Semarang itu sebelas dua belas dengan Kota Denpasar saya rasa. Dari bentuk bangunannya, ketinggian rerata, lingkungan maupun suasananya juga mirip. Yang membedakan, di Semarang itu masih ada beberapa bangunan tinggi yang megah berdiri di tengah keramaian kota, belum melihat adanya sanggah atau pura yang bisa jadi belum ada kami lewati sejak hati pertama tiba, dan jarang banget bisa nemu kendaraan model baru digunakan masyarakat macam Yamaha Filano ataupun Fazzio 😅 pun kendaraan grab premium BYD macam di Bali.
Uniknya, model bangunan sebagian besar masih mempertahankan bentuk lama warisan Hindia Belanda, lengkap dengan pintu, jendela atau bukaan yang besar untuk dapat meneduhkan penghuninya di saat cuaca panas.
Satu lagi, lalu lintasnya juga cukup ngangenin karena mirip kondisi Kota Denpasar era tahun 2000an. Belum terlampau macet dan padat. Mungkin karena tempat wisata di Kota Semarang ini juga agak minim.
Seharian kemarin, kami mengupayakan tempat kost yang sesuai harapan si sulung, sekalian pemeriksaan kesehatan di Rumah Sakit Nasional Diponegoro mumpung berada di lokasi. Dibantu kakak ipar dan rekannya yang dari Jogja, kami mengitari Kampus Undip sedari pagi. Untuk memperkenalkan lingkungan kampus, kemana harus melangkah, pun menjajagi proses daftar ulang.
Pasca semua urusan selesai, mumpung masih ada waktu senggang sebelum balik ke Bali hari Minggu sore, tadinya saya pikir bakalan habis banyak waktu untuk mengurusi itu semua, kami coba main ke Kota Tua Semarang. Perlu waktu setengah jam setelah melewati jalan tol yang demikian panjang. Pun mampir ke Lawang Sewu di hari Minggu pagi untuk melihat langsung aura bangunan yang melegenda itu. Bisa dimaklumi memang, karena jarangnya prosesi pembersihan laiknya adat budaya Bali pasca kejadian tertentu yang menumpahkan darah juga nyawa di lokasi.
Terkait sulung, sementara waktu kami ajak pulang dulu. Dua minggu nanti baru balik dan langsung menetap menyusul agenda ospek mahasiswa di bulan Agustus.
Doain yang terBaik untuk anak kami ya...
Comments
Post a Comment