Skip to main content

Konsumsi Tuak dan Konsekuensinya

Nyaris empat puluh tahun hidup dan beraktifitas, baru dalam setahun terakhir ini berani membawa pulang miras dan menyimpannya dalam kulkas, serta dinimati secara terang-terangan di rumah sendiri.
Efek pergaulan di luar rumah memang terasa bedanya.

Tapi eits, jangan Negatif Thinking dulu kawan.
Miras atau minuman keras yang saya bawa ini tentu bukan miras sembarangan apalagi oplosan.
Bukan pula minuman campur sari yang ditambah-tambahi gerusan obat nyamuk bakar atau rendaman pembalut wanita.
Ini Tuak.
Tuak adalah Nyawa.

He… kurang lebih begitu nyanyian lokalan Bali yang lagi ngeTrend selama setahun terakhir. Hasil kolaborasi genjekan semeton kangin, melahirkan theme song baru bagi kalangan anak-anak muda Bali peminum Tuak, yang kalau tidak salah, mengambil nada teriakan ole ole ole sepak bola dunia.

Tuak sendiri dari info yang saya baca adalah minuman hasil fermentasi dari pohon jaka atau aren yang banyak ditanam penduduk desa, utamanya di Desa Sibang Gede atau Desa Taman, Kecamatan Abiansemal Kabupaten Badung. Ini salah dua desa yang saya ketahui sebagai penghasil Tuak Terbaik sejauh ini.
Bisa jadi masih banyak desa lainnya, jika mau ditelusuri lebih jauh.
Yang kalau difermentasi lebih mendalam lagi, bakalan berubah menjadi miras terbaik di pulau Bali, yaitu Arak Bali.
Saya mah berani mengkonsumsi sampai tingkat Tuaknya saja.

Dilihat dari Hasil Tuak yang difermentasi, ada beragam juga yang saya dengar. Namun dari sekian banyak varian yang ada, Tuak wayah dari Desa Sibang Gede ini saja yang menjadi favorit saya sejauh ini. Tahu kenapa ?

Karena selain efek yang diakibatkan pasca mengkonsumsi Tuak wayah Sibang Gede, yaitu pening kepala dan rasa kantuk yang teramat sangat, manfaat lainnya adalah mampu menurunkan kadar gula darah secara drastis bila dikonsumsi secara berkala. Entah benar atau tidak, dari beberapa kali pemeriksaan gula darah pasca mengkonsumsi Tuak, memang terpantau turun drastis meski sebelumnya berada pada titik diatas 200 mg/dl.
Bisa jadi karena pengaruh sugesti juga sih.

Namun demikian, saya pribadi tidak menyarankan Tuak dan minuman semacam ini jadi konsumsi kalian kedepannya, lantaran efek dan konsekuensi yang mampu ditimbulkannya tadi, cukup berat dirasakan bagi sebagian orang. Utamanya bagi mereka yang belum mampu mengendalikan diri fan nafsu saat berada dalam situasi lupa akan kesadaran diri sendiri.
Saya yang kerap mengkonsumsi Tuak saja tidak membutuhkan waktu lama untuk mengubah warna kulit wajah menjadi merah padam. Memudahkan kawan kerja di ruangan untuk segera menyadari bahwa saya sudah terkontaminasi kandungan Tuak. Memabukkan.
Lantas memilih tiduran ketimbang bicara ngelantur. Jauh lebih aman bagi diri sendiri juga lingkungan.

Sama seperti menggunakan Pisau atau Sosial Media. Mengkonsumsi Tuak ada sisi Positif, juga sisi Negatifnya. Tergantung dari kalian memilih opsi yang mana.

Comments

Popular posts from this blog

Jodoh di Urutan ke-3 Tanda Pesawat IG

Kata Orangtua Jaman Now, Jodoh kita itu adanya di urutan ke-3 tanda pesawat akun IG.  Masalahnya adalah, yang berada di urutan ke-3 itu bapak-bapak ganteng brewokan berambut gondrong.  Lalu saya harus gimana ?  #jodohurutanketigadipesawat  Mestinya kan di urutan SATU ?

Mewujudkan Agenda Cuti Bersama Lebaran

Tampaknya di Hari terakhir Cuti Bersama Lebaran, sebagian besar rencana yang ingin dilakukan sejak awal liburan sudah bisa terwujud, meski masih ada beberapa agenda lainnya yang belum bisa dijalani.  Satu hal yang patut disyukuri, setidaknya waktu luang jadi bisa dimanfaatkan dengan baik untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan tertunda beberapa waktu lalu.  1. Migrasi Blog Aksi pulang kampung ke laman BlogSpot tampaknya sudah bisa dilakukan meski dengan banyak catatan minus didalamnya. Namun setidaknya, harapan untuk tidak lagi merepotkan banyak orang, kedepannya bisa dicapai. Sekarang tinggal diUpdate dengan postingan tulisan tentang banyak hal saja.  2. Upload Data Simpeg Melakukan pengiriman berkas pegawai ke sistem online milik BKD rasanya sudah berulang kali dilakukan sejauh ini. Termasuk Simpeg Badung kali ini, yang infonya dilakukan pengulangan pengiriman berkas dengan menyamakan nomenklatur penamaan file. Gak repot sih sebenarnya. Tapi lumayan banyak yang harus dilengkapi lagi. 

Warna Cerah untuk Hidup yang Lebih Indah

Seingat saya dari era remaja kenal baju kaos sampai nganten, isi lemari sekitar 90an persen dipenuhi warna hitam. Apalagi pas jadi Anak Teknik, baju selem sudah jadi keharusan.  Tapi begitu beranjak dewasa -katanya sih masa pra lansia, sudah mulai membuka diri pada warna-warna cerah pada baju atasan, baik model kaos oblong, model berkerah atau kemeja.  Warna paling parah yang dimiliki sejauh ini, antara Peach -mirip pink tapi ada campuran oranye, atau kuning. Warna yang dulu gak bakalan pernah masuk ke lemari baju. Sementara warna merah, lebih banyak digunakan saat mengenal ke-Pandean, nyaruang antara warna parpol atau merahnya Kabupaten Badung.  Selain itu masih ada warna hijau tosca yang belakangan lagi ngetrend, merah marun atau biru navy. Semua warna dicobain, mengingat hidup rasanya terlalu sederhana untuk dipakein baju hitaaaaam melulu.  Harapannya bisa memberikan warna pada hidup yang jauh lebih cerah, secerah senyum istri pas lagi selfie.