Skip to main content

Asal Mula istilah Pande

Tulisan berikut sebenarnya dipublikasikan dalam bentuk Notes di sebuah jejaring sosial FaceBook oleh Yande Putrawan, seorang generasi muda Warga Pande dari Pedungan Denpasar dimana untuk sementara ini didaulat sebagai Koordinator Pembentukan Yowana Paramartha Warga Pande, sebuah wadah berkumpulnya Teruna Teruni Semeton Pande untuk bertukar informasi tentang kePandean.

Lantaran saking panjangnya, tulisan tersebut akan saya pecah menjadi 2 bagian. Tulisan pertama bercerita tentang keberadaan Sekte (aliran) di Indonesia pada tahun 75 Masehi sebagai gambaran awal yang tidak terpisahkan dengan sejarah penyebutan istilah Pande, dan Tulisan kedua tentang Ajaran Aji Panca Bayu yang merupakan perkembangan dari keberadaan Sekte (aliran) diatas.

* * *

Mengapa disebut Pande?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, saya (Yande Putrawan) akan mengutip dari sumber yang saya miliki. Namun dikarenakan usia buku yg sangat tua menyebabkan tulisan pada covernya susah dibaca, bagi mahasiswa yang kebetulan memerlukan referensi tentu akan sulit untuk mengutip. Mohon Maaf untuk keterbatasan tersebut.

Di Indonesia pernah kita mengenal beberapa sekte antara lain Sekte Aji Saka, Sekte Markandeya, Sekte Waisnawa, Sekte Agastya, Sekte Pasupatiya, Sekte Ganadipa, Sekte Buda Mahayana, Sekte Budha Tantrayana, Sekte Bhairawa, Sekte Siwa, Sekte Bramana, Sekte Rudra, Sekte Maisora, Sekte Sambu dan masih banyak lainnya.

Diantara sekte tersebut yang lebih dikenal di indonesia adalah Sekte Sakeya atau Sekte Saka. Aliran ini masuk ke Indonesia pada tahun 75 Masehi, sehingga tahun tersebut disebut tahun Caka bernafaskan ajaran Brahma Siwa. Di Bali jelas dapat kita lihat bahwa perkembangan agama sekte itu terjadi pada jaman Kesari Warmadewa, memasuki zaman kerajaan Udayana. Pada masa ini jelas sekali terlihat ciri-ciri sekte yang berkembang di Bali.

Menurut catatan, tidak kurang dari 16 sekte yang ada, masing masing dengan ciri-cirinya antara lain :
• Aliran Pasupatinya : memuliakan matahari sebagai manifestasi Hyang Widhi, selanjutnya tata pelaksanaan persembahyangannya disebut Surya Sewana
• Aliran Ganaspatinya : memuliakan Dewa Ganesha sebagai manifestasi Hyang Widhi, dimana disetiap tempat angker atau dianggap suci ditempatkan arca Ganesha dan memuliakan Dewa Angin
• Aliran Budha Mahayana, Budha Bairawa, Budha Hinayana, Tantriisma Putih, Tantriisma Hitam : ajarannya adalah makan sepuasnya, makan darah lawar dan tuak arak. Ajaran ini paling terkenal di jamannya. Bukti-bukti ajaran yang masih ditinggalkan sampai sekarang adalah makan lawar maupun komoh dengan tambahan darah hewan.
• Ajaran Panestian : teluh, leak, terangjana disebut aliran Pengiwa.
• Ajaran Pengobatan : pengelantih sabuk dari pekakas balian disebut aliran Penengen.

Ciri ciri aliran Bairawa tersebut paling nyata sampai sekarang bisa dikenali di bali dan justru dilarang oleh pengembang Brahma Wisnu Budha. Jelaslah aliran Bairawa yang dianut oleh raja Maya Denawa yang pernah menggemparkan Bali, ditandai dengan makan lawar yaitu makanan dari daging mentah dicampur darah mentah, minum arak dan tuak dan bersenggama.

Kemudian mengamalkan ajaran Pengiwa seperti angleak, aneluh, arangjana kemudian penengen dengan mengajarkan pengentih, kekebalan, guna-guna yang menurut ajaran Weda sangat dilarang untuk dipelajari dan dikembangkan.

