Memecah Rekor Catatan Sendiri ‘My Personal Best Samsung Health’

Category : tentang DiRi SenDiri

Demi mengisi waktu luang saat perayaan Nyepi kemarin, saya sempat menurunkan postingan Memecah Catatan My Personal Best Samsung Health
yang isinya berhasil mencatatkan rekor terjauh 9 KM dan terlama aksi jalan kaki cepat yang baru dilakoni dua bulan terakhir ini.
Esok harinya, 18 Maret 2018 kembali pecah ke jarak 11,3 KM dan catatan waktu 2 Jam lebih dikit. Itupun sudah merasa edan, capeknya luar binasa.
Mengambil jalur dari rumah Tainsiat, ke patung Catur Muka, Gajah Mada, Pemecutan, belok ke timur arah Suci, ke selatan arah Matahari, lalu menyusuri sisi selatan Lapangan Renon, balik ke Yang Batu trus pulang.

Eh baru juga lewat seminggu, Catatan My Personal Best aplikasi Samsung Health sudah dipecahkan kembali menjadi 14,5 KM dan catatan waktu hampir 2,5 jam. Edun bener dah hari minggu kemarin itu.
Gak ada planning mau mecahin rekor sejauh itu, hanya nambah sedikit rute dari yang sebelumnya. Yaitu mengitari lapangan alun-alun Kota Denpasar 2 kali dan juga lapangan alun-alun Renon 1,5 kalinya.
Selebihnya sama.
Cuma capeknya baru mulai terasa pas mbak-mbak voice exercise mengabarkan perjalanan udah masuk KM yang ke-12 di ujung jalan Kapten Japa. Waduh, sisa perjalanan masih jauh. Nanggung juga kalo mau kontak Babang GoJek.

Usai melakoni workout, ni kaki sudah gak kebayang lagi gemetarnya. Ditambah kadar gula yang drastis drop, sepertinya besok-besok ndak berani lagi deh gaya-gaya-an mecahin rekor terjauh juga terlama. Cukup sampe disini saja.
Kapok…

Mengejar Target 500 Ribu Langkah Bulan Maret, Yakin ?

Category : tentang DiRi SenDiri

Di awal Bulan Maret lalu, sempat menurunkan postingan soal Tantangan Baru Global Challenge Samsung Health yang diberi tajuk Jungle Challenge, dengan target pencapaian awal di kisaran 200 ribu langkah dalam waktu satu bulan kedepan.
Namun mengingat bulan Februari sebelumnya, saya berhasil mencatatkan langkah sebanyak 300 ribu untuk Spa Challenge yang dilakoni dalam waktu 20an hari saja, maka target awal pencapaian langkah versi sendiri di bulan Maret pun ditentukan sebanyak 10 ribu langkah setiap harinya. Atau sekitar 310 ribu langkah jika ditotal. Minimal.

Namun melihat antusiasme gerak badan yang dilakoni selama bulan Maret dengan target minimal tadi, hingga hitungan hari yang tersisa tinggal 5-6 hari lagi sudah mencapai 435 ribu langkah, sepertinya bolehlah jika di akhir bulan ini saya berandai-andai untuk target pencapaian hingga 500 ribu langkah. Rasional gak ya ?

Secara hitungan matematis sih, sisa langkah untuk mencapai target 500 ribu ya sekitaran 65 ribu langkah lagi. Yang kalau mau dibagi rata hingga 5-6 hari kedepan, minimal bisa mencapai 10 ribuan langkah hingga 13 ribuan langkah tiap harinya.
Ada perkiraan Optimis, pula pesimisnya.
Kalo Optimis mah, yakin bisa dikejar pada Jumat dan Sabtu depan yang merupakan hari libur. Sedang Pesimis nya ya karena jadwal Ngayah tiap sore berhubung Sabtu itu Odalan Tumpek Landep.
Hehehe…

Yakin ?

Mumpung Sehat, Ayo Semangat Olah Raga

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang Opini

Minimal sekali kalo pas Hari Kerja, atau paling ndak ya tiga kali lah pas Hari Libur.
Eh, ini bukan soal main ke Stadium Jakarta yang ditutup Pak Ahok tempo hari loh Mas… tapi soal frekuensi per hari agenda Jalan Kaki, jalan cepat tepatnya. Olah Raga kalo istilah kerennya.

