Kesialan Bernard Bear Kegembiraannya MiRah GayatriDewi

3

Category : tentang InSPiRasi

Tulisan akhir Agustus yang sempat tertunda lantaran aksi mbolosnya Pak Dewan Wakil Rakyat kita itu. Sebetulnya pengen nulis lagi terkait aksi coretannya Om Pong Harjatmo ‘jujur Adil Tegas’ di atap Gedung DPR, tapi khawatir malah bakalan menimbulkan reaksi tidak baik dari berbagai kalangan. So, mendingan balik lagi ke tema yang gak jelas. Seperti biasanya… :p Maaf.

* * *

Lagi-lagi berkat jasa YouTube. Melalui portal video inilah saya pertama kali mengenal tokoh kartun animasi Bernard Bear, Bernard si Beruang saat berusaha mencarikan tayangan kartun yang layak (baca:pantas) ditonton oleh anak seusia MiRah. Kalau tidak salah sekitaran akhir tahun 2009 lalu, saat yang sama dimana getol-getolnya mengunduh film animasi pendek milik PiXar.

Pada awalnya MiRah kecil (saya tayangkan di layar tipi saat usianya setahun dalam format vcd) takut menonton kartun Bernard Bear lantaran ‘kesialan’ yang hampir selalu dialami saat beraktifitas. Ketika berolahraga, ber-ice climbing atau ber-gantole. Sebaliknya Mirah lebih memilih Geries Game, cerita tentang seorang kakek yang bermain Catur buah karya PiXar.

MiRah baru mulai menyukai Bernard setelah perlahan saya katakan bahwa Bernard Bear itu mirip Bapaknya lantaran memiliki perut gendut yang sama. Itu sebabnya, setiap kali ia menonton video Bernard, MiRah selalu berteriak ‘Bapak… Bapak…’. Kata pertama yang (paling mudah) ia ucapkan. Perlahan MiRah mulai menyukai video Bernard dan kerap meminta kami memutarkannya di layar tipi.

Bernard Bear sebenarnya punya nama lain untuk pangsa pasar Asia Pasifik, Backkom. Itu sebabnya beberapa video yang saya unduh saat itu ada yang menggunakan nama Backkom ada juga yang menggunakan nama Bernard. Dalam videonya yang rata-rata berdurasi pendek tersebut, Bernard jarang terlihat beruntung dengan aksinya. Dari yang terantuk peralatan olahraga, jatuh dari tebing salju, terbakar dibawah pohon kelapa hingga diterbangkan pesawat saat berusaha bermain gantole. Sayangnya dari sekian banyak yang saya unduh, tak satupun berisikan tokoh kartun pendukung lainnya seperti Lloyd dan Eva penguins, Zack  si kadal, Goliat chihuahua, bayi Tyler, si anjing Pilot, Pokey dan Santa Claus.

Animasi produksi Korea ini jujur saja akhirnya saya favoritkan juga sebagai tayangannya MiRah selain Upin & Ipin produksi negeri jiran Malaysia. Selain lucu dan menggemaskan, tampilan animasinya juga halus dan jalan ceritanya mudah dipahami oleh anak-anak meskipun sebagai orang tua, tetap harus mendampingi mereka untuk menjelaskannya.

Bersyukur stasiun televisi swasta TPI (entah mulai kapan) menjadikan Bernard Bear sebagai salah satu program mereka selain Upin & Ipin. Daripada meracuni putra putri dengan tayangan SHITnetron dan infoTAIment, bukankah lebih baik menonton Bernard Bear bareng-bareng ?

Bolos yuk Pak Dewan ?

4

Category : tentang Opini

“…Mau tau gak mafia di senayan.. kerjanya tukang buat peraturan.. bikin UUD.. ujung2nya duit..” penggalan Gossip Jalanan milik SLank yang tempo hari sempat memantik amarah para anggota Dewan kita yang terhormat itu agaknya masih relevan untuk didendangkan kembali oleh seluruh rakyat Indonesia seminggu terakhir ini. Apalagi kalo bukan menyoal kelakuan para wakil rakyat yang ketahuan mbolos sidang berkali-kali.

Bolos ternyata bukan hanya ‘milik’ anak sekolahan saja, punya kedudukan penting sebagai anggota dewan juga bukan jaminan para wakil rakyat mampu menunjukkan sikap disiplin. Begitu berita yang dikabarkan ViVanews Selasa 27 Juli kemarin. Harus ada tekanan seperti sanksi, teguran atau hukuman yang diberikan seperti halnya siswa sekolahan atau karyawan kantor ketika sang oknum mangkir dari tugasnya, kata media yang lain. Malah ada juga yang kemudian menganjurkan pemotongan gaji bulanan dan tunjangan atau bahkan absensi sidik jari yang diperkirakan mampu memperkecil kemungkinan aksi mbolos rame-rame ini.

Antisipasi pertama yang dilakukan untuk menanggapi aksi ini tentu saja mengumumkan siapa-siapa saja yang masuk dalam kategori pembolos tingkat wahid di kalangan wakil rakyat ini. Hasilnya cukup mencengangkan. Rata-rata oknum yang masuk daftar tersebut berusaha membela diri dengan segudang alasan pembenaran.

Ngomongin soal aksi mbolos, sebetulnya para anggota dewan kita yang terhormat itu gak jauh beda kok dengan aksi mbolos yang dilakukan puluhan oknum pegawai negeri sipil. Bahkan dari segi alasan serta kuantitas mbolos, para pegawai ini jauh lebih kreatif loh. Hehehe…

Bisa jadi uenaknya aksi mbolos ini lantaran ancaman sanksi yang dijatuhkan tidak berat-berat banget mengingat ada kuota (baca:batas waktu maksimal) yang diberikan untuk melakukan aksi bolos sebelum menjatuhkan putusan. Kalo ndak salah sebulan mbolos ya ? atau malah tiga bulan ? hehehe… lupa tuh.

