Selama mendapatkan mandat sebagai Kelihan Adat Banjar Tainsiat lima tahun terakhir, saya selalu melewatkan waktu siang saat hari raya Nyepi di Bale Banjar, mendampingi para pecalang atau keamanan banjar yang secara bergantian menjaga wilayah sekitar sampai pagi esok harinya. Berusaha tetap terbangun di pagi hari, menjalani aktifitas harian sebagaimana biasa, lalu berjalan kaki menuju banjar, meski waktu istirahat baru bisa dilakukan dini hari pasca pengerupukan dan pengarakan ogoh-ogoh yang selama lima tahun ini berlangsung hingga melewati tengah malam.
Lelah itu pasti. Namun semua rasa lantas terhapus saat melihat langsung sosok ogoh-ogoh banjar dari jarak yang sangat dekat tanpa gangguan siapa pun. Sembari mengagumi semua detail hasil kerja dari team work yang dipimpin oleh pakMan Keduk dan Semeton Teruna Teruni STT Banjar Tainsiat. Meski tahun ini gagal diarak ke Catur Muka, tapi karya mereka tetap pantas diacungi jempol.Satu hal yang paling menarik, saya amati adalah pada hasil kerja pepayasan atau hiasan yang digunakan oleh sosok Gajah, yaitu pernak pernik mangkok cina di sela batu permata yang kabarnya dibuat dari bahan resin. Motif dan warnanya, antik sekali. Gak sekali dua saya mengagumi sejak awal. Biasanya motif ini dibuat dengan modelan sablon jika diproduksi dalam skala besar, namun ini sepertinya murni dilukis secara manual.
Apalagi saat melihat pengembangan gerak yang semakin banyak dan beragam. Termasuk soal kedipan dan bola mata yang bergerak. Ini bukan sekedar mesin lagi tampaknya. Tapi ada unsur codingnya barangkali.
Jadi walaupun gagal ke Catur Muka, Tetap Semangat Jerrr...
Jangan lelah belajar dari pengalaman.
#DokumentasiKelihanAdat #BanjarTainsiat
#OgohOgohTainsiat #GAJAH #GajahTainsiat
Wajah si Gajah dalam salah satu ilustrasi gambar yang saya tangkap, kebetulan jadi tampak sedih dan menangis. Bisa jadi bukan karena gak jadi tampil di titik nol kota Denpasar. Tapi karena ada manusia yang bergaya mepoto klapat-klapat di hari suci Nyepi. 😌



Comments
Post a Comment