Skip to main content

Posts

Membunuh Waktu Jam Penerbangan di Udara

Lion Air JT 748, berangkat tadi sempat tertunda sekitar 10 menitan lantaran menunggu kehadiran 3 ekor penumpang yang belum jua menampakkan batang hidungnya hingga waktu keberangkatan tiba. Hingga saat tulisan ini dibuat pukul 10 tepat, kami masih berada di udara menyusuri gumpalan awan yang jauh berada di bawah badan pesawat, menampakkan hamparan tanah entah di pulau mana. Saya sempat memejamkan mata sejenak setelah menuliskan 4-5 draft post blog di seat 1C, kursi terdepan penerbangan kali ini. Mengamati bagaimana pekerjaan rutin yang dilakoni para pramugari ini, sempat membuat saya terkagum lantaran sigap dan gegasnya mereka bertugas. Baik saat melayani permintaan penumpang yang melakukan pemesanan makan dan minuman, termasuk membunuh waktu jam penerbangan di udara sebagaimana halnya yang saya lakukan saat ini. Perjalanan kali ini, akan berkaitan erat dengan peraturan perundang-undangan bidang Perumahan oleh tim dari Kementrian PUPR Pusat, yang kalau tidak salah menyasar Undang-undang...

Menulis di Atas Awan

Salah satu momen yang saya sukai tiap kali melakukan perjalanan dinas ke luar daerah sendirian adalah Me Time. Menikmati waktu untuk diri sendiri. Dari hal-hal kecil seperti menikmati semua pemandangan dari kota asal ke tujuan, saat berproses di pesawat udara hingga menuliskannya pada layar ponsel sebagai catatan pribadi yang nantinya akan diunggah ke halaman blog. Menjadikan aktifitas #UpdateBlog berubah sejenak jadi hitungan jam, bukan lagi mingguan. Menikmati waktu untuk diri sendiri jadi terasa menyenangkan mengingat di sepanjang waktu luang yang ada, tak lagi dibebani dengan kewajiban melayani masyarakat yang biasanya datang ke ruangan, atau panggilan pimpinan sebelum menindaklanjuti dengan pertemuan atau agenda rapat, tapi murni dilalui tanpa beban sedikitpun. Tak ada salahnya memang jika kita ingin menikmati sejenak semua waktu luang yang ada untuk hal-hal positif yang bisa dilakukan selama penerbangan, waktu menunggu hingga nanti agenda utama di tempat tujuan. Toh semua resmi d...

Dari JT 929 ke JT 748, serasa berada di Kelas Bisnis

On Time, tepat skejul kali ini. Berangkat dari Denpasar tadi tepat pukul 7 sesuai jadwal dan tiba di bandar udara Surabaya sekitar jam 7 lebih waktu setempat. Gak nyangka. Terbang bersama Lion Air kalau ndak salah ingat, bukan kali pertama. Jadi wajar saja kalau ada kekhawatiran bakalan kena delay saat jam keberangkatan sebagaimana isu dan komplain warga net negara +62. Maka itu pilihan awal saat mengambil penerbangan pagi memang demikianlah pertimbangannya. Transit di Surabaya Ternyata untuk bisa mencapai Manado Sulawesi Utara, hari ini gak ada satupun opsi penerbangan direct dari Denpasar langsung menuju destinasi. Salah satu pilihan adalah musti transit mampir dulu ke Surabaya atau Jakarta. Menimbang waktu penerbangan dan harus dilakoni sendirian, maka ini jadi opsi terbaik yang diambil. Serasa berada di Kelas Bisnis Memutuskan untuk mengambil seat 1C baik saat keberangkatan ataupun pulang balik nanti, pertimbangannya adalah ruang duduk dan kaki sedikit lebih lega mengingat jarak de...

