Skip to main content

ASN Menulis 2026 : Netral di Tengah Sebuah Pilihan. Masih bisa Dipercaya ?

Setiap kali pemilu atau pilkada datang, ada satu hal yang selalu terpikirkan di kepala ketika menjalankan keseharian sebagai seorang ASN. 

Netralitas. 

Bukan soal boleh atau tidaknya memilih, karena sebagai warga negara Indonesia, seorang ASN tetap punya hak untuk datang ke TPS, mencoblos pilihan yang diyakininya, lalu pulang seperti warga negara lainnya. Tapi yang agak rumit itu, justru ketika pilihan yang disukai sudah mulai masuk ke ranah media sosial.

Mau like, takut. Mau komentar, ragu. Mau membagikan postingan berita calon yang disukai, harus mikir dulu. Apalagi mau fotoan bersama teman yang kebetulan menjadi tim sukses, mulai bertanya-tanya dalam hati deh 😅 Ini nanti aman gak ya ?

Karena di satu sisi, saya pribadi adalah manusia biasa. Punya pilihan. Punya keyakinan. Punya calon yang menurut saya paling bagus. Paling worthed lah dibanding calon yang lain. Cuma di sisi lain, saya juga seorang ASN.

Dan begitu menyandang status itu, ada batas-batas yang memang harus dijaga. Semua ada peraturannya. ASN gak boleh terlibat politik praktis. ASN harus netral. Tidak ikut berkampanye. Tidak menjadi bagian dari dukung-mendukung pasangan calon. Hal-hal begini, selalu ditekankan oleh banyak orang termasuk beberapa senior saya di luar sana, saat mendapati komentar saya di salah satu berita media lokal, laman timeline sosial media. Duh 😅

Sampai di sini sebenarnya sederhana.

Masalahnya baru bakalan terasa ketika kita melihat kenyataan atau fakta lapangan, setelah pesta politik itu usai.

Karena yang namanya netralitas ternyata gak sesederhana definisinya.

Kita bisa saja gak pernah pasang foto calon. Gak pernah ikutan kampanye. Gak pernah post cerita atau berita di media sosial. Dan juga gak pernah membagikan atribut politik. Pokoknya bersih. Netral.

Tetapi setelah kepala daerah baru dilantik, lalu mulai dilakukan penataan organisasi, mutasi dan promosi, baru muncul pertanyaan lain. Siapa nih yang dapat jatah atau giliran ? 

Disinilah cerita yang dikabarkan jadi sedikit berbeda.

Dalam kehidupan sosial yang ideal, tentu jawabannya mudah.

Yang berprestasi, punya kompetensi, mampu bekerja baik, integritasnya jelas, dan memenuhi sistem merit. Selesai.

Tapi apakah selalu begitu fakta lapangannya Kawan ?

Entah 😅

Kadang kala kita sempat mendengarkan cerita tentang seseorang yang tiba-tiba mendapat posisi bagus karena dianggap dekat dengan penguasa baru. Ada juga yang mendadak bergeser karena dianggap bukan bagian dari circle. Bahkan bukan karena dia gak bisa bekerja. Bukan juga karena melanggar aturan.

Hanya karena pilihan politiknya pada masa kemarin dianggap berbeda.

Dan bagi ASN, perbedaan ini bisa terasa sampai ke meja kerja. Iya apa Iya ? 🙂

Ada yang kariernya jalan di tempat. Ada yang tidak masuk hitungan padahal jabatan di sekitarnya kosong semua. Ada yang dipindahkan ke kaki langit. 

Hanya karena dianggap salah berdiri. Salah menempatkan kaki. 

Ironisnya, ketika ASN mencoba bermain aman dengan benar-benar Netral, sebagaimana anjuran banyak orang, persoalannya juga belum tentu selesai.

Sebab ada anggapan bahwa seorang pejabat harus menunjukkan loyalitas kepada pemimpin.

Loyalitas tentu penting. Tetapi loyalitas kepada institusi mestinya berbeda dengan kesetiaan kepada figur.

Dan disinilah batasannya yang kadang jadi kabur.

ASN akhirnya bukan hanya dituntut pintar bekerja, tetapi juga harus pandai membaca arah angin.

Bukan hanya sebatas harus mampu memahami aturan di bidang tempatnya bekeeja, tetapi juga memahami siapa yang sedang berkuasa.

Bukan hanya kewajiban memiliki kompetensi, tetapi harus tahu mau berdiri di sebelah mana.

Padahal mestinya gak begitu.

