Skip to main content

Mencoba Mengembalikan Semangat Membaca Buku

Saya jadi teringat pada sebuah video sindiran betapa suksesnya kemajuan teknologi era digital masa kini menggantikan keberadaan kertas dan segala fungsinya dalam kehidupan kita sebagai manusia.

Saat sang istri kesulitan membaca halaman demi halaman buku yang dipegangnya, sang suami tampak sedemikian mudahnya membolak balikkan halaman buku digital yang ia baca melalui layar gawai tablet yang dimiliki sambil mencibir sang istri.
Pun demikian saat menemukan sejumlah catatan tempel pada pintu kulkas yang dibuat sang istri, si suami sambil pula mencibir, menunjukkan tampilan Notes pada layar gawai untuk mengatakan efisiensi yang bisa diciptakan.
Adegan terakhir, ketika sang suami membuang hajat dan menemukan kenyataan bahwa yang bersangkutan kehabisan tisu toilet, iapun berteriak meminta pada sang istri, yang menyodorkan gambar tisu toilet pada layar gawai yang biasa digunakan sang suami.
He… Lucu. dan Mengena.

Buku, majalah, koran dan media cetak lainnya belakangan memang mulai jarang kita jumpai penampakannya. Apalagi untuk nama-nama besar yang dahulu kerap menghiasi keseharian aktifitas kita. Semua telah berganti menjadi format e-paper. Dimana tujuannya adalah mengurangi penggunaan kertas atau kayu sebagai bahan baku dasar pembuatan media cetak tadi.
Meski demikian dari video yang saya ceritakan diatas, memang tidak semua bisa menggantikan fungsi yang ada kini.

Pada tulisan sebelumnya, saya sempat sampaikan perihal imbas negatif kemajuan teknologi dunia maya dan internetnya akan menurunnya minat baca pada buku atau bentuk media cetak lainnya plus menurun pula aksi sosialisasi hubungan antar manusia dalam arti sebenarnya, tergantikan oleh sosial media yang fenomenal itu.

Upaya untuk mengembalikan kebiasaan membaca buku atau majalah, tabloid, koran dalam bentuk cetak di waktu senggang atau menunggu, merupakan satu semangat yang saya lakukan belakangan ini demi mengembalikan pula pola sosialisasi hubungan saya dengan lingkungan sekitar yang makin hari kelihatannya tingkat ego individu saya dan lingkungan makin terlihat membesar. Cenderung tidak lagi mempedulikan sekitarnya.

Maka jadilah saya kini menyimpan semua gawai yang dimiliki pada kantong celana atau tas yang kebetulan dibawa, berganti dengan sebuah buku atau tabloid topik tertentu, menemani rutinitas keseharian yang ada dengan harapan bisa bercanda dan menyapa orang-orang sekitar saya berada disela itu semua.

Bagaimana dengan kalian Kawan ?

Comments

Popular posts from this blog

Jodoh di Urutan ke-3 Tanda Pesawat IG

Kata Orangtua Jaman Now, Jodoh kita itu adanya di urutan ke-3 tanda pesawat akun IG.  Masalahnya adalah, yang berada di urutan ke-3 itu bapak-bapak ganteng brewokan berambut gondrong.  Lalu saya harus gimana ?  #jodohurutanketigadipesawat  Mestinya kan di urutan SATU ?

Mewujudkan Agenda Cuti Bersama Lebaran

Tampaknya di Hari terakhir Cuti Bersama Lebaran, sebagian besar rencana yang ingin dilakukan sejak awal liburan sudah bisa terwujud, meski masih ada beberapa agenda lainnya yang belum bisa dijalani.  Satu hal yang patut disyukuri, setidaknya waktu luang jadi bisa dimanfaatkan dengan baik untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan tertunda beberapa waktu lalu.  1. Migrasi Blog Aksi pulang kampung ke laman BlogSpot tampaknya sudah bisa dilakukan meski dengan banyak catatan minus didalamnya. Namun setidaknya, harapan untuk tidak lagi merepotkan banyak orang, kedepannya bisa dicapai. Sekarang tinggal diUpdate dengan postingan tulisan tentang banyak hal saja.  2. Upload Data Simpeg Melakukan pengiriman berkas pegawai ke sistem online milik BKD rasanya sudah berulang kali dilakukan sejauh ini. Termasuk Simpeg Badung kali ini, yang infonya dilakukan pengulangan pengiriman berkas dengan menyamakan nomenklatur penamaan file. Gak repot sih sebenarnya. Tapi lumayan banyak yang harus dilengkapi lagi. 

Warna Cerah untuk Hidup yang Lebih Indah

Seingat saya dari era remaja kenal baju kaos sampai nganten, isi lemari sekitar 90an persen dipenuhi warna hitam. Apalagi pas jadi Anak Teknik, baju selem sudah jadi keharusan.  Tapi begitu beranjak dewasa -katanya sih masa pra lansia, sudah mulai membuka diri pada warna-warna cerah pada baju atasan, baik model kaos oblong, model berkerah atau kemeja.  Warna paling parah yang dimiliki sejauh ini, antara Peach -mirip pink tapi ada campuran oranye, atau kuning. Warna yang dulu gak bakalan pernah masuk ke lemari baju. Sementara warna merah, lebih banyak digunakan saat mengenal ke-Pandean, nyaruang antara warna parpol atau merahnya Kabupaten Badung.  Selain itu masih ada warna hijau tosca yang belakangan lagi ngetrend, merah marun atau biru navy. Semua warna dicobain, mengingat hidup rasanya terlalu sederhana untuk dipakein baju hitaaaaam melulu.  Harapannya bisa memberikan warna pada hidup yang jauh lebih cerah, secerah senyum istri pas lagi selfie.