Keputusan diatas saya ambil pas ada kawan kantor yang banyak nanya, soal aktifitas rutin yang saya coba jalani dua bulan terakhir.
Jalan kaki, jalan cepat. Sebagai olah raga di kala senggang. Ya ndak heran juga kalo berefek langsung pada semangat bloggingnya. Jauh berkurang. Eh…

Sebelumnya, target olah raga harian masih mengacu ke standar Samsung Gear S3, jam tangan pintar yang mengatur 6000 langkah per harinya.
Namun ketika kejadian gula darah berada tinggi diatas awan, target ini jadi bertambah.
Minimal 10ribu langkah pas Hari Kerja, dan 15 hingga 20ribu langkah pas Hari Libur. Lengkap sudah…

Selain memang mensyaratkan adanya keringat setiap kali melakukan aksi jalan cepat ini, rupanya baru mengucur kalo sudah berjalan pada rentang waktu minimal 1 jam-an. Itu setara sekitar 5-6 km jauhnya jarak tempuh. Kalo sebatas 2-3 km sepertinya masih belum berarti.

Mumpung Sehat, ya ayo kita semangatkan olah raga. Kurang lebih begitu, jargon harian yang saya upayakan bisa ditepati, sementara ini. Entah kalo sudah bosan nanti.
Tapi eh, ya memang beneran. Karena kalo pengen gula darah turun gila-gilaan dari atas awan, sepertinya hanya dengan berOlah Raga ini saja pengobatan paling alaminya. Ndak usah memilih jalan tak manusiawi dengan menelan rebusan air daun-daunan yang pahit. Cukup olah raga dan mengatur pola makan. Itu saja.

Berolah Raga Pagi di Hari Raya Nyepi, 10K Langkah, 100 Menit Exercise

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang KeseHaRian

Lumayan juga. Berkeliling berkali-kali di halaman rumah hingga natah merajan selama 40 menitan lebih secara konstan, target pencapaian harian yang saya set pada aplikasi Samsung Health bisa tercapai dengan baik.
Hal ini sekaligus menganulir pendapat saya di postingan sebelumnya yang agak meragukan aktifitas rumahan selama Hari Raya Nyepi, minim aksi dan keringat. Nyatanya tidak.

10 Ribu langkah dan 100 Menit Exercise.
Gak disangka, bisa terwujud. Itupun masih ditambah panas matahari pagi dengan vitamin D-nya.
Lumayan bukan ?

Padahal demi mengantisipasi sedikit gerak badan dan langkah yang bisa dilakoni pada Hari Raya Nyepi hari ini, saya mencoba menebusnya sehari kemarin dengan berjalan dua kali lipat target harian, yaitu 10 K langkah. Tapi nyatanya, semua bisa dilakukan dengan baik tanpa harus melanggar salah satu dari empat brata penyepian hari ini.

Kalo kalian, sudah melakukan apa hari ini ?

Memecah Catatan My Personal Best Samsung Health

Category : tentang DiRi SenDiri

‘Sebenarnya hari ini jadi waktu yang bagus buat berjalan-jalan hingga ke banjar, mumpung lalu lintas sepi…’ celetuk sepupu saat melihat saya mengelilingi halaman rumah dari pintu pagar depan hingga natah merajan. ‘Gile lu Ndrok…’

Terbiasa melakoni rutinitas pagi juga sore untuk berjalan kaki dengan cepat, membuat badan jadi terasa kaku gegara belum sempat ditempa sejak tadi. Sementara aktifitas sesempatnya macam begini, cukup menyulitkan ruang gerak berhubung tak leluasa meregangkan badan.

Mencatatkan aktifitas fisik dengan bantuan aplikasi Samsung Health secara manual ataupun otomatis, memberikan gambaran pencapaian harian kita secara berkala.
Saya masih ingat catatan terbaik saya di bulan lalu untuk jarak terjauh yang pernah ditempuh sekitar 6 km-an, tepatnya saat berjalan hingga wilayah Cerancam dan Benculuk, sabtu pagi beberapa waktu lalu. Terpecahkan dengan pencapaian hingga 9 km-an, saat dibawa keliling kota Denpasar dari Gerenceng hingga Renon. Yang unik, rasa capeknya jadi tidak terasa seperti sebelumnya.