Seorang teman berpendapat, adanya kelonggaran kuota ini malahan membuka peluang oknum untuk mbolos jauh lebih sering. Tinggal ngantor begitu kuota yang diberikan nyaris berakhir. Seyogyanya ya sanksi gak jadi dijatuhkan mengingat syarat sanksi yang mengatur aksi mbolos dilakukan secara berturut-turut.

Andai saja, ini andai loh ya. Andai para wakil rakyat itu (termasuk pegawai negeri sipil) diberikan ancaman seperti halnya yang diberlakukan untuk para anak sekolahan atau karyawan kantoran, dimana absen tanpa keterangan dua hari saja, langsung kena teguran. Kalo berlanjut sampe seminggu, yang namanya nilai kedisiplinan (bagi anak sekolah) atau gaji ya dipotong sesuai jumlah absen.

Sayangnya wacana pemotongan gaji ini ditolak mentah-mentah oleh beberapa anggota dewan. Begitu pula dengan saran untuk menggunakan absensi sidik jari. Itu pelecehan katanya. “Jangan hanya kami yang dipermasalahkan hanya karena tidak absen. Anggota DPR itu bukan pegawai kantoran yang masuk jam 08.00 pulang jam 16.00 sore.” Kata Mbak Puan Maharani (ViVanews 29 Juli). “(bisa jadi) anggota dewan juga mempunyai tugas-tugas kepartaian yang menuntut mereka berada di lapangan (luar gedung DPR),” tambahnya. Waaahh… memang sulit ya ternyata ?

Kalo sudah ngomongin soal “tugas-tugas yang menuntut keberadaan di lapangan” saya pikir sepertinya ada juga yang berlaku dikalangan pegawai negeri sipil yang kebetulan ditunjuk sebagai pengawas kegiatan atau pengamat jalan misalnya. Begitu pula dengan pendapat “tidak harus datang jam 08.00 dan pulang jam 16.00”, karena bisa jadi ada aktifitas-aktifitas yang menuntut kondisi tertentu misalnya baru dimulai pada pukul 21.00. Pengaspalan jalan menunggu penurunan tingkat keramaian lalu lintas. Bahkan bisa jadi inspeksi dadakan ke satu wilayah banjir di pagi buta, masa’harus balik kantor buat ngabsen trus kembali lagi ke lokasi banjir ? begitu misalnya. Iya sih, ada benarnya juga.

Mumpung dibenarkan, yah ada juga loh yang kemudian beraksi mbolos dengan menggunakan alasan-alasan tadi. Nah trus gimana dong ?

Ealah, kok malah ngelantur kemana-mana ? ketimbang mikir ruwet saya pilih ikutan aja lah… “Bolos yuk Pak Dewan ?”

Bergoyang KeOng Racun ala Sinta and Jojo

11

Category : tentang KeseHaRian

Apa yang terbayang di benak ketika mendengar ‘Keong Racun’ ? binatang ?

he… kira-kira begitulah yang saya pikirkan pertama kali ketika membaca headline di portal berita terkini dunia maya. Species baru-kah ? atau barangkali penemuan langka di negeri ini ? Membaca lebih jauh rupanya saya kecele dua ratus persen.

KeOng Racun kabarnya menjadi trending topic (topik teratas) pada jejaring sosial FaceBook dan microblogging Twitter beberapa hari lalu sampai-sampai mengundang banyak pertanyaan dari dunia luar, seakan penasaran dengan istilah ‘KeOng Racun’.

Rupanya yang dimaksud dengan KeOng Racun adalah sebuah video disebuah portal video YouTube yang menyajikan dua cewe’abegeh imut (yang kini rupanya sudah berstatus mahasiswi), bernyanyi lipsync dangdut koplo berjudul ‘KeOng Racun’ khas dugem plus tambahan gaya yang asoy buat dinikmati. Gak ada bosen-bosennya ngliatin’ kata seorang rekan kantor.

Jika diliat dari aksi kedua abegeh ini rupanya tidak jauh berbeda dengan dua abegeh negara tetangga yang sudah terlebih dahulu menyajikan aksi yang sama dan diunggah pula pada portal video YouTube. MoyMoy PalaBoy, dua abegeh cowok beda penampilan (satunya berambut satunya tidak :p) tampil jauh lebih kreatif dan ekspresif (puih istilahnya…) ketimbang KeOng Racun, hanya saja sayangnya mereka tampil pada era  yang berbeda, hingga tidak menjadi trending topic kendati secara kuantitas viewer malah berkali lipat lebih banyak.

Kehebohan KeOng Racun tampaknya (seperti biasa) diikuti pula oleh para plagiator yang nebeng beken baik dengan meniru aksi menggemaskan Sinta and Jojo atau malahan ada juga yang jauh lebih panas penampilannya.

Apa yang dilakukan oleh Sinta and Jojo dengan KeOng Racun mereka, mengingatkan saya pula dengan ‘Rocker’, film komedi yang dibintangi si gembul Jack Black. Kalo gak salah ingat, band baru si gaek Jack Black tampil dengan gaya ‘nude-telanjang-nya dalam sebuah video musik yang dapat dilihat secara langsung lewat portal YouTube. Keunikannya inilah kemudian mengantarkan seorang produser mengontak band ADD –Attention Defisit Disorder- tersebut.

Kira-kira Sinta and Jojo ini bakalan mengalami hal yang serupa gak ya ?