Karier seorang ASN seharusnya tidak ditentukan oleh warna politik yang dipilihnya. Sebab yang namanya pilihan di TPS adalah hak sebagai warga negara. Ini jamannya sudah beda harusnya. Bukan lagi masa lalu dimana soal pilihan sudah ditentukan sejak awal. 

Sementara bekerja secara profesional sebagai ASN adalah kewajiban.

Dua hal itu yang mestinya bisa berjalan beriringan tanpa harus saling menghukum.

Saya sendiri bahkan pernah berpikir begini.

Karier ASN itu seharusnya ditentukan oleh garis tangan. Minimal dari usaha dan kerja keras sebagaimana yang selama ini ditanamkan oleh para orangtua pada anaknya. Tapi kenyataan kadang membuat orang bercanda bahwa karier bisa ditentukan oleh buah tangan, campur tangan dan tanda tangan.

Buah tangan, kalau ada sesuatu yang dibawa.

Campur tangan, kalau ada saudara, ipar atau kedekatan tertentu entah berasal dari pertemanan atau bisa jadi lebihbdari itu.

Dan tanda tangan, dimana akhirnya semua bergantung pada persetujuan pimpinan atas dua dasar tadi.

Tentu saja bukan berarti semua ASN seperti itu ya. Tapi ada. 

Masih banyak orang yang bekerja lurus, pulang dengan lelah, menerima gaji sesuai aturan, atau menjalankan tugas tanpa pernah memikirkan siapa yang akan menang dalam pilkada.

Kami bahkan terkadang masih percaya bahwa pekerjaan yang baik akan menemukan jalannya sendiri. Mudah-mudahan memang begitu.

Karena kalau sampai seorang ASN harus memilih antara menjadi warga negara yang baik dan memiliki hak politik, dengan menjadi pegawai yang harus menjaga netralitas, lalu pilihan politik pribadi itu kelak digunakan untuk menentukan nasib kariernya, bukankah kita sedang menciptakan persoalan yang jauh lebih besar ?

ASN diminta netral ketika pilkada. Maka setelah pilkada, seharusnya netralitas itu juga dihormati.

Jangan sampai seseorang dihukum karena memilih untuk tidak berpihak.

Jangan pula seseorang diistimewakan hanya karena pernah berdiri paling depan ketika kampanye.

Sebab pada akhirnya, ketika pemilu dan pilkada sudah usai, janji-janji kampanye perlahan dilupakan, yang tersisa adalah kantor dan meja kerja. Serta masyarakat yang harus dilayani.

Dan semua ASN seyogyanya tetap harus bekerja untuk siapa pun yang menjadi pemimpinnya kelak. Mungkin itulah bentuk netralitas yang sebenarnya.

Bukan hanya meminta ASN untuk tidak berpihak ketika memilih, tapi juga seharusnya bisa memastikan bahwa setelah riuhnya politik usai, tidak ada ASN yang dihukum karena netral, dan tidak ada pula yang diberikan hadiah hanya karena berpihak.

Kalau itu beneran bisa terjadi, barangkali ASN sudah gak perlu lagi pusing memikirkan bagaimana caranya menjadi netral. Cukup bekerja dan melayani. Lalu pulang dengan lelah membawa perasaan dan keyakinan, bahwa kariernya memang dibangun dari apa yang dikerjakannya selama ini.

Bukan dari siapa yang dikenalnya.

Bukan dari siapa yang didukungnya.

Bukan pula dari warna apa yang pernah dipilihnya di bilik suara

Comments

Postingan Lain

Jodoh di Urutan ke-3 Tanda Pesawat IG

Kata Orangtua Jaman Now, Jodoh kita itu adanya di urutan ke-3 tanda pesawat akun IG.  Masalahnya adalah, yang berada di urutan ke-3 itu bapak-bapak ganteng brewokan berambut gondrong.  Lalu saya harus gimana ?  #jodohurutanketigadipesawat  Mestinya kan di urutan SATU ?

PimPro, Apaan sih Itu ?

