Skip to main content

Menikmati Kemewahan Uber Black

“Ada Harga Tentu Ada Rupa…”

Kurang lebih begitu yang saya rasakan ketika mencoba Uber Black semalam, pulang dari Kementrian PU PERA, menerapkan saran pimpinan yang tidak puas atas pelayanan salah satu Driver UberX sesaat kami tiba di Bandara Cengkareng Rabu malam lalu.
Saran ini dilontarkan ketika usai membaca halaman web resmi Uber, dengan harapan semakin berkelas kendaraannya, biasanya sih baik pengemudi maupun kondisi kendaraannya bisa jauh lebih nyaman.
Masuk Akal…

Fortuner Putih hadir menjemput saya sesaat setelah keluar dari pintu masuk Kementrian PU PERA, pengemudinya bernama Erlangga. Kalo nda salah ingat. Interior kendaraan besutan Toyota ini tampak nyaman dan bersih, meski dipenuhi dengan Gadget dan perlengkapannya. Gaya Anak Muda.
Pembawaannya tenang, dan ketika di sapa, obrolan kami mulai mengalir hangat.

Saya sendiri enggan bertanya tentang hal pribadi yang bersangkutan. Hanya soal Uber, kenapa Uber dipilih, dan bagaimana Uber digunakan.
Ini semacam membaca petunjuk penggunaan yang dibahasakan dengan gaya bicara mudah dipahami, dengan topik yang bisa dipilih secara acak.

Ada banyak hal baru yang kemudian bisa saya ketahui dengan menumpang kendaraan mewah yang mas Erlangga miliki. Utamanya terkait Teknis Uber dari sudut pandang Driver, juga kisi-kisi kecil dari sudut pandang Rider.
Saya sendiri baru tahu bahwa rating bintang yang tersemat pada Driver, yang diberikan oleh Rider, rupanya berlaku pula sebaliknya. Jika semakin rendah rating bintang seorang Driver menandakan kurangnya pelayanan yang ia berikan pada Rider, rendahnya rating bintang seorang Rider bisa jadi merupakan cerminan diri yang mungkin agak cerewet atau bermasalah.
Namun ada kemungkinan pemberian rating bintang pada Rider merupakan aksi balas dendam Driver yang diberi rating bintang terbatas usai perjalanan. Ceritanya ya Balas Dendam.
Hehehe…

Mencoba pemesanan Uber Black sebagai salah satu bentuk harapan pada sebuah kenyamanan, kelihatannya belum mampu dilakukan pesaingnya sendiri yaitu Grab.
Karena pada opsi aplikasi yang saya pantau tadi sore, keknya belum tersedia pilihan Grab Car dengan kelas yang lebih tinggi secara terpisah.
Bisa jadi ya satu keberuntungan saja apabila bisa menemukan Grab Car dengan model menengah ke atas.

Hal serupa juga saya pantau di aplikasi Blue Bird Taksi yang kini sudah merambah pengguna Android. Padahal rasa-rasanya sekitar dua tiga tahun lalu saya masih sempat mencoba Silver Bird pasca tugas dinas, namun kini tak bisa ditemukan di pasar aplikasi milik Google. Padahal model ini adalah pilihan menengah ke atasnya Blue Bird group kalo nda salah.

Balik ke topik, usai merasakan kenyamanan Uber Black dari Kementrian PU PERA ke Harris Tebet melalui Toyota Fortuner Putih milik mas Erlangga, saya hanya dikenai biaya sekitar 107 ribuan saja yang rupanya dibayar lunas oleh Credit yang semalam dikembalikan oleh Uber pasca melaporkan komplain pengemudi yang tak sesuai profil aplikasi dan cara mengemudi yang membahayakan itu.
Ya kaget juga sih.
Rupanya Aplikasi Uber secara default mengatur penggunaan Credit ataupun dana yang tersimpan pada aplikasi sebagai pembayaran perjalanan, yang bisa dinonaktifkan apabila pengguna ingin menyimpannya belakangan.

Bagaimana pendapat kalian ?

Comments

Popular posts from this blog

Jodoh di Urutan ke-3 Tanda Pesawat IG

Kata Orangtua Jaman Now, Jodoh kita itu adanya di urutan ke-3 tanda pesawat akun IG.  Masalahnya adalah, yang berada di urutan ke-3 itu bapak-bapak ganteng brewokan berambut gondrong.  Lalu saya harus gimana ?  #jodohurutanketigadipesawat  Mestinya kan di urutan SATU ?

Mewujudkan Agenda Cuti Bersama Lebaran

Tampaknya di Hari terakhir Cuti Bersama Lebaran, sebagian besar rencana yang ingin dilakukan sejak awal liburan sudah bisa terwujud, meski masih ada beberapa agenda lainnya yang belum bisa dijalani.  Satu hal yang patut disyukuri, setidaknya waktu luang jadi bisa dimanfaatkan dengan baik untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan tertunda beberapa waktu lalu.  1. Migrasi Blog Aksi pulang kampung ke laman BlogSpot tampaknya sudah bisa dilakukan meski dengan banyak catatan minus didalamnya. Namun setidaknya, harapan untuk tidak lagi merepotkan banyak orang, kedepannya bisa dicapai. Sekarang tinggal diUpdate dengan postingan tulisan tentang banyak hal saja.  2. Upload Data Simpeg Melakukan pengiriman berkas pegawai ke sistem online milik BKD rasanya sudah berulang kali dilakukan sejauh ini. Termasuk Simpeg Badung kali ini, yang infonya dilakukan pengulangan pengiriman berkas dengan menyamakan nomenklatur penamaan file. Gak repot sih sebenarnya. Tapi lumayan banyak yang harus dilengkapi lagi. 

Warna Cerah untuk Hidup yang Lebih Indah

Seingat saya dari era remaja kenal baju kaos sampai nganten, isi lemari sekitar 90an persen dipenuhi warna hitam. Apalagi pas jadi Anak Teknik, baju selem sudah jadi keharusan.  Tapi begitu beranjak dewasa -katanya sih masa pra lansia, sudah mulai membuka diri pada warna-warna cerah pada baju atasan, baik model kaos oblong, model berkerah atau kemeja.  Warna paling parah yang dimiliki sejauh ini, antara Peach -mirip pink tapi ada campuran oranye, atau kuning. Warna yang dulu gak bakalan pernah masuk ke lemari baju. Sementara warna merah, lebih banyak digunakan saat mengenal ke-Pandean, nyaruang antara warna parpol atau merahnya Kabupaten Badung.  Selain itu masih ada warna hijau tosca yang belakangan lagi ngetrend, merah marun atau biru navy. Semua warna dicobain, mengingat hidup rasanya terlalu sederhana untuk dipakein baju hitaaaaam melulu.  Harapannya bisa memberikan warna pada hidup yang jauh lebih cerah, secerah senyum istri pas lagi selfie.