Skip to main content

Mencoba (lagi) Bersahabat dengan Diabetes

Bertemu lagi Bapak dan Ibu, kawan semua.
Perkenalkan nama saya PanDe, usia 38 tahun. Saat ini berstatus sebagai seorang suami dari seorang istri dan tiga putri kecil.
Bekerja sebagai pelayan masyarakat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Badung, tepatnya pada Dinas Cipta Karya yang berfokus pada peningkatan infrastruktur jalan lingkungan permukiman, dari tahun 2013 lalu.
Terhitung menjadi penderita Diabetes sejak tahun 2012 hingga kini.

Awal tahu terdahulu, saya cukup paham bahwa yang namanya Diabetes merupakan salah satu penyakit yang cukup serius, lantaran tak pernah menjadi penyebab utama kematian bagi kalangan penderitanya, namun menjadi pintu masuk bagi penyebab utama kematian lainnya seperti jantung, kolesterol bahkan Stroke.
Itu sebabnya saya tergolong cukup serius menyikapi dengan mengubah pola makan, termasuk mencoba mengkonsumsi Tomat setiap hari, berolahraga setiap pagi dan memapar mata hari sebelum memulai aktifitas di kantor.
Namun yang namanya upaya, apalagi dalam hal ini pelakunya adalah saya, sama saja dengan upaya lainnya, ya hanya hangat hangat tahi ayam. Hangatnya hanya di awal, setelah itu ya dicueki. Meski secara pemahaman, tetap sadar bahwa Saya adalah seorang penderita Diabetes.

Bagi seorang penderita Diabetes, tentu pada periode sebelum bulan Mei tahun 2016 ini, saya meyakini bahwa ‘tidak ada makanan pantangan yang harus saya hindari selama dikonsumsi dalam jumlah terbatas. Termasuk diantaranya Sate Kambing favorit saya dan Kopi Tora Bika Cappucino yang saya konsumsi sejak pertama kali bekerja pasca tamat kuliah dahulu.
dan kini, sayapun dihadapkan pada Fakta Pahit bahwa semua keyakinan itu ‘SALAH BESAR‘. Dengan Huruf Kapital bahkan tanda Bold bilamana perlu.

Fakta Pahit itu adalah kemunculan benjolan pada kaki kanan saya, tepatnya area tulang kering, yang praktis mulai membuat khawatir dan membuat galau termasuk diantaranya melahirkan tiga tulisan Intermezzo kemarin, yang terpantau mulai terasa menyakitkan per selasa minggu lalu.
dan pada akhirnya pecah bernanah berdarah pada hari Senin kemarin pasca diperiksakan ke dokter, hari Jumat sebelumnya.

Satu hal yang paling menakutkan pikiran saya saat itu adalah, luka yang semakin membesar dan pada akhirnya Ancaman Amputasi pada kaki penderita.
Apa Kata Dunia jika itu sampai terjadi ?

….

….

….

Alhasil, saya pun berupaya Mencoba (lagi) untuk Bersahabat dengan Diabetes. Tidak bersekongkol, dan bukan lari dari kenyataan.

Untuk itu, kelihatannya memang hanya dibutuhkan satu hal saja dari seorang penderita Diabetes.

Kesadaran.

Ya, kesadaran.
Kesadaran untuk mengakui pada diri sendiri bahwa Saya adalah seorang penderita Diabetes yang mulai saat ini Harus mulai dengan sadar, berupaya mengurangi Jenis makanan yang dikonsumsi serta Jumlah dan Jadwal. Ndak boleh lagi ngerapu macam sebelumnya.
dan itu… sangatlah berat Jenderal.

Bersyukur, Istri adalah orang pertama yang mendukung Upaya saya kali ini.
Ia secara telaten mau berpayah payah menyemangati saya, merawat luka yang ada di kaki, hingga menimbang beras merah yang boleh dikonsumsi serta berbelanja jenis makanan yang bisa saya nikmati semingguan ini.
Seorang istri yang baik, bukan ?

Ya, kini saya pun mulai mencoba mengkonsumsi Beras Merah. Jenis yang dahulu kerap direkomendasi oleh banyak orang, kawan hingga kerabat, yang jika boleh saya katakan, nyaris tak digubris.
Pun ditakar sesuai saran dari ahli gizi titipan istri, pula mengubah buah Apel menjadi snack tetap, ditambah tomat sisa yang tak termakan di kulkas sejauh ini.

