Hasil Rapat Pengurus Alumni SMAN 6 Denpasar 22 Mei 2011

2

Category : tentang KuLiah

Berikut dipaparkan Hasil Rapat dari Pengurus Alumni SMAN 6 Denpasar terkait Jubileum Perak, yang dilakukan pada hari Minggu lalu tanggal 22 Mei 2011, pukul 10 s.d 13 Wita di SMAN 6 Denpasar.

Program Alumni saat ini dan direncanakan selesai tahun 2011 :

  • Pembuatan Patung Siswa-Siswi
  • Perbaikan Sound System di tiap ruangan/kelas

Jadwal Acara Jubileum perak SMAN 6 Denpasar adalah sebagai berikut :

  • tgl 22 Juli 2011 = Jumat bersih + donor darah (masih dikoordinasikan) dengan memakai baju alumni
  • tgl 24 Juli 2011 = Fun Bike (masih dikoordinasikan dengan pihak Sekolah)
  • tgl 25 Juli 2011 = Puncak Acara Jubileum Perak di Art Centre (dengan menggunakan baju kaos alumni sebagai tanda masuk)

Apabila ada perubahan jadwal dan acara, akan segera di info melalui media ini. (Group Ikatan Alumni SMAN 6 Denpasar-FaceBook-Red)

Untuk Baju Kaos Alumni  (polo warna putih dengan logo bunga tunjung bordir) akan tersedia mulai tanggal 1 Juni 2011 dan sudah dapat dipesan ke ibu Wintari Sutama (081999424938) atau Wisma Mahendra (081337495016) dengan harga baju kaos semua ukuran (s,m,l,xl,xxl) Rp. 100.000,- per Kaos.

Untuk lebih mengingatkan lagi, berikut disertakan Data Koordinator Sementara per Angkatan yang dharapkan dapat mencari dan melengkapi data rekan-rekan seangkatannya dan dengan segera menyerahkannya berupa soft copy data/format Microsoft Excel.

  • 1986 : I.B Jimmy Krisna Loka, Alit Mariyani, Ira Afianti
  • 1987 : Mas Mudita, I.B Mahayadnya
  • 1988 : Dr. Md Wijaya, Dr. Desy Pratiwi
  • 1989 : Ni Nym Trisilawati, Ardana/Plonco
  • 1990 : Made dharma suyasa (donkkang)
  • 1991 : Putu Yudhi Pasek Kusuma, Nugraheni
  • 1992 : Alit Wisnawa, Sari Herawati (Data sudah ada)
  • 1993 : Ketut Jack
  • 1994 : Ary Kurniatun (atoen), Nyoman Parta,SE
  • 1995 : –
  • 1996 : I Wyn Juni Harta
  • 1997 : –
  • 1998 : –
  • 1999 : Md Ariana
  • 2000 : –
  • 2001 : Eka Wijaya Kusuma, Made Krinasari
  • 2002 : Pande Nyoman Dika, Ni Wyn Krisnawati
  • 2003 : Alit, Suryawan
  • 2004 : Arya Putra Atmaja, Ayu Kumala Sari
  • 2005 : Wyn Kardiyasa, Sang Ayu Puspitasari
  • 2006 : Deny Suhendra, Ocha Suryadewi
  • 2007 : Intan Sari, Hendropriyono

Bagi Rekan-rekan yang kebetulan membaca tulisan ini dan merasa belum terdaftar untuk ikut serta dalam acara Jubileum Perak Alumni SMAN 6 Denpasar, agar dengan segera menghubungi Koordinator Angkatannya masing-masing, seperti yang telah disebutkan diatas. Sekedar Informasi, istilah Angkatan dihitung dari tahun masuk ke SMAN 6 Denpasar, dan bukan tahun kelulusan.

Terima Kasih

Wisma Mahendra

NB : Kegiatan ini murni merupakan perayaan Ulang Tahun Jubileum Perak SMAN 6 Denpasar yang ke-25 dan bukan merupakan kegiatan Reuni Akbar, seperti yang selama ini tersiar kabarnya. Mohon dimaklumi.

