Entah kenapa tetiba saya tersadar dari mimpi, gegara teringat pada satu adegan lama dimana pada tengah malam, pintu kamar kerap dibuka dan terdengar suara berat parau dan pelan, sembari memanggil nama -iiikkk...
Bukan, ini bukan lagi pengen mengisahkan satu cerita horor. Tapi saat Bapak masih ada dulu, setelah ia bertengkar dengan Ibu di satu malam, tentang banyak hal dan saya sering terbangun dari tidur dibuatnya, Bapak akan berusaha mencari penjelasan logis pada saya akan permasalahan yang beliau ributkan dengan istrinya.
Dari -kenapa saya bisa ada di sini ? -tolong ajak saya pulang ke rumah -kamu siapa kok saya bisa tidur sama kamu ? (Menganggap istrinya adalah orang lain, bahkan pria lain, bukan istrinya), sampai ke -kebingungan kenapa ia bisa menjadi gila karena sifat pelupanya ?
Ya, Bapak seringkali menganggap dirinya gila -buduh, dalam bahasa bali- sehingga merasa perlu mendapat jawaban dari saya segera meskipun ini tengah malam. Namun apapun jawaban yang saya ungkapkan, endingnya sudah bisa ditebak, Bapak mengamuk dan berusaha ke luar dari rumah melalui pintu depan.
Sekali lagi, di tengah malam. Berhubung timeline waktu beliau saat divonis mengidap Demensia, malam dikira pagi dan sebaliknya dini hari dikira sore.
Itu sebabnya pint depan kami dipenuhi kunci dalam 4 (empat) jenis. Palang pintu menggunakan balok kayu 8/10 karena beliau pernah khawatir pintu akan dijebol dengan mudah dari luar, kunci gerendel paling bawah, gembok diatas palang pintu dan the one and only, dibuat dengan ketinggian tertentu yang hanya saya yang bisa membukanya. Pertahanan terakhir agar bapak gak bisa menjebol dengan mudah jika ia ingin "pulang" di tengah malam.
Ya, ini cerita tentang almarhum Bapak yang kerap membuka pintu kamar di malam hari usai perdebatan kecil nan panjang, untuk mencari fakta yang tak pernah mampu memuaskan beliau.
Hanya saja kali ini gak ada suara yang terdengar.
Dan rupanya saya bermimpi dikunjungi Beliau.
-mungkin ini gegara saya bercerita tentang plot film Coco sore tadi ke anak-anak, soal leluhur atau orang yang sudah meninggal akan tetap ada di "dunianya" dan sesekali akan berkunjung di satu hari raya jika kita masih mengingat atau menyimpan fotonya.
17 Februari pukul 00.50 am.
*ilustrasi hanyalah sebuah upaya nyari kerja sampingan di kediaman NaTih Wijaya dan KomingnatihWijaya 😀

Comments
Post a Comment