkenalan dengan Scoop demi Menumbuhkan Minat Baca di Layar Ponsel

Stupid Idea… Berlangganan Scoop Premium ini memang nyebelin. Selain bikin habis waktu buat baca puluhan koleksinya, juga bikin habis internal memory buat unduh buku/majalah berKualitas… Sudah begitu, bikin habis batere ponsel dan bikin habis kuota internet. Asyeeem tenan… Geregetan… Bayangin, hanya dengan 89ribu sebulan, Scoop menawarkan opsi baca “All You Can Read”. Ini mirip mentraktir habis orang gendut yang suka makan meski kekenyangan ya tetep nambah. Edan memang aplikasi satu ini. Tapi ya ini baru satu kategori yang saya coba, belum jua kelar sedari awal aksi. Bagaimana kalo penasaran nyoba kategori lainnya ? Scoop, awas jangan kepleset dengan merek motor ya, merupakan sebuah aplikasi yang dikembangkan untuk pasar perangkat pintar, bisa diunduh secara gratis dan menyediakan ribuan koleksi buku utamanya terbitan Gramedia, dengan cara pembelian per item atau berlangganan bulanan. Tadinya sih hanya karena penasaran pengen baca tabloid ponsel macam Sinyal yang infonya kini terbit kem...

Mencoba Mengembalikan Semangat Membaca Buku

Saya jadi teringat pada sebuah video sindiran betapa suksesnya kemajuan teknologi era digital masa kini menggantikan keberadaan kertas dan segala fungsinya dalam kehidupan kita sebagai manusia. Saat sang istri kesulitan membaca halaman demi halaman buku yang dipegangnya, sang suami tampak sedemikian mudahnya membolak balikkan halaman buku digital yang ia baca melalui layar gawai tablet yang dimiliki sambil mencibir sang istri. Pun demikian saat menemukan sejumlah catatan tempel pada pintu kulkas yang dibuat sang istri, si suami sambil pula mencibir, menunjukkan tampilan Notes pada layar gawai untuk mengatakan efisiensi yang bisa diciptakan. Adegan terakhir, ketika sang suami membuang hajat dan menemukan kenyataan bahwa yang bersangkutan kehabisan tisu toilet, iapun berteriak meminta pada sang istri, yang menyodorkan gambar tisu toilet pada layar gawai yang biasa digunakan sang suami. He… Lucu. dan Mengena. Buku, majalah, koran dan media cetak lainnya belakangan memang mulai jarang kita...

Mencermati Imbas Negatif Kemajuan Teknologi

Di awal kesuksesan era internet dan dunia maya, ada sejumlah kekhawatiran dari para penerbit buku, majalah, koran dan media cetak lainnya akan kebangkrutan produksi akibat menjamurnya upaya digitalisasi demi memudahkan masyarakat yang merupakan pangsa pasar utama mereka, menikmati sajian dalam layar ponsel, tablet dan gawai lainnya yang belakangan secara harga sudah mulai terjangkau oleh kantong. Hal ini dibuktikan oleh tumbangnya satu persatu media cetak termasuk penerbit, akibat ketidakmampuan memenuhi biaya operasional yang tidak lagi berbanding lurus dengan pembelian. Tidak hanya di lokal negara kita tapi juga global. Akibatnya bisa ditebak. Kini sudah semakin jarang kita melihat orang-orang disekitar yang membaca buku atau media cetak sejenis saat senggang ataupun menunggu di tempat-tempat publik, bahkan bisa jadi termasuk kita sendiri. Informasi kini sudah dengan mudah didapat dari dunia maya. Buku atau majalah bahkan koran digital, liputan terkini oleh portal berita online, atau...

Belanja Buku, manfaatkan Waktu Luang untuk Membaca

Membaca eBook atau majalah digital di waktu luang sebetulnya sih dah biasa dilakukan sejak awal kenal gadget berbasis Android ini. Terhitung dari PlayBoy hingga PentHouse, komik jadul macam Smurf, Deni Manusia Ikan hingga Tintin, atau peraturan dan dokumen berbasis pdf, masih tersimpan rapi di dalam ponsel Galaxy Note 3 hingga kini. Jadi bukan sesuatu yang baru sebenarnya. Teringat pada tweet kolega dekat, akun @blogdokter yang menyampaikan perbedaan pemanfaatan waktu menunggu antara bule dengan domestik lokal, dimana Bule masih betah membaca buku sementara kita asyil dengan gadget, saya sempat me-Reply bahwa bisa saja saat berhadapan dengan layar gadget, kita juga membaca buku dalam format digital. He… siapa yang tahu ? Namun secara nggak sengaja, terdampar lah ceritanya di halaman Google Books yang rupanya kini lagi menawarkan buku atau majalah digital murah dengan harga kisaran 10ribuan, yang membuat saya tertarik untul mencoba membeli salah satunya setelah selama ini hanya men...