 


Mari Berbagi Koneksi Wifi lewat NoteBook dengan Connectify

14

Category : tentang TeKnoLoGi

Masih ingat dengan tulisan saya sebelumnya terkait Memanfaatkan perangkat Android sebagai Portable Hotspot dengan Wifi TeThering ? Kali ini saya ingin berbagi Tips dan Trik serupa namun memanfaatkan perangkat NoteBook yang Rekan-rekan miliki dengan menggunakan bantuan aplikasi Connectify. Tujuannya masih sama, yaitu berbagi koneksi dengan Rekan lain melalui jaringan Wifi tanpa perlu membeli atau memiliki sebuah Router.

Adapun yang perlu dipersiapkan untuk dapat melakukan hal diatas adalah, sebuah perangkat NoteBook yang minimal memiliki koneksi Wireless atau yang kerap dikenal dengan sebutan Wifi, Sistem Operasi Windows 7, koneksi Internet (entah yang berasal dari modem ataupun hotspot berbayar yang terdekat) dan tentu saja aplikasi Connectify.

Connectify merupakan sebuah aplikasi yang mampu menambah fungsi sebuah perangkat NoteBook menjadi sebuah perangkat Router, serta membagi koneksi internet yang sedang digunakan atau berjalan kepada perangkat lain melalui jaringan Wifi. Aplikasi yang berukuran hanya sekitar 2,33 MB dan dikembangkan oleh Nomadio ini, dapat diunduh baik melalui web site resmi Connectify ataupun penyedia aplikasi lain seperti Softpedia. Sejauh ini tidak ada biaya yang dibebankan untuk pengguna dalam mengunduh serta menggunakan aplikasi Connectify pada perangkat mereka, alias GRATIS.

Yuk kita mulai.

Silahkan melakukan Instalasi aplikasi Connectify pada perangkat NoteBook yang rekan-rekan miliki hingga tampilan akhir kotak dialog aplikasi Connectify memberikan satu Tutorial sederhana untuk melakukan Settingan awal penggunaan aplikasi. Ada tiga langkah yang harus dilaksanakan yaitu :

  1. Memberi nama Hotspot atau perangkat Router yang akan digunakan, bisa dengan nama pribadi ataupun kode tertentu
  2. Memberikan opsi Password untuk mencegah terjadinya penggunaan jaringan secara berlebihan, tujuannya agar koneksi dapat dengan lancar digunakan dan bisa pula sebagai catatan pembayaran penggunaan, hehehe…
  3. Memilih satu jaringan koneksi Internet yang akan digunakan dalam mengaktifkan fungsi perangkat NoteBook sebagai Hotspot. Untuk yang satu ini, abaikan saja.

Jika sudah, tekan tombol Finish dan tunggu proses Konfigurasi aplikasi berjalan hingga Hotspot siap digunakan. Untuk tahap ini kira-kira memerlukan waktu 1-2 menit.

Apabila NoteBook yang digunakan itu mengandalkan koneksi internet yang berasal dari Modem eksternal, silahkan mengubah opsi Internet menjadi nama Profile yang digunakan pada Modem tersebut. Atau apabila yang digunakan itu mengandalkan koneksi Wifi setempat, silahkan mengubah psi Internet menjadi Wireless Network Connection dan apabila yang digunakan itu mengandalkan koneksi atau jaringan LAN, silahkan mengubah opsi Internet menjadi Local Area Network, dan tekan tombol ‘Apply Setting’.

Langkah selanjutnya adalah memantau hasil yang telah dilakukan tadi dari perangkat lain yang pula memiliki koneksi Wireless atau Wifi. Silahkan deteksi keberadaan Hotspot terbaru yang sudah disiapkan tadi. Saya yakin, Rekan-rekan akan menemukan nama Jaringan Hotspot yang telah ditetapkan pada langkah pertama tadi. Silahkan sambungkan perangkat, masukkan password, dan uji koneksinya.