Menanti SLaSH sang Legenda GiTar tampil di Indonesia

8

Category : tentang InSPiRasi

Jika tak ada aral yang melintang selama rentang dua minggu kedepan, negeri ini bakalan kedatangan seorang musisi angkatan lawas, gitaris kelahiran ‘the most Dangerous Band in the World’ Guns N Roses. SLash Hudson.

Bagi mereka yang melewati masa remaja di era 2000-an barangkali nama besar SLash bukanlah sebuah nama familiar kendati sudah dikaitkan dengan area musik rock. Bisa dimaklumi lantaran SLash tidak lagi booming seperti halnya era 90-an.

Musisi yang lahir dengan nama Saul Hudson kelahiran 23 Juli 1965 ini, pasca pensiun dari Guns N Roses, bareng beberapa rekannya merilis album bertajuk SLash Snakepit (1995) yang bergambar depan seekor ular, kental dengan raungan gitar khas seorang SLash. Meskipun sempat berlanjut hingga album kedua Ain’t Life Grand (2000), perjalanan sang gitaris ini tak mampu menyamai kredibilitasnya dahulu yang penuh kontroversi. Meski demikian, SLash pernah pula dipercaya oleh seorang superstar Michael Jackson untuk meraungkan gitarnya pada karya Beat It, Black or White yang fenomenal dan Give In To Me dari album yang sama, Dangerous (1990).

SLash yang ditiru habis-habisan oleh gitaris grup band lokal Boomerang dari gaya penampilan hingga tipe gitarnya ini, kemudian beralih ke VelVet ReVoLVer, sebuah band kerja bareng SLash, Duff McKagan dan Matt Sorum, tiga punggawa yang pernah merilis album Use Your Illusions I & II (1991) by Guns n Roses. Kerja sama ini sempat melahirkan karya Set Me Free yang menjadi salah satu reportoar album soundtrack film the Hulk.

Salah satu penampilan gitar SLash yang paling diingat orang terdapat pada music video November Rain yang terdapat dalam album Use Your Illusions I, satu dari dobel album paling keren yang saya miliki. Permainan gitar berlatar gereja dengan pandangan kamera yang mengitarinya bisa jadi merupakan momen yang tergolong ‘amazing’ bagi seorang penggemar SLash. Sayang, raungan gitar SLash kini sudah jarang bisa dinikmati dengan baik.

Kabarnya dalam agendanya nanti tampil dinegeri ini, SLash bakalan membakar ‘hanya’ dua kota besar yaitu Surabaya pada akhir Juli dan tentu saja Jakarta pada awal Agustus. Kita tunggu.

Rekreasi Sabtu Pagi di PusPem Badung

7

Category : tentang PLeSiran

Rasanya sudah lama kami tidak jalan-jalan bersama keluarga. Terakhir kalo gak salah waktu melintas ke Benoa, itupun lantaran harus membayar biaya koneksi bulanan ke kantor Indosat Tuban. Main jauh, ya sekalian aja singgah kesana sini.

Pasca perawatan MiRah di Rumah Sakit Sanglah tempo hari sebenarnya yang menjadi agenda kami sabtu pagi adalah lapangan alun-alun. Hampir setiap pagi sedari pulang perawatan, MiRah selalu meminta kami untuk mengajaknya berjalan-jalan lagi. Kangen barangkali.

Sayangnya sabtu pagi ini kakek nenek MiRah punya keinginan lain. Pengen makan lawar bali atau sate dan soto Sempidi. Memang sudah adatnya sebelum jalan-jalan kami berembug, mempertimbangkan keingan satu sama lainnya dan mengambil keputusan yang terbaik sembari mencari alternatif bagi yang sedikit menyimpang. Sempidi Mengwi akhirnya menjadi pilihan pagi ini.

Puas dengan sarapan pagi sate dan soto Sempidi, kami meluncur ke kawasan Pusat Pemerintahan Kabupaten Badung Mangupura Mengwi, areal yang dahulu pernah menjadi rumah kedua saat pematangan lahan dilakukan. Ketika kendaraan mulai memasuki pintu gerbang utama, satu persatu kenangan masa lalu muncul kembali. Kenangan akan masa menjelajah kawasan persawahan untuk mencari batas dan patok kayu, kenangan akan luasnya wilayah yang harus dilalui untuk mencapai satu titik ketitik lain, kenangan akan berjalan bahkan berlarian di pematang sawah dan terjerembab dalam lumpur dalam kondisi pakaian dinas lengkap.

Kami mulai mengitari satu persatu gedung yang kini telah menjadi kantor kerja kami sambil menjelaskan situasi sekitar bak pemandu wisata. Entah itu perubahan desain yang terjadi, gambaran lingkungan kerja bahkan visual kawasan pura yang sepintas mirip dengan lingkungan Pura Gunung Salak.

MiRah sudah tampak tak sabar ingin turun dan bermain. Hamparan paving yang lapang, hijaunya pohon dan rumput sertaa patung yang menjulang bisa jadi mengingatkannya pada lapangan alun-alun yang telah kami janjikan sebelumnya. Bersama seorang kakak sepupunya, MiRah sangat menikmati petualangan barunya ini. Mengenal bunga dan tumbuhan putri malu, menaiki tangga dan duduk dipinggiran monumen patung atau bahkan berlarian disekitar kami. Dunia anak-anak memang indah.

Cukup lama kami duduk dan bercengkrama, langit yang sedikit mendung ditambah angin yang semilir dingin membuat waktu tak terasa berjalan begitu cepat. Rekreasi di sabtu pagi dengan terpaksa kami akhiri sampai disini.

