Seorang teman kuliah.
Adik tingkat.
Dekat karena dia menertawai saya lantaran gak berhasil mendekati teman seangkatannya.Sama-sama bertubuh besar.
Sama-sama Aries.
Lalu menyadari umur kami cuma beda sehari.
Kemudian menyadari juga bahwa kami bersaudara. Meski jauh.
Jadilah karib.
Berpisah belasan tahun karena kerja dan menikah. Lalu memiliki anak.
Sama-sama punya anak cewek. Dia dua, Saya tiga.
Sama-sama jadi pria satu-satunya dalam keluarga.
Sama-sama gula.
Dua tahun terakhir jadi lebih sering ketemu karena setiap kali saya dinas ke selatan, jika senggang selalu mampir ke rumah Pegok.
Sekedar menyapa dan tertawa.
Menertawai diri kami sendiri.
Saling cela.
Kadang meluangkan waktu untuk tangkil bareng pesemetonan.
Makin dekat karena berusaha aktif di organisasi keluarga.
Sayang, ulang tahun kemarin jadi chat terakhirnya.
Tumben menyapa lalu saling mengucapkan selamat.
Beberapa hari kemudian dapat kabar dia pergi.
Kali pertama saya menangis karena merasa begitu kehilangan teman, sahabat sekaligus saudara.
Menangis sembari bercerita di hadapan keluarganya, malam setelah dia pergi.
Lalu menangis lagi saat bertemu anak pertamanya yang ingin tahu seperti apa sosok ayahnya di mata temannya.
Dan perjalanan gak bakalan sama lagi.
Gak ada yang dimampiri kalau lagi dinas ke selatan.
Gak ada yang diajak ngobrol kesana kemari.
Gak ada yang diajak saling cela.
Sudah hampir setahun terlewat.
-Menulis begini, setelah membaca perjalanan seseorang yang kehilangan sahabatnya.
Comments
Post a Comment