Skip to main content

Selamat dan Sukses Uji Coba Pertama Bus Sekolah Denpasar

Tadinya saya tidak berharap banyak bahwa program Bus Sekolah yang digagas Pemerintah Kota Denpasar pasca sosialisasi yang dilakukan pada murid-murid SD I Saraswati sekitaran awal bulan Mei lalu, bakalan bisa berjalan tahun 2017 ini. Lantaran Rambu titik kumpul yang dipasang salah satunya pada jalan belakang SD I baru dilakukan pada pertengahan tahun, dan hingga awal November kemarin belum jua ada kabarnya. Dengan waktu yang tersisa cukup pendek hingga akhir tahun, rasanya ya paling minim 2019 mendatang baru bisa dirasakan.

Tapi eh, ternyata Senin pagi kemarin merupakan Uji Coba Pertama Bus Sekolah Denpasar, yang mengoperasikan 6 kendaraan bus jenis Elf, dengan 2 trayek keberangkatan, pagi dan siang.
Ini bisa diketahui pasca mendapatkan info sosialisasi lanjutan bagi orang tua siswa, hari Rabu minggu lalu yang dihadiri oleh Ibunya anak-anak, lantaran Bapaknya ikutan Lomba Megending Kabupaten Badung. Ups…

Seperti biasa, sebagai orang tua dari generasi milenial, tentu saja saya ndak mau ketinggalan informasi di dunia maya.
Maka didapatilah selebaran digital yang diunggah pada akun Instagram @bussekolah_dps berupa akun sosial media FaceBook serupa dan tentu saja akses aplikasi ponsel smartphone si BuSeD. Aplikasi Bus Sekolah Denpasar. Kayaknya sih gitu kepanjangannya.
Setelah di-oprek bolak balik, lumayan banyak juga informasi sepihak yang bisa dibaca melalui aplikasi dimaksud. Minimal rupa bus sekolahnya yang memberikan bermacam fasilitas, nama serta nomor kontak pramudi serta pramujasa yang dihandel langsung oleh Dinas Perhubungan Kota Denpasar, pula siapa saja siswa yang mendapat kesempatan dalam Uji Coba Pertama Bus Sekolah Denpasar ini.
Salah satunya tentu saja Mirah, putri pertama kami.

Proses penjemputan anak, terpantau berjalan lancar.
Meskipun ada rasa kekhawatiran kami selaku orang tua melepas anak pertama kali belajar mandiri untuk proses berangkat ke sekolah, namun rasa percaya kami pada Pemerintah Kota Denpasar dan juga rekan-rekan Dishub yang hingga pagi tadi baru dikenal sebatas suara, cukup memupus semua keraguan yang ada. Apalagi ada belasan bahkan puluhan siswa lainnya yang terlibat dalam sesi Uji Coba ini.

Sementara pada proses pemulangan siswa, awalnya sempat terpikirkan pada kawan-kawan Dishub yang saya yakini bakalan pulang malam, lantaran jam pulang sekolah anak-anak sekitaran pukul 17.30. Belum mengantar satu persatu anak pulang kerumahnya, belum balik kantor dan melaporkan progress.
Namun sebaliknya, ketika memaksakan diri untuk menjemput sendiri anak ke sekolah, kelihatannya memberikan respon yang tidak baik pada upaya Uji Coba Pertama ini. Minimal, Tim Bus Sekolah Denpasar bisa memberikan masukan lanjutan untuk tahap kedepannya kepada Tim Operasional yang ada di balik meja, mengatur trayek dan rute pulang pergi.
Secara kebetulan, Mirah putri kami memang memilih dipulangkan bersama bus sekolah ketimbang ikut Bapaknya. Jadi ya, ndak apa apa juga…

Syukurnya, sembari menunggu jam pulang anak-anak sekolah sore tadi, saya banyak menimba ilmu tentang program Bus Sekolah Denpasar ini dari Ibu Dian, pramujasa dari bus 03, dan juga Bp.Indra plus Bp.Yogi Iswara secara langsung saat bus 04 merapat ke sekolah.
Konsep operasionalnya, mirip Bus Sarbagita.
Jadi ndak ada opsi bagi bus dan Tim untuk menunggu jeda waktu yang cukup lama ketika proses penjemputan siswa satu dengan lainnya saat jam pulang sekolah. Semua langsung diantar ke rumah masing-masing, barulah trayek dilanjutkan sesuai rute keberangkatan.
Proses menunggu akan dilakukan saat bus dalam keadaan kosong menunggu jam kepulangan tiba, seperti yang terjadi di SD 1 Saraswati beberapa saat lalu.
Demikian halnya dengan keberangkatan, masing-masing bus telah memiliki trayek jalur masing-masing berdasarkan rute akses rumah siswa yang diperkirakan satu jalur ke tujuan sekolah.

