Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Sakit

Istirahat dulu Bek

Pagi ini saya melewatkan dua rutinitas harian yang selama sekian tahun dilakoni tanpa jeda. Mebanten dan berolahraga. Penyebabnya ya karena sakit yang terasa pada tulang belakang ini. Lumayan menyiksa. Ternyata kurangnya peregangan sebelum maupun sesudah berolahraga punya banyak peranan penting bagi kesehatan. Dan saya melanggar semuanya selama sekian tahun beraktifitas. Untuk kewajiban mebanten, diambil alih oleh Ibu mengingat jenis dan jumlah banten hari ini cukup banyak dan berat. Banten rahinan Saraswati. Dan beberapa diantaranya harus dihaturkan dalam posisi berjongkok. Jadi masih susah jika harus saya lakoni. Sementara olahraga, istri belum mengijinkan lantaran kondisi tubuh yang sepertinya memang tidak mendukung. Absen 1-2 hari kan ndak apa, pasca nyambung terus berbulan-bulan. Yah, dilakoni saja...  

Kena Batunya juga

Berolahraga pagi sudah menjadi satu hal yang wajib saya lakukan setiap hari. Ya, setiap hari. Mengingat tanpa berolahraga, tanpa berkeringat, rasanya masih ada yang kurang. Selain memang untuk mengantisipasi gula darah melambung drastis setiap harinya. Bersyukur, dari awal tahun 2017 lalu, hingga hari ini, target harian capaian 6000 langkah setiap hari, bisa dilakoni dengan baik, nyaris tanpa jeda.  Bolong jika kondisi dalam tidak sehat atau usai melakukan donor darah saja.  Akan tetapi, pola olahraga yang saya lakukan bisa dikatakan tidak sehat. Karena tanpa peregangan atau pemanasan terlebih dahulu. Macam hubungan, langsung tancap tanpa foreplay.  Menyalahi anjuran om Dokter maupun pakar kesehatan lainnya.  Maka ketika pinggang mengalami kontraksi otot di satu pagi yang dingin, jadilah mengubah keseharian saya yang biasanya satset satset, lebih menyerupai lansia dengan cara jalan yang tertatih-tatih.  Ternyata sakit pinggang atau tulang belakang itu gak enak b...

Menjaga Ara dalam Kantuk

Waktu menunjukkan pukul 12.44 dini hari, sementara mata belum bisa terpejam nyaman laiknya tidur sebelumnya. Panasnya cuaca dan batuknya Gek Ara membuat istirahat malam ini sangat terganggu. Apalagi Ara dari kemarin siang sudah nda mau lagi didampingi ibunya. Hanya Bapak dan Ninik yang diminta. Gendong atau sekedar menemani tidurnya. Repot juga. Batuk Gek Ara keknya ndak ada perubahan dari awal kemarin. Makin menjadi malahan. Malam ini kondisi Ara jadi hangat lagi, padahal seharian kemarin lumayan turun hingga ia sudah bisa bermain main dengan si kakak. Badannya yang minggu kemarin sudah terlihat lebih berisi, kini tampak jauh lebìh kurus akibat sakit yang ia derita. Kasian banget liat Ara jadi lembek lembek begini. Istilah kakak sulungnya saat ia masih kecil dulu. Menjaga Gek Ara dalam kantuk dilakoni dari semalam. Kini gantian dengan si ibu yang memilih tidur di kasur bawah, lantaran Ara menolak kehadiran ibu disisinya. Alamat begadang sampe pagi deh keknya…

Ara Demam (lagi)

Anak sakit itu sebetulnya ya hal yang sudah biasa. Bisa jadi karena perubahan cuaca yang nda menentu, perubahan pola makan yang aneh-aneh, hingga tumbuh gigi atau perkembangan tumbuh kembang si anak mau tambah pinter ngapain gitu ceritanya. Tapi yang ada hari ini kok ya saya malah jadi ikutan sedih gegara si Ara, bungsu kami yang dulu sempat ditinggal lama di rumah sakit, demam yang kemungkinan besar akibat panas dalam, akibat tertular batuknya si mbak Intan yang nakal, atau ya aksi tumbuh gigi yang mana, sehingga menyebabkan aktifnya si anak kesana kemari mendadak hilang. Ara pun tertunduk lesu dari Jumat kemarin. Mih… akhir pekan pun jadi terasa sendu hingga malam ini menjelang. Bisa jadi karena saat ini aktifitas bapaknya sudah ndak sebanyak dulunya, sehingga bisa full menemani kesehariannya Ara. Jadi ngikut lesu deh akhirnya. Padahal rencana liburan minggu depan ke Amed rasanya sudah nda bisa dibendung lagi. Jadi khawatir kerana kesehatan Ara tampaknya belum membaik dari kemar...