Nah, yang menjadi pertanyaan pertama adalah, mengapa sedari tadi saya tekankan pada koneksi Internet yang menggunakan koneksi Wifi berbayar ? Karena dengan memanfaatkan Tips dan Trik aplikasi Connectify ini, Rekan-rekan hanya perlu membayar koneksi untuk satu perangkat saja, sedangkan bagi teman-teman yang lain agar bisa mengakses koneksi dengan jalur yang sama, tinggal menyambungkannya saja dengan Perangkat Hotspot yang dijalankan oleh perangkat NoteBook tersebut. Lebih irit bukan ?

Sedangkan pertanyaan kedua atau yang paling sering ditanyakan oleh Rekan-rekan saya yang sudah mencobanya adalah perihal koneksi yang digunakan. Untuk yang satu ini, pendapat saya masih sama dengan terdahulu yaitu, Rekan-rekan bisa melakukan patungan biaya untuk membayar paket langganan internet unlimited bulanan dan menggunakan koneksi tersebut secara bersama-sama. Jadi intinya, gag perlu lagi membeli sebuah perangkat Router, bukan ?

Ada yang belum dipahami ? silahkan kontak saya lewat Whatsapp.

 


Antara Yahoo! Answer dan Semangat nge-BLoG PanDe Baik ; Happy Anniversary 5th BLoG www.pandebaik.com

4

Category : tentang DiRi SenDiri

Entah apa yang saya pikirkan ketika memutuskan untuk bergabung di Yahoo! Answer awal April lalu. Hanya sekedar ingin tahu, penasaran bahkan ada juga rasa untuk ingin berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan orang lain. Hasilnya lumayan. Dalam jangka waktu satu setengah bulan, saya mampu meraih posisi di Level 4 dengan jumlah Poin 2.547, 130 Jawaban Terbaik dari 380 jawaban yang saya berikan dengan tingkat prosentase sebesar 25%. Hasil ini pula akhirnya memberikan ganjaran sebagai Kontributor TOP Yahoo! Answer pada kategori PDA & Gadget. Ada sedikit kebanggaan bahwa Level tersebut bisa dicapai dengan cara yang baik dan benar.

Memang tidak ada penghargaan khusus yang diberikan setiap kali jawaban yang kita berikan dinyatakan sebagai jawaban terbaik oleh si Penanya, namun ada juga rasa bangga ketika apa yang kita sampaikan minimal mendapatkan respon atau paling tidak bisa berguna bagi orang lain. Sebuah Spirit yang sama dengan aktifitas BLoG yang sudah berjalan 5 tahun ini.

26 Mei 2006 merupakan awal dari semua perjalanan www.pandebaik.com. Saat itu BLoG masih merupakan pengetahuan baru bagi saya, hingga isi tulisan saat itu beneran narsis abisss. Kadang jadi malu juga kalo lagi membacanya. Menumpang di alamat gratisan milik blogspot, hampir tidak ada pengunjung yang berkenan mampir saat itu. Baru mulai terdengar ketika saya mendapatkan voucher Free Hosting dari acara Launching-nya Bali Blogger awal tahun 2008 lalu. Itupun domain yang saya gunakan sudah tidak gratisan lagi. PanDeividuaLity.net. Sebuah nama yang sulit diingat bukan ?

Alamat www.pandebaik.com baru saya gunakan ketika melakukan Hijrah tempat hosting dari RakhaHost ke Bali Orange, dan masih berlangsung hingga hari ini. Pasca perpindahan ini rasanya semangat untuk menulis BLoG saya jadi makin besar. Makin jadi kecanduan, Addict dan sepertinya jadi makin gag bisa tidur kalo belum menulis. Hampir selalu ada saja yang namanya Ide Tulisan bersliweran di kepala. Dari yang gag penting sampe yang gag nyambung. He… Datang tiba-tiba meski sesaat sebelum beranjak tidur.

