Setiap kali pemilu atau pilkada datang, ada satu hal yang selalu terpikirkan di kepala ketika menjalankan keseharian sebagai seorang ASN.
Netralitas.
Bukan soal boleh atau tidaknya memilih, karena sebagai warga negara Indonesia, seorang ASN tetap punya hak untuk datang ke TPS, mencoblos pilihan yang diyakininya, lalu pulang seperti warga negara lainnya. Tapi yang agak rumit itu, justru ketika pilihan yang disukai sudah mulai masuk ke ranah media sosial.
Mau like, takut. Mau komentar, ragu. Mau membagikan postingan berita calon yang disukai, harus mikir dulu. Apalagi mau fotoan bersama teman yang kebetulan menjadi tim sukses, mulai bertanya-tanya dalam hati deh 😅 Ini nanti aman gak ya ?
Karena di satu sisi, saya pribadi adalah manusia biasa. Punya pilihan. Punya keyakinan. Punya calon yang menurut saya paling bagus. Paling worthed lah dibanding calon yang lain. Cuma di sisi lain, saya juga seorang ASN.
Dan begitu menyandang status itu, ada batas-batas yang memang harus dijaga. Semua ada peraturannya. ASN gak boleh terlibat politik praktis. ASN harus netral. Tidak ikut berkampanye. Tidak menjadi bagian dari dukung-mendukung pasangan calon. Hal-hal begini, selalu ditekankan oleh banyak orang termasuk beberapa senior saya di luar sana, saat mendapati komentar saya di salah satu berita media lokal, laman timeline sosial media. Duh 😅
Sampai di sini sebenarnya sederhana.
Masalahnya baru bakalan terasa ketika kita melihat kenyataan atau fakta lapangan, setelah pesta politik itu usai.
Karena yang namanya netralitas ternyata gak sesederhana definisinya.
Kita bisa saja gak pernah pasang foto calon. Gak pernah ikutan kampanye. Gak pernah post cerita atau berita di media sosial. Dan juga gak pernah membagikan atribut politik. Pokoknya bersih. Netral.
Tetapi setelah kepala daerah baru dilantik, lalu mulai dilakukan penataan organisasi, mutasi dan promosi, baru muncul pertanyaan lain. Siapa nih yang dapat jatah atau giliran ?
Disinilah cerita yang dikabarkan jadi sedikit berbeda.
Dalam kehidupan sosial yang ideal, tentu jawabannya mudah.
Yang berprestasi, punya kompetensi, mampu bekerja baik, integritasnya jelas, dan memenuhi sistem merit. Selesai.
Tapi apakah selalu begitu fakta lapangannya Kawan ?
Entah 😅
Kadang kala kita sempat mendengarkan cerita tentang seseorang yang tiba-tiba mendapat posisi bagus karena dianggap dekat dengan penguasa baru. Ada juga yang mendadak bergeser karena dianggap bukan bagian dari circle. Bahkan bukan karena dia gak bisa bekerja. Bukan juga karena melanggar aturan.
Hanya karena pilihan politiknya pada masa kemarin dianggap berbeda.
Dan bagi ASN, perbedaan ini bisa terasa sampai ke meja kerja. Iya apa Iya ? 🙂
Ada yang kariernya jalan di tempat. Ada yang tidak masuk hitungan padahal jabatan di sekitarnya kosong semua. Ada yang dipindahkan ke kaki langit.
Hanya karena dianggap salah berdiri. Salah menempatkan kaki.
Ironisnya, ketika ASN mencoba bermain aman dengan benar-benar Netral, sebagaimana anjuran banyak orang, persoalannya juga belum tentu selesai.
Sebab ada anggapan bahwa seorang pejabat harus menunjukkan loyalitas kepada pemimpin.
Loyalitas tentu penting. Tetapi loyalitas kepada institusi mestinya berbeda dengan kesetiaan kepada figur.
Dan disinilah batasannya yang kadang jadi kabur.
