Makin Banyak yang Dipelajari, Makin Banyak yang Diketahui, Makin Banyak yang Dilupakan...
Anekdot diatas kalau tidak salah pernah saya baca di buku Humor Mahasiswa saat remaja dulu. Kalau gak salah di toko buku jalan Sumatera timur jalan (bukan Corsica) yang pernah menjual komik Tintin dan semacamnya. Tampaknya ini benar adanya 😅Hari ini saya mendapat pengalaman berharga lagi. Bahwa di balik sebuah usaha, selalu ada rasa gugup yang berpotensi melupakan satu dua hal penting. Bahkan termasuk proses didalamnya. Ya, namanya juga masih belajar.
Ini kali ketiga saya diikutsertakan menjadi pembuka bebaosan di acara perkawinan ponakan. Sekaligus untuk yang kedua kalinya dari pihak purusa. Dan kali pertama dilibatkan sejak awal meDharma Suaka. Serius. Ini beban berat sejak awal bulan 😅
Dan, ya.
Makin banyak yang saya coba pelajari, maakin banyak tahu, tapi ternyata jadi makin gugup dan ada yang dilupakan. 😅 Saya pribadi menyadarinya ketika mencoba mendengarkan secara seksama penyampaian dari para penglingsir -PakDek Sudarsana dan PakDe Darmaja tadi siang. Lalu membathin sendiri -duh iya nok, saya lupa menyampaikan yang satu itu. Dan bersyukur diambil alih penyampaian lengkap soal parikrama lanjutannya.
Mungkin karena saya masih dalam tahap belajar menghafal, mengingat dan memahami kosa kata basa bali alus yang disampaikan, belum sampai tahap mengerti, memahami apalagi memilahndan memilih kosa kata mana yang harus digunakan.
Untuk kalian yang ingin melakukan hal serupa. Jangan lupa untuk menyiapkan mental berbicara di depan banyak orang dimana semua mata dan pikiran orang lain, bisa jadi sedang tertuju pada kosa kata yang akan disampaikan. 😅
Maka itu saya katakan, ini berat tantangannya... 😅
Comments
Post a Comment