Berbagi pengetahuan dan pengalaman pada akhirnya menjadi misi terakhir yang saya lakukan untuk selalu konsisten menulis, meski jarak publikasi antara satu tulisan dengan tulisan lainnya memerlukan jeda waktu 2-3 hari sekali. Ini saya siasati lantaran waktu untuk menulis sudah tidak lagi bisa full day akibat dari beban pekerjaan dan tentu saja kehadiran Mirah GayatriDewi, putri kecil kami. Beberapa tema yang sempat saya tulis secara beruntun diantaranya Reuni SMA 6 Denpasar Angkatan 1992 bulan April 2010 lalu, kesibukan baru bersama LPSE Badung, merintis terbentuknya organisasi pemuda keagamaan Yowana Pande, Berburu BadGes FourSQuare, berbagi Tips penggunaan FaceBook atau bahkan Android yang sebulan terakhir saya lakukan. Semua itu muncul begitu saja tanpa ada beban yang harus saya pikul.

Di tahun kelima ini pula BLoG www.pandebaik.com mulai memasuki masa-masa yang yang barangkali sejak dua tiga tahun lalu sudah terpikirkan. Moneytize BLoG. Minimal mampu mendatangkan sedikit pemasukan sekedar untuk menggantikan biaya Domain dan Hosting tiap tahunnya. Terima Kasih untuk Warung BeBeque dan Mai Bus. Tapi Ngomong-ngomong soal Hosting, di tahun ini pula pada akhirnya saya memutuskan untuk menaikkan space hosting dua kali lipatnya. Ini saya lakukan setelah melihat sisa space yang ada sudah rada mepet-mepet, minta diselamatkan. Begitu juga dengan Bandwidth bulanan yang dinaikkan pasca kasus peghinaan Nyepi bulan Maret lalu, kunjungan langsung melonjak hingga 2500 orang dalam seharinya. Bersyukur satu bulan terakhir sudah kembali normal. Ternyata susah juga ya kalo yang namanya Traffic naik drastis ? hehehe…

Bersyukur pula yang namanya Spirit nge-BLoG masih bisa berlangsung seperti biasa. Tersendat-sendat. Hehehe… jadi makin sulit ketika mulai berkenalan dengan Yahoo! Answer. Keasyikan berbagi yang saya temukan dalam menjawab setiap pertanyaan (yang saya kuasai tentu saja Meskipun terkadang membuat ilfil lantaran banyaknya pertanyaan yang saling menghujat Agama), membuat waktu untuk menulis dalam bentuk tulisan BLoG makin lama makin sedikit saja. Bahkan Tulisan inipun datangnya last minute dan dituliskan ya last minute juga. Walau begitu, ada rasa senang ketika jawaban itu saya kirimkan.

Sudah lima tahun ya ternyata. Gag terasa memang. Dari 1.790 tulisan yang hingga kini ada di halaman  www.pandebaik.com ada sekitar 63 Draft Tulisan yang batal untuk dipublikasikan. Penyebabnya sederhana, karena ada beberapa tulisan yang saya buat jauh sebelumnya, kemudian disimpan terlalu lama sehingga baik konteks ataupun unsur faktual yang ada dalam tulisan tersebut malah menjadi basi dan tidak akurat. padahal saat dibuat sudah diusahakan dengan berbagai data yang terkini. Tapi ketimbang dibuang, saya biarkan saja tetap disitu.

Yah, meski agak tersendat, semoga BLoG ini masih bisa setia menemani hari –hari berikut dengan informasi ataupun cerita yang minimal bisa berguna kelak bagi yang membacanya. So, Happy Anniversary 5th BLoG www.pandebaik.com.


Review Samsung Galaxy Tab GT-P1000

24

Category : tentang TeKnoLoGi

Hampir tidak ada hal yang istimewa ketika perangkat mantap buah karya brand ternama Samsung sampai ditangan saya Jumat pagi kemarin. Satu-satunya yang sempat mengingatkan kekaguman saya akan keindahannya adalah dimensi layar yang mencapai ukuran 7” seakan membuat perangkat Samsung Galaxy ACE S5830 yang begitu saya banggakan selama ini terlihat seperti sebuah mainan anak-anak.