Justru di bali ajaran ini pernah berkuasa di jamannya raja Jaya Kesunu atau raja Jaya Pangus, dari perselisihan aliran Siwa Brahma Waisnawa dengan aliran Bairawa yang kemudian menimbulkan peperangan dibali.

Raja Maya Denawa aliran Bairawa bermarkas di Batur berperang dengan aliran Brahma Siwa Waisnawa yang bermarkas di Besakih dengan raja Jaya Pangus sebagai tokohnya.

Dalam perang besar jaman itulah yang melahirkan mitos yang amat kesohor disebut Galungan (hari raya Galungan) ditandai dengan terbunuhnya raja Maya Denawa di Bedulu di pinggiran kali Petanu.

Demikian gambaran singkat tentang sekte di bali jaman itu. Selanjutnya terus berkembang sampai jaman Prabu Udayana sekitar tahun 1001 Masehi. Di periode tahun inilah lahir paham ajaran Tri Murti dimana keseluruhan sekte yang ada di Bali telah dipersatukan menjadi satu kepercayaan disebut “Tri Murti” (Brahma, Wisnu dan Siwa) selanjutnya kita mengenal dengan Padma Tiga, cikal bakal adanya padma di bali sebagai simbol periyangan Hyang Widhi.

Comments

Popular posts from this blog

Jodoh di Urutan ke-3 Tanda Pesawat IG

Kata Orangtua Jaman Now, Jodoh kita itu adanya di urutan ke-3 tanda pesawat akun IG.  Masalahnya adalah, yang berada di urutan ke-3 itu bapak-bapak ganteng brewokan berambut gondrong.  Lalu saya harus gimana ?  #jodohurutanketigadipesawat  Mestinya kan di urutan SATU ?

Mewujudkan Agenda Cuti Bersama Lebaran

Tampaknya di Hari terakhir Cuti Bersama Lebaran, sebagian besar rencana yang ingin dilakukan sejak awal liburan sudah bisa terwujud, meski masih ada beberapa agenda lainnya yang belum bisa dijalani.  Satu hal yang patut disyukuri, setidaknya waktu luang jadi bisa dimanfaatkan dengan baik untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan tertunda beberapa waktu lalu.  1. Migrasi Blog Aksi pulang kampung ke laman BlogSpot tampaknya sudah bisa dilakukan meski dengan banyak catatan minus didalamnya. Namun setidaknya, harapan untuk tidak lagi merepotkan banyak orang, kedepannya bisa dicapai. Sekarang tinggal diUpdate dengan postingan tulisan tentang banyak hal saja.  2. Upload Data Simpeg Melakukan pengiriman berkas pegawai ke sistem online milik BKD rasanya sudah berulang kali dilakukan sejauh ini. Termasuk Simpeg Badung kali ini, yang infonya dilakukan pengulangan pengiriman berkas dengan menyamakan nomenklatur penamaan file. Gak repot sih sebenarnya. Tapi lumayan banyak yang harus dilengkapi lagi. 

Warna Cerah untuk Hidup yang Lebih Indah

Seingat saya dari era remaja kenal baju kaos sampai nganten, isi lemari sekitar 90an persen dipenuhi warna hitam. Apalagi pas jadi Anak Teknik, baju selem sudah jadi keharusan.  Tapi begitu beranjak dewasa -katanya sih masa pra lansia, sudah mulai membuka diri pada warna-warna cerah pada baju atasan, baik model kaos oblong, model berkerah atau kemeja.  Warna paling parah yang dimiliki sejauh ini, antara Peach -mirip pink tapi ada campuran oranye, atau kuning. Warna yang dulu gak bakalan pernah masuk ke lemari baju. Sementara warna merah, lebih banyak digunakan saat mengenal ke-Pandean, nyaruang antara warna parpol atau merahnya Kabupaten Badung.  Selain itu masih ada warna hijau tosca yang belakangan lagi ngetrend, merah marun atau biru navy. Semua warna dicobain, mengingat hidup rasanya terlalu sederhana untuk dipakein baju hitaaaaam melulu.  Harapannya bisa memberikan warna pada hidup yang jauh lebih cerah, secerah senyum istri pas lagi selfie.