Beda lagi dengan jumlah langkah yang ditempuh seharian. Dicatatkan secara akumulasi dari pagi hingga petang.
Dulu masih bisa berbangga ketika angka menunjukkan 15K langkah saat hari Jumat tiba. Pagi krida olah raga kantor, sore jika sempat lanjut ke lapangan puputan. Makin bertambah ketika diselingi jalan-jalan siang pada hari yang sama.
Meningkat pada jumlah 25K saat aktifutas berjalan kaki mulai merambah ke jalan raya. dan itu dilakukan pada hari yang sama. Jumat.
Terpecahkan saat Ida Betara sesuhunan melancaran ke batas desa, Kajeng Kliwon beberapa hari lalu, yang memaksa tambahan aktifitas berjalan kaki di malam hari sepanjang 3 km-an. Lengkap sudah.

Sedangkan Durasi yang dicatatkan pada catatan personal Samsung Health merupakan waktu yang diluangkan untuk melakukan aktifitas secara konstan dan berkesinambungan dalam sekali waktu. Saya mencatatkan sekitar 90an menit saat berkeliling kota tempo hari.

Catatan ini kedepannya akan terus berkembang. Saya yakin itu. Mengingat aktifitas yang sejauh ini sudah pernah direkam sebagai history aplikasi, belum seberapa banyak dibandingkan aktifitas sebenarnya.
Semoga bisa membuat kesehatan tubuh yang jauh lebih baik lagi.

Dari Lapangan ke Lapangan, Turun ke Jalan Raya

1

Category : tentang KeseHaRian

Melakoni aktifitas berjalan kaki dengan tempo yang cepat namun konstan, cukup memberi arti tersendiri dalam sekian kali perjalanan sejauh ini.
Bosan sendiri, pada akhirnya.

Jika untuk mengitari lapangan Lumintang Taman Kota sisi utara membutuhkan waktu sekitar 4-5 menitan satu putarannya, Alun-Alun Kota Denpasar dengan track yang sedikit lebih panjang, membutuhkan waktu 7-8 menitan tergantung kecepatannya. Sementara Lapangan Niti Mandala Renon yang sepertinya memiliki keliling sekitar 1 Km lebih butuh waktu sekitar 15 menit sekali putaran.
Sehingga, dengan waktu tempuh satu jam, kurang lebihnya sudah bisa diperkirakan jumlah putaran yang bisa dilakukan, dan itu… amat sangat membosankan, jika dilakukan berulang.
Jadi tidak salah bila keputusan sejak minggu kemarin, langsung diambil.
Turun ke jalan raya.

Tidak ada Target tertentu yang dibuat sejak awal memulai perjalanan. Hanya mencari rute yang tak biasa agar suasananya bisa memberi semangat baru dalam beraktifitas kelak.
Dari memutari sekolahannya Mirah, berkembang ke GOR Ngurah Rai, lalu pasar Kereneng, ke arah timur, belok di jalan Plawa. Setidaknya sudah 3-5 kali dilakoni.
Lalu ada rute mengitari Les Anemone-nya Intan, putri kedua saya, ke arah timur di jalan Ratna atau ke arah Barat, Lapangan Lumintang sisi Selatan. Pernah juga sekitar 2-3 kali dicoba.
Mengambil jalur yang sedikit lebih jauh ke Cerancam-Binoh lalu menyeberang jalan Gatot Subroto menuju Benculuk, hanya sempat 2 kali saja dalam sebulan terakhir.
Sedangkan tadi pagi, mengambil jalur barat ke Gerenceng-Gajah Mada-Suci-Matahari-Renon, memberikan jarak tempuh terpanjang yaitu 9,28 Km, sejauh ini. Cukup melelahkan namun senangnya bukan main.