Berburu Buku (bekas) di TokoPedia

Disandingkan dengan perangkat gadget baik ponsel maupun tablet, bisa dikatakan keberadaan buku bacaan sudah mulai tergerus kebutuhannya saat ini. Bisa jadi lantaran jauh lebih praktis secara bawaan, bisa juga jauh lebih ekonomis secara biaya. Semua ada masanya. Namun bagi saya pribadi, buku tetaplah perlu. Mengingat Buku bisa dibaca dan dinikmati tanpa harus khawatir kehabisan daya baterai sebagaimana halnya gadget. Bisa dinikmati dimana saja termasuk dalam ruang yang melarang hadirnya lensa kamera seperti wilayah Tanpa Tuhan kemarin. *eh maaf Maka pada saat-saat tertentu, buku, dengan topik atau cerita tertentu, satu dua masih suka diselipkan diantara tumpukan baju dalam tas jinjing saat melawat keluar daerah, atau didalam saku tas selempang. Tujuannya tentu saja menjadi alternatif, saat daya tahan baterai ponsel masih jauh lebih dibutuhkan untuk media komunikasi ketimbang bacaan eBook. TokoPedia, akhirnya menjadi gerai pertama versi online yang disambangi hari selasa malam lalu. Gara...

Cafe Blue

Malam ini saya kedatangan Tamu yang sudah dinanti-nanti. Tamu yang diharapkan kehadirannya dalam dua tahun terakhir. Tamu yang baru bisa ditemukan di gerai jualan online TokoPedia. Eh ? Cafe Blue Ini adalah sebuah buku, lebih tepatnya karya novel dari seorang penulis ternama, Hilman. Ya. Hilman. Cafe Blue hadir kalo gak salah di era dollar masih berharga dua ribuan, dimana bercerita tentang seorang gadis sampul bernama Sasa yang membuka tempat nongkrong bagi para remaja sekitarnya dan menawarkan jajanan es krim dengan harga lima ratus rupiah saja. Jaman itu loh ya… Alur kisahnya sederhana. Hanya lima chapter pendek. Gak ada konflik menjelimet dan bikin pusing, semua berjalan dengan pemahaman yang mudah dicerna, utamanya bagi kalian berusia remaja. Saya pribadi hanya membutuhkan waktu setengah jam, tak sampai malah, untuk bisa menghabiskan seisi novel dengan baik. Mungkin karena sudah terbiasa membaca cerita yang lebih berat. Novel satu ini saya dapatkan dari gerai online di aplikasi To...

Berburu Novel klasik milik om Hilman

Sebenarnya sih hasrat untuk mencari kembali jejak beberapa novel klasik karangan om Hilman Hariwijaya sudah ada sejak lama. Hanya tadi itu rencana awalnya sih nyariin majalah atau tabloid ponsel di Gramedia Gatot Subroto eh kok nyasarnya malah di areal novel. Surprise Ya, agak kaget juga pas nemu section satu deret buku dengan judul Lupus Klasik, yang tebelnya lumayan se novel Harry Potter edisi pertengahan. Ternyata dalam satu buku karangan om Hilman itu terkumpul sekitar tiga judul yang diatur secara acak. Jadi semacam novel the Best of-nya om Hilman. Kalo gag salah ingat sih tadi itu yang saya temukan ada kisah Cinta Olimpiade, Tragedi Sinemata, Tangkaplah Daku, Makhluk Manis dalam Bis hingga Topi-topi Centil. Ada juga dua tiga jilid buku lainnya lewat kisah Lupus Kecil Klasik yang merupakan kerjasama om Hilman dengan om Boim. Sayangnya novel yang saya cari itu gag ada dalam list buku di lokasi, bahkan hingga OLX, Lazada dan Berniaga pun saya lakoni ya tetep nihil. Di om Google yang...