Samsung Galaxy Tab GT-P1000.

Ketika untuk pertama kalinya saya menjajal secara langsung perangkat tabletPC berbasiskan Android ini di gerai Sellular World, jalan Teuku Umar Denpasar, saya sudah yakin bahwa Samsung Galaxy Tab bakalan menjadi yang terbaik dikelasnya. Dengan spesifikasi prosesor 1 GHz dan 16 GB Storage, ditambah daya sebesar 4000 MAh sepertinya sudah cukup untuk menggantikan perangkat NoteBook yang saya miliki meski tidak secara keseluruhan. Minimal, untuk kebutuhan Browsing di dunia maya atau hanya sekedar ber-Social Media, sudah bukan merupakan satu masalah lagi.

Layar lebar 7” yang diusungnya memang secara otomatis menyebabkan dimensi Samsung Galaxy Tab tergolong besar untuk ukuran manusia normal. Tapi untuk saya ? Pas banget. Malahan saat dipegang, membuat orang lain malah mengira kalo perangkat Samsung Galaxy Tab punya rilis baru 5”, hehehe…

Memang, jika dibandingkan dengan perangkat Samsung Galaxy ACE yang selama ini saya gunakan, tidak banyak hal baru yang saya temukan pada perangkat ini. Baik secara pengoperasian perangkat maupun aplikasi. Barangkali jika disandingkan, hanya ukuran layar dan tampilan iconnya saja yang terlihatjelas perbedaannya.

Meski begitu, setelah diuji dalam waktu singkat dan berusaha untuk lebih mendalam, barulah terlihat beberapa perbedaan antara perangkat Samsung Galaxy Tab dengan perangkat Samsung Galaxy ACE yang saya miliki ini.

Dilihat dari Menu Setting atau Pengaturan Wifi Tetheringnya, terdapat pemisahan fungsi antara MobileAP (mengubah perangkat Android menjadi Portable Hotspot secara free tanpa kabel) dengan USB Tethering (menjadikan perangkat Android sebagai modem khusus melalui kabel data). Hal yang kentara lainnya terlihat saat uji coba untuk menghapus serta menggandakan File melalui menu Myfiles. Jika pada perangkat Samsung Galaxy ACE, aktifitas tersebut dapat diakses dengan menekan file agak lama untuk memunculkan menu tambahan, tidak demikian halnya dengan perangkat Samsung Galaxy Tab. Ditekan berapa lamapun, menu yang diharapkan tak jua muncul. Namun jangan khawatir, untuk memunculkan menu yang dimaksud, tinggal menekan terlebih dahulu tombol virtual Pilihan yang terdapat layar bawah. Tampilan Pilihan akan berubah menjadi menu tambahan untuk fungsi Hapus, Copy ataupun Cut. Sedangkan tampilan files akan menambahkan tampilan kotak yang dapat dicentangkan disebelah kanan nama files.

Apabila dalam perangkat Samsung Galaxy ACE baik tampilan Menu dan Homescreennya hanya mampu menyajikan icon Grid 4×4, dengan layar lebar Samsung Galaxy Tab yang resolusinya mencapai 1024×600 pixel, mampu menyajikan Menu dengan icon grid 4×5 dan pada Homescreen dengan icon grid 5×5.

Ditilik dengan menggunakan Utility Elixir, dapat diketahui bahwa berkat sistem operasi Android versi 2.2 atau yang dikenal dengan istilah Froyo ini, memilah 16 GB kapasitas memory Internal menjadi 3 (tiga) Storage. Yaitu Storage untuk Aplikasi sebesar 2 GB, Storage untuk Games sebesar 2 GB dan Storage untuk data pribadi sebeasr 12 GB. Pembagian ukuran Storage untuk Aplikasi maupun Games, bagi saya pribadi sudah lebih dari cukup untuk mengunduh dan menampung puluhan Aplikasi dan Games yang disediakan Android Market.