Selain memberi suasana baru sebagaimana harapan di awal, banyak juga pengalaman unik disepanjang jalan yang dilalui. Dari melihat orang berantem, kecelakaan akibat salah berlalu lintas, hingga menolong ibu-ibu yang terjatuh gegara membawa banyak barang diatas sepeda motornya. Bisa juga bertemu orang-orang baru hingga kawan lama secara tak sengaja. Bahkan ada juga yang diabaikan begitu saja tanpa tahu siapa yang menyapa.

Kalian pernah melihat saya di jalan sebelumnya ?

Mewujudkan 10 ribu Langkah per Hari

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang KeseHaRian

Memasuki bulan Maret, Samsung Health merilis tantangan baru bagi pengguna aplikasi tersebut yang diberi tajuk ‘Jungle Challenge’. Dengan target awal, jumlah langkah yang sama dengan bulan atau tantangan sebelumnya, yaitu 200 ribu langkah.
Pencapaian yang luar biasa sebenarnya jika berhasil dilakukan lagi.

Dalam waktu satu minggu pertama, tepatnya di hari ketujuh, saya berhasil mencatatkan sekitar 113 ribu langkah yang jika saja boleh dirata-ratakan per harinya mencapai 16 ribuan langkah. Lumayan juga…
Bisa sebanyak itu mengingat pada hari jumat lalu, sejak krida pagi terhitung melangkah hingga 25 ribuan langkah yang terbagi atas 3 sesi. Pagi sebelum berangkat kerja, krida, dan olahraga sore.

Tantangan ini sebenarnya bukanlah tujuan utama, sehingga ada keinginan untuk mewujudkan langkah hingga 10 ribuan setiap harinya. Namun lebih pada kebutuhan berolahraga atau aktifitas fisik selama minimal 30 menit setiap harinya bagi penderita Diabetes seperti saya.
Dengan secara disiplin melakukan exercise sebanyak itu, paling tidak saya bisa menghabiskan waktu antara 1-1.5 jam setiap harinya, memutari lapangan dan taman kota yang ada di seputaran Kota Denpasar.

Lumayan juga kan ?

Siap Menghadapi Tantangan Global Challenge Samsung Health Berikutnya ?

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang KeseHaRian

I’m the cream of the crop, I rise to the top
I never eat a pig, cause a pig is a cop
Or better yet a Terminator, like Arnold Schwarzanegger
Try to play me out like, as if my name was Sega

Repetan House of Pain yang pernah beken jaman saya sekolahan dulu kembali diputar berulang pada headset sebelah yang disambungkan via Bluetooth ke ponsel Android. Menemani langkah santai yang saya lakoni saban sore usai pulang kantor jika kondisi agak capek dan penat. Beat yang diciptakan memang tak segegas rapper kulit hitam Puff Daddy. Jika mau dibandingkan, kecepatan langkah yang dihasilkan sekitar 4,9 km/jam, lebih lambat 0,1 hitungan dengan remake ulang karya The Police tadi.

Jungle Challenge

Memasuki bulan Maret ini, aplikasi Samsung Health kembali menggelar Tantangan berskala Global berikutnya yang diberi tajuk Jungle Challenge. Dengan jumlah Target Awal yang sama dengan sebelumnya, 200 Ribu Langkah.
Saya pribadi sebenarnya tidak terlalu paham apa Misi sesungguhnya Tantangan ini, dan juga Reward apa yang bisa diberikan oleh Samsung bagi para pemenangnya. Namun secara Umum, tantangan ini saya gunakan sebagai sebuah Terapi Kesehatan dalam rangka menurunkan Gula Darah, pula Diet menurunkan Berat Badan jika mampu. Minimal mengejar 10 ribuan langkah per harinya, meningkat sedikit dari Standar Awal yang ditentukan Samsung Gear.

Dilihat dari segi fisik, kini saya jadi lebih mudah berkeringat dari sebelumnya meski belum sebanyak harapan. Bisa jadi karena kecepatan langkah yang dilakukan hanya sebatas 5,0 km/jam. Bandingkan dengan langkah terdahulu yang bisa mencapai 6 hingga 9,3 km/jam. Atau bisa juga lantaran seragam yang digunakan belum dilengkapi dengan jaket parasut yang mampu menjaga suhu badan tetap panas saat angin sepoi berhembus di sepanjang jalan yang dilalui.

