Beberapa waktu belakangan, sepertinya saya makin asyik memperhatikan laptop yang ada di pasaran. Bukan karena lagi pengen nyari pengganti laptop lama dengan model yang lebih keren, tapi lebih ke kebutuhan rutinitas saja. Sebuah perangkat kerja, yang bakalan sering digunakan, gak harus cepat, tapi kalau bisa tangguh biar gampang diajak kerja ke mana suka.
Persoalannya sederhana. Sebuah laptop tangguh, tapi kalau bisa jangan sampai harganya pun ikut tangguh. Targetnya, mungkin bisa lebih terjangkau untuk ukuran kantong, di bawah 10 juta.
Di rentang harga ini sebenarnya pilihan yang ada cukup banyak. Ada yang menawarkan prosesor kencang, ada yang mengandalkan layar bagus, ada pula yang menjual kapasitas memori besar. Tapi setelah melihat beberapa pilihan, ASUS ExpertBook P1 tampaknya bisa jadi salah satu yang menarik perhatian. Bukan karena ASUS menawarkan spesifikasi paling tinggi di harga itu, tapi karena pendekatannya yang terasa lebih masuk akal.
ExpertBook P1 kelihatannya memang diarahkan oleh ASUS untuk kebutuhan kerja dan sedikit nyenggol keperluan bisnis rutin keseharian. Harganya sendiri masuk kategori under 10 juta. Kalau gak salah hunting sih, start harga resmi ASUS mulai dari Rp 8.999.000 saja. Ya, kalau digenapkan jadi 9 Juta.
Pertama tentu soal ketangguhan.
ASUS membekali ExpertBook P1 dengan pengujian berstandar militer MIL-STD-810H. Bagi saya, ini bukan sekadar spek yang tertera di brosur. Tapi sebuah laptop kerja yang setiap hari bakalan masuk tas jinjing, dibawa berpindah tempat, kerja diatas di meja, atau pangku kala darurat, dibawa rapat, kemudian masuk tas lagi. Kalau perangkatnya memang dirancang untuk menghadapi rutinitas semacam itu, ya tentu saja menjadi nilai tambah.
Yang kedua adalah bobotnya.
Untuk ukuran layar hingga 14 inci dengan bobot mulai sekitar 1,4 kilogram menurut saya masih cukup ideal. Ya gak berat-berat banget sih macam tablet yang tempo hari kerap saya bawa kemana-mana. Tidak terlampau besar untuk dibawa bepergian, tetapi juga tidak terlalu kecil ketika mau digunakan lama untuk aktifitas pengolahan dokumen.
Ketiga, laptop ini masih memberikan ruang untuk berkembang. Jadi infonya, beberapa konfigurasi ExpertBook P1 sudah mendukung upgrade RAM dan menyediakan opsi penyimpanan tambahan. Ini jadi penting karena sering jadi pertimbangan ketika membeli perangkat termasuk ponsel. Karena kebutuhan storage biasanya bertambah terus seiring hobi foto atau menonton film pun mendengarkan musik. Sementara laptop lain kemungkinan seluruh komponennya sudah baku dan tidak bisa dikembangkan lagi sehingga kapasitas cenderung terasa cepat mentok.
Keempat soal kelengkapan untuk dukungan pekerjaan. Selain konektivitas yang cukup lengkap, ada tambahan sejumlah fitur keamanan khas laptop bisnis. Termasuk fitur AI Meeting yang bisa digunakan saat melakukan perekaman layar untuk kepentingan teleconference menggunakan webcam. Ini semacam Screen Watermark yang bisa menyajikan informasi tertentu seperti nama brand yang kita punya, untuk mencegah pembajakan konten.
Dan terakhir, alasan yang paling sederhana yaitu soal harga. Jadi ketika laptop dengan spesifikasi lebih tinggi bisa dengan mudah melewati budget 10 juta, keberadaan ExpertBook P1 ini tampaknya berada di bawah angka tersebut sehingga cukup menarik untuk dipertimbangkan.
Tapi Gaes, ini ada komprominya juga. Biarpun sudah dirasa cukup untuk pekerjaan kantor, cuma cakupan warnanya masih tergolong standar. Jadi kalau pekerjaan utama kita berkaitan dengan fotografi, desain grafis atau pekerjaan lain yang membutuhkan akurasi warna tinggi, rasanya perlu mencari pilihan lain. Meskipun sudah menggunakan jenis prosesor generasi baru. Mengingat keping grafis terintegrasi biasanya memiliki keterbatasan. Sementara untuk urusan Office, browsing, administrasi, meeting, mengolah dokumen hingga produktivitas rutin lainnya, tentu masih masuk akal.
Berminat memilih ASUS ExpertBook P1 ?
Kalau kebutuhannya adalah laptop kerja yang cukup tangguh, ringan dibawa, masih bisa dikembangkan dan harganya tidak lebih dari 10 juta, saya kira jawabannya ya layak dipertimbangkan. Karena secara logika, kita memang tidak sedang membutuhkan laptop dengan spek yang paling hebat.
Cuma membutuhkan laptop yang bisa diajak kerja setiap hari, tidak merepotkan, dan ketika membayar harganya, dompet kita tidak ikutan kaget lalu malah meminta cuti. 😅
Comments
Post a Comment