Sesaat setelah saya tiba di Agung Toyota Cokroaminoto untuk pemasangan karet seal kaca depan kendaraan, mumpung ijin kerja sejak pagi jadi sekalian saja digunakan untuk menyelesaikan beberapa urusan biar gak mengajukan ijin kantor lagi, sekitar pukul 2 siang saya melakukan publikasi postingan di akun FaceBook perihal pengalaman melawat ke empat bank seputaran Kota Denpasar dan Badung untuk mengurus pembukaan isu blokir rekening yang dilakukan kepala PPATK beberapa saat lalu. Lantaran sempat viral dan lumayan membuat khawatir kedua orangtua, yang harus diakui bahwa selama setahun terakhir pasca bapak terkena stroke ringan dan demensia, akifitas transaksi mereka tidak lagi dilakukan alias dormant.
Setengah jam kemudian, saya dikontak seorang kawan lama yang meminta ijin share nomor kontak saya ke orang BNI yang sempat ia mention di kolom komentar postingan tersebut. Dengan harapan mungkin bisa mempermudah proses pembukaan blokir sebagaimana keluhan dalam tulisan tersebut. Lalu whatsapp berdering, suara seorang wanita menyapa, memperkenalkan diri dan memohon maaf karena terjadi miskomunikasi dari pihak bank atas keluhan yang saya sampaikan. Lalu meminta share nomor rekening bapak untuk ditelusuri.
Pasca di share, info yang saya dapatkan saat itu adalah memang benar rekening BNI milik Bapak dinyatakan Dormant. Dan untuk membuka rekening itu kembali, dibutuhkan kehadiran Bapak ke Bank BNI secara langsung, tidak boleh diwakilkan.
Opsi yang diberikan jadi sedikit melunak saat saya membagikan foto serta video pribadi milik Bapak yang menampakkan beliau dalam posisi sakit pasca stroke. Infonya Bapak tetap harus dihadirkan meski diminta stay di kendaraan selama proses pembukaan rekening dormant berlangsung. Itu artinya saya harus meluangkan waktu seharian lagi permisi dari jam kerja untuk mengantar Bapak ke Bank BNI, dan mengurus pembukaan blokir rekening, menggunakan kendaraan roda empat karena tidak mungkin membawa sepeda motor dalam posisi ini, dan Istri juga harus meluangkan waktu meminta ijin kerja untuk handel anak sekolah karena masih ada si bungsu yang harus bersekolah siang.
Ribit Bingit.
dan sebelum mengakhiri pembicaraan lewat telepon whatsapp, saya diminta menghapus postingan di Facebook, karena tampaknya mention kawan lama di kolom komentar itu menyinggung salah satu petinggi BNI, sehingga si ibu kurang berkenan apabila nantinya kena teguran terkait itu.
Well, setelah memikirkan posisi saya selaku penulis dan pemilik postingan, serta informasi yang sudah diperlunak meski tetap ribet dari sisi nasabah, post FaceBook itu saya hapus dari timeline, meski harus agak mendongkol karena tidak ada opsi yang bisa dilakukan tanpa menghadirkan Bapak di Bank BNI. Ketimbang muncul potensi tuntutan hukum di lain hari.
Sore usai pulang kantor, saya teringat punya seorang famili yang dulu bekerja di BNI. Setelah meminta nomor kontak dan menghubungi yang bersangkutan, ternyata hanya suaminya saja yang masih tetap stay, sementara famili saya ini memilih berhenti. Mungkin ada kaitan gak boleh satu atap bagi pasangan suami istri. Pasca melakukan kontak dan menjelaskan situasinya, suami famili saya ini lalu melakukan penelusuran lebih lanjut, dan memberikan saya opsi yang lebih baik. Kunjungan ke rumah oleh tim lapangan BNI yang jadwalnya masih belum bisa ditentukan. Paling cepat perkiraannya pagi esoknya, yaitu Jumat. Cuma belum ada kepastian.
Mengingat Jumat masih merupakan hari kerja, yang notabene harusnya kami sudah berada di kantor pukul 06.00 wita, namun sampai pukul 08.00 belum jua ada kabar dari BNI, saya memilih untuk langsung meluncur ke BNI Gajah Mada bersama orangtua, sementara Istri memutuskan mengambil cuti juga untuk handel si bungsu. Ketimbang mubazir ambil cuti tapi pihak BNI gak datang berkunjung.
Kami tiba pukul 08.15 wita di kantor Bank BNI Gajah Mada, yang pasca memarkirkan kendaraan dekat pintu masih, kami dihentikan bapak satpam karena area pelayanan belum dibuka untuk nasabah. Masih penataran pagi bagi para pegawai.
Ketika kemudian kami diijinkan masuk ke area lift, sayang banget area kantor Bank BNI Gajah Mada belum ramah kursi roda. Jadi berhubung tidak ada jalur ramp, kursi roda kami naikkan, sementara Bapak perlahan dipapah naik tangga menuju area depan lift.
Setelah mengambil nomor antrean Teller, kami kembali diinformasikan bahwa rekening Bapak dalam posisi dormant atau diblokir. Bisa dibuka dengan melakukan penyetoran uang tunai sebesar minimal 100ribu namun harus melalui meja Customer Service. Oke, kami ikuti aturannya.
Sesaat sebelum kami dipanggil antrean CS, saya sempat mengambil gambar Bapak di depan Teller dan mengirimkannya pada suami famili, dan ibu dari BNI yang menghubungi kami hari kamis kemarin. Dan menginformasikan bahwa kami sudah berada di BNI Gajah Mada.
Sesaat setelahnya, saya dihubungi bli W, suami famili kami untuk memastikan posisi saya. Dan meminta maaf karena tim belum bisa merapat ke rumah. Dan segera setelahnya, ada bapak-bapak yang turun ke area tunggu menyapa kami. Meminta menunggu sebentar dan membawa saya ke meja CS.
Proses pembukaan rekening dormant pun dimulai, tanpa melibatkan Bapak sama sekali. Semua serba cepat. Termasuk urusan rekening dollar milik Bapak yang saya tanyakan kok bisa ada potongan sebesar $ 1084 pada buku rekeningnya. Yang diinformasikan merupakan kesalahan pemotongan administrasi yang seharusnya hanya sebesar $ 1 koma sekian. Yang mana pemotongan uang tersebut terpantau sudah dikembalikan berdasarkan print out rekening koran.
Tapi proses pembukaan rekening Bapak yang tadinya dikatakan dormant dan mbak Teller mengatakan saya harus melakukan pengajuan pembukaan rekening kepada PPATK serta membutuhkan waktu beberapa hari untuk mendapatkan proses persetujuan dari pusat, bisa diselesaikan hanya dalam beberapa menit saja.
dan di akhir pertemuan, saya masih mendapatkan souvenir dari Bank BNI sebagai tanda permohonan maaf mereka atas kejadian dua hari ini.
Apa ada kaitannya dengan telepon dari bli W tadi ?
Entah ya...
Comments
Post a Comment