Skip to main content

Ngalor Ngidul soal Kumuh Kabupaten Badung

Jujur, Saya baru tahu jika 7 Indikator Kritera Permukiman Kumuh sebagaimana diatur dalam Peraturan Kementrian PUPR No.14/PRT/M/2018 tentang Pencegahan dan Peningkatan Kualitas terhadap Perumahan dan Permukiman Kumuh, ada penjabarannya yang lebih mendetail lagi dengan bobot penilaian tertentu.
Hal ini saya temukan pada buku notepad milik Kotaku Badung yang diberikan pada hari Senin kemarin bersama beberapa eksemplar newsletter yang mengangkat tema yang sama.

Bicara soal Permukiman Kumuh biasanya tidak lepas dari persoalan penyebutan istilah sebagai Titik atau Kawasan, yang berpatokan pada luasan minimal tertentu sebelum nantinya ditetapkan sebagai Surat Keputusan oleh Kepala Daerah untuk bisa dilakukan penanganan atau upaya pencegahan agar tak semakin melebar.

Badung adalah satu-satunya wilayah administratif atau kabupaten yang tidak memiliki SK Kawasan Kumuh di Indonesia. Hal ini bisa dimaklumi mengingat setelah didelineasi oleh Tim Kotaku Badung pada tahun 2016 lalu, hanya ditemukan sebanyak 11 titik kumuh di 2 Kecamatan Kuta dan Kuta Utara dengan luasan total hanya sekitar 6 koma sekian hektar saja. Itupun lokasi kekumuhan yang ada dalam pemetaan itu infonya bukan merupakan status lahan negara melainkan kepemilikan lahan perseorangan. Yang secara status lebih banyak dimiliki oleh Puri di seputaran Kota Denpasar, mengingat sebelum pemekaran Kabupaten Badung pada tahun 90an silam, merupakan satu kesatuan wilayah.
Hal ini tentu akan menyulitkan upaya penanganan ataupun peremajaan titik kawasan kumuh oleh Pemerintah, karena manfaat tidak bisa diberikan pada lahan-lahan kumuh dengan status Sewa.

Disamping itu, secara fakta lapangan jika dikaitkan dengan adanya 7 Indikator Kriteria Permukiman Kumuh, bisa dikatakan dalam lingkup Kabupaten Badung ada juga beberapa wilayah lainnya yang secara kasat mata memenuhi kriteria dan bobot penilaian sebagaimana aturan yang ditetapkan. Yang sayangnya berada di luar wilayah 2 Kecamatan sesuai penugasan Kotaku Badung sejak awal. Padahal baik Jimbaran Kuta Selatan maupun Mangupura Mengwi sudah ditetapkan sebagai kawasan perkotaan Kabupaten Badung.
Ini pula yang menjadi salah satu kendala pemanfaatan dana bantuan pusat untuk pencegahan kumuh di Kabupaten Badung. Seperti Dana Alokasi Khusus Infrastruktut yang mensyaratkan adanya penetapan SK Kumuh oleh Kepala Daerah apabila berkeinginan mengajukan dana bantuan ke Kementrian pusat.

Infonya, pimpinan Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kabupaten Badung sedang berancang-ancang memulai pemetaan titik atau kawasan kumuh di area permukiman se-Kabupaten Badung, bersama Tim Kotaku Badung. Hal ini bisa dilihat dari pertemuan terbatas yang dilakukan pagi tadi di ruang rapat Kepala Dinas.
Semoga bisa berjalan lancar.

#KotaKu #Kumuh #TitikKumuh #Kawasan Kumuh

Comments

Popular posts from this blog

Mewujudkan Agenda Cuti Bersama Lebaran

Tampaknya di Hari terakhir Cuti Bersama Lebaran, sebagian besar rencana yang ingin dilakukan sejak awal liburan sudah bisa terwujud, meski masih ada beberapa agenda lainnya yang belum bisa dijalani.  Satu hal yang patut disyukuri, setidaknya waktu luang jadi bisa dimanfaatkan dengan baik untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan tertunda beberapa waktu lalu.  1. Migrasi Blog Aksi pulang kampung ke laman BlogSpot tampaknya sudah bisa dilakukan meski dengan banyak catatan minus didalamnya. Namun setidaknya, harapan untuk tidak lagi merepotkan banyak orang, kedepannya bisa dicapai. Sekarang tinggal diUpdate dengan postingan tulisan tentang banyak hal saja.  2. Upload Data Simpeg Melakukan pengiriman berkas pegawai ke sistem online milik BKD rasanya sudah berulang kali dilakukan sejauh ini. Termasuk Simpeg Badung kali ini, yang infonya dilakukan pengulangan pengiriman berkas dengan menyamakan nomenklatur penamaan file. Gak repot sih sebenarnya. Tapi lumayan banyak yang harus dilengkapi lagi. 

Akhirnya Migrasi Jua, Pulang ke Kampung Blogspot

Gak terasa yang namanya aktifitas menulisi Blog sudah sampai di tahun ke 17. Termasuk ukuran blogger senior kalau kata teman, padahal kalau dilihat dari sisi kualitas tetap saja masuk kelompok junior. Belum pernah menghasilkan tulisan yang keren sejauh ini. Blog bagi saya sudah jadi semacam wadah untuk coli. Ups Maaf kalo mencomot istilah gak baik. Tapi ini seriusan, karena memang digunakan untuk melanjutkan halusinasi tanpa perlu berpikir akan ada yang berkunjung, membaca atau tidak. Setidaknya berguna untuk menjaga pikiran-pikiran negatif agar tidak menjalar keluar mengganggu orang lain, atau melepas lelah dan keluh kesah harian akan segala tekanan bathin di keluarga, kantor maupun sosial masyarakat. Jadi maklumi saja kalau isi blognya gak sesuai ekspektasi kalian. Meski sudah menulis selama 17 tahun, namun laman Blog www.pandebaik.com ini kalau ndak salah baru lahir sekitar tahun 2008. Segera setelah bermasalah dengan media mainstream yang berbarengan dengan tutupnya penyedia hos

Kendala yang ditemui saat Migrasi Blog

Keputusan untuk Migrasi alias pulang kampung ke halaman Blogspot, sebetulnya merupakan satu keputusan yang berat mengingat WordPress sudah jadi pijakan yang mapan untuk ukuran blog yang berusia 17 tahun. Tapi mengingat pemahaman dan kemampuan pribadi akan pengelolaan blog dengan hosting yang teramat minim, sekian kali ditumbangkan oleh script, malware dan lainnya, rasanya malu juga kalau terus-terusan merepotkan orang hanya untuk sebuah blog pribadi yang gak mendatangkan materi apa-apa. Ini diambil, pasca berdiskusi panjang dengan 2-3 rekan yang paham soal proses Migrasi dan apa sisi positif di balik itu semua. Namun demikian, rupanya proses Migrasi yang tempo hari saya coba lakukan dengan hati-hati, tidak semulus harapan atau keinginan yang dibayangkan. Ada beberapa kendala didalamnya yang mana memberikan efek cukup fatal dalam pengarsipan cerita atau postingan blog sebelumnya. Yuk disimak apa saja. 1. Pengurangan jumlah postingan Blog yang cukup signifikan. Postingan Blog www.p