Wimcycle Strawberry Sepeda Baru MiRah GayatriDewi

8

Category : tentang Buah Hati

Diam-diam MiRah rupanya mulai belajar menaiki sepeda milik kakak sepupunya tiap kali kami ajak pulang kampung ke Canggu. Kami baru menyadarinya ketika awal bulan Juni lalu MiRah dengan santainya mengayuh sepeda kecil beroda dua yang ditambah dua roda kecil disisi samping sebagai bantuan. Untuk menaikinya MiRah dibantu kedua kakaknya yang dengan hati-hati mendampinginya.

Dibandingkan dengan anak seusianya (dua tahun tiga bulan), MiRah tergolong cepat beradaptasi dengan sepeda jenis tersebut. Sedikit berbeda dengan saudara yang sepantaran dengannya, masih suka menggunakan sepeda roda tiga ketimbang mencoba sepeda yang kerap digunakan MiRah.

Bisa ditebak, ketika semua saudaranya bergembira bersepeda, MiRah langsung minta dibelikan.

Sebetulnya ada banyak pilihan jenis sepeda yang kami tawarkan pada MiRah. Dari yang ada bonekanya, keranjang, dengan setang lurus sampai pada akhirnya MiRah memilih tipe Strawberry dari produk milik Wimcycle. Padahal secara ukuran, MiRah masih belum mampu menjangkau sadel –tempat duduk- sehingga terkadang memerlukan bantuan kami untuk menaiki maupun turun dari sepedanya tersebut.

Hanya berselang satu bulan, MiRah kini sudah mulai pintar menggunakannya. Jika pada awalnya ia hanya bisa berputar-putar pada satu tempat, kini sudah bisa mengitari halaman rumah. Bahkan beberapa hari terakhir, ia sudah menemukan cara untuk mencapai sadel tanpa bantuan juga turun dengan sempurna.

Sebagai anak-anak, MiRah rupanya sama nakalnya dengan yang lain. Walau sudah kami ingatkan, kerap ia membunyikan bel sepeda dimalam hari atau pagi buta hingga mengejutkan mereka yang sedang beristirahat. Kalau sudah begini, MiRah Cuma bisa nyengir. Hihihi…

Sebuah Drama Tempat Hiburan setiap kali Bulan Puasa

7

Category : tentang Opini

Drama itu telah dimulai…

Hampir setiap tahun masyarakat negeri ini disuguhkan tayangan klise begitu mendekati bulan puasa. Aksi razia terhadap sejumlah klab malam, panti pijat, tempat dugem, diskotik, café dan semacamnya yang biasanya dilengkapi dengan tindak kekerasan apabila ada hal-hal yang tidak sesuai dengan hati nurani sang oknum yang mengatasnamakan umat Tuhan paling terhormat.

Bar sampai panti pijat tutup selama puasa, begitu judul sebuah artikel di portal berita Vivanews 21 Juli kemarin. Artikel yang mengetengahkan soal himbauan untuk menutup 400 dari 1.300 tempat hiburan malam di Jakarta selama bulan puasa, dimulai dari 11 Agustus 2010. “Tempat-tempat itu harus tutup satu hari sebelum bulan puasa sampai satu hari setelah Hari Raya Idul Fitri,” kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jakarta, Arie Budiman, di Jakarta. Sementara itu untuk tempat hiburan malam jenis lainnya, seperti karaoke, tidak wajib tutup. Tetapi, kegiatannya dibatasi hanya pukul 20.30 WIB sampai pukul 01.30 WIB.

Yang saya katakan sebagai drama sekaligus menjadi pertanyaan setiap tahunnya adalah, kenapa ? kenapa tempat-tempat hiburan tersebut harus ditutup dan tidak beroperasi selama bulan puasa ? apakah semua tempat tersebut lantas dianggap maksiat hingga ditenggarai bakalan mengganggu jalannya ibadah mayoritas umat Muslim negeri yang kabarnya mengedepankan rasa demokratis dan katanya punya tenggang rasa yang tinggi, tepo seliro dan ‘saling hormat menghormati antar umat beragama ?

Pertanyaan kedua, lantas kalau memang dianggap maksiat atau mengganggu jalannya ibadah kenapa tidak ditutup saja secara permanen sehingga yang namanya moral dan akhlak sejumlah generasi muda dan anak-anak bangsa ini tidak dirusak ? kalau sudah begini, jangan lantas menyalahkan Ariel, Luna Maya dan Cut Tari dong… Wong selama 11 bulan sisanya bangsa ini disuguhkan tontonan yang lebih ‘menarik’ kok. lha kok malah melenceng kesitu ?

Pertanyaan menggelitik malah dilontarkan seorang sahabat melalui komentar status di jejaring sosial FaceBook tempo hari. Kalo kemudian tempat-tempat tersebut ditutup hanya pada bulan puasa, artinya kita sudah mengetahui pangsa pasar mana saja yang disasar oleh sejumlah tempat hiburan tersebut. Baik pelaku dan konsumennya. Menarik bukan ?

Ada satu imajinasi yang kerap terbayang pada pikiran setiap kali bangsa ini disuguhkan drama seperti ini.

Seandainya… ya, seandainya saja… tempat-tempat hiburan seperti yang telah disebutkan diatas, tidak ditutup, tidak dibatasi dan dibiarkan beroperasi selama bulan puasa, coba bayangkan… seberapa besar pahala yang didapatkan oleh setiap umat baik yang tidak terlibat dalam kegiatan tempat hiburan tersebut, atau yang terlibat sebagai pelaku, pemilik hingga konsumennya, apabila dapat menunaikan ibadah puasa tanpa terganggu atau terusik oleh semua ‘maksiat’ tersebut. Karena bagaimanapun juga, itu merupakan tantangan terbesar yang ada selama proses ibadah.