Dengan besaran layar hingga 7” tentu saja aktifitas berinteraksi dengan dunia maya, baik itu untuk ber-Social Media, membaca berita ataupun untuk beraktifitas dengan Sistem SPSE/LPSE membuat mata menjadi jauh lebih nyaman ketimbang saat menggunakan perangkat Samsung Galaxy ACE S5830. Apakah ini artinya sudah saatnya untuk beralih ?

* * *

Bagi mereka yang sudah pernah mengalami mantapnya Android, apalagi dalam versi terkini seperti Froyo, saya rasa tidak akan banyak hal baru yang ditemukan dalam perangkat Samsung Galaxy Tab GT-P1000 ini, seperti halnya saya. Namun, Bagi mereka yang baru pertama kali bersua dengan Android apalagi dalam ukuran layar 7″, saya yakin akan banyak hal dan pengalaman baru  yang bisa dirasakan. Cobain deh…


Antara Rangda, Rarung dan Celuluk

3

Category : tentang KHayaLan

Diantara sekian banyak sosok sakral yang begitu populer di Bali, nama besar Rangda, Rarung dan Celuluk barangkali akan langsung mengingatkan pada satu lakon Calonarang, satu cerita yang hingga kini masih kerap dipentaskan oleh desa-desa adat Bali disela hiruk pikuknya upacara yadnya. Namun ada juga pementasan yang dilakukan dengan melibatkan salah satu diantaranya yaitu Rangda dalam lakon Barong Dance untuk kepentingan Komersial dan pengenalan Budaya Bali kepada para Wisatawan mancanegara.

Rangda seperti yang dikenal oleh seluruh Umat Hindu di Bali, merupakan satu sosok makhluk yang menyeramkan, digambarkan sebagai seorang wanita dengan rambut panjang yang acak-acakan serta memiliki kuku, lidah, dan payudara yang panjang. Wajahnya menakutkan dan memiliki gigi yang tajam. Namun sesungguhnya kata Rangda menurut Etimologinya, berasal dari Bahasa Jawa Kuno yaitu dari kata Randa yang berarti Janda. Rangda adalah sebutan janda dari golongan Tri Wangsa, yaitu Waisya, Ksatria dan Brahmana. Sedangkan dari golongan Sudra disebut Balu dan kata Balu apabila dierjemahkan dalam Bahasa Bali alusnya adalah Rangda.

Dalam perkembangannya, istilah Rangda untuk janda sangat jarang kita dengar, karena dikhawatirkan menimbulkan kesan tidak enak mengingat wujud Rangda yang ‘aeng’ (seram) dan menakutkan, serta identik dengan orang yang mempunyai ilmu kiri (pengiwa). Dengan kata lain, ada kesan rasa takut, tersinggung dan malu apabila dikatakan bisa neluh nerangjana (ngeleak).

Dalam perwujudannya secara fisik, sosok sejenis Rangda ada pula yang dikenal dengan nama varian lain seperti Rarung dan Celuluk. Dalam lakon Calonarang, dua sosok Rarung dan Celuluk ini digambarkan sebagai antek-anteknya Rangda yang dalam budaya Bali bukan merupakan sosok yang disakralkan.

Ada dua perbedaan paling kentara yang dikenal ketika menyebutkan sosok Rangda dan Rarung. Apabila Rangda merupakan sebutan bagi Janda yang usianya tergolong tua (lingsir), Rarung merupakan sosok yang digambarkan jauh lebih cantik dan lebih muda. Dilihat dari segi warna yang digunakan, Rangda biasanya digambarkan dalam rupa yang lebih banyak menggunakan tapel atau topeng berwarna putih. Sedangkan Rarung ada yang menggunakan warna Merah, Hitam, Biru, Cokelat dan lainnya.

Lantas bagaimana dengan Celuluk ?

Tak jauh berbeda dengan dua sosok diatas, Celuluk pun digambarkan sebagai sosok yang sama menyeramkannya dan seperti yang telah disebutkan tadi, Celuluk dikenal sebagai antek-anteknya Rangda dalam lakon Calonarang.

