Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Curhat

Sepi...

Entah kenapa rumah jadi terasa sepi saat kami datang dari bandara sore tadi. Dan juga terasa berbeda karena yang biasanya terdengar gedebag gedebug dari lantai atas, anak-anak naik turun tangga, meski tak menyapa, kini tak lagi ada. Terhitung hari ini Mirah putri sulung kami sudah mulai tinggal menetap di Semarang untuk sementara waktu, menjalani masa persiapan perkuliahan jelang ospek awal bulan Agustus mendatang. Diantar Ibu, adik Intan dan We Wah Canggunya.  Saya sendiri memilih tinggal karena masih ada bungsu yang juga harus dijaga.  Ya, saya akui jadi menangis juga meski agak tertahan tadi. Berusaha tidak hanyut dalam perasaan saat memeluk Mirah sesaat sebelum mereka masuk pintu keberangkatan bandara. Padahal sekian hari terakhir, berusaha untuk tidak memikirkannya. Yang namanya rasa saat harus berpisah, tetap ada walau bagaimanapun juga.  Punya anak kuliah. Lengkap dengan semua perjuangannya.  Dan kami masih punya dua yang cilik...

Takdir...

Jauh sebelum ini ada kekhawatiran saya akan absennya para penglingsir di lingkungan rumah kami akibat usia dan kesehatan mereka yang tidak bisa ditebak akan bisa bertahan sampai kapan. Dari situlah muncul keinginan dalam benak untuk belajar memposisikan diri pada posisi mereka, utamanya ketika berhadapan dengan adat dan budaya Hindu Bali yang hingga kini masih kental dikenal di kalangan banyak orang.  Sulit tapi harus. 

Mengesalkan...

Bosan... Dan gak paham lagi mau bagaimana.  Rutinitas dan keseharian yang kadang memuakkan. Tapi kalau tidak dijalani, agenda besar akan datang. Selalu begitu.  Dan membutuhkan lebih banyak perjuangan lagi untuk kembali ke titik normal. Entah kenapa begitu banyak orang di luar sana yang menjalani hal serupa di hari yang sama.  Mengesalkan... 

Gak Enak ternyata...

Akhirnya merasakan juga hal yang dulu pernah PakDe rasakan... Ditinggal jauh oleh gerbong dan terlupakan. Dulu pernah tiang bertanya-tanya mengapa PakDe terasa seperti menjauh dari semua, tapi ternyata memang berat secara rasa. Apalagi yang junior juga jauh melampaui. Ndak enak ternyata ya PakDe... 11 Feb. 11.49 pm. Tersadar dari tidur dan tak bisa tidur lagi... Gak seenak itu ditinggalkan banyak teman.

Campur Aduk Gak Menentu

Di situasi seperti ini, kadang kalau dilihat ke luar jendela, ya rasanya wajar ada rasa sedih melihat kawan yang setara bahkan angkatan yang jauh di bawah, memiliki keberuntungan karir dan tentu saja rejeki yang nampak jauh lebih mudah digapai ketimbang apa yang saya lakukan di titik ini. Kecemburuan bahkan berefek pada keengganan mengambil pekerjaan yang lebih dari biasanya mulai menghampiri, sebagaimana yang dirasakan kolega di ruangan. Jadi paham rasanya berada di titik yang sama. Sementara kalau melihat ke arah dalam, baik itu diri sendiri yang memang secara perhitungan Wariga rasanya sampai tahun depan masih tetap berada di titik Nol dari tahun 2017 lalu, ataupun melihat ke lingkungan kerja sekitar yang notabene tidak mampu dikuasai medannya, jadi muncul pertanyaan, bagaimana sekiranya ditugaskan ke lingkup yang lebih tinggi, kalau yang setara saja tidak mampu mengatur ?  Yah, Hari ini lagi-lagi mengajarkan bahwa Harapan hanyalah sebuah Asa yang tidak akan pernah bisa dipeluk...

Berbeda Pilihan

Hanya karena berbeda pilihan -kemungkinannya pasca mendapat perintah- seseorang yang dahulu pernah berkawan dekat, kini mulai menegaskan garis batasnya yang semakin jelas menjadi lawan.  Jadi ingat cerita seorang tetua yang pernah mengatakan, titik tertinggi orang bergaul sebenarnya tetap bisa berkawan meski berbeda pilihan. Karena kelak ketika perbedaan itu bertemu kembali di satu titik yang sama, orang lain tetap mengingat pada sejarah masa lalumu dan waspada akan hal itu...

Curhat Siang tentang Persaingan Perguruan Tinggi

Sudah kesekian kalinya menyaksikan "perang urat syaraf" antara dua kelompok perguruan tinggi negeri dan swasta beradu pendapat dalam satu arena diskusi studi kajian, penyusunan master plan, atau ranperda daerah, yang bahkan dalam sesi terakhir tampak jelas esmosinya muncul secara gamblang. Kacau bet. Bisa dimaklumi sebenarnya, karena gap atau jurang pemahaman yang ada pada masing-masing pihak terlampau jauh, sementara secara pengetahuan rasanya sudah sama-sama berada di atas langit. Tapi bisa juga saking tingginya kemampuan, terkadang hal-hal kecil yang dulu barangkali kerap dituntut kepada para mahasiswa dan selalu ditekankan berkali-kali, kini malah dilakukan oleh para pengajar itu tampa disadari. Dan -puff- saat tersadar bahwa itu merupakan kesalahan, malah jadi emosi untuk kemudian menghindar kemana-mana. Padahal dengan mengakui kesalahan, mungkin lebih bijak jadinya. Meski secara kredibilitas jadi tampak "kalah" dari sang lawan. Dan saya juga pernah dikecewaka...

tentang seorang Kawan Lama

Kadang pepatah lama yang dikatakan orang-orang tua jaman dulu itu ada benarnya… ‘Air Beriak tanda tak dalam, Air Tenang malah menghanyutkan…’ Jika saja saya boleh mengaitkan dengan diskusi kami malam ini, barangkali sang teman sekamar yang saja ajak kali ini masuk kedalam pepatah kedua. Orang yang dari luar tampak tentram damai namun menyimpan cerita yang memiliki sarat makna kehidupan yang patut saya renungkan. Bila selama ia bercerita saya hanya bisa memberikan sedikit saran dan kisah, mungkin sah sah saja lantaran saya pribadi belum mengalaminya. Namun jika saat itu tiba, bukan tak mungkin nasib dan pemikiran yang saya lakonipun akan serta merta sepertinya. Kekhawatiran akan hidup di hari esok, berusaha membahagiakan orang tua, anak dan istri, atau bahkan berjuang akan kesehatan dan penghidupan yang layak. Belum lagi menunaikan kewajiban pada keluarga besar yang barangkali membutuhkan biaya dan tenaga yang tak sedikit. Bersyukur, hingga hari ini saya masih dik...