Tindakan untuk menutup tempat hiburan selama bulan puasa secara tidak langsung mengartikan bahwa mereka pada akhirnya melegalkan tempat hiburan selama 11 bulan sisanya. Satu tindakan yang tidak memecahkan masalah saya kira.

Entah kenapa, setiap kali bulan puasa yang kemudian dibumbui oleh drama razia tempat hiburan ini, saya selalu teringat dengan tulisan karya HiLman dalam fiksinya yang paling keren, Lupus. Teringat akan satu cerita dimana satu hari lupus menemukan seorang anak jalanan yang dengan seenaknya makan roti dihadapan umum saat bulan puasa. Hal ini tentu saja membuat marah orang-orang yang hilir mudik disekitarnya. Si anak jalanan hanya ingin membalas perlakuan orang disekitarnya yang tidak peduli padanya. Hanya satu hari dalam setahun… bandingkan dengan sisa tiga ratusan hari dimana orang melakukan hal yang sebaliknya terhadap si anak jalanan…

Yah, semoga saja apa yang dikhawatirkan tidak akan pernah terjadi lagi. Kalopun terjadi ya… kita nonton film aja yuk ?

Menyoal Ciuman Mesra Raul-KD dihadapan Publik

20

Category : tentang Opini

Betapapun kerinduan pasangan kekasih yang sedang dilanda mabuk asmara setelah sekian lama terpisah jauh lantas melampiaskannya dengan penuh spontanitas adalah hal yang biasa dan lumrah. Tidak peduli batasan usia yang bersangkutan.

Sayangnya akan menjadi sebuah kontroversi ketika salah satu dari pasangan kekasih tersebut masih terikat dalam sebuah perkawinan yang sah. Lebih sial lagi, pasangan yang satunya lagi merupakan ibu dari dua anak yang menginjak usia remaja seakan tak peduli lagi dan berlindung dibalik kerinduan asmara yang membuncah, seakan keduanya masih berumur tujuh belasan dan menganggap sah-sah saja mereka melakukannya.

Ciuman Mesra Raul-KD didepan umum, dihadapan kamera para pencari berita infoTAIment, memicu kemarahan publik. Sejumlah artis lainnya menyayangkan bahkan menabukan aksi tersebut, ada pula yang mengkhawatirkan reaksi yang bakalan ditimbulkan pada kedua anak KD, wajar apabila mereka kelak takkan mau dekat lagi dengan sang ibu. Demikian gosip artis yang dapat dikabarkan melalui blog seorang abdi negara pagi ini.

Life begin at 40. Puber Kedua…

Terlepas dari aksi pegangan tangan hingga ciuman mesra sang diva bersama seorang pengusaha Timor Leste yang kemudiaan berlindung dibalik cerita asmara, saya pribadi sangat menyayangkan spontanitas tersebut. Apalagi kalo bukan soal status pujaan sang diva yang notabene masih terikat perkawinan dengan wanita lain. Tapi yah, seperti kata Kakek GombLoh ‘kalo cinta sudah melekat, tai kucing -berasa- cokelat. Well, itulah cinta.

Lain lagi dengan tanggapan masyarakat yang kini sepertinya sudah mulai merambah sebuah jejaring sosial bernama FaceBook, hiruk pikuk membentuk sebuah group ‘say no to Krisdayanti’. Halaman tersebut diperuntukkan bagi mereka yang sudah muak dengan kelakuan Krisdayanti yang telah berulang kali berzina, merebut suami orang, tak memedulikan perasaan orang lain, munafik, tak punya moral dan tak punya malu. Berbagai Ungkapan hati pun dilontarkan oleh sebagian besar penyuka halaman tersebut yang hingga pagi ini (24/7 pk.7.30) sudah mencapai angka 61.895 orang. Padahal baru pagi kemarin jumlahnya baru mencapai angka 26.951 orang saja. Memang, tak semua tanggapan kemudian menghujat marah pada sang diva, ada juga yang menganggap bahwa pembentukan group ini malah terkesan kurang kerjaan dan berlebihan. Tapi apa mau dikata ? seorang Krisdayanti yang dahulu sudah terlanjur dekat di benar sekian juta pasangan hidup dan berharap Anang-KD bisa tetap setia hingga ajal menjemput, tampaknya jelas kecewa berat.

Ada satu lagi yang unik dalam pemberitaan media pagi ini. Menurut Elsie Lontoh kuasa hukum sekaligus sahabat KD, Raul harus mempersiapkan diri untuk memberikan kehidupan yang layak untuk diva tersebut. “Biaya hidup KD nggak murah, lho. Raul harus bisa hidupi KD. Siap nggak Raul nanti bisa hidupi KD dengan baik?” (Vivanews 24/7). Yang kalau diartikan oleh awam seperti saya misalkan malah jadi ‘oh jadi ini yang menjadi penyebab keretakan rumah tangga Anang-KD ? ujung-ujungnya soal biaya hidup (baca: duit) ? ealah…’

Pengalaman (mengantar) Suntik VAR pasca Gigitan Anjing

7

Category : tentang KeseHaRian

Selasa 15 Juni 2010 pukul 6 pagi, MiRah baru saja terbangun dari tidur dan seperti biasa meminta untuk diputarkan video ‘Mejangeran’. Belum usai saya memenuhi permintaannya, Bapak terlihat tergopoh-gopoh membuka pintu rumah sambil berkata ‘Pak digigit Anjing, ayo antarkan ke RS Sanglah sekarang…’

Panik ? jelas. Bagaimana tidak, rasanya baru kemarin kami membicarakan tingginya angka gigitan anjing dimana satu dua diantaranya tidak ditangani dengan baik dan pada akhirnya berujung pada kematian. Beberapa hal yang ikut melengkapi adalah ketiadaan VAR (Vaksin Anti Rabies) di beberapa Puskesmas bahkan Rumah Sakit daerah maupun keteledoran (pengetahuan) tenaga medis yang tidak tanggap dengan kondisi pasien. Saya katakan demikian karena ada beberapa kasus yang terungkap di media mengatakan bahwa sudah jelas si pasien digigit anjing beberapa hari sebelumnya namun panas badan yang menyerang pasien malah di diagnosa penyakit lain. Ironis.