Kalian siap ikutan menghadapi tantangan Global Challenge Samsung Health berikutnya ?

300 Ribu Langkah Spa Challenge Samsung Health

Category : tentang DiRi SenDiri

Every step I take, every move I make
Every single day, every time I pray
I’ll be missin’ you

Reff yang dilantunkan Faith Evans bareng Puff Daddy sebagai bentuk Tribute pada rapper Notorious BIG, selalu menemani langkah kaki cepat yang saya lakukan saban sore sepulang kerja. Beat nya tergolong asyik, tidak terlalu cepat pula tidak melambai, memberikan nafas teratur jika diputar ulang terus menerus sepanjang perjalanan. Entah mengitari lapangan Puputan Badung, Puputan Renon ataukah jalan raya seputaran sekolah anak anak.

300 Ribu Langkah

Pencapaian ini akhirnya bisa juga setelah hari ke-27 rutinitas berjalan kaki dilakukan.
Selain sebagai aktifitas harian disela diet demi menurunkan kadar gula darah, ini dilakukan untuk memenuhi tantangan Spa Challenge yang dibesut oleh aplikasi Samsung Health dengan Target Awal sekitar 200 Ribu Langkah saja.
Jadi berkembang ke angka 300 Ribu gegara rekan senior saya, Dody dari Ganesha Global jauh memimpin setiap harinya. Selisih sekitaran 20 hingga 30 ribuan langkah saban sore usai rutinitas dilakukan. Terpacu juga jadinya.

Untuk bisa mencapai itu, setiap hari minimal harus melakoni 10 ribuan langkah rata-rata. Itu setara 6 kali keliling lapangan Puputan Badung dikombinasikan aktifitas sehari-hari sejak pukul 5.30 pagi. Atau 8 – 10 kalinya jika hari Sabtu dan Minggu. Berhubung aktifitas harian di rumah tidak sebanyak naik turun tangga di kantor.
Hasilnya lumayan. Selain memang melaksanakan Diet Karbo, mengurangi konsumsi nasi putih secara frontal, menggantikannya hanya pada pagi hari itupun dengan beras Hitam, berat badan bisa turun sekitar 2 Kg dalam sebulan ini.
Target penurunan ini sih sebenarnya biar bisa sekurus Pak Jokowi, Presiden saya.
Tapi apa bisa ?

Pengalaman Pertama menjalani Pemeriksaan Diabetic Centre

Category : tentang KHayaLan

Berbekal informasi awal tentang tata cara pengambilan nomor antrean BPJS di RS Sanglah dari kakak ipar yang bertugas disitu, sekitar pukul 6.15 pagi tadi, kamis 22 Februari, saya sudah tiba di pelataran Poli dan menaruh berkas pada tumpukan daftar tunggu manula.
Meski awalnya agak pesimis bisa segera mendapatkan nomor antrean, berhubung diwajibkan puasa dari jam 9 kemarin malam, tapi ternyata ketiadaan kartu RS Sanglah lantaran seingat saya belum pernah berhubungan atas nama pribadi, memberikan peluang Nomor Antrean 1 bagi Pasien Baru.
Maka setelah melewati proses input Administrasi di Loket 1 pun, sekitar pk.7.30 pagi saya sudah menunggu kedatangan dokter untuk panggilan cek lab. Masih cukup waktu untuk menumpahkan isi hati melalui Evernote.

Sekitar pk.7.45 pasien pertama antrean Pusat Diabetes inipun mulai dipanggil. Saya mendapat giliran yang keempat.
Berdasarkan info dari Petugas, saya harus meluncur ke Bagian Laboratorium disebelahnya PMI yang rupanya sudah penuh antrean pasien dari berbagai belahan poliklinik. Disini saya mendapatkan nomor Antrean A80 sementara yang dipanggil baru sekitaran A20an. Masih cukup lama.
Jadi antre agak lama berhubung proses pengambilan darah hanya cukup sekali saja, yang diarahkan ke ruangan besar, sementara ruangan kecil dimana antreannya sedikit diperuntukkan bagi pasien dengan dua kali pengambilan darah.
Baiklah.

