Skip to main content

Posts

Welcome Kodak EasyShare C1013

Ada satu syarat mutlak yang harus dipenuhi saat saya diberikan kuasa penuh untuk memilih dan membeli kamera digital baru baik yang nantinya akan dipakai oleh kerabat, rekan kerja ataupun keperluan pribadi. Menggunakan Baterai AA sebagai pasokan daya utama. Mengapa ? Okelah, orang boleh bilang kalo kini jamannya sudah beralih ke penggunaan Baterai Lithium sehingga penampilan fisik sebuah kamera digital tak lagi gendut, malah sering dijadikan jargon penjualan ‘slim and elegant….’. Namun masalah akan muncul saat batere berada di titik sekarat penghabisan sedangkan momen masih banyak yang harus diabadikan. Dalam sekali charge sebuah batere Lithium secara defaultnya diklaim mampu mengambil gambar hingga 400 kali dengan pemakaian standar. Tanpa permainan zoom dan lampu kilat. Tidak juga termasuk dengan mengaktifkan fitur terkini yang dimiliki oleh sebuah kamera. Memang saya akui, sangat jarang orang mengambil gambar hingga ratusan kali dalam sekali event atau kejadian, tidak demikian dengan ...

Menggapai Kamera Digital

Salah satu alasan utama ketika pertama kali memutuskan untuk membeli dan memiliki sendiri sebuah kamera digital adalah ingin mengabadikan foto keluarga sebanyak mungkin, agar kelak saat satu persatu pergi saya tak lagi menyesalinya. Ya, ini memang satu pengalaman pribadi ketika kematian seorang sepupu sebaya di akhir tahun 2003 lalu sangat sulit mencari foto kenangan kami secara bersama, hingga untuk foto yang ditampilkan saat itu pada bade jenazah merupakan foto lima tahun sebelumnya, saat adik saya tersebut masih kurus-kurusnya. Maka tak heran begitu pertama kali saya memiliki sebuah kamera digital, hampir setiap anggota keluarga saya abadikan dalam gambar kamera dalam berbagai pose termasuk pose candid. Hehehe… Ngomongin kamera digital sebetulnya dahulu sebelumnya saya pernah memiliki sebuah kamera web Aiptek berbentuk sebuah kotak pena yang dapat diselipkan di kantong. Saya beli kisaran awal tahun 2001 dengan harga sekitar 700 ribuan. Mahal banget !!! Kemampuannya masih terbatas s...

High School Musical Magz NKOTB

Ingatan saya langsung melayang ke masa lalu saat membuka lembar demi lembar majalah remaja yang membahas khusus tentang sebuah film ‘High School Musical’. Dari kuis seberapa jauh pengetahuan pembaca terhadap film tersebut, cerita, kalender hingga cerita komiknya. Walo terbayang cuma sbentar, sebelum giliran periksa di sebuah praktek dokter senin pagi kmaren, rasanya seperti pernah melihatnya. New Kids On The Block. Ya, lima anak remaja yang tahun 90an lalu sempat booming dikalangan kami anak sekolahan, memiliki sebuah majalah yang kurang lebih memiliki kedok tujuan sama, mendekatkan diri dengan para fans mereka.  Jordan dan Jonathan Knight, Danny, Donny dan Joe Mc sapa tuh namanya ? Saya sendiri kendati ga’pernah mampu untuk membelinya, tapi secara rutin membacanya saat jam istirahat sekolah. Ini karena salah seorang teman kelas rajin membawanya tiap kali edisi terbaru diterbitkan dan bersedia meminjamkannya serta membaca secara bergiliran atw beramai-ramai. Dari majalah tersebut p...

Sebuah Kisah Perjalanan Penyusunan Tesis nan Nyaris berAkhir

Tepatnya pada tanggal 16 September 2008 lalu pukul 11.05 siang, kisah ini dimulai dengan penuh semangat hingga melahirkan dua konsep awal yang nantinya bakalan memegang peranan paling penting dalam sebuah kisah perjalanan penyusunan Tesis “Sistem Informasi Jalan Raya Pemerintah Kabupaten Badung” . Dua konsep tersebut adalah Konsep Pendahuluan dan Konsep Sistem Informasi itu sendiri. Dalam perkembangannya Tesis ini mengalami tiga kali perubahan besar baik ditinjau dari judul yang digunakan maupun jumlah total halaman yang dimiliki. Pada awalnya Tesis ini masih disebut sebagai ‘Konsep’ yang sedianya diselesaikan sebagai syarat mata kuliah ‘Seminar’ pada semester tiga. Saat itu isinya masih banyak yang bolong, bahkan untuk BAB III Konsep dan Kerangka Pikir dari sistem yang dimaksud belum direncanakan sama sekali. Modal nekat saja ngumpulnya. Hehehe… Adapun Judul yang saya gunakan saat itu masih sederhana, “Sistem Informasi Jalan Raya” . Perubahan Tahap Pertama saya lakukan ketika desa...