Kami bergegas menuju RS Sanglah dengan harapan agar Bapak bisa segera disuntik VAR. Setelah mendaftar, kami diarahkan ke bagian Bedah di UGD/IRD dan Bapak disuntik 2 (dua) kali di lengan kanan dan kiri. Mungkin lantaran hari masih pagi, tidak banyak masalah yang kami temui saat itu. Kecuali Parkir kendaraan barangkali.

Selasa 22 Juni 2010, seminggu pasca digigit anjing, kami kembali menuju RS Sanglah untuk mendapatkan suntikan VAR yang kedua. Sesuai Surat Rujukan, kami menuju bagian Poli yang kemudian disarankan untuk mendaftar pada loket Pasien Rawat Jalan yang berada tak jauh dari situ. Setelah mendaftar kami diarahkan ke sal Ratna dimana kabarnya menjadi Pos Pengobatan bagi pasien gigitan binatang. VAR kami dapatkan dari Apotik yang berada disebelah konter Dunkin Donut’s area parkir. Bapak disuntik satu kali dan selesai. Satu-satunya masalah sekaligus aktifitas yang menghabiskan banyak waktu adalah mencari lahan parkir kendaraan roda empat yang pada akhirnya baru kami dapatkan di ruas jalan depan Fakultas Sastra Udayana.

Selasa 6 Juli 2010, tiga minggu pasca gigitan anjing, kami kembali lagi untuk mendapatkan suntikan VAR yang ketiga. Kali ini dengan harapan mendapatkan parkir kendaraan roda empat, kami datang lebih pagi dari sebelumnya. Sayang, keterbatasan tempat yang ada (parkir utama, utara UGD dan didepan kantin) rupanya harus mengecewakan sekian banyak pengendara yang berkepentingan di RS Sanglah. Saya sendiri pada akhirnya menurunkan Bapak di depan UGD/IRD dan baru mendapatkan parkir didepan lahan eks. Alfa Diponegoro. Beuh…

Setelah berjalan kaki menuju Poli dan mendaftar, agak shock juga ketika kami memasuki lorong menuju Sal Ratna. Banyak orang terlihat mengantre didepan pintu masuk dengan wajah yang tak sabar. Rupanya kali ini sebelum mengambil resep VAR, setiap pasien diwajibkan mengisi daftar tertulis (sebelumnya dilakukan saat pengambilan VAR di apotik) terkait biodata dan riwayat gigitan. Untuk masuk ke ruangan periksa pun dipanggil satu persatu. Banyaknya pasien gigitan anjing (dan kucing) rupanya merupakan akibat dari kosongnya VAR di beberapa Puskesmas setempat dan Rumah Sakit daerah seperti RS Kapal misalnya. Antrean ini saya alami pula saat mengambil VAR di apotik dan saat kembali melewati loket pendaftaran Pasien Rawat Jalan.

Satu kali suntikan VAR harus ditebus dengan biaya 32.000 rupiah dengan akses pasien melalu jalur umum tanpa menggunakan askes. Biaya ini bagi saya pribadi termasuk murah mengingat label harga yang tertera pada kemasan obat adalah lebih dari seratusan ribu. Artinya untuk masyarakat umum yang tanpa melalui askes pun kami sudah bersyukur mendapatkan subsidi dari Pemerintah. Sedangkan bagi mereka yang menggunakan askes, kalau tidak salah baca dari edaran yang ditempelkan disebelah loket pendaftaran Pasien Rawat Jalan, baik yang menggunakan askes wajib, swasta maupun JKBM (Jaminan Kesehatan Bali Mandara), pasien tidak dipungut biaya alias VAR digratiskan.

Atas berbagai kemudahan yang saya dapatkan selama proses suntik VAR, sebagai pengantar pasien (dalam hal ini orang tua sendiri) hingga kali ketiga, saya sempatkan beberapa menit sebelum pulang untuk memberikan petunjuk kepada mereka yang marah-marah dan terlihat tidak sabar saat menunggu antrean dan kebingungan dengan prosedur yang telah ditetapkan.

Yah, semoga saja semua bisa berjalan dengan baik.

Menulis itu Gampang atau Susah ?

20

Category : tentang iLMu tamBahan

Menjadi seorang blogger pemula kerap menemui kendala ditengah jalan terkait ‘bagaimana cara menuangkan pikiran dalam bentuk tulisan yang enak dibaca dan mudah dimengerti oleh orang lain ? dalam hal ini dinamakan ‘Pembaca. Kalau hal ini belum bisa terpecahkan dalam waktu lama, bisa jadi minat untuk menjadi seorang blogger malah pupus dan menghilang.

Update atau pembaharuan tulisan atau isi blog merupakan hal mutlak bagi seorang blogger, terlepas dari tema dan periode pembaharuan yang ditentukan sebelumnya. Terkait tema, ada blogger yang memang sejak awal sudah menginginkan untuk fokus pada satu topik tertentu misalkan blogger dr.Cock Wirawan yang secara konsisten menurunkan tulisan tentang kesehatan dan ada juga blogger yang memilih banyak tema seperti kegiatan rutin, pekerjaan atau bahkan keluarga. Blogger seperti ini ada banyak yang kenal, termasuk saya salah satunya.

