Semua berawal dari potongan film yang lewat di beranda timeline FaceBook. Jika menarik, biasanya akan berlanjut pada hunting judul pada kolom komentar. Meski kadang suka beruntung, beberapa konten kreator langsung mencantumkan title pada gambar ataupun caption. Lalu mengaktifkan jaringan wi-fi, membuka aplikasi ilegal yang tak akan pernah kalian temukan di Pasar Aplikasi resmi ponsel, mengarahkannya ke situs penyedia film gratisan -bukan LK21 loh Gaez- melakukan searching title dilengkapi tambahan teks -sub indo- biar gak kebingungan pas nonton artinya apa. Dan jika beruntung lagi, bakalan menemukan apa yang diinginkan lalu mengunduhnya.
Karena pada dasarnya kita sebagai bagian dari netijen +62 merupakan kaum yang mencintai pembajakan.
Pengunduhan biasanya memilih resolusi terendah 360p karena sudah cukup bisa dinikmati di layar ponsel. Satu kebiasaan yang diambil karena sudah gak mungkin dilakukan dengan main ke bioskop dan menantikan film itu ditayangkan, mengingat tahun rilis sudah terlampau lawas. Selain itu, size yang tersimpan juga gak bakalan menuh-menuhin internal storage 256 GB, yang masih bisa diimbangi tambahan eksternal berukuran sama. Maka itu gak heran kalau dalam penyimpanan ponsel ada puluhan film yang sudah maupun belum sempat ditonton pasca pengunduhan.
Kadang sampai kebingungan, ini film ceritanya soal apa. Karena kelupaan saking banyaknya.
Ini hanya untuk konsumsi pribadi. Gak untuk dijual, atau dinikmati secara komersial. Tahu sih ini hal yang salah. Tapi ketimbang penasaran hanya gegara potongan film yang begitu menarik, tapi gak dilanjutin oleh si konten kreator adegan berikutnya.
Dan seandainya dari sisi cerita, mengena isi hati dari berbagai cara, biasanya file mp4 ini bakalan tetap disimpan dan diputar berulang kali tanpa pernah merasa bosan.
Kelak bakalan pernah memberikan semangat baru saat mood lagi rendah, atau galau berkepanjangan...
Comments
Post a Comment