Skip to main content

Catatan Perjalanan menuju Museum ‘Keris’ Neka Ubud

Hari masih pagi ketika kami melintasi ruas jalan Jagapati Tinggas kecamatan Abiansemal dalam perjalanan menuju Museum Neka Ubud, minggu 18 Juli 2010 kemarin. Beberapa semeton Yowana yang sempat dihubungi ada yang sudah mencapai daerah Sayan, ada juga yang masih berada di Darmasabha.

Kali ini kami berangkat bertiga dalam satu kendaraan. Saya, Bapak dan Mahendra Sila, adik sepupu saya. Bapak saya ajak lantaran Beliau begitu dekat dengan Uwe Sutedja Neka, pemilik Museum Neka dan juga karena saya janjikan Beliau untuk diajak mampir di Geriya Peliatan. Adik sepupu saya ajak ikut serta mumpung kesibukannya di sekolah sudah mulai senggang. Dua semeton lain, Pande Donny dan Dek Jun Pande membatalkan keikutsertaan mereka lantaran kesibukan kerja yang tidak bisa dihindarkan.

Sempat pangling ketika kendaraan masuk wilayah Pengosekan dan Peliatan Ubud. Lama sudah saya tak pernah lagi melewati daerah ini. Banyak yang berubah, termasuk angkul-angkul pintu masuk Geriya Peliatan yang kini tampak lebih gagah. Bersyukur saya menggunakan Pura Penataran Pande Ubud sebagai patokan, yang kebetulan berada tepat didepan Geriya Peliatan, jadi lebih mudah ditemukan.

Kami meluncur beriringan sekitar 7 kendaraan menuju Museum Neka Campuhan tepat pukul sepuluh pagi. Lokasinya tidak begitu jauh dari Geriya Peliatan, sekitar 4,4 km dekat jalan menuju Museum Blanco. Rombongan diterima langsung oleh Uwe Sutedja Neka yang rupanya telah menanti kami sejak pukul 9 pagi. Untuk kegiatan ini Beliau secara khusus mengundang Prof. Dr. Pande Kt. Tirtayasa, Msc seorang guru besar di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana yang kebetulan sempat menulis tentang Prapen dan juga tentang (gagang) Keris yang ditinjau dari segi ilmu Ergonomi.

Setelah dipersilahkan untuk menikmati snack, sedikit perkenalan dan silaturahmi temu kangen, kami diajak turun kelantai bawah untuk mendengarkan pengantar dari Uwe Sutedja Neka tentang keris dan sejarahnya. Di sela pemaparannya, Beliau bahkan sempat mendemonstrasikan tentang ‘keseimbangan’ yang dimiliki oleh setiap keris yang dibuat oleh seorang Mpu Keris (sebutan bagi mereka yang membuat Keris). Dalam kesempatan ini pula Yande Putrawan, Dancuk (komanDan puCuk ; meminjam istilah dari Anton Muhajir, Bapak Blogger Bali) Yowana Paramartha Kodya Denpasar menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan kami serta memohon jadwal terkait kunjungan resmi bulan Agustus ditambah kesediaan Uwe Sutedja Neka kembali berbagi pengetahuan kepada Generasi Muda Pande nanti.

Sebagai ungkapan rasa bangga Sutedja Neka pada kami generasi muda Warga Pande,  Beliau mengajak untuk melihat dan bercerita tentang Keris secara lebih nyata di ruang Galeri. Disini kami bisa lebih bebas untuk bertanya tentang apapun yang berkaitan tentang Keris dimana (untungnya) Beliau menjawab sekaligus menunjukkan beberapa contoh nyata sesuai dengan apa yang kami tanyakan.

Sebelum pamit, kami dibekali satu buku sejarah tentang Keris yang barangkali nanti akan saya rangkum dalam sebuah tulisan bersambung agar bisa dibaca dan dinikmati oleh Semeton Pande maupun masyarakat secara luas.

Jujur saja. Jika dahulu saya sempat menulis tentang “Kadang Saya Malu Mengaku ‘nak PanDe”, kini setelah semua yang saya alami selama tiga bulan terakhir membuat saya dengan percaya diri mengatakan bahwa “Saya Bangga menjadi ‘nak PanDe”. Semoga apa yang kami jalani kedepannya dapat memberikan kebanggaan bagi semua pihak. Salam dari PuSat KoTa DenPasar.

Comments

Popular posts from this blog

Jodoh di Urutan ke-3 Tanda Pesawat IG

Kata Orangtua Jaman Now, Jodoh kita itu adanya di urutan ke-3 tanda pesawat akun IG.  Masalahnya adalah, yang berada di urutan ke-3 itu bapak-bapak ganteng brewokan berambut gondrong.  Lalu saya harus gimana ?  #jodohurutanketigadipesawat  Mestinya kan di urutan SATU ?

Mewujudkan Agenda Cuti Bersama Lebaran

Tampaknya di Hari terakhir Cuti Bersama Lebaran, sebagian besar rencana yang ingin dilakukan sejak awal liburan sudah bisa terwujud, meski masih ada beberapa agenda lainnya yang belum bisa dijalani.  Satu hal yang patut disyukuri, setidaknya waktu luang jadi bisa dimanfaatkan dengan baik untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan tertunda beberapa waktu lalu.  1. Migrasi Blog Aksi pulang kampung ke laman BlogSpot tampaknya sudah bisa dilakukan meski dengan banyak catatan minus didalamnya. Namun setidaknya, harapan untuk tidak lagi merepotkan banyak orang, kedepannya bisa dicapai. Sekarang tinggal diUpdate dengan postingan tulisan tentang banyak hal saja.  2. Upload Data Simpeg Melakukan pengiriman berkas pegawai ke sistem online milik BKD rasanya sudah berulang kali dilakukan sejauh ini. Termasuk Simpeg Badung kali ini, yang infonya dilakukan pengulangan pengiriman berkas dengan menyamakan nomenklatur penamaan file. Gak repot sih sebenarnya. Tapi lumayan banyak yang harus dilengkapi lagi. 

Warna Cerah untuk Hidup yang Lebih Indah

Seingat saya dari era remaja kenal baju kaos sampai nganten, isi lemari sekitar 90an persen dipenuhi warna hitam. Apalagi pas jadi Anak Teknik, baju selem sudah jadi keharusan.  Tapi begitu beranjak dewasa -katanya sih masa pra lansia, sudah mulai membuka diri pada warna-warna cerah pada baju atasan, baik model kaos oblong, model berkerah atau kemeja.  Warna paling parah yang dimiliki sejauh ini, antara Peach -mirip pink tapi ada campuran oranye, atau kuning. Warna yang dulu gak bakalan pernah masuk ke lemari baju. Sementara warna merah, lebih banyak digunakan saat mengenal ke-Pandean, nyaruang antara warna parpol atau merahnya Kabupaten Badung.  Selain itu masih ada warna hijau tosca yang belakangan lagi ngetrend, merah marun atau biru navy. Semua warna dicobain, mengingat hidup rasanya terlalu sederhana untuk dipakein baju hitaaaaam melulu.  Harapannya bisa memberikan warna pada hidup yang jauh lebih cerah, secerah senyum istri pas lagi selfie.