Skip to main content

Terperangkap dalam jeratan Nirvana

Bangku kuliah era 96/98 kalau tidak salah ingat, kami dipenuhi tugas-tugas gambar dari Perancangan Arsitektur, Menggambar Teknik atau Konstruksi Bangunan, yang menuntut waktu begadang di malam hingga dini hari. Biasanya saya mulai mengerjakan sekitar pukul 8/9 malam dan berakhir saban pukul 2 dini hari. Agar tetap dapat istirahat tiduran untuk berangkat kuliah sekitar pukul 6.30an pagi esok harinya. Rutinitas yang melelahkan kalau dipikir-pikir. 

Untuk membunuh rasa bosan dan menyemangati kerja malam, biasanya kami menikmati musik melalui tape compo merek Polytron atau radio FM-nya hingga siaran berakhir. Karena ada satu dua teman yang memilih kerja bareng dengan menginap di rumah, lalu bergantian menggunakan meja gambar dan mesin bandul yang saya miliki. 

Salah satu album musik yang kerap saya dengarkan di tahun itu adalah Nirvana MTV Unplugged yang rilis di jaman masih mengenakan celana panjang putih abu (1994). Kalau dulu lebih sering meminjam kaset tape pada teman karena ndak juari meminta uang pada ortu untuk membeli sendiri. Sementara di masa kuliah secara rutin menyisihkan uang saku seribu dari lima ribu per hari. Sehingga dalam seminggu atau dua bisa membeli atau rekam sendiri melalui tape compo milik teman di Abiankapas -you know who 😄- yang memiliki fitur perekaman dengan dua pemutar kaset dalam satu perangkat. 

Nirvana adalah satu satu grup band bergenre Grunge dari kota Seattle yang mulai beken dikenal banyak orang pasca merilis Smells Like Teen Spirit yang fenomenal itu. Saya pribadi tergolong telat mengenal dan mendengarkan karya-karya mereka karena di tahun yang sama, masih betah mendengarkan album musik Iwan Fals 😅 dari Kantata Takwa, Swami, Cikal hingga Hijau dan Dalbo. Sementara untuk Nirvana sendiri, ada satu lagu yang awalnya justru saya kenal dari plesetan yang dibawakan oleh Padhyangan Project, Kambing Liar mengadopsi Come As You Are di album yang sama. 

Nah baru di bangku kuliah inilah saya mulai mengenal album lama mereka seperti Bleach (1989), Incesticide (1992), Nevermind (1991), In Utero (1993) dan MTV Unplugged (1994). Bolak balik dari Side A ke B, lalu diulang lagi, terus lanjut ke album satunya. 😅 Sementara yang versi Live Muddy Banks (1996) itu termasuk jarang saya dengarkan. 

Musik era 90an kata orang jadi kenangan terbaik bagi Generasi X atau Y -milenial- macam saya. Jadi sampai hari ini pun tampaknya selera musik saya masih terpaku pada musisi di jaman itu, termasuk salah satunya ya Nirvana ini. Masih suka saya nikmati baik dalam bentuk audio maupun tayangan live video mereka di layar mini kendaraan ataupun speaker rumahan. 

Kalian punya memory apa tentang musik era 90an ? 






Comments

Postingan Lain

Jodoh di Urutan ke-3 Tanda Pesawat IG

Kata Orangtua Jaman Now, Jodoh kita itu adanya di urutan ke-3 tanda pesawat akun IG.  Masalahnya adalah, yang berada di urutan ke-3 itu bapak-bapak ganteng brewokan berambut gondrong.  Lalu saya harus gimana ?  #jodohurutanketigadipesawat  Mestinya kan di urutan SATU ?

PimPro, Apaan sih Itu ?