Berhasil ?
Entah.
Saya sendiri belum tahu pasti.

Namun berdasarkan pemantauan kadar Gula Darah, per Jumat pagi kemarin, dengan test acak usai mandi, didapat angka 178 mg/dl yang merupakan hasil puasa seminggu ditambah konsumsi obat racikan dokter BPJS, dan luka di kaki pun sudah menjadi sedikit lebih mending dari sebelumnya.

Terima Kasih ya Tuhan. Ini adalah hasil Test Gula Darah Terbaik saya dalam kurun waktu empat tahun terakhir.

dan berharap, seminggu kedepannya malah bisa lebih baik lagi.

Janji deh Tuhan…
Jika saya bisa sembuh dari luka ini, saya akan imbangi pula dengan berolahraga kapan sempatnya, sebagaimana anjuran dokter lewat jejaring YouTube yang saya unduh kemarin.

Semoga, kelak Diabetes yang saya derita ini, bukan lagi menjadi ‘the Silent Killer’ seperti slogan yang dibangga-banggakannya selama ini, namun menjadi hiasan dinding saat melihat Anak anak saya berhasil meraih S2 nya di kemudian hari.
Doakan saya ya Kawan…

Comments

Popular posts from this blog

Jodoh di Urutan ke-3 Tanda Pesawat IG

Kata Orangtua Jaman Now, Jodoh kita itu adanya di urutan ke-3 tanda pesawat akun IG.  Masalahnya adalah, yang berada di urutan ke-3 itu bapak-bapak ganteng brewokan berambut gondrong.  Lalu saya harus gimana ?  #jodohurutanketigadipesawat  Mestinya kan di urutan SATU ?

Mewujudkan Agenda Cuti Bersama Lebaran

Tampaknya di Hari terakhir Cuti Bersama Lebaran, sebagian besar rencana yang ingin dilakukan sejak awal liburan sudah bisa terwujud, meski masih ada beberapa agenda lainnya yang belum bisa dijalani.  Satu hal yang patut disyukuri, setidaknya waktu luang jadi bisa dimanfaatkan dengan baik untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan tertunda beberapa waktu lalu.  1. Migrasi Blog Aksi pulang kampung ke laman BlogSpot tampaknya sudah bisa dilakukan meski dengan banyak catatan minus didalamnya. Namun setidaknya, harapan untuk tidak lagi merepotkan banyak orang, kedepannya bisa dicapai. Sekarang tinggal diUpdate dengan postingan tulisan tentang banyak hal saja.  2. Upload Data Simpeg Melakukan pengiriman berkas pegawai ke sistem online milik BKD rasanya sudah berulang kali dilakukan sejauh ini. Termasuk Simpeg Badung kali ini, yang infonya dilakukan pengulangan pengiriman berkas dengan menyamakan nomenklatur penamaan file. Gak repot sih sebenarnya. Tapi lumayan banyak yang harus dilengkapi lagi. 

Warna Cerah untuk Hidup yang Lebih Indah

Seingat saya dari era remaja kenal baju kaos sampai nganten, isi lemari sekitar 90an persen dipenuhi warna hitam. Apalagi pas jadi Anak Teknik, baju selem sudah jadi keharusan.  Tapi begitu beranjak dewasa -katanya sih masa pra lansia, sudah mulai membuka diri pada warna-warna cerah pada baju atasan, baik model kaos oblong, model berkerah atau kemeja.  Warna paling parah yang dimiliki sejauh ini, antara Peach -mirip pink tapi ada campuran oranye, atau kuning. Warna yang dulu gak bakalan pernah masuk ke lemari baju. Sementara warna merah, lebih banyak digunakan saat mengenal ke-Pandean, nyaruang antara warna parpol atau merahnya Kabupaten Badung.  Selain itu masih ada warna hijau tosca yang belakangan lagi ngetrend, merah marun atau biru navy. Semua warna dicobain, mengingat hidup rasanya terlalu sederhana untuk dipakein baju hitaaaaam melulu.  Harapannya bisa memberikan warna pada hidup yang jauh lebih cerah, secerah senyum istri pas lagi selfie.