Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Amrozy

Eksekusi Amrozy cs ? Ah, saya sudah bosan mendengarnya

Ya, rasa bosan itu timbul saat menyaksikan layar televisi yang dipenuhi tayangan pasca eksekusi trio Bomber Bali Oktober 2002, Amrozy, Imam Samudra dan Mukhlas, Minggu dini hari lalu, dari kilas balik Bom Bali hingga pemakaman jenasah mereka bertiga. Jika banyolan yang diceritakan dalam Wayang Cengblonk bahwa setiap cerita memerlukan waktu satu bulan tujuh hari ( a bulan pitung dina ) untuk dilupakan orang, nampaknya saya secara pribadi hanya membutuhkan waktu 3 hari saja. Sama halnya dengan pemberitaan Syeh Puji dengan kata-katanya yang mengundang kontroversi bahkan cenderung menantang hukum, demikian pula dengan kasus mutilasi oleh Ryan , tak membutuhkan waktu lama seakan tenggelam begitu berita eksekusi ini diluncurkan. Mengapa saya sudah begitu bosan dan enegh, karena masih saja mendengar cerita media televisi dengan segudang bahan ‘behind the scene’, versi ‘Extented’ maupun ‘Uncensored’, ditambah-tambahkan, diulang-ulang malah membuat para pembawa berita tak ubahnya presente...

Menurut Amrozy 'itu adalah Takdir Mereka'

Menyaksikan tayangan di layar televisi terkait pasca eksekusi trio bomber Bali Oktober 2002 lalu, Amrory, Imam Samudra dan Mukhlas, ada rasa kasihan yang saya berikan pada mereka, para pendukung ketiga narapidana yang akhirnya ditembak mati Minggu dini hari. Kenapa ? Karena mereka begitu mudah meneriakkan takbir yang sepantasnya mereka hormati dengan hati-hati dan penuh pemahaman akan apa yang mereka yakini. Sepertinya takbir itu hanya ada dan pantas mereka teriakkan hanya untuk apa yang mereka yakini benar adanya. Menyaksikan tayangan lain perihal bentuk Djihad yang dibenarkan di Indonesia, yang kalau tidak salah dijelaskan oleh Ketua Fatwa MUI, Ma’Ruf Amien, sangat bertolak belakang dengan segala provokasi termasuk kata-kata dalam Surat Wasiat yang diwariskan oleh ketiga terpidana mati kepada para pendukungnya. Sungguh sangat disayangkan, pemahaman akan apa yang diyakini dan dijalankan setiap harinya diartikan begitu dangkal sehingga salah arah dan salah kaprah. Barangkali malah...

Amrozy, Imam Samudra dan Mukhlas telah dieksekusi Mati. What Next ?

Walaupun saya bisa dikatakan sangat terlambat mengetahui berita terkini (bisa membaca kronologisnya disini ) perihal eksekusi mati Amrozy cs, trio bomber Bali Oktober 2002 lalu, namun jujur saja ada perasaan lega yang terbersit dihati kecil saya. Kenapa ? Karena mulai hari ini, takkan ada lagi kata-kata provokasi yang dikeluarkan oleh wajah-wajah penuh senyum tanpa dosa tersebut. Sebelum eksekusi, Amrozy sempat memberikan Surat Wasiat atau pesan terakhir yang kurang lebih mengatakan bahwa umat Muslim di Indonesia harus kembali ke ajaran Islam yang sepenuhnya dan tidak mengikuti Demokrasi (Jawapos 8 November 2008, halaman 1). Hal ini rupanya langsung mendapatkan tanggapan dari berbagai pihak, diantaranya ulama dan habib yang berkumpul di Jakarta plus komentar dari Ketua MUI Bali (kalo ndak salah sempat ditayangkan di televisi kemarin), bahwa Bom Bali bukan merupakan Djihad, dan itu Haram hukumnya. Nah lo. Perpecahan dalam satu pemahaman agama, memang kerap terjadi. Ada yang memilik...