PimPro Kalian yang sudah masuk dunia kerja, utamanya yang bergerak di bidang konstruksi, saya yakin pasti pernah dengar istilah Pimpro. Baik yang berkonotasi Negatif ataupun Positif. Demikian halnya saya. Pertama kali mendengar istilah PimPro kalo ndak salah ya pas baru-baru jadi Pe eN eS. Yang saat diceritakan oleh pimpinan saat itu, apa tugas, kewenangan dan kekuasaan yang dimiliki oleh seorang Pimpro, Bagi saya pribadi sih lebih banyak Negatifnya. Ini jika dilihat dari kaca mata kebenaran. Bukan pembenaran. Image besarnya Power seorang Pimpro makin dikuatkan saat saya mengobrol ngalor ngidul bersama seorang pejabat fungsional di tingkat Provinsi saat berkesempatan menginap sekamar *bukan seranjang ya* sewaktu ditugaskan ke Indonesia Timur berkaitan dengan pemanfaatan dana ABPN dua tahun lalu. Dari ceritanya, ya memang benar bahwa seorang PimPro apalagi di era Pak Harto menjabat dulu sebagai Presiden RI ke-2, punya kekuatan besar yang begitu memanjakan hidup dan keseharian yang bersa...

Pengetahuan kecil tentang soroh PANDE

Sekali-sekali saya selaku penulis seluruh isi blog ini pengen juga ber-Narzis-ria, satu hal yang jarang saya lakukan belakangan ini, sejak dikritik oleh seorang rekan kantor yang kini jadi malas berkunjung lantaran Narzis tadi itu.  Tentu saja postingan ini bakalan berlanjut ke posting berikutnya yang isinya jauh lebih Narzis. Mohon untuk dimaklumi. *** PANDE merupakan salah satu dari empat soroh yang terangkum dalam Catur Lawa (empat daun teratai) Pasek, Pande, Penyarikan dan Dukuh- yang memiliki keahlian dalam urusan Teknologi dan Persenjataan. Ini bisa dilihat eksistensi pura masing-masing di Besakih, yang memiliki tugas dan fungsi yang berbeda-beda dalam berbagai kegiatan Ritual dan Spiritual. Dimana Pura Pasek menyediakan dan menata berbagai keperluan upakara, Pura Pande menata segala peralatannya. Pura Penyarikan menata segala kebutuhan tata usaha administrasi agar segala sesuatu berjalan dengan teratur. Sedangkan Pura Dukuh Sakti sebagai penata berbagai keperluan sandang pan...

Menantu Mertua dan Calon Mertua

Menonton kembali film lama Meet the Parents (2000) yang dibintangi oleh Ben Stiler dan Robert De Niro, mengingatkan saya betapa terjalnya perjalanan seorang calon menantu untuk mendapatkan kepercayaan sang calon mertua, atas putri kesayangan mereka yang kelak akan diambil menjadi seorang istri dan pendamping hidup. Meski ‘kekejaman’ yang ditunjukkan oleh sang calon mertua dalam film tersebut *sosok bapak* jauh lebih parah dari yang saya alami, namun kelihatannya cepat atau lambat, akan saya lakoni pula nantinya. Memiliki tiga putri yang salah satunya sudah masuk usia remaja, adalah saat-saat dimana kami khususnya saya sudah sewajarnya masuk dalam tahapan belajar menjadi seorang kawan bagi putri sulung saya satu ini. Mengingat ia kini sudah banyak bertanya perihal masa lalu yang saya miliki, baik soal pendidikan atau sekolah, pergaulan dan hobi. Memang sih untuk urusan pacar, ia masih menolak berbicara lebih jauh karena berusaha tak memikirkannya, namun sebagai seorang Bapak,...

Mewujudkan Agenda Cuti Bersama Lebaran

Tampaknya di Hari terakhir Cuti Bersama Lebaran, sebagian besar rencana yang ingin dilakukan sejak awal liburan sudah bisa terwujud, meski masih ada beberapa agenda lainnya yang belum bisa dijalani.  Satu hal yang patut disyukuri, setidaknya waktu luang jadi bisa dimanfaatkan dengan baik untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan tertunda beberapa waktu lalu.  1. Migrasi Blog Aksi pulang kampung ke laman BlogSpot tampaknya sudah bisa dilakukan meski dengan banyak catatan minus didalamnya. Namun setidaknya, harapan untuk tidak lagi merepotkan banyak orang, kedepannya bisa dicapai. Sekarang tinggal diUpdate dengan postingan tulisan tentang banyak hal saja.  2. Upload Data Simpeg Melakukan pengiriman berkas pegawai ke sistem online milik BKD rasanya sudah berulang kali dilakukan sejauh ini. Termasuk Simpeg Badung kali ini, yang infonya dilakukan pengulangan pengiriman berkas dengan menyamakan nomenklatur penamaan file. Gak repot sih sebenarnya. Tapi lumayan banyak yang harus dil...