Berusaha untuk fokus dalam satu tema bisa jadi malahan membuat semangat menulis mulai kendor apabila tema tersebut tidak dikuasai dengan baik (bukan bidang atau keahlian, memilih tema karena menginginkan tujuan tertentu seperti kunjungan atau iklan) atau bisa jadi tidak ada hal baru yang dapat ditulis lagi. Sebaliknya blogger yang memilih untuk mengangkat banyak tema ada kemungkinan ketika satu tema sudah dirasakan mentok, ada pilihan tema lain yang bisa diangkat. Meskipun biasanya (menurut teori) tingkat kunjungan pada blog seperti ini cenderung lebih rendah ketimbang yang fokus pada satu topik.

Ada beragam cara yang biasanya dilakukan seorang blogger pemula untuk bisa selalu tetap meng-update isi blognya (jika memang itu yang menjadi tujuan sejak awal) atau ketika minimnya ide yang hadir dikepala. Salah satunya adalah mencomot tulisan dari luar, entah portal berita, topik yang senada atau bahkan dari buku atau makalah tertentu. Hal ini sah-sah saja dilakukan, asalkan tetap mencantumkan sumber tulisan yang diambil.

Menulis (bagi saya pribadi) bisa menjadi gampang ketika yang namanya ide, mood dan konsentrasi dalam kondisi bagus dan bisa menjadi susah ketika salah satu dari ketiga hal tersebut tidak ada dalam satu waktu. Kalau sudah begini, biasanya yang kerap saya lakukan adalah mencatat sejauh mana yang saya mampu dan dilanjutkan kembali ketiga-tiganya muncul. Oleh sebab itu dalam laptop ataupun ponsel yang saya gunakan, ada banyak Notes atau catatan berisikan ide ataupun perkiraan isi dari tulisan yang ingin saya buat dalam waktu dekat.

Untuk seorang blogger yang memiliki ratusan tulisan (sindiran seorang teman), ada dua hal yang saya bisa rekomendasikan kepada seorang blogger pemula yaitu banyak membaca dan teruslah menulis. Banyak membaca tulisan, berita, cerpen atau apapun itu bentuknya untuk dapat membiasakan pikiran membentuk pola tertentu dalam usaha menuangkan tulisan nantinya. Pola tertentu yang saya maksud, apakah tulisan itu dimulai dari tema utama kemudian dikembangkan, dari hal kecil dilanjutkan ke tema utama, dari perumpamaan yang senada dengan tema atau dari contoh lain yang serupa baru masuk ke isi pemikiran.

Jika sudah, teruslah menulis. Karena menulis akan menjadi gampang ketika pikiran mulai terbiasa dalam menuangkan isinya. Saya yakin, setiap orang memiliki gaya menulis yang berbeda satu sama lainnya. Entah apakah itu dituangkan dalam bahasa Indonesia yang sesuai dengan EYD, dalam bahasa keseharian yang kadang terdapat kata yang tidak lazim atau bahkan dalam bahasa alay khas gaya remaja. Teruslah menulis, karena seorang penulis yang handal (handal dalam ukuran kacamata tertentu) tidak akan langsung bisa berlari tanpa mulai merangkak dan berjalan dahulu.

Jadikan membaca dan menulis itu sebuah hobi, yang bisa dikerjakan tanpa mengganggu konsentrasi kerja dan kehidupan utama berkeluarga. Dengan begitu, profesi sampingan sebagai seorang blogger, saya yakin tidak akan berbalik menjadi sebuah beban berat.

Ayo Kawan, teruslah menulis.

Keris Dalam Kebudayaan oleh Neka Art Museum

2

Category : tentang iLMu tamBahan

Tulisan berikut saya ambil dari sebuah booklet/brosur  milik Neka Art Museum, saat kunjungan Yowana Paramartha hari Minggu 18 Juli 2010 lalu.

* * *

Buatan manusia atau berasal dari alam supranatural, keris tradisional Indonesia diyakini sebagai manifestasi fisik dari kekuatan-kekuatan alam maya. Ditempa dengan api, namun merupakan simbol dari air, sebuah keris merupakan penyatuan kekuatan kosmis yang sating melengkapi.

Ciri khas dari kebanyakan keris adalah jumlah lekuknya yang selalu ganjil, namun ada juga keris yang lurus tanpa lekukan. Keris adalah seperti naga air yang subur, yang diasosiasikan dengan saluran irigasi, sungai, mata air, sumur, air terjun dan pelangi. Beberapa keris mempunyai ukiran kepala naga yang diukir pada gandiknya, dengan bagian yang berlekuk sebagai badan dan ekornya. Keris dengan banyak lekukan digambarkan sebagai naga yang sedang bergerak, agresif dan hidup, sedangkan keris yang lurus dianggap naga yang sedang istirahat, dengan kekuatannya yang terpendam, tapi siap untuk beraksi.

Perbedaan jenis batu asah, cairan asam dari buah jeruk dan cairan racun arsenic membuat besi hitam keris kontras dengan bagian yang berwarna cerah dengan lapisan nikel keperakan dan kedua bagian ini secara bersama-sama membentuk pamor dari sebuah keris. Pamor adalah pola atau motif pada keris. Motif-motif ini mempunyai nama-nama tertentu yang menunjukkan tuah dari keris tersebut. Misalnya udan mas bagus untuk kemakmuran sedangkan beras wutah membawa kesejahteraan.