Terbang bersama Lion Air JT929 menuju Manado Transit Surabaya

Rabu pagi, pukul 3.30 dini hari. Alarm ponsel berbunyi, istri pun membangunkan dari lelapnya tidur mengingatkan agenda dinas kali ini, agar tak terlambat menuju bandara. Masih penat, tapi ya musti dilakoni. Jeda lima tahun rupanya. Waktu itu saya pun berada dalam posisi yang sama, berangkat dinas sendirian, kaitan kegiatan PPIP kalau tidak salah ingat, dan menjelajah Bunaken di hari terakhir sebelum pulang bersama rekan-rekan se-Provinsi Bali. Kali ini kembali saya akan menjejaki tanah Manado Sulawesi Utara dalam rangka pembinaan perundang-undangan Bidang Perumahan, dimana bertugas saat ini, menggunakan pesawat Lion Air JT 929, menuju Surabaya untuk transit sekali sebelum bertolak ke tujuan. Jika dahulu semua aktifitas dilakoni sendirian, kali ini sepertinya saya bakalan punya teman. Pak Gede Pramana, Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Provinsi Bali, tampak sudah menunggu di kursi hijau Gate 6. Satu hal yang tidak diduga sebelumnya. Bagaimana ceritanya perjalanan ini ...

Tidak hanya sekedar mengejar Langkah

Aktifitas yang mampu mengilangkan semua penat dan jenuh sejauh ini, kelihatannya hanya satu. dan itu baru ditemukan jelang usia masuk kepala empat. Berolah raga. Setidaknya itu yang dirasa. Berjalan kaki saat dini hari hingga matahari menjelang di penghujung timur, atau menyempatkan diri pasca menjalani hari yang cukup melelahkan, tidak saja menjadi obat yang manjur untuk menumbuhkan semangat hidup, tapi juga upaya untuk mencapai kebahagiaan bagi diri sendiri, keluarga ataupun orang lain. Semua ini tidak hanya sekedar mengejar langkah. Tapi lebih pada kebutuhan, keinginan untuk menjadi lebih baik. Semua jadi terasa indah usai meneteskan keringat. Satu hal yang menggembirakan tentu saja. Melihat banyak orang yang mulai melakukan hal serupa, mengurangi racun yang tumbuh subur falam tubuh, melecut pikiran untuk terus mengulang dan mengulangi lagi aktifitas harian yang belakangan jadi makin rutin dilakoni.

Merenungi Hidup yang Kadang Tak Berarti

Lama juga saya tak lagi menulisi blog, karena kesibukan kerja yang sebenarnya tak terlalu penting untuk dilalui. Beberapa rutinitas tanpa tantangan. Pikiran benar-benar istirahat dalam 1.5 tahun terakhir ini. Sesuai dengan apa yang diharapkan. Namun demikian, hidup dan semua ceritanya tetap harus berjalan. Terkadang merasa bingung dengan keseharian yang tak punya arti apapun bagi orang lain. Bisa jadi karena kepala selama ini hanya memikirkan diri sendiri. Kesehatan, kesibukan, waktu luang. Malam jadi berlalu begitu saja. Nyaris tidak ada kemajuan yang kelak bisa dijadikan sebagai bekal. Selalu berpuas diri pada zona nyaman. Padahal satu saat bisa saja kematian secara tiba-tiba menjemput. Entah apa yang bisa diwariskan pada mereka. Melihat orang begitu gembira dan riang dengan aktifitasnya, sementara diri terdiam di sudut kegelapan. Ada rasa cemburu karena hari tak mampu menyemangati. Hanya merenung saja adanya kini…

Badung launching Perpustakaan Digital Sastra Mangutama

PEMERINTAH KABUPATEN BADUNG LAUNCHING BADUNG SASTRA MANGUTAMA 4.0 Mangupura, Senin 30 September 2019 Ide Perpustakaan Digital ini sebenarnya bukan hal baru, karena di perangkat ponsel ataupun tablet sudah tersedia beragam aplikasi dan layanan peminjaman/pembelian buku bagi masyarakat umum dengan berbagai kemudahan. Namun kelihatannya sejauh ini masih minim yang mampu menyediakan opsi penyediaan buku pelajaran tingkat kelas yang sesuai dengan kurikulum anak sekolah jaman now, dan kalaupun ada kemungkinan besar sosialisasinya yang kurang gencar dilaksanakan. Perpustakaan Digital melalui aplikasi iBadung ini dapat dipergunakan oleh masyarakat umum dengan memanfaatkam akun email maupun akun facebook yang dimiliki dengan prosedur verifikasi terlebih dulu sebelum bisa melakukan peminjaman.  Namun untuk saat ini, penggunaan maupun koleksi buku yang disediakan masih diutamakan pada segmen anak sekolah. Dalam lingkup Badung sendiri, pemerintah Daerah sudah banyak membantu masyarakat yaitu pembe...