Secara perhitungan per hari ini, dimana belum banyak siswa yang ikut serta dalam sesi Uji Coba Pertama, saya yakini cukup boros jika kelak disandingkan saat sudah banyak yang memanfaatkan Bus Sekolah. Karena ada banyak hal yang menentukan, baik upah kerja 2 pramudi dan 2 pramujasa per bus sekolah, yang sejauh ini dicover dari Gaji yang bersangkutan, bbm dan operasional kendaraan, fitur tambahan seperti wifi gratis, konsumsi meski hanya sebatas air mineral dan tentu saja operasional sistem aplikasi dan smart card nya.
Hal yang sama juga akhirnya terpikirkan pada Bus Sarbagita. Yang saking sepinya peminat akan mode transportasi umum antar kota, malah memicu prasangka buruk pada pemerintah yang suka menghabiskan anggaran tak jelas, bahkan tanpa kajian kebutuhan sebelumnya.
Padahal kalaupun peminatnya sama banyak dengan program Bus Sekolah Denpasar ini, saya yakin ada banyak rupiah yang bisa dihemat oleh masing-masing pribadi kita di kesehariannya.

Jadi, Selamat dan Sukses untuk Pemerintah Kota Denpasar, dalam hal ini Dinas Perhubungan beserta Tim dan Crew 6 Bus Sekolah Denpasar. Semoga pelayanan yang diberikan bisa makin baik untuk anak-anak kita kelak…

Lalu, kapan giliran Kabupaten Badung bisa mengikuti inovasi menarik Pemkot Denpasar ini ?

Comments

Popular posts from this blog

Jodoh di Urutan ke-3 Tanda Pesawat IG

Kata Orangtua Jaman Now, Jodoh kita itu adanya di urutan ke-3 tanda pesawat akun IG.  Masalahnya adalah, yang berada di urutan ke-3 itu bapak-bapak ganteng brewokan berambut gondrong.  Lalu saya harus gimana ?  #jodohurutanketigadipesawat  Mestinya kan di urutan SATU ?

Mewujudkan Agenda Cuti Bersama Lebaran

Tampaknya di Hari terakhir Cuti Bersama Lebaran, sebagian besar rencana yang ingin dilakukan sejak awal liburan sudah bisa terwujud, meski masih ada beberapa agenda lainnya yang belum bisa dijalani.  Satu hal yang patut disyukuri, setidaknya waktu luang jadi bisa dimanfaatkan dengan baik untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan tertunda beberapa waktu lalu.  1. Migrasi Blog Aksi pulang kampung ke laman BlogSpot tampaknya sudah bisa dilakukan meski dengan banyak catatan minus didalamnya. Namun setidaknya, harapan untuk tidak lagi merepotkan banyak orang, kedepannya bisa dicapai. Sekarang tinggal diUpdate dengan postingan tulisan tentang banyak hal saja.  2. Upload Data Simpeg Melakukan pengiriman berkas pegawai ke sistem online milik BKD rasanya sudah berulang kali dilakukan sejauh ini. Termasuk Simpeg Badung kali ini, yang infonya dilakukan pengulangan pengiriman berkas dengan menyamakan nomenklatur penamaan file. Gak repot sih sebenarnya. Tapi lumayan banyak yang harus dilengkapi lagi. 

Warna Cerah untuk Hidup yang Lebih Indah

Seingat saya dari era remaja kenal baju kaos sampai nganten, isi lemari sekitar 90an persen dipenuhi warna hitam. Apalagi pas jadi Anak Teknik, baju selem sudah jadi keharusan.  Tapi begitu beranjak dewasa -katanya sih masa pra lansia, sudah mulai membuka diri pada warna-warna cerah pada baju atasan, baik model kaos oblong, model berkerah atau kemeja.  Warna paling parah yang dimiliki sejauh ini, antara Peach -mirip pink tapi ada campuran oranye, atau kuning. Warna yang dulu gak bakalan pernah masuk ke lemari baju. Sementara warna merah, lebih banyak digunakan saat mengenal ke-Pandean, nyaruang antara warna parpol atau merahnya Kabupaten Badung.  Selain itu masih ada warna hijau tosca yang belakangan lagi ngetrend, merah marun atau biru navy. Semua warna dicobain, mengingat hidup rasanya terlalu sederhana untuk dipakein baju hitaaaaam melulu.  Harapannya bisa memberikan warna pada hidup yang jauh lebih cerah, secerah senyum istri pas lagi selfie.