Untuk sesaat, sempat ada perasaan sedih sekitar pukul 2 dini hari tadi, melihat Ida Sesuhunan mepunggel -dilepaskan satu persatu pengangge Ida, dari tapel/wajah, prerai/kepala dan lainnya- lalu ditempatkan pada area pererepan dan ditutup rapat bersama sisa perawakannya. Sementara tidak ada yang bisa saya lakukan, karena harus menjaga istri yang sedang trance -kerauhan- sepanjang upacara Mesimpen. Lalu terdiam cukup lama saat menatap kaca dan apa yang ada dibalik itu semua.
Mungkin ini yang namanya perasaan ditinggal pas lagi sayang-sayangnya.
Empat setengah tahun lebih, kalau tidak salah saya hitung secara kasar, dari lima tahun pengabdian kami kelak selaku Kelihan Adat Banjar Tainsiat periode tahun 2022-2027, yang akan berakhir pada bulan Maret tahun depan. Karena selama itu pula, saya selaku Penyarikan -Sekretaris- Kelihan Adat Banjar Tainsiat, selalu berkutat membuat surat tugas ayahan setiap lima belas hari atau beberapa hari setelah Kajeng Kliwon berjalan, untuk mengatur turunnya regu tugas banjar, dan apa saja tugas yang akan dilakukan.
Setiap lima belas hari. Jujur, sampai kerap terbawa mimpi saking rutinnya agenda itu berjalan. Karena di rahina/hari suci Kajeng Kliwon itu, kami warga Banjar Tainsiat secara rutin hadir dihadapan Beliau untuk menghaturkan sembah bakti.
Lima belas hari sekali.
Jadi gak heran jika saat mepamit meninggalkan pura pada pukul tiga lebih, dini hari tadi, ada rasa sepi yang menggelayut di pikiran, karena untuk urusan Ida Sesuhunan, ini kali terakhir saya ngaturang ayahan selaku Penyarikan Kelihan Adat Banjar Tainsiat, sebagaimana penyampaian setahun lalu diatas truk saat melasti ke segara.
Dan saat terjaga dari tidur sekitar pukul sepuluh pagi barusan, dua jam pasca antar anak lomba ke Sesetan pagi tadi, semua rasa itu masih ada, ditambah rasa lelah sekaligus malu, karena semalam tampaknya masih banyak yang belum saya pahami dan kuasai selaku Kelihan Adat Banjar. Utamanya terkait parikrama upacara Mesimpen semalam (ini pengalaman pertama saya terjun langsung), sekaligus dalam upaya penyampaian kepada krama banjar dan semeton -saudara- dari luar wewidangan -wilayah- banjar, terutama para Pemangku Desa Adat Tonja, secara LIVE (ini juga jadi pengalaman pertama saya kebingungan berkata-kata sembari memegang mic dihadapan banyak orang) 🤣
Sungguh satu pengalaman hidup yang luar biasa...

Comments
Post a Comment