ASN akhirnya bukan hanya dituntut pintar bekerja, tetapi juga harus pandai membaca arah angin.
Bukan hanya sebatas harus mampu memahami aturan di bidang tempatnya bekeeja, tetapi juga memahami siapa yang sedang berkuasa.
Bukan hanya kewajiban memiliki kompetensi, tetapi harus tahu mau berdiri di sebelah mana.
Padahal mestinya gak begitu.
Karier seorang ASN seharusnya tidak ditentukan oleh warna politik yang dipilihnya. Sebab yang namanya pilihan di TPS adalah hak sebagai warga negara. Ini jamannya sudah beda harusnya. Bukan lagi masa lalu dimana soal pilihan sudah ditentukan sejak awal.
Sementara bekerja secara profesional sebagai ASN adalah kewajiban.
Dua hal itu yang mestinya bisa berjalan beriringan tanpa harus saling menghukum.
Saya sendiri bahkan pernah berpikir begini.
Karier ASN itu seharusnya ditentukan oleh garis tangan. Minimal dari usaha dan kerja keras sebagaimana yang selama ini ditanamkan oleh para orangtua pada anaknya. Tapi kenyataan kadang membuat orang bercanda bahwa karier bisa ditentukan oleh buah tangan, campur tangan dan tanda tangan.
Buah tangan, kalau ada sesuatu yang dibawa.
Campur tangan, kalau ada saudara, ipar atau kedekatan tertentu entah berasal dari pertemanan atau bisa jadi lebihbdari itu.
Dan tanda tangan, dimana akhirnya semua bergantung pada persetujuan pimpinan atas dua dasar tadi.
Tentu saja bukan berarti semua ASN seperti itu ya. Tapi ada.
Masih banyak orang yang bekerja lurus, pulang dengan lelah, menerima gaji sesuai aturan, atau menjalankan tugas tanpa pernah memikirkan siapa yang akan menang dalam pilkada.
Kami bahkan terkadang masih percaya bahwa pekerjaan yang baik akan menemukan jalannya sendiri. Mudah-mudahan memang begitu.
Karena kalau sampai seorang ASN harus memilih antara menjadi warga negara yang baik dan memiliki hak politik, dengan menjadi pegawai yang harus menjaga netralitas, lalu pilihan politik pribadi itu kelak digunakan untuk menentukan nasib kariernya, bukankah kita sedang menciptakan persoalan yang jauh lebih besar ?
ASN diminta netral ketika pilkada. Maka setelah pilkada, seharusnya netralitas itu juga dihormati.
Jangan sampai seseorang dihukum karena memilih untuk tidak berpihak.
Jangan pula seseorang diistimewakan hanya karena pernah berdiri paling depan ketika kampanye.
Sebab pada akhirnya, ketika pemilu dan pilkada sudah usai, janji-janji kampanye perlahan dilupakan, yang tersisa adalah kantor dan meja kerja. Serta masyarakat yang harus dilayani.
Dan semua ASN seyogyanya tetap harus bekerja untuk siapa pun yang menjadi pemimpinnya kelak. Mungkin itulah bentuk netralitas yang sebenarnya.
Bukan hanya meminta ASN untuk tidak berpihak ketika memilih, tapi juga seharusnya bisa memastikan bahwa setelah riuhnya politik usai, tidak ada ASN yang dihukum karena netral, dan tidak ada pula yang diberikan hadiah hanya karena berpihak.
Kalau itu beneran bisa terjadi, barangkali ASN sudah gak perlu lagi pusing memikirkan bagaimana caranya menjadi netral. Cukup bekerja dan melayani. Lalu pulang dengan lelah membawa perasaan dan keyakinan, bahwa kariernya memang dibangun dari apa yang dikerjakannya selama ini.
Bukan dari siapa yang dikenalnya.
Bukan dari siapa yang didukungnya.
Bukan pula dari warna apa yang pernah dipilihnya di bilik suara

Comments
Post a Comment