Skip to main content

Mencoba konsumsi Arak secara berkala

Sebelum dipromosikan di Dinas Cipta Karya tahun 2013 lalu, bisa dikatakan alkohol hanya pernah saya kenal dan coba pada masa remaja, tepatnya jaman kuliah semester akhir sebagai akibat negatif pergaulan jaman itu. Setelahnya, apalagi pasca menikah, rasanya saya tak pernah menyentuh hal-hal serupa.

Bergulat dengan puluhan dokumen kontrak dan segudang permasalahannya sebagai pejabat pembuat komitmen di kursi eselon IV rasanya bagai mengalami sebuah mimpi buruk. Bagaimana tidak ?
Dari seorang staf teknis yang tak pernah bergaul dengan proses pengadaan lalu meloncat begitu tinggi, dengan ancaman pemeriksaan dua kali setahun oleh para penyidik di luar sana, atas dugaan penyelewengan dana yang tak pernah terpikirkan, dan seiring waktu pasca mengenal orang-orang yang akrab dengan alkohol, saya pun tertular dengan mudahnya. Jack D, Chivas Regal ataupun Johnie Walker menjadi penghuni tambahan di kulkas rumah demi memberikan efek kantuk yang cepat, mencegah gangguan pikiran di malam hari.

Masuk era bebas tugas dari jabatan ppk di tahun 2017, dimana penugasan lebih banyak turun dan survey masyarakat berpenghasilan rendah di banyak desa se-Kabupaten Badung, saya mulai mengenal Tuak sebagai konsumsi rutin setiap weekend, yang bisa didapatkan dengan mudah di desa-desa yang saya hampiri.
Sisi positifnya, kadar gula darah jadi makin terkontrol dengan kombinasi aktifitas rutin olahraga dua tiga hari sekali. Minimal secara gejala sudah tak lagi mengganggu.

Memasuki masa pandemi Covid-19, perlahan saya mulai mengenal jenis alkohol yang belakangan mulai dilegalkan keberadaannya oleh Gubernur Bali, sekaligus berupaya memperkenalkannya ke dunia luar dengan campuran kopi. Ya, Arak.
Arak dalam hal ini Arak Bali adalah salah satu jenis minuman beralkohol tradisional Bali yang diproduksi dari kelapa atau nira dan mengalami fermentasi sekitar 2-3 hari. Kurang lebih begitu informasi yang saya baca.
Berhubung memiliki kadar alkohol yang lebih kuat, mengkonsumsi sedikit saja sudah memberikan efek yang sama dengan konsumsi tuak dalam jumlah banyak. Itu sebabnya saya tak berani mengkonsumsi arak berlebih dalam sekali waktu.

Kalian pernah mencoba salah satunya ?

Comments

Popular posts from this blog

Jodoh di Urutan ke-3 Tanda Pesawat IG

Kata Orangtua Jaman Now, Jodoh kita itu adanya di urutan ke-3 tanda pesawat akun IG.  Masalahnya adalah, yang berada di urutan ke-3 itu bapak-bapak ganteng brewokan berambut gondrong.  Lalu saya harus gimana ?  #jodohurutanketigadipesawat  Mestinya kan di urutan SATU ?

Mewujudkan Agenda Cuti Bersama Lebaran

Tampaknya di Hari terakhir Cuti Bersama Lebaran, sebagian besar rencana yang ingin dilakukan sejak awal liburan sudah bisa terwujud, meski masih ada beberapa agenda lainnya yang belum bisa dijalani.  Satu hal yang patut disyukuri, setidaknya waktu luang jadi bisa dimanfaatkan dengan baik untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan tertunda beberapa waktu lalu.  1. Migrasi Blog Aksi pulang kampung ke laman BlogSpot tampaknya sudah bisa dilakukan meski dengan banyak catatan minus didalamnya. Namun setidaknya, harapan untuk tidak lagi merepotkan banyak orang, kedepannya bisa dicapai. Sekarang tinggal diUpdate dengan postingan tulisan tentang banyak hal saja.  2. Upload Data Simpeg Melakukan pengiriman berkas pegawai ke sistem online milik BKD rasanya sudah berulang kali dilakukan sejauh ini. Termasuk Simpeg Badung kali ini, yang infonya dilakukan pengulangan pengiriman berkas dengan menyamakan nomenklatur penamaan file. Gak repot sih sebenarnya. Tapi lumayan banyak yang harus dilengkapi lagi. 

Warna Cerah untuk Hidup yang Lebih Indah

Seingat saya dari era remaja kenal baju kaos sampai nganten, isi lemari sekitar 90an persen dipenuhi warna hitam. Apalagi pas jadi Anak Teknik, baju selem sudah jadi keharusan.  Tapi begitu beranjak dewasa -katanya sih masa pra lansia, sudah mulai membuka diri pada warna-warna cerah pada baju atasan, baik model kaos oblong, model berkerah atau kemeja.  Warna paling parah yang dimiliki sejauh ini, antara Peach -mirip pink tapi ada campuran oranye, atau kuning. Warna yang dulu gak bakalan pernah masuk ke lemari baju. Sementara warna merah, lebih banyak digunakan saat mengenal ke-Pandean, nyaruang antara warna parpol atau merahnya Kabupaten Badung.  Selain itu masih ada warna hijau tosca yang belakangan lagi ngetrend, merah marun atau biru navy. Semua warna dicobain, mengingat hidup rasanya terlalu sederhana untuk dipakein baju hitaaaaam melulu.  Harapannya bisa memberikan warna pada hidup yang jauh lebih cerah, secerah senyum istri pas lagi selfie.