PimPro Kalian yang sudah masuk dunia kerja, utamanya yang bergerak di bidang konstruksi, saya yakin pasti pernah dengar istilah Pimpro. Baik yang berkonotasi Negatif ataupun Positif. Demikian halnya saya. Pertama kali mendengar istilah PimPro kalo ndak salah ya pas baru-baru jadi Pe eN eS. Yang saat diceritakan oleh pimpinan saat itu, apa tugas, kewenangan dan kekuasaan yang dimiliki oleh seorang Pimpro, Bagi saya pribadi sih lebih banyak Negatifnya. Ini jika dilihat dari kaca mata kebenaran. Bukan pembenaran. Image besarnya Power seorang Pimpro makin dikuatkan saat saya mengobrol ngalor ngidul bersama seorang pejabat fungsional di tingkat Provinsi saat berkesempatan menginap sekamar *bukan seranjang ya* sewaktu ditugaskan ke Indonesia Timur berkaitan dengan pemanfaatan dana ABPN dua tahun lalu. Dari ceritanya, ya memang benar bahwa seorang PimPro apalagi di era Pak Harto menjabat dulu sebagai Presiden RI ke-2, punya kekuatan besar yang begitu memanjakan hidup dan keseharian yang bersa...

Pengetahuan kecil tentang soroh PANDE

Sekali-sekali saya selaku penulis seluruh isi blog ini pengen juga ber-Narzis-ria, satu hal yang jarang saya lakukan belakangan ini, sejak dikritik oleh seorang rekan kantor yang kini jadi malas berkunjung lantaran Narzis tadi itu.  Tentu saja postingan ini bakalan berlanjut ke posting berikutnya yang isinya jauh lebih Narzis. Mohon untuk dimaklumi. *** PANDE merupakan salah satu dari empat soroh yang terangkum dalam Catur Lawa (empat daun teratai) Pasek, Pande, Penyarikan dan Dukuh- yang memiliki keahlian dalam urusan Teknologi dan Persenjataan. Ini bisa dilihat eksistensi pura masing-masing di Besakih, yang memiliki tugas dan fungsi yang berbeda-beda dalam berbagai kegiatan Ritual dan Spiritual. Dimana Pura Pasek menyediakan dan menata berbagai keperluan upakara, Pura Pande menata segala peralatannya. Pura Penyarikan menata segala kebutuhan tata usaha administrasi agar segala sesuatu berjalan dengan teratur. Sedangkan Pura Dukuh Sakti sebagai penata berbagai keperluan sandang pan...

Menantu Mertua dan Calon Mertua

Menonton kembali film lama Meet the Parents (2000) yang dibintangi oleh Ben Stiler dan Robert De Niro, mengingatkan saya betapa terjalnya perjalanan seorang calon menantu untuk mendapatkan kepercayaan sang calon mertua, atas putri kesayangan mereka yang kelak akan diambil menjadi seorang istri dan pendamping hidup. Meski ‘kekejaman’ yang ditunjukkan oleh sang calon mertua dalam film tersebut *sosok bapak* jauh lebih parah dari yang saya alami, namun kelihatannya cepat atau lambat, akan saya lakoni pula nantinya. Memiliki tiga putri yang salah satunya sudah masuk usia remaja, adalah saat-saat dimana kami khususnya saya sudah sewajarnya masuk dalam tahapan belajar menjadi seorang kawan bagi putri sulung saya satu ini. Mengingat ia kini sudah banyak bertanya perihal masa lalu yang saya miliki, baik soal pendidikan atau sekolah, pergaulan dan hobi. Memang sih untuk urusan pacar, ia masih menolak berbicara lebih jauh karena berusaha tak memikirkannya, namun sebagai seorang Bapak,...

Mewujudkan Agenda Cuti Bersama Lebaran

Tampaknya di Hari terakhir Cuti Bersama Lebaran, sebagian besar rencana yang ingin dilakukan sejak awal liburan sudah bisa terwujud, meski masih ada beberapa agenda lainnya yang belum bisa dijalani.  Satu hal yang patut disyukuri, setidaknya waktu luang jadi bisa dimanfaatkan dengan baik untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan tertunda beberapa waktu lalu.  1. Migrasi Blog Aksi pulang kampung ke laman BlogSpot tampaknya sudah bisa dilakukan meski dengan banyak catatan minus didalamnya. Namun setidaknya, harapan untuk tidak lagi merepotkan banyak orang, kedepannya bisa dicapai. Sekarang tinggal diUpdate dengan postingan tulisan tentang banyak hal saja.  2. Upload Data Simpeg Melakukan pengiriman berkas pegawai ke sistem online milik BKD rasanya sudah berulang kali dilakukan sejauh ini. Termasuk Simpeg Badung kali ini, yang infonya dilakukan pengulangan pengiriman berkas dengan menyamakan nomenklatur penamaan file. Gak repot sih sebenarnya. Tapi lumayan banyak yang harus dil...