Si Jago Merah Yang Mengancam

Menonton Film Indonesia adalah salah satu pengisi waktu disaat saya menunggu jadwal ujian yang tak kunjung pasti beberapa waktu lalu. Meski bukan termasuk daftar film favorit yang wajib tonton namun apa yang saya inginkan minimal alur ceritanya mudah dimengerti dan ga berbau pasaran. Maksud dari bau pasaran itu ya film lokal yang bergenre Horor ataupun yang berbau seks murahan. Maka jadilah saya memilih dua film berbeda genre, satunya komedi satunya lagi agak-agak seriuslah… Film “Si Jago Merah” menjadi prioritas pertama saya. Rasa penasaran dan kangen dengan aksi si Agus Ringgo saat bermain di “Jomblo” tak mampu terobati pada film yang ia lakoni sebelumnya “Maaf Saya Menghamili Istri Anda”. Sebuah film lokal dengan genre komedi bisa dikatakan sangat jarang membuat saya tertawa, paling banter ya senyum dikulum, itupun gak sering atw sepanjang film berlangsung. Menyimak alur cerita selama dua puluh menit pertama rupanya agak membuat saya enegh dan bisa menebak sisa kelanjutannya. Apa ya...

Ketawa ngakak bersama Detroit Metal City

Ada beberapa cara yang saya lakoni untuk melemaskan urat syaraf dan pikiran pra ujian baik tahap kelayakan Tesis maupun tahap Tesis terakhir kmaren. Salah satunya adalah menonton film. Kalo pada hari-hari biasa, film yang saya tonton itu lebih banyak bertema serius ato malah yang cenderung memunculkan libido hehehe… kali ini saya mencoba film yang bertema ringan. Kebetulan tempo hari nemu satu film besutan Jepang di Warnet Suli yang adegan awalnya saya rasa ga’terlalu berat untuk dicerna… Detroit Metal City. Sumpah… Saya ga’tau kalo film ini malahan bertema komedi. Jauh dari pikiran saya yang menyangka kalo film ini merupakan cerita pendek layaknya film-film remaja Korea. Yang ada malahan saya ketawa ngakak dan akhirnya berubah jadi cekikikan setelah ditegur Istri, itu setelah si kecil MiRah nangis terkejut akibat ketawa lepas saya tempo hari. Beneran kok, gila banget ni film… Ceritanya berkisah tentang seorang remaja Jepang pedesaan bernama Negishi yang merantau ke kota melanjutkan se...

7 Langkah Persiapan menuju Penyusunan Tesis

Bagi sebagian besar mahasiswa Pasca Sarjana di angkatan saya bisa dikatakan Tesis merupakan momok paling memberatkan ketimbang tugas-tugas kuliah pada semester sebelumnya. Hal ini saya katakan demikian karena hingga batas akhir semester keempat kemarin, hanya 3 (tiga) orang saja yang mampu lolos dari 28 (dua puluh delapan) orang mahasiswa yang terdaftar dalam satu angkatan. Kenapa sangat memberatkan, mengingat waktu yang dimiliki oleh setiap mahasiswa setiap harinya ga’cukup diprioritaskan hanya untuk memikirkan Tesis saja. Bagi yang memiliki pekerjaan utama, ya harus tetap konsisten pada pekerjaannya agar dapur tetap ngebul dan ada biaya spp untuk kuliah semesteran berikutnya. Bagi yang sudah berkeluarga tentu saja memerlukan waktu luang untuk bisa menjalani kehidupan berkeluarga yang baik. Kondisi ini sangat jauh berbeda dibandingkan dengan saat penyusunan Skripsi, dimana rata-rata yang bersangkutan berada dalam posisi lajang, masih merupakan tanggungan kedua ortunya  apalagi kal...