1,5 Jam berlalu. Akhirnya Antrean nomor A80 pun dipanggil ke Konter 1.
Kirain bisa langsung ambil darah, ternyata dapat Antrean lagi nomor C123. Sementara yang dipanggil baru nomor 40an. What the… ?

Pantes saja ada Ibu-ibu tua yang barusan duduk didepan saya, sempat komplain dengan keluarganya, kok bisa setelah pemanggilan nomor A6 malah nunggu lagi jadi C26 ?
Adeeehhh…
Pantesan saja ruangan ini penuh sesak dari pagi. Rupanya prosesnya dobel toh ?
Yang dapat urutan Nomor 1 Pasien Baru saja musti nunggu edan begini sampe jam 9.15 belum juga ambil darah, apalagi yang Antrean belakangan ya ?
Pantesan juga kalo di Poli tadi sejak jam 6 pagi infonya sudah mulai berdatangan antre ambil nomor. Memeh…

Kira-kira sampai jam berapa ya selesai proses Cek Lab kali ini ?

Mengurus Diri Sendiri dengan BPJS di RS Sanglah

2

Category : tentang DiRi SenDiri

Jika saja boleh memilih dari awal, lebih baik mengambil jalan menjadi pasien Umum ketimbang BPJS. Memang opsinya ya membayar, namun secara layanan biasanya minim antre yang tidak jelas macam ini.
Kamis pagi 22 Februari, tiba di pelataran Poli RS Sanglah sekitar pk.06.15 wita. Dengan pemandangan antrean berkas yang sudah lumayan menumpuk. Tanpa ada petugas atau masyarakat lain yang menjelaskan, sayapun menaruh berkas pada tumpukan sebelah kiri berhubung orang yang datang lebih dulu meletakkannya disitu. Berselang setengah jam baru tahu kalau tumpukan sebelah kiri adalah daftar antrean untuk Manula dengan usia 60 tahun keatas.
Adeeeh… sudah kepalang tanggung, ya dibiarkan saja deh. Resiko belakangan.

Sekitar pukul 6.55, pelataran Poli sudah mulai dipenuhi pasien dan keluarganya. Sayapun mengambil tempat duduk di tangga depan loket, sembari berharap loket bisa cepat dibuka. Lantaran perut sudah lapar berhubung wajib puasa sedari pk.21.00 kemarin malamnya, kaitan dengan agenda Cek Lab pagi ini.

Entah mengapa saya jua tak berhasil mendaftarkan diri secara Online di halaman web miliknya RS Sanglah dari hari Senin kemarin. Entah apakah karena saya adalah pasien rujukan dari RS lainnya sehingga Nomor Rekam Medis belum terdaftar dalam database milik Sanglah.
Pertanyaannya, apakah saya perlu mengambil Nomor Antrean sementara agenda yang dijalani hanya sebatas Cek Lab ?
Kalau rujukannya langsung ke bagian Lab atau UGD mungkin tidak perlu. Namun dibaca dari petunjuk pada Rujukan yang ada dan mengarah ke Poli Interna, sesuai informasi yang didapatkan dari petugas RS Sanglah sebelumnya, saya tetap wajib mengambil Nomor Antrean dan mendaftarkan diri dari Loket 1.
Yang artinya ya harus menunggu loket Pengambilan Nomor dibuka dulu. Sayangnya hingga jam menunjukkan pk 7.05 belum ada tanda tanda apapun disini. Sementara pemanggilan Nomor Antrean yang didaftarkan secara Online, sudah mulai dipanggil tepat pk.7.00.

Agenda Cek Lab yang dirujuk ke RS Sanglah ini merupakan bagian dari jadwal pemeriksaan kesehatan yang saya lakukan sejak sebulan lalu. Untuk Kadar Gula Darah puasa dan 2 jam setelah makan, Kolesterol dan Asam Urat, sudah usai saya jabani minggu lalu. Sementara agenda kali ini menyasar Tiroid dan Kadar Gula Darah tiga bulanan. Atas dasar gemetaran pada tangan setiap kali memegang piring atau cangkir, maka dokter Internis yang bertugas pada faskes satu pun merujuk ke Poli Interna RS Sanglah.