Bagi saya pribadi, bentuk rupa perwajahan Celuluk jauh lebih menyeramkan ketimbang sosok Rangda yang disakralkan oleh Umat Hindu di Bali dan juga Rarung. Dengan bentuk batok kepala yang khas, ditambah seringai dan gigi yang besar serta tajam, sosok Celuluk kabarnya mampu menebarkan ketakutan bagi mereka yang menatapnya secara seksama hanya dari unsur tapel atau topengnya saja.

 


Mengenal Barong Landung

2

Category : tentang iLMu tamBahan

Lima sosok tinggi besar itu tampak berjalan beriringan ditengah keramaian umat Hindu yang berjejal, beradu padu suara gambelan Batel, saat matahari masih bersemu merah diujung timur sana.

Barong Landung. Merupakan salah satu wujud susuhunan yang dikeramatkan oleh umat Hindu di Bali, dipuja sebagai simbol sejarah yang sangat kelam di masa lalu.  Sebuah Pralingga sekaligus perisai bagi desa-desa yang terancam kegeringan. Ditarikan sepanjang jalan desa dengan harapan dapat menimbulkan energi gaib, semacam tenaga baru, seperti yang dilakukan Dewa Siwa dengan tarian dandawa-nya untuk mengembalikan roh kehidupan.

Ada banyak versi cerita yang dapat diungkap untuk mengetahui sejarah keberadaan Barong Landung di tanah Bali. Salah satunya seperti yang diceritakan oleh Pande Ketut Wena (BaliPost/2005).

“Bersumber pada kisah Sri Jaya Pangus, raja Bali dari dinasti Warmadewa, dimana kerajaannya berpusat di Panarojan, tiga kilometer di sebelah utara Kintamani yang dituduh telah melanggar adat yang sangat ditabukan saat itu, yakni telah dengan berani mengawini putri Cina yang elok bernama Kang Cing Wei. Meski tidak mendapatkan berkat dari pendeta kerajaan, Mpu Siwa Gama, sang raja tetap ngotot tidak mau mundur. Akibatnya, sang pendeta marah, lalu menciptakan hujan terus menerus, hingga seluruh kerajaan tenggelam.

Dengan berat hati sang raja memindahkan kerajaannya ke tempat lain, kini dikenal dengan nama Balingkang (Bali + Kang), dan raja kemudian dijuluki oleh rakyatnya sebagai Dalem Balingkang. Sayang, karena lama mereka tidak mempunyai keturunan, raja pun pergi ke Gunung Batur, memohon kepada dewa di sana agar dianugerahi anak. Namun celakanya, dalam perjalanannya ia bertemu dengan Dewi Danu yang jelita. Ia pun terpikat, kawin, dan melahirkan seorang anak lelaki yang sangat kesohor hingga kini, Maya Danawa.

Sementara itu, Kang Cing Wei yang lama menunggu suaminya pulang, mulai gelisah, Ia bertekad menyusul ke Gunung Batur. Namun di sana, di tengah hutan belantara yang menawan, iapun terkejut manakala menemukan suaminya telah menjadi milik Dewi Danu. Ketiganya lalu terlibat pertengkaran sengit.

Dewi Danu dengan marah berapi-api menuduh sang raja telah membohongi dirinya dengan mengaku sebelumnya sebagai perjaka. Dengan kekuatan gaibnya, Dalem Balingkang dan Kang Cing Wei dilenyapkan dari muka bumi ini. Oleh rakyat yang mencintainya, kedua suami istri — Dalem Balingkang dan Kang Cing Wei — itu lalu dibuatkan patung yang dikenal dengan nama Stasura dan Bhati Mandul. Patung inilah kemudian berkembang menjadi Barong Landung.”

Akan tetapi Barong Landung ternyata lebih dari sekadar kisah sejarah. Ia bukan saja perkawinan lahiriah, tetapi juga budaya. Pernik-pernik budaya Cina seperti pis bolong, patra cina, barong sae, telah lama dikawinkan dengan budaya Bali, bahkan dalam bidang filsafat telah pula melahirkan paham Siwa Budha yang terus memperkaya tradisi agama Hindu sampai sekarang di Bali.

