Mengagumi Buku Tahunan SMAN 7 Denpasar yang diberikan untuk setiap siswa-siswi saat kelulusan kemarin, mengingatkan saya pada buku Sewindu milik sekolahan kami era putih abu, yang diterbitkan tahun 1994, setahun sebelum kelulusan kami dahulu. Jadi sempat-sempat bertanya-tanya, itu buku merupakan perayaan Sewindu-nya SMAN 6 Denpasar atau Buku Angkatan kami ? Mengingat sebagian besar foto-foto yang ada di dalamnya mengcapture wajah-wajah angkatan kami saat itu.
Kalau ndak salah itu Buku Sewindu-nya SMAN 6 Denpasar, kata seorang kawan di grup whatsapp alumni angkatan. Fotonya kebanyakan angkatan kami, kemungkinan besar karena di era itu cukup sulit mencari foto tahun-tahun sebelumnya, karena sedikitnya yang mampu melakukan cetak foto secara berkala berhubung lumayan mahal untuk era itu. Bisa juga karena media foto yang ada jaman itu masih menggunakan kamera analog dengan roll film isi terbatas. Jadi rerata foto yang tampil pada buku mengambil opsi pelaku yang saat itu aktif menjadi anggota OSIS sebagai ilustrasi utama -dengan berbagai peran- dan beberapa rekaman lensa di kegiatan yang aktif dijalankan.
Sementara untuk hasil produk bukunya sendiri lebih mirip jaman penjajahan kata kawan yang lain. Karena dicetak monokrom alias hitam putih ala surat kabar, untuk menghemat biaya saat itu. Berbeda dengan YearBook si sulung yang dicetak full colour dengan jumlah foto yang sangat banyak, dan narasi yang tergolong sedikit 😅 lebih ke tagline atau quote dari masing-masing kelas sekaligus moment tertentu yang dilakukan pada angkatan tersebut. Seru.
Meski begitu, yang paling penting dari semua gambaran diatas adalah kenangannya. Hal yang masih bisa diingat di kepala untuk bisa diceritakan kembali antar kawan sekolahan, pada anak-anak kita kelak, atau mungkin masyarakat publik jika satu saat nanti ada yang mempersoalkan ijazah palsu kita saat maju ke panggung politik. 🤣 Ya, siapa tahu...

Comments
Post a Comment