Hunting Manga lanjutin Ngomik

Oke, judul diatas mungkin agak aneh… Tapi yah, ini kan blog pribadi, boleh dong kalo sekali-kali bikin judul posting yang suka-suka ? Hehehe… Tadinya saya pikir pengalaman berburu eBook barisan komik yang masuk kategori Manga (bukan mangga) bakalan mentok sampe situ. Kangen baca edisinya Adachi Mitsuru yang bercerita di perenang Rough, atau hantu jail Q and A, juga seri baseball H2, Touch juga Cross Game… Beh, kalo sudah ngomongin ini, rasanya cuma bisa senyum-senyum aja deh di pojokan… Oh,iya, gag lupa ada si hiu Jinbe dan Adventure Boys. Sedang komik manga edisi lain yang pengen dihunting ya lumayan banyak juga… Tipe Shoot,,Harlem Beat, Chinmi hingga the Pitcher masih masuk hitungan buat diburu. *ini usia boleh tua, tapi kegemaran masih anak-anak… Yah, ngimbangi hobi baca PlayBoy dan PentHouse kan masih boleh yah ? Hehehe… Meski begitu, dulu pernah juga nemu komiknya Dragon Ball dan Kungfu Kenji edisi lengkap, bahasa indonesia pula… Plus komiknya Tiger Wong dan Tapak Sakti. Wiiihh… K...

Dua Tangis dan Ribuan Tawa Dahlan Iskan

Dengan basic pengalaman dibidang Jurnalistik, kemampuan menulis Pak Dahlan Iskan mantan CEO Jawa Pos yang kini menjabat sebagai Menteri Negara BUMN sebenarnya sudah tidak perlu diragukan. Apalagi secara berkala Beliau rajin menurunkan beberapa pengalaman dan ide dalam pikirannya dalam sebuah tajuk yang diturunkan oleh Jawa Pos halaman pertama. Hingga jika boleh saya memuji, membaca tulisan seorang Dahlan Iskan sama asyiknya ketika membaca Novel Andrea Hirata yang memang menghanyutkan itu. Sayangnya, buah pikir pak Dahlan Iskan yang dirangkum dalam sebuah Buku ‘Dua Tangis dan Ribuan Tawa’ , akan terasa sangat Mubazir untuk dinikmati dalam sekali jalan. Tipe buku seperti ini paling enak jika dinikmati saat senggang, dengan membuka dan merilekskan pikiran sehingga makna atau maksud yang disampaikan dalam setiap tulisan Beliau dapat dicerna dan diingat dalam kurun waktu yang lama. Sekedar informasi bahwa Buku ini merupakan kumpulan tulisan saat Beliau ditugaskan menjadi Direktur Utama ...

Tentang Buku Pracasti Pande

Ide untuk menyalin kembali Buku Pracasti Pande yang disusun semeton bli bagus Gede Saptha Yasa sebetulnya datang saat melihat halaman web WargaPanDe.org yang mulai lama terbengkalai akibat minimnya informasi yang dapat disampaikan. Rencana awalnya, isi keseluruhan buku akan di-scan dan disalin ulang kemudian dipublikasi satu persatu  agar secara content isi web tersebut dapat secara berkala ter-Update. Buku Pracasti Pande yang kemudian saya dapatkan dari tangan Jero Mangku Wija dari Peraupan ini rupanya merupakan babad atau cerita yang mengisahkan semeton Pande Bratan meski dalam beberapa bagian sempat pula mengisahkan cerita turunnya Bhisama Pande di Pura Indrakila. Sayangnya sebenarnya ada sebelas bagian yang mampu saya pecah dan publikasikan satu persatu namun mengingat bagian terakhir isinya cukup panjang, maka dengan terpaksa saya pending terlebih dahulu untuk memberi kesempatan tulisan lain hadir lantaran secara waktu dan kepentingannya sudah cukup mendesak. Namun seperti...

ayooo membaca

Suatu kali Istri saya pernah bertanya perihal rutinitas membeli majalah bekas ataupun tabloid ponsel tiap bulannya. ‘Apakah isi dari semua majalah ataupun tabloid itu sudah habis dibaca dan diingat ?’ He… pertanyaan yang dilontarkan oleh Istri saya ini, bukan lagi hal baru yang saya dengar dari orang terdekat. Malah pertanyaan yang sama, beberapa kali dalam hidup saya dipertanyakan demi melihat kegemaran saya membeli majalah tabloid baru atau bekas lantas mengoleksi artikel-artikel didalamnya. Ya, beberapa tahun belakangan ini saya malahan jadi rajin mengoleksi isi dari artikel-artikel yang saya anggap menarik untuk dibaca berulang kali, apabila saya perlukan. Membaca. Ya, hobi ini agaknya yang paling menarik bagi saya pribadi. Bisa saya lakukan kapan saja, dimana saja, dengan media apapun. Jika dirumah, intensitas membaca saya lakukan paling banyak saat duduk santai atau berbaring dilantai. He… kebiasaan yang sangat buruk, kata orang. Malam sebelum tidur atau malah pagi saat ‘bertapa’...