Barong berasal dari Tatwa Kanda Pat Bhuta, tepatnya adalah duwe dari Sang Catur Sanak yang mengambil wujud rwa bineda, dua sifat yang berbeda dari laki-perempuan, siang-malam, panas-dingin, dan sebagainya. Yang cair misalnya, kalau dipanaskan oleh api akan menguap ke langit (I Bapa), sedangkan api akan mengendap ke bumi (I Meme). Langit sendiri akan menurunkan hujan untuk menyuburkan bumi dan melahirkan kehidupan.

Kemungkinan besar Barong Landung adalah perwujudan I Bapa dan I Meme. I Bapa sebagai langit diwujudkan dengan warna hitam (Jro Gde), simbol dari Dewa Wisnu yang memelihara dunia, sekaligus Dewa Air yang menghanyutkan segala noda dunia, dan menjadi tirta penglukatan bagi umat manusia. Sedangkan I Meme atau Ibu Bumi (Jro Luh) berwarna putih sebagai Iswara yang sering juga disebut Siwa, maha pelebur segala noda sekaligus sebagai tempat penciptaan. Jadi, Jro Luh adalah Ibu Bumi yang mengandung, memelihara, dan akan mengembalikan lagi isi dunia ke dalam perutNya ketika waktunya telah tiba.

Dalam Barong Landung, undagi sepertinya sengaja membuat wujud yang sangat menyeramkan dengan harapan dapat mengimbangi kedahsyatan roh-roh jahat yang sering mengganggu kehidupan di desa-desa. Barong Landung bukanlah sekadar penghias pura, ia adalah duwe dengan segala perwujudannya yang sangat keramat. Dibuat pada dewasa ayu kilang-kilung, dari kayu bertuah seperti pule, jaran, waruh teluh, kepah, kapas, dan “dihidupkan” dengan ritual prayascita serta di-plaspas untuk menghapuskan papa klesa secara sekala niskala. Di sini, ia pun diberi pedagingan berupa perak, emas, dan tembaga, juga pudi mirah (sejenis permata) yang dipasangkan di ubun-ubun lengkap dengan rerajahan-nya — ang, ung, dan mang.

Jro Gde atau yang kami kenal dengan sebutan Ratu Gede, memiliki tubuh hitam, rambut lurus lebat, mata sipit, gigi jongos, dan memakai keris. Sedangkan Jro Luh bertubuh ramping, putih seperti layaknya wanita Cina, dan memakai kebaya Cina. Kedua tangan kiri barong ini ditekuk ke pinggang, yang oleh pengamat kebatinan diyakini sebagai sikap pengendalian diri, mengingat kiri sama artinya dengan pengiwa. Lawan pengiwa adalah penengen — tangan kanan, yang sengaja dibuat lurus sebagaimana jalan kebenaran.

Di beberapa tempat di Bali (salah satunya lingkungan kami, Banjar Taensiat) ada juga Barong Landung yang lebih lengkap dari pada yang hanya sepasang saja, tetapi ada yang diberi peran seperti Mantri, Galuh, Limbur, Patih dan sebagainya. Selain sebagai Sesuhunan dan dipuja secara berkala, Barong landung terkadang juga dipakai sebagai anggota dalam pementasan yang membawakan lakon Arja (terutama didaerah Badung) dan diiringi dengan gamelan Batel.

Barong Landung yang ada di lingkungan kami berjumlah 5 (lima), dipuja setiap rahinan Kajeng Kliwon yang jatuh setiap 15 hari sekali. Secara berkala melakukan perjalanan (istilahnya Melancaran)  keliling desa dengan harapan seperti yang telah dipaparkan diatas, serta melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang disucikan seperti Beji dan Pasih (pantai) sebelum Hari Raya Nyepi dan juga Pura Dalem BonKeneng (jalan Ratna) setiap rahinan Manis Kuningan.