InTan dan QZ 520 ETA

InTan dan QZ 520 ETA Intan baru bisa tidur saat kutinggalkan tadi. Menurut Ibunya, ia tak sekalipun memejamkan mata sejak pukul satu tengah malam. Keluhannya masih sama. Sakit pada perut, dan demam. Dokter Anak yang kami temui jumat sore kemarin sempat menyampaikan, bahwa jika sampai hari ketiga Intan masih demam, ia harus segera melakukan cek darah. Kemungkinan besar Demam Berdarah. Namun mengingat historisnya yang sempat mengalami Typhus, kami sudah mulai khawatir karena Intan cukup lama memerlukan proses untuk menghabiskan makan, entah pagi siang ataupun malam. Susah diberitahu. Intan diputuskan untuk dibawa ke Rumah Sakit. Satu hal yang saya khawatirkan dari kemarin. Mengingat pagi ini saya sudah bersiap terbang dan kini berada di dalam pesawat. QZ 520 ETA Pikiran melayang pada kesibukan mengurus administrasi yang biasanya saya lakukan. Kini, siapa yang harus diandalkan ? Kartu Asuransi Prudentialnya sudah saya titip sebelumnya pada istri. Tapi tidak dengan Askes atau BPJSnya. Berh...

Akhirnya tumbang juga

Memasuki ruang tunggu dokter THT di lantai atas apotek Anugerah sebetulnya sudah mulai membuat suasana badan tak nyaman. Dinginnya suhu membuat tubuh ini serasa menggigil. Entah apa sebabnya. Usai menunggui giliran periksa dokter, menunggui antrean obat dan menunggui proses penggantian lembar anti gores untuk ketiga perangkat Android diseberang jalan, pada akhirnya menumbangkan badan besar ini ke tempat tidur lengkap dengan kaus kaki dan selimut tebal. Dingin… Suhu badan mulai terasa menurun setelah menjalani istirahat dua jam lamanya. Berusaha memejamkan mata namun selalu gagal lantaran Intan, putri kedua kami selalu berusaha membangunkan bapaknya lewat cubitan, cium hingga injakan dan tindihan badannya yang hanya seberat belasan kilogram itu. Terpantau 37.2 derajat saat berupaya bangun dari tempat tidur dan memaksakan diri untuk makan malam meski tak memiliki nafsu untuk itu. Muntah. Ini muntah kali kedua yang dialami sedari pagi tadi. Benar-benar gak nyaman rasanya. Mungkin ini...

Gejala Typus untuk Intan

Panas badannya mulai meninggi, sekitar 39,8 derajat di malam kedua ini. Kamipun berembug singkat dan memutuskan untuk secepatnya melarikan Intan ke Rumah Sakit terdekat. Kartu Prudential atas namanya pun segera kupastikan berada didompet. Untuk berjaga-jaga pada kemungkinan terburuknya. Di lorong pintu masuk sebelah UGD RS Bhakti Rahayu, selama setengah jam kami masih menunggu. Disebelah kami ada beberapa pasien rawat jalan yang masih menunggu panggilan. Artinya kami mendapatkan prioritas paling akhir. Jawaban pihak RS pun cukup membuat kami kebingungan, saat kami mencoba minta didahulukan. “Belum mengalami kejang kan pak ?” *lha apakah anak kami baru akan ditangani jika sudah mengalami kejang ? Apakah harus menunggu kejang dulu baru ada tindakan ? Meh… Setelah ijin pada beberapa pasien lainnya yang secara kepentingan hanya untuk memeriksakan kemajuan mereka, kamipun diberikan peluang masuk lebih dulu mengingat Intan saat itu mulai mengigau dan menangis. Waktu menunjukkan pukul 11 mala...

Doa untuk Kakak

Duduk di pojokan deretan kamar rawat inap lantai tiga paviliun praja Rumah Sakit Wangaya, mengingatkanku pada masa menunggui MiRah putri kami saat ia terbaring sakit akibat Demam Berdarah beberapa waktu lalu… Kini kami kembali lagi di tempat yang sama untuk menunggui kakak kandungku yang jauh lebih lemah terbaring akibat kanker lidah, menggerogoti tubuh dan dagingnya hingga menyisakan kulit membungkus tulang. Sangat memprihatinkan. Pikiranpun melayang… Masih lekat dalam ingatanku. kakak ikut mengantar kami ke seputaran Kuta hanya untuk mencari sepatu kets berwarna putih sebagai kewajiban dan keharusan bagiku di kantor Bupati melaksanakan tugas hari jumat pagi. Itu kebersamaan kami yang terakhir, melihatnya makan dengan lahap bersama putranya. Jauh setelahnya, kamipun masih sempat berkumpul bersama kakak kandung laki-lakiku yang datang ke Bali, dan menghabiskan waktu sekeluarga sehari sebelum keberangkatannya balik ke Kanada. Saat itu ia sudah tak dapat lagi makan dengan baik...