Dengan mengukur sebilah keris dari dasar ke ujungnya dengan menggunakan empat jari bergantian, sisa panjang keris menunjukkan kegunaan keris itu. Sisa tiga jari membantu membuat keputusan, sisa dua jari bagus untuk tujuan spiritual, sisa satu setengah jari menghindarkan kita dari bencana dan ilmu hitam dan sisa satu jari bagus untuk pertanian.

Keris adalah harta keluarga yang penting dan dianggap sebagai warisan leluhur, karena keris pusaka sering berperan penting dalam bangkit dan jatuhnya sebuah keluarga serta keberuntungan dalam sejarah. Keris pusaka mempunyai nama yang menggambarkan kekuatannya. Ki Sudamala adalah pengusir kekuatan jahat, dan Ki Baju Rante secara spiritual melindungi orang yang memakainya.

Di Bali, keris pusaka dan benda-benda tajam lainnya diupacarai tiap 210 hari pada hari Tumpek Landep (landep berarti tajam). Pusaka dan benda-benda tajam itu dibersihkan, ditempatkan di merajan atau di Pura, disampingnya dinyalakan dupa, diperciki air suci, serta diberi sesaji dengan bunga merah untuk menghormati Brahma (Dewa Api). Upacara ini diikuti dengan doa-doa untuk mempertajam fikiran kepada Sang Hyang Pasupati, dewa yang memberikan kekuatan kepada benda-benda sakral dan semoga terhindar dari mara bahaya.

Walaupun sarung keris kadang terbuat dari kayu yang langka atau gading serta dihiasi dengan logam mulia (batu mulia), namun bagian terpenting dari sebuah keris adalah bilahnya. Kekuatan yang keluar dari keris itu dikendalikan oleh sarung yang sekaligus sebagai pelindungnya.

Pande sama dengan kata pandai besi dalam bahasa Indonesia. Pande merupakan seorang yang ahli tempa logam. Kata Mpu digunakan untuk orang yang berpengetahuan sangat tinggi dan mahir untuk membuat keris, yang biasanya disebut dengan mpu keris. Kemudian keberadaan keris itu sendiri sejak 25 November 2005 mendapat pengakuan dari UNESCO-PBB sebagai “karya agung warisan kemanusiaan, milik semua bangsa di dunia”.

Pada September 2006, di Pura Penataran Pande Peliatan, pura kawitan warga pande di kecamatan Ubud mengadakan upacara Mamungkah Ngenteg Linggih lan Mupuk Pedagingan. Pada upacara ini, para warga pande Pura Penataran Pande Peliatan membuat keris Bali di perapen (besalen) yang dilaksanakan di Jero Mangku Pande Made Nesa pada bulan Juli 2006. Para laki-laki secara bergantian menempa besi yang merah menyala. Pada upacara tersebut Pande Wayan Suteja Neka (sebagai koordinator dan tetua warga pande) tertarik dengan keris dan mulai mempelajari segala sesuatunya tentang keris.

Tetapi segalanya tidak berhenti sampai di sana, karena tidak lama kemudian Neka mulai mengoleksi keris. Dia berkunjung pada para mpu keris kenamaan, kolektor keris, mengadiri pameran keris serta menghubungi paguyuban perkerisan. Setelah berita ini menyebar, orang-orang dari Bali, Jawa dan Madura mulai berdatangan membawa keris baru maupun lama kepadanya untuk dipelajari atau kalau mungkin untuk dijadikan koleksi. Dia juga berburu hulu keris (danganan) dan sarung keris serta orang-orang yang membuatnya. Selain itu Suteja Neka merupakan salah seorang penggerak yang berhubugan dengan seni perkerisan di Bali.

Pameran spesialnya yang diberi judul “Keris in Culture: Traditional Daggers in the Arts (Keris dalam budaya: Senjata tradisional dalam Seni) memamerkan koleksi pribadi berupa keris-keris Indonesia. Pada 22 Juli 2007, pengembangan koleksi Neka Art Museum berupa keris dibuka dengan resmi oleh Ir. Jero Wacik, SE (Menteri Kebudayaan dan Pariwisata R.I), ditandai dengan penandatanganan Prasasti. Sebagai tamu kehor­matan yang turut menandatangani prasasti Prof.Dr. Tommy Koh (Chairman, National Heritage Board, Ambassador-At-Large, Singapore). Dalam acara ini, sambutan diberikan oleh penasehat Yayasan Dharma Seni Neka Art Museum Jusuf Wanandi, SH (Vice Chairman, Board of Trustees Centre for Strategic and International Studies Foundation, Jakarta). Pameran ini juga dalam rangka memperingati Jubelium Perak Neka Art Museum, yang didirikan oleh Suteja Neka dan secara resmi diakui oleh pemerintah R.I pada 1982.

Kurator koleksi keris Neka Art Museum KRAT. Sukoyo Hadi Nagoro (mpu dan pakar keris). Asistennya M. Bakrin, SH., mesti menetap di Bali untuk memandu tamu-tamu penting yang ingin mengetahui lebih mendetail tentang informasi keberadaan keris koleksi Neka Art Museum.

Keris koleksi Neka Art Museum pada peresmian pembukaannya sebanyak 272 keris, termasuk 18 keris pusaka, 63 bilah keris kuno dan keris-keris lainnya karya mpu masa kini yang berprestasi (tangguh kamardikan).

Informasi lebih jauh dapat langsung menuju :

NEKA ART MUSEUM

JI. Raya Sanggingan Ubud, Gianyar 80571

Bali-INDONESIA

Telp: (62) (361) 975 074

Fax: (62) (361) 975 074.

Email: [email protected]
Website: www.museumneka.com